Precedence: bulk


AKSI UPC GAGAL DIPROVOKASI
 
        JAKARTA (SiaR, 23/4/99), Sekitar 500 orang yang mengaku rakyat miskin
kota didampingi Urban Poor Consortium (UPC) kembali mendatangi Bappenas dan
menjelang bubar aparat memprovokasi aksi agar rusuh namun gagal. Kelompok
pendemo yang didampingi Wardah Hafidz ini melakukan jalan kaki dari Bundaran
Hotel Indonesia  ke Bappenas yang berjarak sekitar 1 km.
 
        Aksi long march yang diawali sejak pukul 09.30 WIB itu  Kamis (22/4)
kemarin itu dilakukan untuk memprotes pembagian dana kemiskinan yang dikenal
dengan Jaring Pengaman Sosial (JPS). 

        Yang unik dalam demo kali ini adalah para pendemo sebagian besar
menggunakan topi caping dari karton. Sebagian dari para pendemo itu memakai kaos
PDI Perjuangan. Dipimpin Eddy dari UPC dan didampingi aktivis mahasiswa dari
Front Aksi Mahasiswa Untuk Reformasi dan Demokrasi (Famred) untuk membantu aksi,
maka rombongan mulai jalan menuju Bappenas.

        "Tolak JPS. Tolak JPS," teriak para demonstran berulang-ulang.
Sampai dengan pukul 10.30 WIB, tatkala mereka sudah sampai di depan kantor
Bappenas, tak satupun pejabat menerimanya. Ini memang bukan kali pertama
para demonstran mendatangai Bappenas. Dalam beberapa kali demo mereka
diterima Herman Chaeruman, yang bertanggung-jawab soal JPS di Bappenas. 

        Beberapa spanduk dan poster yang dibawa para demonstran antara lain
berbunyi "Utang Negara Siapa Yang Untung", "Yang Salah Dibenarkan, Yang Benar
Disalahkan", "Mau Dibawa ke Mana Negara Ini", "Kami Tolak JPS" dan sebagainya.
Yang menarik dalam aksi ini rakyat atas inisiatif sendiri membunyikan alat musik
tanjidor dan pertunjukan barongsai. 

        Dengan tertib rombongan tiba di Bappenas. Para demontran mengatakan,
bahwa mereka menolak JPS lantaran banyak yang berbau KKN. Dan mereka juga minta
agar pemerintah dalam hal ini Bappenas tidak membicarakan kemiskinan yang ada di
Indonesia. Sebaiknya setelah Pemilu saja, setelah pemerintahan yang baru
terbentuk. Sebab dikhawatirkan berbau politik uang.

        Di sela aksi demo itu, kebetulan pengamat ekonomi politik Sri
Mulyani Indriani keluar dari kantor Bappenas. Ketika berpapasan dengan para
wartawan, ia mengelak untuk memberikan keterangan. Kecuali kalimat singkat,
"Tuntutan mereka ini merupakan poin yang harus dipertimbangkan oleh negara,"
kata Sri Mulyani.

        Saat 10 orang delegasi Rakyat sedang berdialog dengan Herman Chaeruman
soal JPS, tentara dari kesatuan Pengendali Huru-hara (PHH) Kodam Jaya yang
berjaga di Taman Suropati di bawah komando Kapten Suwardi mengurung
rombongan. Pukul 11.15 beberapa polisi militer mulai mendekati rakyat yang
dibantu sekitar 30 aktivis mahasiswa. Kemudian sejumlah intel menyusup ke
barisan belakang aksi yang berada di depan Taman Suropati. Sesaat kemudian
barisan rakyat yang semula tenang ternyata mulai maju dengan teriakan,
"Masuk ke Bappenas. Ayo semua masuk". Mereka kemudian melempari mobil yang
lewat dengan nasi bungkus dan botol air mineral.

        Melihat barisan mulai maju , aktivis mahasiswa yang bergabung mulai
masuk ke barisan dan mengendalikan massa dengan menyanyi, "Yang mau tolak JPS.
Ayo duduk." Lagu ini berulang kali dinyanyikan Fadhil, aktivis Famred yang
membantu aksi Rakyat tersebut.

        Beberapa rakyat peserta aksi mengaku dipanas-panasi orang berbadan
tegap untuk mengajak semua peserta aksi masuk ke gedung. Tampaknya hal ini
ditunggu aparat untuk menangkapi peserta aksi namun gagal karena mahasiswa
dan rakyat cepat mengendalikan massa dan tidak sampai membuat kekacauan
lebih lanjut. 
        Melihat gelagat ini meski di dalam gedung, Wardah Hafidz, mendesak pihak
Bappenas soal tuntutan rakyat. Sementara rakyat di luar mulai diarahkan untuk
kembali ke kendaraan masing-masing untuk mencegah provokasi berlanjut.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke