Precedence: bulk


SURAT PEMBACA TENTANG BERITA SiaR

Salam perjuangan,

        Berita Siar (yang betul: SiaR --red.) berjudul "Koalisi PPP dan
Partai-Partai Islam Dukung Status Quo" sangat tendensius dan tak menunjukkan
dasar argumentasi yang kuat. Berita itu sangat terkesan "Islamophobia" sehingga
dengan terburu-buru Siar mencurigai upaya koalisi partai-partai Islam. Padahal, 
itu wajar-wajar saja, sepanjang upaya itu juga dipakai untuk melawan 
status quo. Nah...apa motif di balik upaya PPP itu masih samar-samar. 
Sementara bukti bahwa upaya PPP ini dimaksudkan untuk mendukung status 
quo juga tak berhasil ditampilkan Siar, kecuali opini Siar sendiri. 
Sebagai berita dalam konteks jurnalisme yang sehat, tulisan ini sarat 
dengan opini yang subjektif, tendensius dan dipenuhi ketakutan akan 
kekuatan Islam bersatu. Saya mau tanya, apa yang Siar takutkan dari 
bersatunya kekuatan Islam? Bagaimana Siar bisa langsung jatuh pada 
kesimpulan bahwa upaya itu bertujuan mendukung status quo? Apakah 
karena PPP produk Orde Baru? Bagaimana dengan PDI Perjuangan yang juga 
masih kecipratan sejarah rejim lama itu? Bagaimana dengan PKB yang 
NU-nya di sisi lain juga dulu "mesra" dengan Orde Baru, bahkan Gus 
Dur-nya minjam duit untuk bikin rumah dari Suharto, kesukaannya 
bergandengan dengan Tutut dan langkah "aneh bin ajaib"nya bertandang ke 
rumah Suharto? Toh...secara serampangan anda menyebut PKB sebagai 
partai kritis dan tak kompromi terhadap segala "produk" Orde 
Baru....Sebaliknya, bagaimana Siar bisa membuktikan PUI, dengan Deliar 
Noer sebagai Ketua, sebagai penikmat bantuan keuangan keluarga Suharto? 
Logika-logika yang digunakan Siar terlampau simplistis sekali, dengan 
data-data yang sangat tak akurat. Termasuk untuk menyebutkan PNU dan PKU 
didirikan sebagai tindakan reaktif terhadap PKB yang dikenal 
kritis......(dan seterusnya). Saya tak bermaksud menuding PKB, NU atau 
Gus Dur, tetapi semua sisi lain yang saya ungkapkan itu menunjukkan 
bahwa mereka pun tak bisa dinilai secara hitam-putih juga.

        Siar juga terlampau menyederhanakan soal dengan kesimpulan bahwa PPP 
pada pemilu yang lalu mendapatkan limpahan suara dari jargon "Mega 
Bintang". Seolah-olah tak ada faktor lain di luar itu. Sila kan Siar 
bandingkan juga dengan fakta lain bahwa beberapa hari sebelum pemilu 
lalu, Mega menyatakan memboikot pemilu. Berapa persen yang ikut? 
Anehnya lagi, untuk mendukung semua argumen yang dipakai Siar, digunakan 
pendapat seorang ahli UI yang entah siapa. Apa memang betul ada ahli itu 
atau Siar cuma ngarang dan kemudian pakai teknik menulis dengan gaya 
itu. Masa iya, di zaman mulai terbuka ini ada ahli yang sembunyi untuk 
mengatakan hal seperti itu ? Lebih aneh lagi, Siar memakai argumen HJ 
Naro, yang semua orang pun tahu siapa dia, bagaimana track record-nya 
dulu dan sekarang bikin apa, serta siapa ikut dia nanti dalam Pemilu.

        Saya tak bermaksud mengatakan bahwa langkah PPP itu pun sudah pasti
akan 
pro demokrasi. Yang saya maksudkan cuma satu hal, hendaknya kita jernih 
melihat persoalan di tengah-tengah persoalan yang sudah rancu membedakan 
antara mana yang bau Orba mana yang bukan. Mana yang tulen 24 karat, 
mana yang cuma imitasi. Sulit sekali Bung ! Apalagi, kalau Siar mau 
menulis tentang politik Islam, analisis yang sederhana ditambah sikap 
curiga yang berlebihan, tak akan menghasilkan kebenaran analisis apa-apa 
kecuali rumours politik belaka.Tidak juga menghasilkan sebuh 
transformasi bagi politik Islam itu sendiri, mau pun bagi bagi bangsa 
secara menyeluruh. Tempohari, ada tulisan yang cukup bagus dari Pandu 
Nusantara tentang NU dan Gus Dur. Juga sesekali Sulangkang Suwalu yang 
menulis tentang Islam. Kenapa Siar tak menggunakan mereka sebagai nara 
sumber atau yang ahli lainnya yang enggak takut disebutkan jati dirinya. 
Sungguh...pandangan-pandangan konstruktif seperti itu yang kita mau. 
Toh...kita tak mungkin terus-menerus membangun imej yang menakutkan 
tentang Islam. Politik Islam, tentu lah harus dinilai dari dua sisi, 
sumbangan positif dan negatifnya terhadap demokrasi. Membangun ketakutan 
dan kecurgiaan yang berlebihan terhadap setiap langkah politik Islam, 
cuma menghasilkan blunder politik di negeri ini. Sebaliknya, berkata 
penuh "puji-pujian" terhadap setiap langkah politik Islam pun, akan sama 
kelirunya. 

        Sekali lagi, saya tak bermaksud menghujat Siar atau sebaliknya
memuji-muji PPP. Saya Islam, tetapi non partisan Bung. Tak masuk partai 
mana pun. Yang lebih saya pedulikan sekarang ini justru bagaimana 
langkah-langkah kaum pro demokrasi - Islam dan non Islam - terhadap 
kemungkinan-kemungkinan bila Pemilu gagal. Sebab, kemungkinan itu juga 
sama besarnya dengan kemungkinan Pemilu sukses sebagai jalan 
konstitusional mencapai demokrasi. Kalau gagal gimana? Apa sikap kita? 
Kalau kita terus mengembangkan sikap bermusuhan dan saling curiga, anda 
akan tahu sendiri kira-kira siapa pemenangnya. Front bersama menuju 
demokrasi, apakah dengan jalan konstitusional mau pun revolusi, 
seharusnya sudah mulai diperkuat dari sekarang. Berita-berita atau 
analisis-analisis seperti tadi, sangat bertolak belakang dengan 
keinginan membangun front bersama itu. 

        Akhirnya, dengan beberapa kali menampilkan berita semacam itu, terutama 
dalam menilai kelompok Islam,  SiaR ini visinya apa sih ? Mudah-mudahan 
interaksi pemikiran kita akan terus konstruktif.


Wassalam,
Ahmad Taufan Damanik

-------------------------------------------------------------------------------

"Jawaban Redaksi SiaR pada Bung Ahmad Taufan"

Salam Perjuangan!

        Bung, kami sangat menghargai dan bisa memahami kritik Anda itu. Untuk itu
ada beberapa hal yang perlu kami sampaikan: Pertama, bahwa rencana koalisi
yang disampaikan Hamzah Haz itu adalah fakta.  Tapi tentang apakah koalisi
tersebut nantinya akan mendukung suatu grand-strategy yang mendukung pro-status
quo, memang masih harus diuji ke depan, apakah manuver PPP mengajak
partai-partai Islam lainnya tersebut akan membenarkan asumsi kami tentang
"dukungan status quo" itu atau tidak. 

        Bagi kami, mengacu kepada hakekat jurnalisme SiaR, berita tersebut
semata-mata untuk memberi "warning" bagi para tokoh
pro-demokrasi/pro-reformasi di tubuh PPP untuk mencermati sejumlah manuver
terselubung "politisi-politisi" (termasuk Hamzah Haz) di tubuh partai yang
ingin membawa kebijakan partai tersebut ke arah grand-strategy pro-status
quo. Bukankah ada tokoh-tokoh progresif seperti Moedrick Sangidoe di PPP? 

        Secara obyektif, bahwa di tubuh partai politik manapun selalu ada 
faksi-faksi (juga pribadi) yang berbeda-beda, baik secara politis, atau
bahkan ideologis. PDI Perjuangan pun kini telah disusupi kaum fasis
pengusung ideologi 
nasionalisme integralistik yang direpresentasikan oleh Theo Syafei dan 
kawan-kawan. Dan ini tak luput dari kritik kami pengelola SiaR News Service 
melalui berita X-pos yang telah kami lansir di SiaR News Service! Artinya 
kami tak berlaku diskriminatif, asalkan kritik itu bertujuan baik, yakni 
untuk kemajuan gerakan demokrasi kerakyatan keseluruhan. Kritik yang 
bertujuan mengingatkan rekan-rekan di tubuh PDI Perjuangan tentang bahayanya 
kaum fasis dan pro-status quo yang akhir-akhir ini "bedol desa" ke PDI 
Perjuangan. Jika kami memilih-milih --demi tak menyinggung rekan-rekan di 
PDI Perjuangan yang terlanjur direpresentasikan sebagai parpol pro 
reformasi--, tentu posting Xpos tersebut tak kami siarkan. Jika anda cermati 
berita-berita kami sebelumnya, Gus Dur, dan banyak tokoh-tokoh pro-demokrasi 
lainnya pun tak luput dari kritik SiaR, seandainya ada langkah-langkah 
politiknya yang kami nilai merugikan gerakan. 

        Sekali lagi Bung Taufan, kami melalui berita tersebut tak bermaksud
memecah-belah gerakan pro-demokrasi, apalagi guna menjegal kemungkinan 
adanya "united front" seluruh elemen pro-demokrasi. Kami "sangat" tahu bahwa
di PPP ada sejumlah tokoh demokrat sejati yang berjuang untuk perbaikan
bangsa. Kami bermimpi agar "united front" bisa terwujud, asalkan --sekali
lagi asalkan-- 
tak dibuyarkan oleh politik dagang sapi "politisi-politisi" (sekali lagi, 
termasuk Hamzah Haz) tertentu yang di era reformasi ini makin 
menjamur.

        Kami menanti pembuktian historis, bahwa asumsi kami itu tak benar. Jika
itu yang terjadi, kami bersyukur, dan ini menguntungkan bagi perjuangan gerakan
demokrasi kerakyatan secara umum. Maka, kita tunggu lah, bagaimana akhir dari
manuver politik PPP tersebut. 

        Soal track record-nya Naro, kami akui orang inipun tak bersih di masa 
lalunya. Setali tiga uang dengan Buya Metareum. Dengan berita tersebut, 
justru kami ingin menyatakan pada para pimpinan PPP: "Ayo buktikan bahwa 
sinyalemen itu tak benar!" Jika itu tak terbukti, yang merasa bersyukur dan 
berbahagia, kan tidak hanya kami, para pengelola SiaR News Service, tapi 
juga Anda, dan seluruh kaum pro-demokrasi yang anti-status quo dan anti-Golkar!

        Hal ke dua, soal narasumber dari UI tersebut, bahwa kami merasa perlu untuk
menghormati permintaan si narasumber untuk tak dimuat jatidirinya. Jika kami
melanggar hal tersebut (misalkan menyebut nama si narasumber), justru kami
yang dinilai tak memahami etika jurnalistik. Dan paling jauh lagi, kredibilitas
kami menjadi pudar, bukan hanya di mata si narasumber tersebut, tapi juga di
mata nara-nara sumber lainnya yang selama ini rajin membagi pikiran dan
analisisnya secara gratis pada kami. Hal ini, dalam pola jurnalisme investigatif
adalah sesuatu yang umum. Mungkin berita-berita AP, AFP, Reuters, dan lain-lain
dapat dijadikan contoh, di mana media-massa tersebut menurunkan berita dengan
narasumber yang tak disebut jatidirnya. Dan karena itu dapat dibenarkan dari
segi jurnalisme, maka hal tersebut tak pernah diributkan pembacanya. 

        Tentang, mengapa SiaR menulis berita dengan disertai asumsi penulisnya,
hal ini dilakukan --sekarang ini-- oleh semua media massa mainstream,
terutama tabloid-tabloid yang kini menjamur bak cendawan di musim hujan.
Yang penting
adalah, bagaimana "pesan" dan "misi" di balik berita itu sampai ke yang dituju.

        Ke tiga, terlepas dari semua itu, kami sangat berterima kasih dengan
kritik Anda itu. Kami secara pribadi, memiliki kedekatan ideologis dan politis
yang berbeda-beda terhadap suatu partai politik tertentu. Kadang kala, berita
yang ditulis seorang rekan dianggap mengkritik salah satu parpol yang memiliki
kedekatan ideologis dengan seorang rekan lainnya, meskipun kami sama-sama
pengelola SiaR News Service. Tapi, jika esensi dan substansi berita itu dapat
dipahami, rekan kami tersebut dapat memakluminya. Demikian lah etika
berdemokrasi! 

        Kami nantikan kritik Anda selanjutnya atas berita-berita kami. Kritik
itu perlu untuk memajukan kualitas perjuangan! Selamat berjuang Bung, dan salam
untuk teman-teman termasuk adik-adik anak jalanan di Medan! 

Redaksi SiaR.-

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke