Precedence: bulk


LAPORAN DARI TIMTIM: KEHADIRAN AITARAK DAN SEJUMLAH AKSI KEKERASAN TEROR,
INTIMIDASI, PENYIKSAAN SERTA PEMBUNUHAN

        DILI (MateBEAN, 20/4/99), Situasi Dili kian berbahaya bagi rakyat Timtim.
Milisi bersenjata dengan dukungan ABRI dan birokrasi Pemda terusd 
mengembangkan teror di kalangan warga sipil. Melihat situasi politik
terakhir di Timor Timur khususnya di Kota Dili, ada dugaan bahwa maraknya
aksi kekerasan yang melibatkan MPO sebagai pelaku utama dan korbannya adalah
masyarakat kecil, para politisi pro kemerdekaan, aktifis dan para pemuda
Timor Leste tidak lepas dari adanya konflik internal di kalangan elit
Pemerintah Indonesia terutama di jajaran para perwira tinggi (Jenderal) ABRI
baik yang aktif maupun yang sudah purnawirawan. Mereka yang katanya
"berjasa" untuk Timor Timur seperti LB Moerdani, Try Sutrisno dan Prabowo
Subianto (mantan Danjen Kopassus) beserta barisannya ingin tetap
mempertahankan Timor Timur sebagai bagian sah dari Negara Indonesia.
        Menurut salah satu sumber informasi di kalangan ABRI yang dapat dipercaya
mengatakan bahwa barisan perwira pro status quo itu telah diketahui
memfasilitasi gerakan-gerakan politik dan semi militer yang akhir-akhir ini
membuat situasi politik di Timor Timur semakin kacau, terutama memfasilitasi
keberadaan Organisasi Pro-Otonomi (MPO). Sementara barisan jenderal aktif
seperti Jenderal Wiranto (Menankam/Pangab), sejak reformasi di Indonesia di
duga kuat justru mendukung untuk memerdekakan alias melepas Timor Timur
sebagai salah satu propinsi Negara Indonesia. 
        Kondisi konflik politik internal ini yang membuat situasi politik di Timor
Timur menjadi kacau, para perwira militer ABRI yang pro status quo Timor
Timur tengah mengupayakan paradigma "Perang Saudara di Timor Timur".
        Kemungkinan besar biaya operasi untuk MPO adalah berasal dari para Jendral
yang dikalangan pro demokrasi Indonesia sering di sebut sebagai barisan para
Jenderal preman. Ada fakta menarik yang diperoleh di lapangan yaitu ternyata
sebagian anggota para milisi pro-otonomi/Integrasi adalah terdiri dari
orang-orang Atambua (NTT) dan para anggota KOPASUS dan SGI.
        Verikut adalah laporan situasi dan perkembangan HAM di Timor Timur sejak
apel akbar MPO di Dili sejak 17 April 1999.
        Pada Sabtu 17 April 1999 di halaman Kantor Gubernur Timor Timur diadakan
upacara akbar pengukuhan Milisi Pro-Otonomi (MPO) Komando AITARAK (dianggap
sejenis dengan Kopassus), pimpinan Eurico Guterres. Pada upacara akbar ini
dihadiri pasukan MPO-MPO dari beberapa daerah seperti Halilintar (Atabae),
Dadurus (Maliana), AHI (Aileu), Ablai (Same), Mahidi (Ainaro), Laksaur Merah
Putih (Suai), Besi Merah Putih (Maubara), Makikit (Viqueque), Saka (Baucau),
Jati Merah Putih (Lospalos) dll. Turut hadir pada upacara itu semua pejabat
sipil dan militer mulai dari Gubernur, Danrem (yang mewakili), Kapolda (yang
mewakili) termasuk pejabat sipil di daerah dari barisan pro-otonomi. 
        Upacara yang dimulai sekitar pk 10.00, selain dihadiri para milisi dan para
pejabat tersebut, juga "dihadiri" sebagian warga masyarakat kota Dili. Para
warga masyarakat kota Dili pada pagi hari sekitar pk 06.00 telah dipaksa
untuk pergi ke tempat upacara (halaman kantor Gubernur) oleh para Babinsa
beserta pimpinan desa. Sama seperti upacara pengukuhan milisi di daerah
lain, maka di Dili masyarakat dipaksa aparat untuk menghadiri upacara. Warga
masyarakat yang dipaksa itu terdiri dari para orang tua dan warga pendatang
yang berasal dari propinsi NTT. Sedangkan warga pendatang yang berambut
lurus tidak dipaksa untuk mengikuti upacara, kemunkinan karena akan mudah
diketahui oleh para wartawan. Menurut seorang sumber yang tinggal di
Perumahan Surik Mas, Dili Barat, menceritakan bahwa pada Sabtu (17/4)
sekitar pukul  06.00, Ketua RT di lingkungan tempat tinggalnya yang
kebetulan adalah seorang anggota ABRI, datang membangunkan dan memaksa
masyarakat - khususnya orang Timor Timur dan orang NTT untuk pergi ke
upacara di Kantor Gubernuran.
        Dalam upacara, "Panglima Perang Pro Integrasi" Joao da Silva Tavares yang
mendapat kesempatan pertama dalam sambutannya mengatakan bahwa kehadiran
pasukan pro integrasi (Milisi) ini bukan dimulai sekarang, tetapi sudah ada
sebelum integrasi Timtim ke Indonesia tahun 1975. Kehadiran pasukan ini
untuk melawan Fretilin. Sedangkan Eurico Guterres, pada sambutannya membakar
emosi para milisi untuk melakukan penangkapan dan pembunuhan terhadap para
penghianat integrasi.   "Mulai hari ini, 17 April 1999, saya perintahkan
semua milisi pro integrasi untuk melakukan pembersihan terhadap penghianat
integrasi. Tangkap dan bunuh mereka bila perlu. Saya Eurico Guterres akan
bertangung jawab," seru Eurico Guterres berapi-api. Selain itu Eurico
Guterres juga memerintahkan para milisi untuk melakukan pembantaian, dan
juga mengecam Ir Mario Viegas Carrascalao, mantan gubernur Timor Timur dua
periode dan menyuruh para milisi untuk membakar rumahnya.
        Setelah selesai upacara pengukuhan tersebut, para milisi melakuan pawai
keliling kota Dili dengan menggunakan kendaraan roda dua dan empat. Dalam
aksi pawai  tersebut para milisi mengambil rute dari arah kantor Gubernur
tempat upacara menuju ke kompleks Kolmera belok kiri menuju ke Kampus Untim,
ke arah depan kantor Conselho Nacional da Recisitencia Timorence (CNRT).
Tepat di depan kantor CNRT milisi mulai melakukan tembakan secara rentetan
ke udara. Kemudian di depan rumah Almarhum Herman das Dores (yang ditembak
mati oleh militer di Desa Obrato Kabupaten Manatuto, April 1998). Para
milisi rame-rame turun jalan dan membakar rumah Herman das Dores, yang
terletak di Jalan Balide, juga milisi membakar hangus satu unit mobil kijang
pick up dan satu unit mobil hard top milik keluarga Herman das Dores.
        Setelah di Balide, milisi menuju ke Taibesi, Asrama Tentara 745 lalu menuju
ke wilayah Becora arah Timur kota Dili. Di Becora Kec. Dili Timur para
milisi tersebut melakukan penembakan secara membabi buta dan membakar
beberapa buah rumah dan kios yang berderet di Terminal BUS di kampung Bedois
Desa Becora itu. Sampai sekarang (20/04) jumlah rumah yang dibakar dan
kerugiannya belum diketahui karena situasi dan bunyi letusan senjata api
dari milisi terhadap rakyat biasa masih  berlangsung di wilayah itu.
Sedangkan dua korban yang sempat diidentifikasi ialah:

1. Manuel Pinto, laki-laki 50 thn, berasal dari dan tinggal di Desa Bahu
Kab. Baucau. Korban tertembak kena pada ketiak bagian bawa dan tembus di
dada bagian kiri. Korban  tertembak ketika baru saja turun dari BUS tiba
dari Baucau di terminal Becora, Dili Timur. Selanjutnya korban dibawa ke
Poli Klinik Motael untuk pertolongan. Berdasarkan hasil pemeriksaan
sementara medis di Klinik Motael peluru mengena juga pada usus sehingga
lukanya sangat berat dan harus dioperasi. Namun hingga pukul 18.15 wita
karena korban banyak mengeluarkan darah akhirnya menghembuskan nafasnya dan
meninggal dunia. Mayat korban selanjutnya di bawa ke keluarganya di Baucau
untuk dikuburkan, pada hari minggu 19/04/1999.
2. Sebastiano Martins, laki-laki 21 thn, tertembak di bagian paha kanan.
Korban tertembak pada saat penyerangan di Terminal Becora di Desa Becora
Kec. Dili Timur. Saat ini korban dirawat di Poliklinik Motael.

        Setelah melakukan aksi penembakan yang membabi buta para milisi kembali
menuju Audian kemudian belok kiri  menuju ke Sekretariat Gerakan
Rekonsiliasi & Persatuan Rakyat Timor Timur (GRPRTT) di rumah kediaman
Manuel Viegas Carascalao yang juga sebagai Ketua Umum GRPRTT. Ditempat ini,
milisi gabungan dari Aitarak, Besi Merah Putih (BMP), Mahidi, Laksaur, dll
mengepung rumah kediaman bapak Manuel Carracalao, selanjutnya melakukan aksi
kekerasan  diantaranya menghancurkan rumah kediaman bapak Manuel Carascalao,
menyiksa dan membunuh beberapa warga pengungsi dari daerah Maubara
Kab.Liquisa, Alas dan Turiscai Kab.Manufahi, Kab. Ainaro dan termasuk Manuel
Carascalao, putra satu-satunya bapak Manuel Viegas Carrascalao. Sesuai
dengan hasil investigasi sementara  Yayasan HAK, di lokasi kejadian
ditemukan beberapa korban jiwa dan kerugian materiil. 

        Identifikasi sementara para korban yang tertembak di rumah Manuel Viegas
Carascalao sampai dengan 19/04, antara lain:

1. Manuel Carrascalao, laki-laki 18 thn, anak kandung bapak Manuel Carscalao
(Ketua GRPRTT), tinggal di Tropikal Desa Bairo Dus Grilos, Kec.Dili Barat.
Korban termasuk anggota Tim Relawan Kemanusiaan yang selama ini membantu
melayani dan memfasilitasi warga pengungsi yang ditampung di rumah bapak
Manuel Carrascalao. Ia dibunuh dengan cara ditembak satu kali dibagian atas
dahi kiri alis mata dan peluruh tembus di bagian belakang kepala. Dua
tusukan pedang samurai pada bagian perut tembus ke belakang kemudian dibacok
dengan pedang (surik) dari belakang kena pada bagian kiri bahu. Koraban ini
lansung tewas di dalam rumahnya. Mayat korban selanjutnya dievakuasi ke
rumah Sakit Wira Husada Lahane Dili Barat. Atas permintaan Uskup Dioses Dili
Mgr. Carlos  Filipe Ximenes Belo, SDB  dan keluarganya kepada Danrem 164 WD
Timor Timur Kol. Tono Suratman, sehingga mayat korban diserahkan kepada
keluarga 19/04 disemayankan di Comor Kecamatan Dili Barat selanjutnya
dimakamkan sesuai tata cara adat dan gereja Katholik.

2. Marito, biasa dipangil Micky, laki-laki, 18, pelajar SMUK Paulus VI Dili,
tinggal di Tropikal Desa Bairo Dus Grilos, Kec. Dili Barat. Korban adalah
keponakan bapak Manuel Carrascalao(ketua GRPRTT), anggota Tim Relawan
Kemanusiaan yang selama ini membantu merawat dan menfasiitasi warga
pengungsi yang tertampung di rumah Manuel Carrascalo. Ia ditusuk dua kali
pada  bagian siku tangan kanan, satu kali pada telapak kiri, dua kali
tusukan pada bagian rusuk samping kanan, dan satu kali tusukan pada perut
kanan. Hanya karena bantuan dan pertolongan Tuhan, akhirnya korban yang
kondisi lukanya sudah sangat parah berhasil selamat dan kemudian korban
diangkut ke Poliklinik Motael Dili oleh beberapa anggota polisi (BRIMOB)
untuk dirawat. Hingga tanggal 19 April 1999, pukul 17.00 korban masih tetap
dirawat di poliklinik Motael dengan kondisi yang belum juga membaik. 

3. Victor Dos Santos Lay atau biasa dipangil Apin, laki-laki, 19, anak dari
Rita Lay, dibacok dibagian pergelangan kedua tangan, ibu jari bagian tangan
kiri (hampir putus), di bagian dahi kiri dan tertembak satu peluruh di
bagian lutut kaki kanan. Saat ini korban sedang dirawat di Poliklinik Motael
Dili. Sebelumnya korban sempat diangkut ke Rumah Sakit Wirahusada Lahane
(milik ABRI) namun karena permintaan dari pihak keluarga akhirnya pada 18/4,
dengan bantuan Palang Merah Internasional (ICRC) korban dipindahkan ke
Poliklinik Motael.

4. Joao Junior Cairo Alves, 18, tertembak pada kedua pergelangan tangan
bagian siku kanan, perut bagian samping dan dada samping kanan. Korban
adalah anak dari  Mario Joao C Alves dan Maria de Fatima. Korban saat ini
sedang dirawat di Poliklinik Motael. 

        Menyangkut jumlah korban baik yang tewas seketika maupun yang luka-luka,
yang sebenarnya kemunkinan besar banyak karena saat terjadi penyerangan di
rumah Manuel Carascalao, tercatat para pengungsi yang ada di rumah tersebut
berjumlah 143 orang. Lima puluh lebih orang dari para pengungsi yang selamat
dikabarkan telah di angkut ke POLDA Timor Timur (bukan mengungsi seperti
yang dikatakan oleh Kapolda Timor Timur).

        Sedangkan saat penyerangan yang tiba-tiba dan brutal itu, tak satupun para
pengungsi yang dapat lolos karena jalan untuk meloloskan diri sudah
terisolasi oleh para milisi MPO. Dimana para pengungsi yan lain, kemunkinan
sudah ikut tewas. Artinya yang tewas di rumah Manuel Carascalao tidak hanya
12 orang seperti berita resmi dari penguasa di Timor Timur. 

        Kejadian di depan Hotel New Ressende Inn, 17 April 1999 mengakibatkan
jatuhnya seorang korban bernama Afonso Mendonca Araujo, laki-laki, 18, buruh
di Pelabuhan Dili. Korban dibacok  saat pulang kerja dari Pelabuhan Dili.
Korban adalah orang yang tidak punya pretensi terhadap konflik antar
kelompok pro dan anti Kemerdekaan selama ini. Sebagai pekerja kuli setiap
harinya terbiasa dengan melakukan pekerjaan kesehariannya saja. Ketika
melewati kerumunan para milisi di depan New Resende Inn, langsung  korban
dibacok dengan pedang (surik) oleh milisi gabungan tepat kena pada kepala
bagian atas sehingga korban langsung terjatuh. Selanjutnya korban berhasil
dibawa ke Poliklinik Motael untuk menjalani perawatan intensif sampai dengan
sekarang.
        Ditempat yang terpisah pada waktu yang bersamaan di Desa Metiaut Kec. Dili
Barat, milisi dari Aitarak, pimpinan Eurico Guterres melakukan  pengejaran,
penembakan luka-luka dan pembongkaran terhadap dua buah rumah milik Julio da
Costa (35 thn). Sesuai dengan hasil pemantauan dan investigasi sementara
kami, korban-korban yang dapat didentifikasikan sebagai berikut:
1. Joao Baptista, laki-laki, 18, pelajar SMU Negeri III Dili, tinggal di
Desa Metiaut, Kec. Dili Barat.  Korban tertembak dengan senjata api kena
pada pergelangan kaki bagian bawa. Setelah kena tembakan korban langsung
terjatuh lalu ditolong oleh rekan-rekan lainnya dan dibawa ke poliklinik
Motael untuk mendapat perawatan. Hingga kini korban masih menjalani
perawatan intensif di poliklinik Motael. 
2. Manuel Gama, laki-laki, 18, pelajar SMU Katholik Dharma Bhakti Kelas II,
tinggal di Desa Metiaut Kecamatan Dili Barat. Korban ini tertembak dengan
senjata api kena pada siku-siku tangan peluru tembus dan tangannya patah,
satu peluruh lagi kena pada bagian bawa perut samping atas kemaluan.
Selanjutnya korban ditolong rekan-rekannya lalu dibawa ke poliklinik Motael
dan hingga sekarang masih menjalani perawatan secara intensif. 
3. Agapito Ximenes, laki-laki, 23, tinggal di Desa Metiaut Kecamatan Dili
Barat. Korban ditembak dengan senjata api peluru kena pada betis kaki kiri
tulang patah dan tembus mengena pada betis kaki kanan. Selanjutnya korban
ditolong oleh rekan-rekannya lalu dibawa ke poliklinik Motael dan hingga
sekarang masih menjalani perawatan secara intensif. 
4. Carlos da Silva, laki-laki, 20,  tinggal di Desa Metiaut Kecamatan Dili
Barat. Korban tertembak dengan senjata api pada bagian perut tembus ke
belakang dan satu peluru lagi kena pada pergelangan tagan tulangnya patah.
Selanjutnya korban ditolong oleh rekan-rekannya lalu dibawa ke poliklinik
Motael dan hingga sekarang masih menjalani perawatan secara intensif. 

Perkembangan situasi hari Minggu, 18 April 1999
Satu hari kemudian, setelah aksi kekerasan 17/04, yang mengakibatkan
jatuhnya beberapa  korban jiwa dari warga sipil. Pada minggu 18/04, masih
terus terjadi aksi penembakan oleh para anggota MPO Gabungan terhadap
masyarakat sipil sehingga menyebabkan beberapa orang mengalami luka-luka.
Salah satu korban yang berhasil diidentifikasi sampai hari ini (19/4) adalah
Augusto da Silva, 45, asal Kecamatan Fatuberlihu, tinggal di Desa Becora,
Dili Timur. Korban adalah warga pengungsi dari Alas Kabupaten Manufahi yang
selama ini mendapat bantuan dari lembaga-lembaga Internasional. Ia tertembak
di kedua tangan ketika terjadi penyerangan  para MPO di Becora Kecamatan
Dili Timur, sekitar pukul 09.00. Korban saat itu juga langsung dibawa ke
Poliklinik Motael-Dili untuk dirawat. Saat ini (19/4) masih tetap dalam
perawatan di Poliklinik Motael-Dili

Perkembangan situasi hari Senin, 19 April 1999
Pada hari Senin, 19 April, sejak pukul 08.30 wita terjadi lagi aksi
penembakan yang dilakukan oleh MPO dari kelompok Aitarak dan Besi Merah
Putih (BMP). Penembakan dilakukan di desa Becora, Kec.Dili Barat sebagai
bagian dari usaha MPO untuk menguasai wilayah kota Dili. Penembakan
mula-mula dilakukan oleh anggota MPO terhadap para pemuda yang sedang
berdiri dipingir jalan. Tindakan penembakan ini dibalas oleh para pemuda itu
dengan lemparan batu. Dengan bantuan satuan tentara Kompi C Yanif 744 di
Becora akhirnya kejadian ini diredahkan. Kemudian pada sore harinya sekitar
pukul 15.30 wita aksi penyerangan kembali dilakukan oleh MPO terhadap
sasaran penduduk setempat. Akibatnya banyak masyarakat yang ketakutan,
sementara mengenai korban, sampai dengan laporan ini dibuat belum diketahui.
Antara lain Karena akses Yayasan HAK ke lokasi kejadian belum bisa. Tiap
arus jalan menuju ke Becora Kec. Dili Timur diblokir oleh aparat keamanan
bersama-sama dengan MPO atas komando Eurico Guterres.
        Sementara itu pada 19 April pukul 16.00 wita pihak keamanan dari kesatun
Tentara Nasional Indonesia (TNI-AD) dan anggota Polisi melakukan penguburan
terhadap 12 mayat korban penembakan dan pembunuhan yang terjadi pada 17
April. Mengenai identitas lengkap 12 korban yang dikebumikan pada 19 April
belum diperoleh secara langsung.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke