Precedence: bulk
PASUKAN PERANG PRO-INTEGRASI GELAR APEL AKBAR DI MALIANA
Maliana, (STT, 9/4/99). Menyikapi pernyataan panglima perang Falintil,
Xanana Gusmao yang meminta kelompoknya untuk berperang melawan paramiliter
dan ABRI di Timtim, Kamis (8/4) pasukan perang pro integrasi menggelar apel
akbar di Maliana, ibukota Kabupaten Bobonaro, sekitar 100 km arah barat Dili.
Apel akbar pasukan pro integrasi yang dipimpin panglima pejuang pro
integrasi, Joao da Silva Tavares bermaksud untuk mengecek kesiapan
paramiliter, baik itu kesediaan para militer, baik itu kesiapan mental
maupun fisik guna menghadapi opsi kedua melepas Timtim dan pernyataan Xanana
Gusmao untuk berperang melawan paramiliter dan ABRI di Timtim. Bersamaan
dengan apel akbar itu dilakukan juga pengukuhan organisasi FPDK (Forum
Persatuan Demokrasi dan Keadilan) cabang Kabupaten Bobonaro sekaligus
sosialisasi otonomi luas kepada masyarakat Kabupaten Bobonaro. FDKP adalah
organisasi baru yang dideklarasi elit-elit politik pro integrasi pada
27/2/99, guna menyatukan visi dan persepsi masyarakat Timtim tanpa melihat
latar belakangnya.
Acara itu dihadiri tokoh-tokoh pro integrasi, seperti Guilherme dos Santos,
Jorge Pereira Tavares, Jose Estevao Soares, Natalino Monteiro, Filomeno de
Jesus Hornay, Basilio de Araujo dan tokoh pro integrasi lainnya. Turut
diundang tamu dari propinsi tetangga NTT. Sementara pasukan perang pro
integrasi yang hadir dalam apel akbar itu adalah dari 12 kabupaten kecuali
kabupaten Ambeno. Pasukan paramiliter dari 12 kabupaten itu masing-masing,
Alfa (Lospalos), Makikit (Viqueque), Sera dan Saka (Baucau), Api (Aileu),
Aitarak (Dili), Mahidi (Ainaro), Laksaur Merah Putih (Kovalima), Naga Merah
(Ermera), Besi Merah Putih (Liquica) dan Halilinter (Bobonaro).
Apel akbar pasukan itu ditandai dengan pemeriksaan pasukan oleh Joao
Tavares didampingi wakilnya, Eurico Guterres dan komandan sektor timur Joao
Belo dan komandan sektor tengah, Cancio Lopez de Carvalho serta para
komandan batalyon para militernya.
Ribuan masyarakat yang hadir dalam acara itu bersorak-sorai dan meneriakan
yel-yel "hidup integrasi, hidup merah putih, hidup panglima dan mati/hidup
tetap dengan integrasi". Ketika Joao Tavares memeriksa pasukan. Suasana
lapangan sepak bola, Maliana berubah menjadi lautan manusia dan lapangan
hijau itu berubah menjadi merah putih.
Pasukan pro integrasi dari 11 kabupaten sejak hari Rabu (7/4) sore sudah
berada di Kota Maliana. Sedangkan pasukan Halilintar (pasukan khusus
pimpinan Joao Tavares) dan masyarakat Atabae, baru berangkat dengan konvoi
kendaraan roda dua dan empat, Kamis pagi. Di sepanjang jalan, mereka tak
henti-hentinya meneriakan yel-yel "hidup merah putih dan hidup integrasi".
Di hadapan panglimanya, pasukan perang pro integrasi itu mengatakan siap
mengangkat senjata dan siap menghadapi opsi melepas Timtim dari negara
kesatuan RI dan pernyataan Xanana Gusmao untuk berperang melawan paramiliter
dan ABRI. "Kami siap bertempur dalam waktu 1 kali 24 jam, kalau itu yang
diinginkan Xanana dan kelompoknya," jawab mereka ketika ditanya panglimanya
tentang kesiapan mereka untuk bertempur di medan perang.
Menurut Eurico Guterres, kendatipun perang tidak terjadi di Timtim, namun
pasukan pro integrasi diminta tetap mengantisipasi dan waspada. Ia
menghimbau kepada paramiliter untuk menjaga kondisi kesehatan sehingga
kondisi tetap prima. "Saya minta kalian harus jaga kondisi kesehatan.
Kurangi merokok dan minum minuman keras. Sebab kalau kondisi kesehatan
goyah, tak akan mampu bertempur di medan perang," tandas Eurico.
Untuk memperlihatkan kesiapan pasukan pro integrasi, Eurico menampilkan
pasukan BMP memperagakan keampuhan senjata tradisional. Sekitar 10 orang
pasukan BMP secara serentak menembakan senjata tradisional yang mengunakan
peluru terbuat dari besi beton. Menurut Eurico, meskipun ABRI keluar dari
Timtim, namun pasukan pro integrasi mampu mempertahankan integrasi dan
bendera merah putih dari bumi Timtim dengan senjata tradisional.
"Integrasi dan merah putih kami tetap pertahankan hingga titik darah
penghabisan. Saya dan kawan-kawan siap bertempur kalau itu yng diinginkan
Xanana. Tapi, nanti yang menderita bukan elit-elit politik yang sekarang
bertikai, tapi rakyatlah yang sengsara. Kalau perang elit -elit politik itu
lari dari tanggungjawab," kata Eurico.
Kepada warga yang hadir, Eurico menanyakan apakah masyarakat mau damai atau
perang, secara serentak mereka menjawab ingin damai karena perang itu pahit.
"Kami ingin damai, kami tidak mau perang karena perang itu sungguh pahit.
Kami sudah merasakan kepahitan itu pada tahun 1975. Kami tidak ingin
kepahitan itu terulang lagi," kata mereka.
Karena itu, baik panglima Joao Tavares, Eurico guterres, dan Cancio Lopez
mengimbau kepada masyrakat untuk memilih alternatif yang terbaik dari dua
opsi yang ditawarkan pemerintah RI. Pada kesempatan itu juga tokoh-tokoh pro
integrasi itu menjelaskan secara rinci tentang dua opsi yang ditawarkan
pemerintah RI kepada masyarakat. Eurico Guterres dalam ksempatan itu
memerintahkan kepada pasukan pro integrasi untuk melindungi rakyat dari
berbagai ancaman dan gangguan dari oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab
yang melakukan penculikan, pembunuhan, teror dan intimidasi terhadap masyarakat.
SITUASI KOTA DILI
Sementara sore hari, sekitar pukul 16.00 ada pemeriksaan ketat oleh aparat
militer (ABRI) kurang lebih 50 orang berseragam militer tanpa nama dan
pangkat, dengan senjata M-16 di Kecamatan Dili Barat, Kampung Beto Barat.
Mereka memeriksa dari rumah ke rumah, mencari pemuda Timtim berambut panjang
dan memeriksa KTP. Para militer membawa juga foto orang-orang yang tampaknya
termasuk daftar hitam aparat militer. (jem)
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html