Precedence: bulk NINDJANews: UPETI ODA: TOKAI KOGYO JUGA MEMBERI 10 JUTA YEN Yomiuri 2 April 1999 Berkenaan dengan bantuan ODA kepada Indonesia ternyata bahwa Tokai Kogyo, perusahaan pembangunan umum (berkantor pusat di Chuo-ku, Toyo, sekarang sedang dalam proses rehabilitasi perusahaan karena bangkrut) telah memberikan suap 960 juta yen kepada pejabat Depdikbud RI sewaktu menerima pesanan pembangunan gedung Institut Teknologi Bandung, Indonesia. Pengawas harta kekayaan perusahaan tersebut mengakui hal itu. Mantan anggota pimpinan perusahaan tersebut menerangkan bahwa mereka sudah memberi kurang lebih 10 juta yen. Demikian pula baru-baru ini telah terungkap adanya "upeti" berjumlah besar yang dalam kaitan dengan pembangunan jalan kereta api. Ini membuktikan bahwa pemberian "upeti" oleh perusahaan Jepang kepada pejabat Indonesia merupakan hal yang sudah biasa. Tokai Kogyo memenamgkan tender proyek pengembangan prasarana bangunan dan pendidikan ITB, universitas negeri yang berletak di Bandung, kurang lebih 150 kilometer ke arah tenggara dari ibu kota Jakarta. Dana Kerjasama Ekonomi Luar Negari (OECF) memberi pinjaman kurang lebih 9 milyar yen kepada pemerintah Indonesia sejak tahun 1992. Pemberian pinjaman itu dimanfaatkan untuk pembangunan gedung sekolah, pengumpulan peralatan pendidikan dll. Tokai Kogyo menerima pesanan pembangunan gedung laboratorium nomor 10 dalam tender penawaran terbuka dan gedung laboratorium nomor 11 yang berada di sebelahnya dengan kontrak bebas. Menurut hasil pemeriksaan yang dilakukan oleh pengawas harta kekayaan perusahaan, diketemukan fakta bahwa pada saat diadakan penawaran terbuka pada akhir tahun 1994, pihak pemesan, yaitu seorang pejabat Depdikbud, melakukan pendekatan dengan mengatakan bahwa hampir pasti Tokai Kogyo akan memenangkan tender Depdikbud tersebut. Tetapi mereka memerlukan sejumlah uang. Tokai Kogyo memenuhi permintaan tersebut dengan membayar "upeti" tersebut setelah memastikan bahwa mereka memenangkan tender. Selain itu, menurut beberapa orang mantan anggota pimpinan dari bagian usaha luar negari perusahaan, yang diminta pejabat Depdikbud ialah tender terbuka untuk pembangunan gedung laboratorium nomor 10. Awal tahun 1995, ketika pembangunan dimulai, Tokai Kogyo memberi kurang lebih 5 juta yen kepada orang yang bersangkutan dari panitia penawaran terbuka universitas. Ketika mereka mulai membangun gedung laboratorium nomor 11 pun, mereka memberi sogokan berjumlah sama kepada orang yang sama. Wiranto Arismunandar, rektor ITB saat itu dan kemudian mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, kepada para wartawan yang menanyakannya, membantah adanya penyogokan tersebut diatas. Tokai Kogyo bangkrut dengan menanggung hutang berjumlah kurang lebih 511 miliyar yen pada bulan Juli tahun 1997. Mereka sekarang mengajukkan permohonan izin penerapan peraturan rehabilitasi perusahaan dan melanjutkan proses rehabilitasi. ---------- NINDJA <[EMAIL PROTECTED]> Network for Indonesian Democracy, Japan Hinoki Bldg. 3F, 2-1 Kanda Ogawamachi Chiyoda-ku Tokyo 101-0052 Japan ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
