Precedence: bulk Washington - Sdr AM Hendroprijono yang baik. Saya menulis surat ini sebagai rekan seperjuangan dan seangkatan yang lahir bersamaan di tahun 1945, saat Republik Indonesia diproklamirkan oleh founding fathers kita. Saya teringat pada malam 13 Mei, ketika saya menelepon Anda yang sudah menjabat Menteri Transmigrasi dan PPH tentang ancaman massa yang sudah mendekati kompleks perumahan putri saya di Kapuk. Anda adalah jenderal bintang tiga yang bisa saya akses langsung dan menunjukkan keprihatinan kepada sesama manusia. Barangkali karena kebetulan saya sudah kenal Anda dan saya juga termasuk barisan elite minoritas, di tengah situasi di mana massa yang majoritas sudah tidak dapat dikendalikan oleh siapa pun yang mendalangi dan merekayasa insiden Trisakti sehari sebelumnya. Anak, menantu, dan cucu saya tetap harus mengungsi meninggalkan rumahnya melalui serbuan massa yang sudah mendekat. Saya jadi tahu bahwa betapapun Anda berusaha dan berbintang tiga, tapi massa yang diprovokasi juga oleh bintang tiga yang lain, telah membakar rumah anak saya. Namun, saya tetap bersyukur mempunyai sahabat bintang tiga yang setia seperti Anda. Anda juga yang menelepon saya pada hari saya meninggalkan Tanah Air, 11 Juni 1998 karena tekanan teror oleh oknum-oknum yang mengancam keluarga saya dengan surat kaleng. Anda menawarkan suaka di rumah Anda, jika anak saya masih mengalami trauma dan saya juga mengalami ancaman teror dari oknum pengecut yang tidak berani bertanggung jawab, tapi hanya berani mengancam perempuan, minoritas dan orang yang lemah. Anda mewakili lapisan ABRI yang lahir pada proklamasi kemerdekaan dan ABRI lapisan ini tidak berhak mengklaim telah berjuang mendirikan republik. Karena memang yang berhak hanyalah Angkatan 45 yang sudah bertempur melawan Belanda selama dua agresi 1947 dan 1948. Angkatan setelah itu, sebetulnya tidak punya hak anak sulung untuk menggeser lapisan elite sipil sebagai warga negara kelas dua. Saya menyadari kekecewaan Anda atas "paksaan pensiun" terhadap diri Anda karena Anda mengharapkan menutup karier Anda selaku jenderal bintang empat dan orang nomor satu paling sedikit di Angkatan Darat, kalau tidak di seluruh Angkatan Bersenjata. Kecewa adalah manusiawi, tidak kecewa berarti robot yang diprogram secara komputasi. Saya membaca upaya Anda untuk melakukan redemption process sesuai dengan agama yang Anda anut dan itu merupakan jiwa besar seorang pemimpin yang berani mengaku salah, meminta maaf dan berupaya memperbaiki tingkah laku di masa depan agar tidak terulang lagi peristiwa menyedihkan di masa lampau. Tidak ada manusia yang tanpa cela, bahkan nabi-nabi besar seperti Daud dan Solaiman tidak luput dari dosa hawa nafsu duniawi. Karena itu, ketulusan dan ishtigar yang Anda ikhtiarkan hanyalah Tuhan yang mengetahui. Saya ingin menyampaikan suasana seminar tentang Aceh yang diselenggarakan di American University Washington DC di mana belasan tokoh elite Aceh menyampaikan protes, keluhan dan tuntutan serta gugatan kepada Republik Indonesia. Saya terharu dengan ungkapan mereka tentang perkosaan yang dilakukan oleh oknum-oknum prajurit ABRI. Saya juga takjub dengan kreativitas seorang mahasiswa dari Permias Delaware yang menyatakan bahwa sebetulnya yang ditindas selama Orde Baru bukan hanya orang Tionghoa atau orang Aceh, tapi juga orang Jawa. Kata mahasiswa bernama Gatot, kalau Anda sebagai orang Aceh ingin minta merdeka dari Indonesia karena kecewa dan frustrasi terhadap Indonesia dan ingin merdeka karena dulu dijajah oleh dinasti Soeharto, lalu saya sebagai orang Jawa harus minta merdeka dari siapa? Marilah kita sama-sama memerdekakan diri dari masa lampau, dari politik penjajahan model Soeharto dan menuju Orde Reformasi Total yang hakiki dan demokratis. Jadi Aceh, Irian dan kalau boleh Timtim merasa aman, tenteram, damai, diayomi dan dibina oleh Republik Indonesia baru yang demokratis, berkeadilan dan berkiblat kepada hak asasi manusia. Tidak perlu semua provinsi kaya minta merdeka karena dulu merasa dijadikan sapi perah oleh dinasti Soeharto. Kita semua akan memperbaiki Indonesia dengan tuntas dan lugas. Kita akan membatasi masa jabatan presiden. Bung Hendro yang baik. Lupakan dan tinggalkan doktrin dwifungsi yang ketinggalan zaman, achterlijk dan dungu itu. Anda harus mengikuti jejak George Washington, Dwight David Eisenhower dan Charles de Gaulle yang dari jenderal menjadi presiden, tapi tidak mengandalkan panser dan tank. Melainkan karena diterima dan dipilih oleh rakyat yang mencintai, menghormati dan menghargai kemampuan dan kapasitas Anda sebagai negarawan. Jenderal yang hanya mengandalkan jabatan resmi, menyalahgunakan pangkat dan posisi untuk mengerahkan pasukan merebut kekuasaan, mengancam atasan dan sebagainya adalah jenderal-jenderal model junta militer Amerika Latin. Benua itu sudah hampir 200 tahun merdeka. Saudara Hendro yang baik, saya ingin mengajak Anda berjuang bersama-sama untuk menegakkan pemerintahan yang bersih dan berwibawa. Termasuk di dalamnya mendirikan TNI yang kuat dan bermoral, tangguh dan beretika, ksatria dalam melindungi rakyat. TNI seharusnya menjadi pelindung dan pengayom, untuk menembak di tempat penjarah, bukan malah memprovokasi agar rakyat jadi penjarah. TNI seharusnya muncul sebagai penyelamat dan pemulih keamanan dan ketertiban, bukan malah menciptakan rasa sebal, kesal dan ketakutan serta kebencian dari rakyat. Riwayat oknum TNI yang menculiki aktivis, menembaki mahasiswa dan memperlakukan lawan politik atau tahanan subversif secara sangat sadis dan keji, mulai Marsinah, Udin, Ita dan lain-lain tidak mungkin dibantah dengan konprensi pers model Goebels (Menteri Propaganda rezim Hitler). Kalau sekarang ini para perwira menengah dikorbankan dan diadili dalam rangka melindungi perwira tinggi dan jenderal TNI yang terlibat dalam kasus penculikan dan penembakan mahasiswa, maka ini juga mencerminkan ketidakadilan internal TNI. Kita semua tentu sangat memprihatinkan nasib para perwira menengah dan para bintara, para serdadu bawahan yang menembak atas perintah atasan, tapi dikorbankan, sedangkan atasannya menikmati kemewahan untuk tidak diadili dan tidak mempertanggungjawabkan perbuatan mereka. Saya ingin menyerukan kepada seluruh individu dalam TNI untuk kembali kepada khitah, menjadi tentara adalah untuk melindungi negara dan bangsa yang didirikan oleh rakyat dan bukan sekadar untuk menjadi penguasa yang mempertahankan kekuasaan dengan mengorbankan rakyat. Kalau ada di antara individu jenderal yang merasa mampu jadi presiden, silakan buka baju tentara Anda dan masuk dalam partai untuk bersaing secara ksatria dan sehat dalam pemilihan umum yang fair. Tidak ada yang diangkat oleh siapa pun, juga oleh yang namanya ABRI, karena bisa terjadi persaingan dalam ABRI sendiri. Gagasan dwifungsi sebetulnya tidak ada yang orisinal atau kreatif, sebab tidak mampu menyelesaikan rivalitas antarjenderal. Saya tidak keberatan Anda jadi calon presiden atau Jenderal Wiranto atau jenderal yang lain. Namun yang saya keberatan ialah jika jenderal-jenderal itu saling bersaing dengan kasak-kusuk, dan intrik, kemudian mengorbankan anak buah dan rakyat. Jadi, cara berpikir ABRI lama yang masih ngotot ingin berdwifungsi untuk jenjang presiden, sudah ketinggalan zaman. Jenjang presiden harus dipilih melalui mekanisme partai politik dan pemilihan umum, bukan dengan jatah kursi ABRI dalam legislatif dan MPR/DPR. Jenjang presiden juga tidak bisa diraih dengan cara menjadi antek, pembantu dan agen loyal yang plin-plan dan khianat. Jenjang itu justru harus ditempuh melalui proses oposisi yang teruji dan terpuji. Surat ini walaupun saya tulis untuk Bung Hendro, dapat menjadi acuan untuk para jenderal dan perwira TNI lain, bahwa dalam kompetisi politik, tidak mungkin lagi dipakai hukum militer. Sebaliknya juga tidak bisa memaksakan kekerasan militer untuk menjadi presiden seumur hidup dan melestarikan pada generasi berikutnya. Generasi Hendroprijono adalah generasi terakhir yang harus mengalami nasib, digeser oleh atasan karena rivalitas politik. Presiden yang akan datang mempunyai tugas berat untuk mengembalikan dan memulihkan fungsi tentara secara optimal karena sudah terlalu lama dikelola secara warlordisme yang tidak mengembangkan profesionalisme secara superior. Karena itu ABRI hanya bisa menang melawan orang yang tidak berdaya seperti pendemo yang digebuki, tahanan yang disiksa. Saya ingin mengakhiri surat saya ini dengan mengutip Clausewitz bahwa perang adalah terlalu penting untuk diserahkan hanya pada para jenderal. Negarawan dan strateg perlu untuk mengembangkan angkatan perang yang berdisiplin dan tangguh, bermoral dan berwibawa. Jenderal yang cuma bisa ngemplang, nggebuk dan membunuhi atau memimpin pemerkosa dan penjarah, adalah jenderal model rezim Orde Baru yang harus kita tinggalkan. TNI harus jadi profesional dan mampu menghadapi tantangan zaman, dengan kemampuan iptek yang tangguh. TNI yang demikian itu tidak boleh menculik dan menembak rakyatnya sendiri, karena terlalu gampang menuduh orang jadi subversif, pemberontak, dan seterusnya. Saya menulis surat ini setelah ternyata darah dan bayonet tidak menjadikan orang Aceh jera atau menyerah, melainkan malah menuntut kemerdekaan. Dalam seminar tentang Aceh itu, saya menyatakan kepada para pejuang Aceh untuk mempertimbangkan bentuk negara federasi seperti AS yang kaya raya dan berjaya karena rakyatnya merasa memiliki seluruh negara dengan otonomi daerah yang tuntas dan lugas. Bung Hendro yang baik, mudah-mudahan surat ini dapat memberi masukan kepada Anda tentang jalan hidup seorang pejuang seperti Anda yang mengalami kebuntuan gara-gara teori dwifungsi keblinger. Anda tidak perlu kecewa, tidak menjadi orang pertama dalam ABRI gaya lama. Namun, Anda bisa jadi orang pertama dari generasi masa depan ABRI gaya baru di mana kalau Anda merasa berbakat jadi presiden, tidak perlu harus "menjilat" atasan dan melakukan politik Brutus dan Ken Arok. Biarlah secara jantan dan terbuka kita menyatakan ingin jadi calon presiden melalui partai politik. Saya mengharapkan Anda tabah dan segera pulih dengan reformasi karier politik Anda sebagai bagian dari proses transformasi elite politik Indonesia ke arah sistem dan budaya politik modern, rasional, terbuka dan sportif. Washington DC, Minggu malam, 5 April 1999. *** ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
