Precedence: bulk


ABRI MEMPERKOSA WANITA ACEH DAN PAPUA

Oleh: Ottis Simopiaref
E-mail: [EMAIL PROTECTED]

Nederland, 19 April 1999

Walaupun mendung, kota Amsterdam tidak tercurahi hujan yang kadang-kadang
membasahi bumi Nederland selama tiga minggu terakhir ini.  Temperatur siang
itu berkisar 10 derajat celcius.  Musim semi biasanya membawa sedikit
kebahagiaan bagi saya sebagai seorang yang berasal dari tanah tropis, karena
temperatur akan semakin menanjak menuju musim panas yang kadang-kadang
mencapai 30 derajat celcius.  Namun, hari itu rasa kebahagiaanku tercoreng
oleh cerita -pemerkosaan wanita- di Papua Barat dan Aceh.  Di dalam kereta-api
sore menuju Wageningen tempat saya berdomisili tiba-tiba hatiku diterpa badai
kesedihan karena bayangan cerita siang itu.  Beberapa tetesan air-mata yang
tak sanggup aku bendung sempat membahasi pipiku yang mulai berkulit-kasar
termakan usia.  Ya, aku sudah berusia 45 tahun.

AKUI (Aksi Kemanusiaan Untuk Indonesia) sebuah LSM Indonesia yang bermarkas di
Nederland mengadakan sebuah seminar di kota Amsterdam dengan thema -Wanita dan
Krisis Kemanusiaan di Indonesia.  Perlu dicatat, bahwa untuk pertama kali
dalam sejarah sebuah LSM Indonesia di Nederland mengundang seorang aktivis
wanita Papua dari Papua Barat.  Setelah mengikuti beberapa sessi dari Komisi
HAM PBB di Jenewa para aktivis wanita asal, Indonesia, Papua Barat dan Aceh
itu datang ke Nederland.

Seminar bertanggal 17 April 1999 itu dibuka sekitar pukul 14.00 oleh Lily dan
berakhir pukul 16.00.  Sekitar 40 orang Indonesia dan non-Indonesia hadir
memenuhi separoh dari salah satu zal kuliah pada Free University of Amsterdam.
Inggris, Belanda dan Indonesia merupakan tiga bahasa pengantar.  Jos Wibisono
dari Radio Hilversum menjadi moderator.  Hendardi dari Persatuan Bantuan Hukum
Indonesia (PBHI) sebagai salah satu pembicara tak dapat hadir.  Hendardi
direncakan untuk menyampaikan topik -Impunity, Ethnic and Religious Conflict
in Indonesia.  Karena kesibukan organisasi, Hendardi harus kembali ke
Indonesia dari Jenewa.  Feije Duim dari Gereja Nederland dan Clarita Benzon
dari NOVIB (sebuah organisasi Nederland bantuan pembangunan) yang juga
diundang sebagai pembicara tak dapat hadir.

Khairani Arifin seorang aktivis wanita dari organisasi Flower Aceh menyatakan
bahwa ada tiga alasan mengapa wanita Aceh diperkosa oleh anggota ABRI
(Angkatan Bersenjata Republik Indonesia).  "Pertama: seorang wanita dapat
diperkosa karena dituduh, bahwa suaminya menjadi anggota Gerakan Aceh Merdeka
(GAM), kedua: wanita dituduh sebagai anggota GAM, dan ketiga: wanita sebagai
tempat pelampiasan seks anggota ABRI."

Anggota ABRI yang lama meninggalkan isteri demi tugas di daerah lain biasanya
memenuhi kebutuhan seksnya secara biadab.  Apalagi anggota ABRI yang membujang
dan merasa bebas.  Anggota ABRI yang bergaji minim tak sanggup pergi ke rumah
pelacuran.  Mereka merasa lebih gampang memperkosa dengan menggunakan senjata
sebagai alat pemaksa.

Tiga alasan di atas mencakar dan melukai hatiku.  Secara rasional, aku dapat
mengakui dan menerima bahwa seks sebagai kebutuhan jasmani adalah sesuatu yang
normal.  Berbagai jenis binatang menikmati seks melalui cara yang penuh cinta
(lovely) dan indah (beautiful).  Tapi, anggota ABRI yang ingin menikmati seks
sebagai dijelaskan Khairani tak dapat aku cerna.  Aku menjadi mual.  Mereka
yang anggota ABRI menodong wanita dengan senjata untuk memperkosa.  Mereka
membunuh wanita sehabis memperkosa.  Secara manusiawi dan binatangwi (istilah
baru yang harus aku gunakan) aku menolak dan mengutuk dengan keras kebiadaban
anggota ABRI.  Mereka tidak manusiawi dan tidak binatangwi.  Kebiadaban mereka
tak sebanding dengan makluk lain.

Yusan Yeblo, seorang aktivis Papua dari Kelompok Kerja Wanita Irian
menyampaikan cerita yang sama.  "Tiga alat pembalut menstruasi menyumbat alat
kemaluan mayat wanita yang ditemukan di Papua Barat."  Mia Roemajauw, seorang
hadirin, menanyakan hal tersebut kepada para pembicara.  Yusan mengakui bahwa
hal itu memang terjadi dan dilakukan oleh anggota ABRI di Papua Barat.

"I strongly reject any form of separatism.  And in accordance with the
Constitution, I will instruct security officers and regional government
officials to take stern but wise action to deal with such unconstitutional    
moves," kata Habibie, presiden RI, pada seminar tentang transmigrasi
(kantor berita Reuter yang dikutip Indonesia Daily News Online, 15 April
1999).

Pernyataan Habibie yang biasanya didukung Wiranto, panglima ABRI, dapat
ditangkap sebagai aba-aba militer.  Setiap komando yang diberikan oleh
presiden biasanya diterjemahkan oleh ABRI sebagai perintah atasan yang harus
dilaksanakan sewenang-wenang.  Pernyataan Habibie tersebut di atas merupakan
lampu hijau bagi anggota ABRI untuk berperang melawan rakyat Aceh dan Papua
Barat yang sedang menuntut kemerdekaan.

Dalam seminar di Free University of Amsterdam itu aku mengemukakan dua opsi
(option).  Pertama, masalah -gender- harus dimasukkan ke dalam agenda politik
nasional.  Kedua, pemerkosaan terhadap wanita oleh ABRI di Aceh dan Papua
Barat dapat berakhir jika kedua daerah ini merdeka dan memiliki negara sendiri
terlepas dari penjajahan Indonesia.  Selama Aceh dan Papua Barat masih
merupakan daerah jajahan Indonesia, pemerkosaan HAM Wanita oleh anggota ABRI
tetap akan berlangsung hingga selama-lamanya.  Apalagi tuntutan kemerdekaan di
kedua daerah ini semakin nyaring menyebabkan Habibie mengeluarkan komando
tersebut di atas.

"Kami sedang berjuang agar masalah -gender- dapat dimasukkan ke dalam agenda
pemerintah," kata Taty Krisnawaty dari Solidaritas Perempuan yang bermarkas di
Jakarta yang juga adalah pembicara pada seminar.  Menurut Taty, tuntutan
kemerdekaan dapat disampaikan melalui Partai Amanat Nasional (PAN).  "PAN
sedang memperjuangkan bentuk negara federal dan mungkin mereka juga akan dapat
mempertimbangkan tuntutan kemerdekaan dari beberapa daerah", kata Taty.

Menjawab opsi kedua, Khairani Arifin menyatakan: "Secara pribadi saya
mendukung tuntutan mahasiswa Aceh untuk referendum.  Tapi prioritas kami
adalah, bahwa anggota ABRI yang telah melakukan pemerkosaan harus diseret dulu
ke pengadilan."

Referendum merupakan barometer demokratis untuk mengukur berapa besar angka
mayoritas maupun minoritas yang menginginkan kemerdekaan Aceh dan Papua Barat
di luar negara kesatuan Republik Indonesia.  Tidak adil jika ada pihak yang
mengatakan bahwa yang menuntut kemerdekaan adalah segelintir orang.

Yusan Yeblo menjawab, bahwa untuk menghentikan pemerkosaan HAM Wanita,
penyadaran harus dimulai di dalam setiap keluarga.  "Kuat-lemahnya masalah
-gender- di dalam agenda politik tergantung pada dukungan dari bawah", kata
Yusan dari Papua Barat.

Ada dua bentuk pemerkosaan HAM Wanita yaitu yang disebabkan oleh kekerasan
negara (state violence) dan kekerasan budaya (cultural violence).  Menurut
seorang guru-besar pada universitas Hawai, Johan Galtung, cultural violence
juga berada di dalam adat-istiadat.

Menghubungkan teori Galtung, maka dapat dikatakan bahwa pemerkosaan HAM Wanita
terjadi karena wanita tidak diikut-sertakan di dalam proses pengambilan
kebijakan (decisssion making process) karena kuatnya sistem patriakhal di
dalam masyarakat.

Struktur penyelesaian menurut pikiran saya, bahwa yang paling urgen saat ini
adalah dibasmikannya state violence yang dilakukan oleh ABRI sebagai pendukung
pemerintah.  Cultural violence dapat diselesaikan melalui program jangka
panjang.  Di samping itu, cultural violence dapat menjadi berkurang dengan
sendirinya karena adanya perkembangan budaya secara otomatis.  Budaya bukan
sesuatu yang statis, dia berkembang dari waktu ke waktu.  Pada suatu saat,
wanita akan dapat memiliki posisi yang sederajat dengan kaum Adam.

Di kota Utrecht aku menggantikan kereta-api yang aku tumpangi dari Amsterdam. 
Dari Utrecht ke Ede-Wageningen aku bertemu dengan seorang teman asal Jawa yang
juga menghadiri seminar siang itu.  Dia sedang belajar theologia di
Universitas Katholik Nijmegen, tak jauh dari Wageningen.  Dari deretan
pengunjung dia termasuk salah satu yang mengemukan pertanyaan bagaimana kita
dapat bekerjasama untuk mengakhiri kekejaman ABRI.  Dia menyerukan: 
Pembunuhan dan pemerkosaan oleh ABRI harus segera dihentikan.  Cukup adalah
cukup."  Dalam percakapan kami yang berkisar 25 menit yaitu jarak antara
Utrecht dan Ede-Wageningen dia mengatakan bahwa kita harus -berpikir global
dan bertindak lokal.  Ini salah satu slogan terbaik yang akhir-akhir ini aku
dengar melalui berbagai organisasi HAM dan Lingkungan Hidup di Eropa.

HAM di Belanda dihargai dan dijamin oleh negara. Lingkungan Hidup (environment)
dikontrol secara bebas oleh berbagai organisasi pemerhati.  Masalah yang
dihadapi di Belanda tak sekejam yang dirasakan di Aceh dan Papua Barat.  Saya
menikmati demokrasi di Belanda.  Tapi, perang di Kosovo, Aceh dan Papua Barat
membuatku berpikir global.  Di samping itu aku pun bertindak lokal di mana aku
selalu memisahkan sampah hijau dan non-hijau yang aku buang ke dalam bak sampah
di rumah. (Ottis).***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke