Precedence: bulk


USKUP BELO, DANREM TONO dan KAPOLDA TIMTIM SILAEN TINJAU SITUASI LIQUICA

        Dili (STT, 8/499). Uskup Diosis Dili, Mgr. Carlos bersama Danrem 164/Wira
Dharma, Kolonel Infantri Tono Suratman, dan Kapolda Timtim, Kolonel Pol Drs
Timbul Silaen, Rabu (7/4) meninjau situasi Kota Liquica, sekitar 40 km arah
barat Kota Dili, sehubungan dengan pertikaian kelompok pro integrasi dari
Besi Merah Putih (BMP) dan pro kemerdekaan. Sebab bentrokan dua kelompok
berlainan pandangan politik itu telah menimbulkan korban tewas. Kunjungan
pimpinan umat Katolik Diosis Dili, bersama dua pimpinan ABRI di Timtim itu
selain melihat secara dekat ketegangan politik di daerah itu sekaligus
mengecek kebenaran tentang korban tewas yang dilaporkan pers asing yang
mencapai 50-70 orang. Berita tentang korban tewas hingga Rabu kemarin masih
simpang siur.

        Ketika tiba di lokasi, para pemimpin itu melihat secara langsung dan
pertemuan dengan Bupati Liquica (Leoneto Martins), para pastor dan suster di
daerah itu. Pertemuan itu dimaksudkan untuk mendapatkan berbagai infomarsi
mengenai insiden Liquica itu.

        Menurut Danrem Tono Suratman dan Kapolda Silaen, korban yang tewas akibat
pertikaian kelompok pro integrasi dan pro kemerdekaan di Liquica berjumlah 5
orang dan puluhan luka berat dan Belo dalam jumpa pers di kediamannya di
Lecidere, Dili Timur, sekembalinya dari Liquica menyebutkan korban tewas 25
orang. Dari 25 orang tewas, yang sudah bisa diidentifikasi adalah Kepala
Desa Dato Jacinto da Costa Conceicao Pereira, Bendahara Dinas Peternakan Tk
II Liquica, Felisberto Dos Santos.

        "Saya bilang ada 25 orang yang meninggal. Saya terima surat dari Bapak
Danrem Tono ada 5 orang tewas. Tapi, itu di dalam rumah, di luar katanya
masih ada tapi harus dibuktikan. Di dekat gereja, di bawah pohon banyak
tanda-tanda darah dan saya tidak tahu ada berapa. Lebih baik tanyakan kepada
mereka yang angkut ke dalam Hino. Soal siapa yang tembak, tanya kepada
anggota Kodim, Brimob dan para militer. Anda tanya kepada saksi mata. Saya
harap agar tidak boleh menggunakan cara-cara seperti itu," kata Uskup Belo.

        Menurut Uskup Belo cara-cara kekerasan itu tidak akan menyelesaikan
masalah, mensinyalir bahwa cara-cara seperti itu adalah salah satu strategi
untuk mengagalkan jajak pendapat yang akan dilakukan PBB Juli mendatang.
"Saya kira strategi seperti itu juga tidak akan berhasil karena kita hanya
menanamkan dalam hati orang dengan kebencian, dan lain sebagainya. Itu tidak
baik. Jadi, perlu merubah sikap bagaimana merebut hati rakyat," ujarnya. 

        Sebagai warga negara RI, Uskup Belo merasa malu karena orang-orang yang
harus mempraktekkan Pancasila, seperti BMP sama sekali tidak menghormati
prinsip- prinsip mulia Pancasila. "Jadi, saya malu sebagai warga negara
Indonesia ini dan saya bisa katakan ini pembantaian. Saya melihat bahwa kita
sudah mau masuk milinium ke tiga, tapi tanda-tanda kita kembali abad
pertengahan, malah kita kembali ke abad batu atau besi. Apa yang terjadi di
Pastoran Liquica itu menunjukkan begitu," kata Uskup Belo.

        Uskup Belo juga mengatakan bahwa dirinya berdoa khusus kepada mereka
sebagai rasa solidaritas terhadap korban dan seluruh umat yang telah
mengalami musibah itu. Menurut dia, kasus Liquica itu hampir sama dengan
insiden Santa Cruz, di mana korban yang meninggal dunia menurut versi
pemerintah hanya 19 orang dan kemudian di bentuk Komisi Penyelidikan
Nasional (KPN) angka itu berubah menjadi 50 orang.

        Karena itu, Uskup Belo mengharapkan agar presiden RI memutuskan untuk
membentuk sebuah Dewan Kehormatan Militer (DKM) untuk mempelajari dan
menganalisa peristiwa itu sehingga bisa meminta pertanggungjawaban dari
pimpinan ABRI maupun sipil. Menurut Belo, pesoalan yang muncul di Liquica
itu sebagai akibat dari kesalahan pimpinan daerah. Ia menyatakan bahwa
Gubernur Abilio Jose Osorio Soares pernah berjanji akan menggantikan Camat
Maubara, Jose Afat dan Bupati Liquica, Leonito Martins. Namun, hingga kini
janji itu belum ada realisasinya. "Itu hanya menjadi sebuah drama di mana
banyak orang meninggal," katanya.

        Uskup Belo, Danrem Tono dan Kapolda Silaen menghimbau kepada masyarakat
Timor Timur umumnya, dari Liquica khususnya menahan diri dan tidak melakukan
kekerasan yang menimbulkan jatuhnya korban jiwa. Karena kekerasan akan
mengundang kekerasan.  

        "Lebih baik kita menahan diri dan membiarkan supaya nanti diselesaikan oleh
pihak yang berkompeten," ucap Belo. 

        Uskup Belo menghimbau kepada dunia untuk menaruh perhatian ke Timor Timur
karena tragedi ini terjadi di saat gereja tengah melakukan upaya untuk
menyelenggarakan dialog rekonsiliasi dengan dua kelompok yang bertikai di
Timtim. Tetapi, niat baik gereja itu dinodai dengan peristiwa itu.
"Perbuatan itu," kata Belo, "Hanya mempermainkan 2 orang Uskup (Uskup Belo &
Uskup Basilio), sebagai hirarki gereja di Timtim yang berkehendak baik untuk
mediator bagi kelompok pro integrasi dan pro kemerdekaan." 

        Uskup Belo menghimbau kepada orang-orang yang mempunyai ideologi yang
berbeda jangan menggunakan gereja sebagai tempat untuk kegiatan politik.
"Saya sudah sampaikan itu sejak tahun 1990 s/d 1991 dan 1994. Jangan
menggunakan tempat-tempat sakral, karena nanti gereja yang akan dituduh,
gerejalah yang memberikan perlindungan kepada orang-orang itu.
Mudah-mudahan, panglima ABRI dan Presiden Habibie memahami situasi sekarang
ini," ujarnya.

        Mengenai aktivitas seharian Kota Liquica yang lumpuh, Danrem Tono
mengatakan bahwa pihaknya kini tengah berupaya untuk menghidupkan kembali
aktivitas, seperti perekonomian, perkantoran dan pendidikan.

        Untuk mengatasi kasus Liquica dan memberikan rasa aman kepada masyarakat
setempat kini telah ditempatkan 1 batalyon teritorial dan 1 SSK Brimob.
Uskup Belo, Danrem Tono dan Kapolda Timbul Silaen juga sepakat untuk turun
lagi ke Liquica pada minggu 11/4/99 dengan harapan umat setempat tanpa rasa
takut mengikuti ibadah di Gereja.

        Menurut Danrem Tono, kasus Liquica berkembang menjadi besar, karena
terbatasnya personil kepolisian sehingga sulit membendung massa yang
jumlahnya lebih besar.

        Untuk mengatasi masalah-masalah sosial kemasyarakatan itu adalah tugas
kepolisian diback-up oleh satuan-satuan teritorial. Saat kejadian,
satuan-satuan teritorial tidak berada di Liquica. "Siapapun yang menangani
kalau namanya massa dalam jumlahnya yang besar dan personil kepolisian
sedikit tidak akan bisa dikendalikan," katanya.

        Sementara itu, Kapolda Silaen juga membantah adanya sinyalemen bahwa aparat
yang menyerang gereja. "Saya garis bawahi bahwa serbuan itu tidak dilakukan
ke gereja. Karena sensitif ya kalau terjadi penyerangan ke gereja, terus
tidak dicegah. Kejadian itu terjadi di rumah pastor Rafael dos Santos,"
katanya.

SUASANA

        Sesuai pemantauan STT, situasi keamanan di kota Liquica cukup terkendali.
Meski demikian, suasana tegang masih terasa dalam kehidupan masyarakat.
Sepanjang perjalanan dari Dili menuju Liquica, tampak rumah-rumah di kawasan
pantai mulai Desa Ulmera hingga Kota Liquica masing-masing memasang bendera
merah putih. Warga yang berada di pingiran jalan, sebagian menggunakan kain
merah putih baik di kepala diikat di tangan atau digantung pada leher. Kota
Liquica memang masih dikuasai pasukan BMP. Mereka melakukan patroli di
mana-mana, bahkan menurut informasi, pasukan ini kemarin (7/4) melakukan
pembersihan di Kecamatan Bazartete. Di Kota Liquica, aparat juga tampak
melakukan patroli keliling dengan senjata lengkap.

        Sementara itu, ratusan pengungsi kini memadati rumah dinas bupati kdh TK II
Liquica dan Polres Liquica. Di rumah jabatan Bupati, mayoritas berasal
pengungsi Maubara yang sudah hampir satu bulan berada di kompleks gereja
Liquica. Sebagian di antara mereka terluka di kepala, akibat serangan selasa
(6/4) siang ke rumah kediaman pastor Paroki Rafael dos Santos.

        Sedangkan di Polres Liquica, pengungsi berasal dari berbagai pelososk
Liquica, akibat aksi penyerangan BMP. Para pengungsi itu bukan saja putra
daerah, tapi juga masyarakat non pribumi seperti masyarakat biasa, PNS, dan
guru. (eme/jem/elo/joe)


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke