Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 14/II/18-24 April 99
------------------------------

RENUNGAN SOAL TIMOR LESTE DARI PENJARA

(OPINI): Penyelesaian damai masalah Timor Timur belum juga berujung, bahkan
semakin tidak jelas nasibnya. Senjata-senjata yang dibagikan oleh ABRI di
Timtim belum juga ditarik. Sementara itu pertikaian antara masyarakat yang
pro integrasi maupun yang pro kemerdekaan terus berlangsung. Untuk kesekian
kalinya, Presiden CNRT Kay Rala Xanana Gusmao mengeluarkan pernyataan
himbauan. Berikut adalah pernyataan Xanana yang dibacakan oleh kuasa
hukumnya dari PBHI, Johnson Panjaitan SH tanggal 14 April 1999. Redaksi 

Sejak Januari sampai dengan 31 Maret 1999, intimidasi-intimidasi dan
pembunuhan-pembunuhan terhadap penduduk sipil telah terjadi di Ainaro,
Liquica, Maubara, Zumalai, Suai, Atabae, Bobonaro, Baucau, Dili, Hatu Udo,
Laga, Viqueque dan Same, dengan akibat jumiah 21 orang meninggal disertai
dengan lebih dari 20 orang luka-luka terkena peluru dan lebih dari 20 orang
disiksa.

Sejak Januari hingga Maret lebih dari 18 ribu orang mencari perlindungan di
berbagai tempat karena ketakutan, yaitu di Zumalai dan Tilomar/Suai, Cailaco
dan Maliana/Bobonaro dan Fatubesi, Maubara, Liquica, Lacluta/Viqueque dan Dili.

Namun, syarat pertama untuk suatu dialog jujur, serius dan mendalam -karena
penyelesaian masalah Timor Timur menuntut keseriusan dan niat baik yang
mendalam dari kedua belah pihak atau dari semua pihak- adalah menyepakati
suatu penyelesaian terhadap keadaan sulit yang sedang dihadapi rakyat. Harus
dikembalikan ketenteraman kepada rakyat. Penduduk Timor Leste harus
dibiarkan menjalankan hidupnya dengan damai.

Akan tetapi himbauan kami ini tidak pernah didengar dan, bagi kami tanpa
kondisi ini rekonsiliasi tidak mempunyai makna. Berbicara mengenai
rekonsiliasi pada saat rakyat berada di bawah ancaman dan menangisi kematian
saudara-saudaranya adalah tidak berperasaan manusiawi sedikitpun. Berbicara
mengenai rekonsiliasi diantara para 'pemimpin' pada saat rakyat dengan
sengaja dibuat menderita, adalah mempergunakan suatu pemerasan yang
mengerikan untuk memaksakan pihak iain agar mau menerima otonomi.

Setelah Seminar tanggal 22 Maret yang lalu, di mana Menteri Ali Alatas
sendiri adalah pembicaranya, saya membuat suatu himbauan tertulis kepada
semua orang pro-integrasi agar kami semua mengakui kedua Uskup untuk
memimpin proses rekonsiliasi dan saya terus mendukung KOMNAS HAM dalam
pembentukan Komisi Perdamaian dan Stabilitas di wilayah itu.

Walaupun kedua Uskup itu telah memulai pertemuan-pertemuan awal dengan
setiap kelompok, dimana pada akhir pertemuan faksi-faksi pro-integrasi telah
menyatakan dukungan mereka kepada rekonsiliasi, namun intimidasi terhadap
penduduk terus berlangsung seolah-olah merupakan suatu masalah terpisah dari
proses rekonsiliasi. Himbauan kami untuk ketenteraman telah ditafsirkan
sebagai bukti kelemahan kami, himbauan kami untuk ketenteram telah
ditafsirkan sebagai izin dari kami untuk terus berlangsungnya keadaan teror
dan pembunuhan.

Kami tahu bahwa beberapa minggu sebelumnya, Pangdam Udayana, Jenderal Adam
Damiri, telah mengadakan pertemuan dengan beberapa komandan milisi,di Bali,
dan keputusannya adalah untuk membentuk Front Pro lntegrasi yang
diperkirakan terdiri dari sekitar dua ribu orang bersenjata dan yang
tujuannya adalah Membela Integrasi.

Pembunuhan di Liquica sama sekali tidak menggugah hati nurani orang. Sumpah
darah untuk mempertahankan integrasi hanya menggambarkan tiadanya belas
kasihan terhadap nyawa orang lain, nyawa saudara-saudaranya sendiri.

Strategi memblokir proses negosiasi di New York sekarang telah diletakkan di
atas karpet berdarah rakyat yang tak terlindung di Timor Leste. Para pelaku
strategi ini senang karena mereka merasa sudah memiliki kekuatan dan merasa
bahwa akhirnya mereka berhasil memaksakan kemauan mereka di Timor Leste dan
akan meneruskan dengan drama yang mengerikan dan berdarah ini.

Saya akan terus meminta kepada rakyat yang tak bersenjata untuk tidak
membiarkan dirinya -dibunuh seperti binatang, walaupun saya menyadari bahwa
tidak ada seorangpun yang bisa melindungi diri mereka dari peluru-peluru
yang mematikan dan saya tahu juga bahwa ABRI akan terus mendukung para
milisi sebagai bagian rencana yang tidak manusiawi yang telah dibuat oleh
para jenderal untuk menghabiskan rakyat Timor Leste. Dan para jenderal itu,
akan mengatakan seperti Adam Malik, "Kita bunuh 70 ribu tetapi kita
'menyelamatkan' lebih dari itu". Seperti sapi-sapi di Inggris yang tertular
penyakit "mad cow" atau ayam-ayam dari Hong Kong yang menularkan penyakit flu.

Para Falintil selalu menunjukan nilai dan keberanian yang tak dapat
ditandingi, dalam perlawanan gagah berani selama 23 tahun. Keberanian tidak
dapat dinilai hanya dalam pertempuran-pertempuran dan Falintil juga memiliki
keberanian lain yang berasal dari karakter mereka sendiri -keberanian untuk
terus waspada dalam tindakan-tindakan mereka!

Dalam konteks inilah saya MENEGASKAN LAGI HIMBAUAN SAYA UNTUK  DIALOG DAN
UNTUK REKONSILIASI DEMI PERDAMAIAN!

Marilah kita menerima berdialog, dengan kesadaran bahwa adalah tanggung
jawab kita untuk mengembalikan ketenteraman serta ketenangan jiwa kepada
rakyat supaya dapat memelihara kebun-kebun mereka, anak-anak mereka dan
kehidupannya sehari-hari yang sudah sangat sulit.

Kami selalu menghimbau agar kesalahan masa lalu dapat dilupakan. Beberapa
Jenderal indonesia tidak menyukainya dan sedang mencoba membuka luka-luka
baru di antara orang-orang Timor.

Saya selalu percaya bahwa, apabila orang-orang Timor Leste tidak dibius oleh
kepentingan-kepentingan yang sebenarnya merupakan kepentingan orang lain,
mereka bisa duduk bersama dan membuka perasaan dan hati satu sama yang lain.

Saya menghimbau kepada ABRI agar mengambil suatu sikap politik yang dewasa,
lebih manusiawi dan lebih terbuka, karena hal tersebut merupakan tuntutan
zaman sekarang ini.

Saya ingin menyampaikan salam kepada semua orang di Indonesia yang
mendambakan suatu penyelesaian yang adil untuk Timor Leste. Saya memuji
Presiden Habibie serta teamnya yang sedang berperan aktif dalam proses
penyelesaian dan patut dipuji juga Gerakan Reformis di kalangan ABRI.

Para pemimpin negara yang sesungguhnya adalah mereka yang menempatkan
kepentingan-kepentingan Negara di atas segalanya dan mempunyai keberanian
untuk melakukan perubahan politik dan memperbaiki kesalahan-kesalahan
sejarah. Laki-laki dan wanita yang ingin menyelesaikan konflik Timor Timur
tidak boleh membawa beban psikologis bahwa mereka akan kehilangan muka.

Charles de Gaulle, salah seorang Perancis yang paling terkenal, telah
menyelesaikan salah satu periode yang sangat berdarah dalam sejarah
Perancis, dengan memerintahkan pengunduran pasukan Perancis dari Algeria.
Beliau bukan orang yang lemah dan juga tidak kehilangan muka dalam sejarah
Perancis. Ia merupakan seorang Jenderal yang namanya telah tertulis dengan
emas, dalam sejarah Perancis, karena jasanya untuk negara Perancis pada
periode pasca Perang Dunia Kedua.

Richard Nixon memerintahkan penarikan tentara Amerika dari Vietnam dan,
tidak ada seorangpun menyebut dirinya sebagai seorang yang lemah, Amerika
Serikat tidak kehilangan muka.

Arafat dan Isaac Rabin, yang sebelumnya telah bersumpah untuk saling
menghancurkan, akhirnya mempunyai keberanian dan akal sehat untuk melakukan
kompromi-kompromi dan mendapatkan disposisi politik guna melakukan
konsesi-konsesi. Dan tidak seorangpun menyebutkan mereka sebagai orang-orang
lemah dan sama sekali mereka tidak kehilangan muka.

Tokoh-tokoh tersebut tetap dihargai karena keputusan-keputusan mereka itu.
Disinilah terlihat kelebihan seorang negarawan sejati yang tidak merasa
harus mengandalkan perang sebagai suatu bentuk kelangsungan politik dimana
perang yang berkepanjangan bagi mereka merupakan suatu kepuasan moral.

Inilah undangan Perdamaian saya kepada para Pemimpin Indonesia dan,
lebih-lebih, kepada para jenderal Indonesia.

Saya ingin berterimah kasih atas simpati yang diterima oleh Rakyat Timor
dari pemerintah-pemerintah Amerika Serikat, Uni Eropa, Kanada, Australia,
Selandia Baru, negara-negara Skandinavia, Brasil dan Afrika Selatan.
Lagipula kami sangat menghargai dukungan dan rasa persaudaraan yang selama
ini diberikan kepada perjuangan kami oleh pemerintah dan rakyat Angola,
Mozambik, Cape Verde, San Tome dan Principe.

Saya sangat menghargai perhatian dan usaha-usaha yang luar biasa Sekretaris
Jenderal, Kofi Annan, yang merupakan motor penggerak proses negosiasi
masalah Timor Timur.

Suatu ucapan terima kasih khusus tidak lupa saya sampaikan kepada Presiden
Republik Portugal, Dr. Jorge Sampaio yang, meskipun sedang mengalami situasi
yang sangat sulit, selalu berada bersama rakyat Timor Timur. Demikian pula
kepada Perdana Menteri, Ir. Antonio Guterres. Dan kepada Menteri Jaime Gama
dan seluruh tim diplomatiknya atas pengabdiannya yang besar terhadap hukum,
keadilan dan perdamaian.

Akhirnya kepada Uskup Dili D. Carlos Ximenes Belo yang saya cintai dan saya
hormati,saya menyampaikan rasa solidaritas yang tinggi. Sekali lagi Beliau
sedang menyaksikan suatu tindakan keji terhadap rakyat Timor Timur yang
tidak berdosa.

Terciptanya suatu iklim damai di Timor Leste akan menguntungkan Indonesia
sendiri. Indonesia dapat menunjukkan niat politiknya yang baik dalam
penyelesaian masalah Timor Timur serta kesediaannya untuk mengurangi
penderitaan rakyat Timor Leste melalui pemberian izin kepada para pengamat
internasional dan lembaga-lembaga khusus PBB seperti WHO, UNICEF dan UNDP d
i wilayah tersebut.

Salemba 14 April 1999

Presiden CNRT
Kay Rala Xanana Gusmao
Panglima Falintil

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke