Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 13/II/11-17 April 99 ------------------------------ PAWAI CEGAH TAWURAN (POLITIK): Kampanye di jalanan agaknya sulit dilarang. Jalan keluarnya, partai-partai bisa pawai bersama dengan dikawal satgasnya masing-masing. Terbukti berhasil di Yogya. Komite Pemilihan Umum yang dipimpin Rudini naga-naganya bakal tak digubris bila melarang massa partai untuk turun ke jalan berpawai-ria. Memang masalahnya pelik karena pawai massa di jalanan bisa memancing kericuhan yang tak diinginkan banyak pihak. Penyebabnya barangkali sepele seperti senggolan motor atau tantang-tantangan yel yang menyerang partai lain. Tapi survei lapangan membuktikan, setiap hari sekarang ini adalah hari kampanye. Every day is campaign day. Entah itu oleh PDI Perjuangan, PKB, PAN, atau Partai Keadilan. KPU sendiri belum mengangkat bendera start kapan kampanye dimulai, berjibun massa berbagai partai sudah memenuhi jalan-jalan dan stadion kota. Dan karena jumlah partai banyak, jadwal kampanye massa tak bisa lagi diatur bergantian seperti dulu. Kini, kita keliling kota barang sebentar saja, biasanya menjumpai dua atau tiga partai sedang kampanye di jalanan yang berbeda. Tak heran bila massa antar partai bertemu di satu titik jalan, perkelahian sering tak terhindarkan. Sabtu (3/4) lalu misalnya, di Klaten-Jateng, massa PAN dari Delanggu bertemu dengan massa PDI Perjuangan dari Prambanan. Awalnya saling melambaikan tangan, namun tiba-tiba ada salah seorang peserta PDI Perjuangan yang meludah sampai membuat tersinggung seorang peserta pawai PAN. Akhirnya perkelahian pun terjadi. Baru diketahui penyebabnya setelah polisi memisahkan dan menanyai satu per satu. Melihat gelagat makin banyaknya kasus-kasus tawuran itu, ide untuk melarang kampanye di jalanan makin menguat. Ketua KPU Rudini sendiri tampaknya cenderung untuk menarik massa dari luar jalanan ke dalam ruangan. "Kampanye di dalam gedung jelas lebih konstruktif dan pendidikan politik lebih mengena ketimbang pawai di jalan yang mengundang perkelahian dan kecelakaan," ujar Rudini. Pendapat Rudini tidak disepakati Budiman Sudjatmiko yang masih ada dalam penjara LP Cipinang. "Rudini salah membaca kesadaran rakyat. Sesungguhnya rakyat secara dewasa bisa menilai mana yang baik dan buruk dalam politik. Kejadian-kejadian tawuran itu sangat kasuistik, banyak juga yang berlangsung dengan damai. Kalau kampanye kemudian ditarik dari luar ke dalam ruangan, itu berarti menyabot posisi rakyat yang menjadi subyek. Kampanye massa di jalan itu adalah pendidikan politik yang dilakukan oleh rakyat, untuk rakyat, di situ rakyat yang menjadi subyek. Nah bila ditarik ke dalam ruang atau stadion misalnya, yang menjadi subyek itu bukan lagi rakyat tetapi elit partai yang jadi pembicara, rakyat yang datang hanya menjadi obyek saja," kata Budiman. Boleh tidaknya massa berkampanye dengan pawai massa memang mengundang banyak pro dan kontra. Massa sendiri tampaknya tak peduli dengan aturan, yang penting mereka bisa tampil atau menonton pawai. Sebagai jalan tengah, ada ide baru yang sudah dikonkritkan di Yogyakarta, yakni kampanye bersama antar partai. Minggu (4/4), 37 partai menggelar kampanye bersama yang dinamai Pawai Kedamaian sepanjang tujuh kilometer di Yogyakarta. Setelah dilepas Sri Sultan Hamengku Buwono dari Tugu Yogyakarta, arakan massa bergerak ke selatan melintasi Jalan Mangkubumi, Malioboro, kemudian berkeliling Benteng Keraton dan berakhir di Alun-alun Yogyakarta. Sebuah spanduk sepanjang 200 meter mengawali pawai tersebut dengan tulisan "Dari Yogyakarta Menyelamatkan Indonesia". Sepanjang jalan mereka mendapat sambutan meriah dari masyarakat yang menonton, kecuali saat rombongan Golkar yang disambut dengan teriakan "huuu.huuu". Di Alun-alun Utara Kraton, para pimpinan parpol cabang Yogya menyampaikan Deklarasi Malioboro. Deklarasi yang berisi tujuh poin itu, mereka bertekad untuk menciptakan iklim kompetisi yang baik dalam perjuangan partai, mengembangkan sikap cinta damai, dan siap menyongsong kampanye damai dan mempertaruhkan Yogya sebagai salah satu barometer perdamaian dalam politik nasional. Sri Sultan sendiri seusai pawai bersama mengucapkan terima kasih pada kalangan partai atas kemauannya berkampanye bersama untuk melawan kemungkinan onar. "Damai bagi peserta pemilu dan damai pula bagi masyarakat," ujar Sri Sultan. Begitulah, kampanye massa memang tidak perlu dilarang, tetapi perlu dicarikan jalan bagaimana supaya tidak jadi keributan. Kampanye bersama tentunya tidak hanya bisa dilakukan di Yogya, melainkan juga bisa digelar di kota-kota lain. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
