Precedence: bulk
DILI MATI TOTAL, MASYARAKAT MENANTI KEMATIAN
DILI (MateBEAN, 19/4/99), "Kota Dili telah mati! Dan kami hanya
menunggu waktu untuk menyusul". Demikian informasi yang masuk silih berganti
ke redaksi MateBEAN sepanjang Sabtu (17/4). Hampir puluhan penelepon dari
Dili dan beberapa tempat lain, terkandung pesan yang intinya mengisyaratkan
tanda "SOS".
Hari Sabtu (17/04) merupakan hari bahagia bagi umat Islam, karena
merupakan tahun baru hijriah. Namun, bagi masyarakat Timor Timur adalah hari
naas. Hari bertambahnya korban yang tewas, dan juga hari menanti datangnya
kematian bagi mereka yang masih hidup. Seorang bocah bernama Manuel Junior
Carrascalao bersama puluhan orang Timor lainnya secara biadab dibantai
milisi bentukan militer Indonesia, di dalam rumah Manuel Carrascalao di
Jalan Dr Antonio de Carvalho, di pusat Kota Dili.
Salah satu penelepon dari Dili, dengan terisak-isak dan penuh
ketakutan, menceritakan bahwa sepanjang hari hanya terkurung di kamar
bersama keluarganya. Dari rumahnya ia hanya bisa mendengar bagaimana
beringasnya para orang-orang yang digerakkan oleh kelompok Besi Merah Putih
itu menyerang dan menyiksa, bahkan tanpa tanggung-tanggung menghabisi siapa
saja yang ditemuinya. Ia juga bisa mendengar rentetan tembakan di rumah
Ketua GRPRTT, Manuel Carrascalao.
"Kami disini tak bisa bergerak satu sentipun. Sepertinya, kami hanya
tinggal menunggu giliran kami tiba untuk dibantai seperti mereka yang berada
di rumah pak Manuel," katanya dengan nada penuh kekuatiran. Lebih lanjut
sang penelepon yang adalah seorang ibu itu, memohon pada MateBEAN untuk
bersama teman-teman yang lain bisa melakukan sesuatu agar dapat
menyelamatkan mereka dari situasi yang sangat buruk ini.
"Tolong lah bikin sesuatu! Hubungi para diplomat asing di situ agar
melakukan sesuatu. Jika tidak, dalam waktu dekat mereka datang hanya akan
menemui rakyat Timor Timur mati bersama daerahnya," demikian sang ibu
mengakhiri percakapannya dengan MateBEAN.
Sementara dari Ermera, seorang penelepon hendak meminta petunjuk
dari Xanana Gusmao. Permintaan itu berkaitan dengan adanya ancaman dari
kelompok paramiliter untuk menandatangani sebuah dokumen yang isinya adalah
pernyataan dukungan terhadap integrasi. Bunyi ancamannya, jika mereka tidak
memberikan tanda tangan maka seluruh rakyat Ermera akan dibunuh. Karena itu,
ia hendak meminta petunjuk dari Xanana Gusmao, apa sebaiknya mereka lakukan:
menolak atau memberi tandatangan.
Seorang penelepon lainnya, kali ini dari Baucau menceritakan bahwa
sudah hampir satu bulan ia bersama teman-temannya tidak pernah tidur di
rumah. Mereka memilih tidur di tempat-tempat tersembunyi, karena takut
ditangkap dan dibunuh. Tapi bukan oleh paramiliter, tapi oleh ABRI. Ketika
ditanya oleh MateBEAN, apakah ada juga kelompok paramiliter yang bergerak
disana, ia menyatakan bahwa di sepanjang jalan raya dan hutan belantara
telah dibanjiri oleh satuan tentara yang baru didatangkan dua minggu
terakhir ini. Ia justru tidak melihat kelompok paramiliter.
Beberapa sumber MateBEAN di Baucau dan Dili membenarkan hal itu.
Mereka menyatakan bahwa, paramiliter lebih banyak bergerak di wilayah barat.
Sementara di wilayah timur dan pelosok-pelosok lain, semuanya dikuasai ABRI.
Bahkan, menurut sumber dari Dili yang dihubungi MateBEAN, menyatakan bahwa,
paramiliter yang melakukan aksi pawai dan pembantaian sejak pagi hingga sore
telah menghilang dari Kota Dili. "Mereka telah kembali ke Maubara dan
Liquica. Yang sekarang memenuhi jalan-jalan di Kota Dili adalah
satuan-satuan Brimob dan tentara. Semua jalan-jalan di Kota Dili penuh
dengan satuan tentara."
Dan sementara masih berbicara di telepon, sumber MateBEAN tadi,
melaporkan bahwa 4 buah truk Hino sedang melintas di depan rumahnya.
"Semuanya penuh dengan tentara. Dari dalam truk para tentara sedang
mengarahkan senternya ke setiap rumah dengan posisi siap menembak.
Benar-benar sangat menakutkan."
Sebelum mengakhiri percakapan, sumber tadi sempat menyebutkan
beberapa tempat dan instansi yang dirusak oleh kelompok paramiliter. Rumah
dan sebuah mobil milik almarhum Herman dibakar hangus. Herman adalah korban
yang tewas ditembak ABRI di Manatuto pada Juni tahun lalu.
Selain itu, rumah almarhum Bendito Fortunato yang tewas ditembak
sniper di Bairro Pite, Dili Barat bulan Februari lalupun dibakar. Kantor
CNRT, rumah beberapa anggota CNRT seperti Leandro Isaac, David Ximenes ikut
diobrak-abrik dan dibakar. Tidak ketinggalan poliklinik di Gereja Motael pun
ikut diserang. Belum diketahui sejauh mana kerusakan yang diderita klinik
relawan ini.
Hingga kini menurut siaran berita televisi Portugal (RTPI) korban
yang tewas berjumlah 13 orang. Enam orang tewas di rumah Ketua GRPRTT Manuel
Carrascalao, di mana salah satunya adalah putra bungsu Manuel sendiri.
Namun, berita ini belum dapat dijadikan sebagai laporan yang baku. Karena
menurut sumber MateBEAN di Dili, bahwa di rumah Manuel terdapat ratusan
pengungsi dari Liquica dan Maubara.
Semua pengungsi itu kini lenyap. Menurutnya, setelah diserang tempat
kejadian langsung dikuasai oleh Brimob dan tentara. Pihak tentara bahkan
tidak mengijinkan tim dari Palang Merah Internasional untuk masuk ke tempat
kejadian. Pihak keluarga hanya bisa diijinkan masuk setelah dua truk Hino
yang didatangkan ke tempat kejadian keluar dari rumah Manuel. Dan korban
yang ditemukan di dalam rumah adalah 6 orang.
Kelihatannya ABRI telah berhasil melakukan sebuah rekayasa yang
telah dipersiapkan jauh-jauh sebelumnya. Rekayasa yang tidak hanya
menjerumuskan rakyat Timor Timur ke dalam penderitaan yang lebih tragis,
tapi juga semakin mencoreng nama baik dan wibawa internasional pemerintah
Indonesia. Tidak ada lagi penyelesaian yang terhormat seperti yang
dinyatakan Menlu RI Ali Alatas berkali-kali sejak 27 Januari yang lalu.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html