Precedence: bulk


KESAKSIAN KORBAN KEKEJAMAN MAHIDI

Lewat berbagai media massa, elektronik maupun cetak, di Timor Timur maupun
Indonesia, diberitakan bahwa ABRI mempersenjatai kelompok-kelompok orang
sipil pendukung Integrasi dan pro Otonomi. *) Tujuannya secara resmi dikatakan
sebagai bagian dari upaya untuk memberikan jaminan keselamatan kepada
kelompok orang Timor Timur yang pro-Otonomi yang dikatakan selalu di teror
oleh para pendukung kemerdekaan. 

Dari berbagai kejadian di Timor-Timur, yang melakukan teror itu justru
orang-orang yang dipersenjatai tadi. Kesaksian yang disampaikan oleh
anggota masyarakat dari Kab. Ainaro, Liquisa, Covalima dan Dili jelas
menunjukan hal itu. Anggota masyarakat yang menjadi korban di daerah-daerah
tersebut bersaksi bahwa tindakan sipil yang dipersenjatai ABRI yang
kemudian menjadi gerombolan milisi itu telah meresahkan warga masyarakat
karena tindakan mereka yang sangat sadis. 

Kami memaparkan sebuah pengalaman memilukan dari seorang korban kesadisan
gerombolan milisi bentukan ABRI. 

Peristiwa menyakitkan itu terjadi pada tanggal 2-3 Januari 1999 lalu.
Ketika itu, saya sedang menumpang kendaraan umum (mikrolet) menuju Suai
lewat jalur Raimea (Suai) - Manutasi (Ainaro). Saya diturunkan paksa
segerombolan orang bersenjata, yang kemudian saya ketahui sebagai anggota
organisasi sipil bersenjata bernama MAHIDIN (Mati Hidup Dengan Integrasi). 

Saat itu, saya dalam perjalanan dari desa Manutasi, Kab. Ainaro setelah
mengunjungi orang tua untuk merayakan pergantian tahun dari 1998 ke 1999.
Kedua orang tua saya adalah penduduk desa Manutasi. Seperti umumnya
masyarakat petani di Timor Timur, kehidupan orang tua saya terbilang kurang
dari cukup. Lahan pertanian yang mereka miliki tidak lebih dari dua ratus
meter persegi, kondisi tanahnya pun tandus dan berbatu. Dengan kondisi
tanah seperti itu, harapan mereka tertumpu semua pada datangnya musim
hujan. Tapi, kami bersyukur karena hasil kerja keras dan modal ketrampilan
seadanya, kedua orang tua saya berhasil membesarkan kami tiga bersaudara.
Saya sendiri sudah berkeluarga. Istri saya berasal dari Kab. Suai Covalima.
Saat ini, istri saya sedang mengandung anak pertama kami memasuki bulan
kedua. Setelah menikah, saya lebih banyak menetap di Suai dari pada di
Ainaro. Kasih sayang terhadap istri dan calon bayi kami menjadi utama bagi
saya. Tapi bukan berarti orang tua dilupakan. Kadangkala, kerinduan pada
orang tua mendorong saya sesekali mengunjungi mereka di Ainaro.

Menjelang tahun baru 1999, saya memutuskan mengunjungi kedua orang tua
untuk mengobati rasa rindu yang selama setahun saya rasakan. Hal paling
berkesan bagi saya adalah pada malam tanggal 31 Desember, ketika waktu
mendekati pukul 24.00 tengah malam. Bapak, ibu dan sebagian kerabat yang
berkumpul bersama-sama di rumah saling berangkulan dalam kebisuan menanti
datangnya tahun baru. Harapan kami, tahun baru akan membawa berkah dan
rejeki baru, dan kehidupan kami bisa membaik.

Kami bersorak dengan penuh harap saat jam menunjukkan pukul 24.00. Tahun
Baru, harapan baru. Dengan perasaan bahagia, kami menikmati hidangan
singkong, sedikit nasi putih dan sayur yang diperoleh ibu dari kebun.
Sepanjang hari kami berkumpul dan saling melepas rindu. 

Esok harinya, hari jumat, 2 Januari 1999, kira-kira jam 10.00 segera
kembali kesisi istri di kampung Webaba, desa Raimea, Suai, Kab. Covalima.
Tidak terasa, saya sudah berada di dalam sebuah mikrolet yang sedang melaju
sambil sesekali menurunkan dan menaikkan penumpang di tengah jalan.

Di desa Casa, sekelompok orang bersenjata menghentikan mikrolet. Sopir
menghentikan mobil. Sayup-sayup, saya mendengar orang-orang bersenjata
tanpa pangkat dan kesatuan itu mengatakan kepada sopir bahwa mereka hendak
menitipkan barang melalui mikrolet. Wajah-wajah mereka terlihat begitu
menyeramkan. Dengan menjinjing senjata, orang-orang bukannya menitipkan
barang, melainkan mulai memeriksa para penumpan satu persatu. Pada giliran
saya, mereka mulai menanyakan KTP dan identitas lainnya. Kebetulan, saat
itu saya tidak membawa KTP, selain karena tertinggal di rumah orang tua
saya di Manutasi, pada kenyataannya KTP milik saya sudah habis masa
berlakunya dan yang baru sedang diproses di Suai. Saya mencoba menjelaskan
hal itu kepada mereka tapi mereka tidak mau mengerti. 

Karena tidak dapat menunjukan KTP, mereka mulai mencurigai saya sebagai
salah seorang anggota Klandestine perlawanan Rakyat. Tapi saya kira masalah
KTP bukan menjadi alasan yang sesungguhnya untuk menangkap dan menyiksa
saya. Kendaraan lain yang juga lewat di tempat itu dan beberapa orang
penumpang yang juga tidak membawa KTP tidak ditahan. Kecurigaan saya
semaking bertambah mana kala saya mendengar percakapan di antara mereka
yang mengatakan bahwa mereka telah menemukan orang yang selama ini mereka
tuduh sebagai pelaku yang memukul salah seorang anggota ABRI bernama Anto
di desa Webaba. Saya menduga, saya orang yang melakukan pemukulan itu.
Padahal saya sendiri tidak tahu menahu soal itu, sebab saya waktu itu
berada di Manutasi. 

Kemudian, gerombolan bersenjata itu mengeledah isi tas pakaian saya. Mereka
membongkar semua isinya. Setelah itu, saya diseret menjauh dari tempat
semula. Tangan dan kaki saya diikat dengan tali yang sepertinya sudah
dipersiapkan sebelumnya. Selanjutnya, mereka semua memukuli saya dengan
menggunakan sepatu, tangan dan yang paling sakit pukulan dengan gagang senjata.
Pukulan-pukulan itu di arahkan ke muka dan bagian dada dan ulu hati. Saya
diperlakukan seakan-akan tidak lebih dari sebuah bola yang ditendang dan
dipukul secara bergiliran. 

Awalnya, saya masih mampu menahan berbagai siksan berat itu. Lama kemudian,
darah segar bercucuran melalui mulut, hidung dan bagian kulit dada dan
punggung. Saya merasakan sakit yang begitu menyengat di bagian dada dan
paru-paru. Saya mulai tidak dapat bernafas normal. Jika kaki dan tangan
tidak diikat, ingin sekali saya membalas segala perlakuan sadis gerombolan
itu, yang  sedikitpun tidak merasa malu terhadap masyarakat sekitar tempat
kejadian yang dengan sembunyi-sembunyi menggerutu lewat celah-celah dinding
pintu dan jendela. 

Saya dipukul mulai dari sejak saya diturunkan, sekitar jam 10.30 kemudian
hingga mereka capai. Siksaan dihentikan sekitar malam hari pukul 18.00.
Dalam kondisi yang sangat lemah, saat masih sempat menyaksikan mereka
dengan santainya beristirahat sambil sesekali tertawa mengolok-olok saya.
Dalam hati saya hanya berdoa kepada Tuhan mudah-mudahan siksaan berat ini
segera berakhir. Tapi apa yang terjadi selanjutnya. Gerombolan itu kembali
menyiksa saya. Mereka  menutup mata saya dengan selembar baju kaos tipis
yang diperoleh dari dalam tas saya. Kemudian, mereka melempar saya ke dalam
mobil kijang pick up (mobil ini kemudian diketahui sebagai milik dari Cancio
Carvalho, pemimpin gerombolan milisi). Saya dibawa keliling desa Casa
beberapa kali kemudian diturunkan di sebuah tempat di pinggir sungai Sarai.
Tempat ini adalah bekas gubuk proyek pembuatan jembatan Sarai yang
digunakan pekerja proyek sebagai tempat beristirahat. Di sini, saya kembali
disiksa beramai-ramai sehingga darah kembali mengucur lewat mulut dan
hidung saya. Sewaktu darah keluar dari mulut,  sebagian saya coba telan
agar darah itu bisa masuk kembali ke dalam tubuh. 

Gerombolan biadab itu terus menyiksa saya sampai akhirnya sekitar jam 04.00
pagi hari (Sabtu, 3 Januari 1999) saya pingsan. Saya baru sadar kira-kira
jam 06.00 dan berada di dalam sungai Sarai. 

Saya mencoba bangun, tapi kedua tangan dan kaki saya masih saja terikat
dengan kuat. Saya hanya manpu mengerak-gerakan badan sambil mencoba keluar
dari genangan sungai yang kedalamannya setinggi paha itu. Namun, belun lagi
sampai di tepi, gerombolan itu menyeret saya ke sebuah pos. Di situ, mereka
tidak memukul saya lagi. Mereka bertanya segala macam hal yang tidak saya
ketahui, sambil mengancam dan memaksa saya agar mau menjadi anggota Ratih
(Mahidin) dengan janji tiap bulan akan menerima gaji sebesar Rp 250.000 per
bulan. Walupun kondisi fisik sangat lemah, tanpa rasa takut sedikitpun saya
langsung menjawab bahwa biar saya dibunuh sekalipun saya tidak akan pernah
berpikir untuk bergabung dengan mereka. Saya mengatakan bahwa saya ini
orang bodoh, saya tidak paham politik. Lagi pula saya adalah orang miskin
dan punya istri, saya harus mengelola kebun jagung kami. 

Mereka terus menekan dan sayapun tetap tidak bersedia mengikuti bujukan
mereka. Merasa jengkel atas penolakan saya, si kepala desa (adik kandung
Cancio, si komandan Mahidin) dan gerombolan bersenjata itu menyekap saya di
pos selama satu minggu. Selama disekap, perlakuan mereka terhadap saya
tetap kejam. Setiap hari mereka menteror dan menakut-nakuti saya, dan
makanan yang disediakan lebih cocok untuk makanan burung. 

Saya beruntung. Setelah dua hari disekap, berita tentang kekejaman yang
menimpa saya telah dilaporkan kepada Gereja Suai dan Ainaro. Tiga hari
kemudian, pastor paroki Suai langsung datang menghadap Cancio dan anak
buahnya menanyakan keberadaan dan kondisi saya. Begitu juga dengan istri
saya yang menjenguk saya sampai tiga kali. Terkhir, dia menjemput untuk
membawa pulang setelah para penyiksa itu melepaskan saya. 

Saya juga ingin mengungkapkan satu hal penting yang menurut saya seharusnya
tidak perlu terjadi yaitu, ketika saya dipukul, disiksa, dan terakhir saya
disekap, ABRI dan Kepolisian mengetahuinya. Tapi, mereka tidak melakukan
sesuatu untuk menolong saya. Alasan mereka, Polisi dan Tentara sekarang
tidak lagi memiliki hak mencampuri urusan-urusan seperti yang saya alami.
Kesan yang saya tangkap, tentara dan polisi justru mendukung orang-orang
bersenjata tadi. Alasan tersebut dikatakan sendiri oleh pimpinan Tentara
dan Polisi sewaktu istri saya memohon kepada mereka agar saya dibebaskan.
Sekarang saya sudah dilepas, dan seluruh tubuh saya penuh dengan bekas luka
siksa: di bagian dada, perut dan punggung dan bagian dalam dada masih
terasa sakit.

Saya berharap sekali bila ada kesempatan, orang-orang yang melakukan
penyiksaan atas diri saya dapat diadili termasuk Tentara dan Polisi yang
telah mendukung orang-orang itu. 
----------------------------------------------------------------------------

Laporan disusun oleh Yayasan HAK, Dili, Timor Lorosae (22/4/99)

Catatan:

Demi keselatan, nama korban yang bersaksi ini dirahasiakan dan data lainnya
disimpan oleh Yayasan HAK.

*) Catatan Tambahan Redaksi MateBEAN:

Dari foto-foto yang kami peroleh, dapat dibuktikan bahwa para vigilante
pro-integrasi ini tidak hanya memakai senjata-senjata tradisional seperti
yang digembar-gemborkan ABRI dan media cetak maupun elektronik Indonesia.
Dengan sangat jelas tampak bahwa muka-muka kriminal para vigilante ini
membawa senjata-senjata otomatis modern seperti senapan G3 buatan
Heckler&Koch Jerman Barat (modifikasi dari senapan serbu CETME buatan
Spanyol yang pada tahun-tahun enampuluhan dipakai oleh Kopasgat TNI-AU),
senapan serbu SKS buatan Uni Soviet (salah satu senapan standar TNI-AD masa
lalu) dan lain-lain, serta granat serbu modern berbentuk bulat halus dan
kecil (mungkin buatan Korea, RRC atau negara-negara NATO). Bisa jadi granat
modern ini lah yang mereka pakai untuk membunuh para pengungsi di rumah
Pastor Rafael, Liquica.

Keterangan tambahan ini kami sertakan sebagai salah satu upaya meng-counter
peliputan TVRI ketika Wiranto cs meninjau Dili dan menyaksikan para
vigilante dengan sangat demonstratif menyerahkan senapan tradisional yang
katanya ditembakkan dengan menggunakan korek api.

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke