Precedence: bulk From: Admin GSJ <[EMAIL PROTECTED]> Subject: Partai-partai "Pro Status-quo" From: <[EMAIL PROTECTED]> Received: by MCI; Wed, 21 Apr 1999 11:31:00 -0400 Date: Wed, 21 Apr 1999 11:31:00 -0400 Saya dan beberapa teman wartawan telah membentuk sebuah tim khusus untuk melakukan investigasi mengenai partai-partaitersebut. Hasilnya, 24 buah partai politik dari 48 ternyata positif pendukung status-quo dan didanai oleh klan Cendana. Siapa saja parpol-parpol itu perlu anda ketahui, sebenarnya penelitian mengenai partai yang pro-statusquo ini belum selesai. Tetapi tak apalah. Anda mungkin akan bertanya argumentasinya apa sehingga sebuah partai yang tadinya anda kira tidak masuk dalam indikator status-quo kok sekarang masuk. Saya tidak bisa menjelaskan banyak, tetapi kami punya panduan lima pertanyaan yang bisa menguji apakah sebuah partai bisa disebut partai pro-status-quo atau tidak. Kita dapat mengetahui apakah mereka (partai-partai) itu pro-status quo atau tidak dengan melihat sikap mereka terhadap beberapa isu penting dan strategis. a. Pertama, sikap mereka terhadap UUD 1945 (bersedia mengadakan perubahan atau tidak ?) b. Kedua, sikap mereka terhadap Dwifungsi ABRI (menerima sepenuhnya, menerima dengan syarat atau menolak total) c. Ketiga, sikap mereka terhadap pengadilan mantan Presiden Soeharto, keluarga dan semua kroni-kroninya (setuju, ragu-ragu atau tidak setuju) d. Keempat, sikap mereka terhadap Pendidikan politik rakyat (mendukung, tidak mendukung atau tidak jelas) e. Kelima, sikap mereka terhadap penegakan hukum dan toleransi demokrasi (tegas, ragu-ragu atau tidak jelas). Berikut ini adalah daftar 24 partai pro-status quo sesuai dengan urutan nomor parpol-nya: No: 01. PARTAI INDONESIA BARU (PIB) Ini merupakan koalisi sembilan partai baru, diantaranya PARMI (Partai Aliansi Rakyat Miskin Indonesia). Ketua Parmi H Tengku Muhammad Idris Amir Chalid pernah terang-terangan menantang duel Amien Rais jika yang bersangkutan terus menghujat Soeharto dan keluarga. Sikap PIB jelas sekali yaitu menentang mereka yang menghujat Soeharto, dan tidak menolak seandainya Soeharto dipilih lagi sebagai Presiden periode mendatang oleh MPR hasil Pemilu 1999. Salah satu pendiri PIB adalah H Asnawi Mangkualam, bekas Gubernur Sumatera Selatan. Kebanyakan aktivisnya pensiunan Pegawai Negeri. No: 05. PARTAI KEBANGKITAN MUSLIM INDONESIA (KAMI) Para pendukung Partai KAMI ini adalah Majelis Dakwah Islamiyah (MDI), GUPPI dan Satkar Ulama. Ketiga ormas ini sejak lama menyalurkan aspirasinya lewat Golkar. Beberapa eksponennya kemudian memisahkan diri dan membentuk Partai KAMI untuk membendung massa Islam Golkar terutama dari kelompok tradisional pedesaan meluber ke partai-partai bentukan NU. No: 13. PARTAI KEBANGSAAN MERDEKA (PKM) Partai ini diketuai oleh KH Zaini Achmad Noeh, pensiunan pegawai tinggi Departemen Agama yang pernah menjadi juru kampanye Golkar. Beberapa pilar pendukung PKM juga dikenal sebagai pendukung Golkar atau setidaknya bukan orang-orang yang dikenal secara politis. PKM dibentuk untuk menampung para nasionalis yang dulu berlindung di Golkar. No: 14. PARTAI DEMOKRASI KASIH BANGSA (PDKB) ini partai yang dibentuk beberapa aktivis Kristen dan Katolik yang pernah menjadi eksponen pendukung Golkar dan diharapkan bisa menyaingi kekuatan PDI Perjuangan di provinsi-provinsi berbasis Kristen dan Katolik. No: 17. PARTAI SYARIKAT ISLAM INDONESIA 1905 (PSII 1905) Pecahan PSII yang dibentuk untuk memperlemah PSII pimpinan Taufiq Tjokroaminoto. Beberapa pertemuan rahasia dengan Ibnu Hartomo kabarnya diikuti beberapa utusan partai ini. No: 20. PARTAI RAKYAT INDONESIA (PARI) Ini jelas partai status-quo, karena Ketua Umumnya Agus Miftach sejak lama dikenal sebagai petualang politik. Tadinya Agus dikenal sebagai Ketua Umum BLHI, sebuah LSM lingkungan plat merah yang didanai oleh Bob Hasan. Jaringan BLHI inilah yang disulapnya menjadi PARI. PARI juga mengikuti forum partai di Condet yang diadakan oleh Ibnu Hartomo. Agus juga kabarnya masih sering bertemu dengan Bob Hasan. Mobil Mercy dan BMW miliknya adalah hadiah dari Bob Hasan. No: 23. PARTAI SOLIDARITAS PEKERJA (PSP) PSP secara rutin bertemu, sowan dan kabarnya juga mendapat suntikan dana dari Ibnu Hartomo, adik kandung almarhum Ibu Tien. Dan hal dilakukan PSP karena dijanjikan suara dari sejumlah ormas pekerja yang pembinanya adalah Ibnu. Suara kaum pekerja ini biasanya disalurkan ke Golkar, dan kini dibagi dua yaitu sebagian untuk PSP dan sebagian lagi untuk PSPSI. No: 25. PARTAI NAHDLATUL UMMAT (Partai NU) Pimpinan partai ini yaitu KH Syukron Makmun sejak lama dikenal sebagai tokoh NU yang dekat dengan beberapa tokoh teras Golkar. Syukron juga punya peran dalam pendirian MDI-nya Golkar. No: 26. PARTAI NASIONAL INDONESIA - FRONT MARHAENIS (PNI - FRONT MARHAENIS) Ketua Umum Partai ini adalah Probosutedjo yang merupakan adik tiri mantan Presiden Soeharto. PNI Front Marhaenis diharapkan bisa mencuri seperempat suara kaum nasionalis yang disalurkan lewat PDI Perjuangan dan PNI-Supeni. No: 27. PARTAI IKATAN PENDUKUNG KEMERDEKAAN INDONESIA (IPKI) Dipimpin oleh Letjen TNI (Purn) R Soeprapto, mantan Gubernur Jakarta yang beberapa Pemilu menjadi juru kampanye dan pendukung setia Golkar bahkan pada Pemilu 1997 semua eksponen IPKI menyalurkan aspirasinya ke Golkar padahal pada 1973 IPKI merupakan bagian dari fusi PDI. Sayap Golkar pro-Soeharto diperkirakan sebagian akan lari mendukung IPKI. No: 28. PARTAI REPUBLIK Ketua Umumnya Syarifudin Harahap adalah pengusaha yang cukup berhasil dan dekat hubungannya dengan Aburizal Bakrie. Pada masa Orba, Syarifudin sempat menjadi Sekjen PPP di bawah Naro. Partai ini juga anggota forum partai yang diadakan oleh Ibnu Hartomo. Partai ini juga menolak pengadilan atas Soeharto dengan alasan mantan Presiden itu besar jasanya bagi negara. ''Kami welcome terhadap keluarga Cendana. Mereka kan belum dicabut haknya, sedangkan bekas PKI saja boleh masuk partai,'' kata Syarifudin enteng. No: 29. PARTAI ISLAM DEMOKRAT (PID) Dipimpin oleh Drs H Andi Rasyid Djalil, PID dikenal sebagai partainya Mbak Tutut karena memang jaringan partai ini ke daerah-daerah menggunakan jaringan Yayasan Kiara yang dipimpin Mbak Tutut. Dana partai ini juga berasal dari Mbak Tutut sekeluarga. No: 30. PARTAI NASIONAL INDONESIA - MASSA MARHAEN (PNI-MASSA MARHAEN) Bachtar Oscha Maliki, Ketua Umum partai ini meskipun pernah memimpin DPC PDI Jakarta Selatan akan tetapi sesungguhnya banyak aktivis partai ini sebetulnya berkulit merah tetapi didalamnya kuning. Pernah beberapa kali mengirim utusan ke pertemuan bersama Ibnu Hartomo. No: 32. PARTAI DEMOKRASI INDONESIA (PDI) PDI yang dipimpin oleh Budi Hardjono ini merupakan pendukung setia BJ Habibie dan ABRI, karena tanpa mereka maka PDI tidak akan bisa aman menjalankan aktivitasnya karena sudah dicap pengkhianat oleh kelompok Megawati yang ada di PDI Perjuangan. Jalan satu-satunya untuk tetap aman adalah menjadi pendukung status-quo dengan tujuan menggembosi PDI Perjuangan. Di pedesaan banyak orang akan terkecoh dengan lambang PDI karena PDI Perjuangan sudah mengganti nama dan simbol. No: 33. PARTAI GOLONGAN KARYA (Golkar) Sudah jelas dan tidak usah dikomentari lagi, meski di dalam partai ini bercokol sejumlah demokrat seperti Marzuki Darusman, Din Syamsudin dan Adi Sasono. Golkar berkepentingan mempertahankan status-quo justru untuk kepentingan petinggi partainya dan bukan demi Soeharto. Dan karena itu sayap Golkar pendukung Soeharto tidak akan memilih Golkar dalam Pemilu nanti. No: 34. PARTAI PERSATUAN (PP) Dibentuk untuk menggembosi PPP yang memang kembali galak dalam berpolitik. PP memanfaatkan banyaknya luberan suara akibat salah nyoblos karena PPP yang asli berganti gambar dari bintang ke Ka'bah. Ketua umumnya yaitu HJ Naro sudah lama dikenal sebagai musuh umat Islam karena kelakuan politiknya yang tidak terpuji di masa lalu. No: 38. PARTAI MUSYAWARAH KEKELUARGAAN GOTONG ROYONG (PARTAI MKGR) (maaf belum selesai) Jadi Untuk Sementara Nomer Partai pendukung Status-quo adalah Partai bernomer: 01, 05, 13, 14, 17, 20, 23, 25, 26, 27, 28, 29, 30, 32, 33, 34, 38 ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
