Precedence: bulk


Suai Covalima: Aksi Kekerasan Mahidi dan Laksaur Merah Putih (LMP) 

Pada tanggal 09 April 1999, di Kec. Suai Kota, penangkapan sewenang-wenang
dan penyiksaan secara tidak manusiawi dilakukan oleh gerombolan milisi LMP
dan Mahidi, terhadap 5 (lima) orang Mahasiswa Untim Peserta Kuliah Kerja
Nyata (KKN) untuk Tahun Ajaran 1999, masing-masing :

1. Natalino de Jesus, laki-laki 24 thn, Mahasiswa Fisipol Jurusan Ilmu
Pemerintahan;

2. Cosme Freitas, laki-laki 23 thn Mahasiswa Fisipol Jurusan Ilmu
Pemerintahan;

3. Victor Gomes, laki-laki 23 thn, Mahasiswa Fisipol Jurusan Ilmu
Administrasi Negara;

4. Abrao do Nacimento, laki-laki 26 thn, Mahasiswa Fisipol Jurusan Ilmu
Pemerintahan;

5. Marcel, asal Propinsi Ambon, Mahasiswa Faperta Jurusan Budi Daya
Pertanian; 

Kelima Mahasiswa ini ditangkap lalu disiksa oleh anggota Mahidi dan LMP
yang melakukan operasi dari Kec. Zumalai menunju ke Desa Beko Suai Kota.
Gerombolan milisi yang sedang operasi itu melewati posko KKN Mahasiswa.
Gerombolan milisi tersebut menanyakan misi para mahasiswa di daerah itu.
Lino Lopes, seorang anggota gerombolan milisi memangil seorang mahasiswa
bernama Victor Gomes dan  langsung menamparnya. Anggota gerombolan lainnya
diketahui bernama Jaime mengambil samurai untuk membacok Victor, tapi di
tahan oleh Cancio. Anggota gerombolan lainnya, menghampiri Abrao dan
menendangnya hingga tersungkur ke tanah. Dua mahasiswa lainnya, Cosme
(rambut panjang) dan Natalino, yang baru datang saat pemeriksaan itu
langsung dikejar dengan motor jenis honda Win. Mereka berdua kemudian
dipukul dengan tangan, dengan kayu balok dan popor senjata hingga
mengeluarkan darah segar dari mulut. Sampai berita ini diturunkan, Cosme
masih muntah-muntah darah.

Kecuali Marcel, semuanya disiksa dengan tuduhan sebagai aktivis Dewan
Solidaritas Mahasiswa Universitas Timor Timur. Sesuai konfirmasi Yayasan
HAK kepada Gina, staf Sekretariat Rektor Universitas Timor Timur dan Ketua
Panitia KKN Untim Tahun Ajaran 1999, Drs. Tri A. Priantoro, M. for. Mc,
alasan penembakan terhadap para Mahasiswa itu tidak jelas. Rektor Untim,
Pe.Theo T Balella, SVD, SH, LLM, mengatakan pihaknya akan menurunkan
Panitia KKN' 99 turun ke lokasi untuk mencari data dan fakta. Namun
demikian diduga kuat bahwa kelima orang Mahasiswa itu disiksa karena alasan
aktivitas politiknya di Kampus Untim selama ini. 

12 April 1999, di Kota Kec. Suai, gerombolan milisi dari kelompok Mahidi,
pimpinan Cancio Lopes de Carvalho menculik dua orang Mahasiswa UNTIM yang
sedang melaksanakan program KKN. Kedua Mahasiswa masing masing:

1. Joao Soares Ximenes, Mahasiswa Faperta Untim.

2. Bernardino Simao, Mahasiswa Fisipol Jurusan Ilmu Adminsitrasi Negara. 

Kedua korban diculik saat dalam perjalanan pulang dari Puskesmas Suai
menuju ke lokasi KKN di Desa Beko. Kedua korban yang diculik hingga kini
belum diketahui nasibnya. Menurut dugaan Mahasiswa lain yang sama-sama
melaksanakan KKN di wilayah itu, keduanya diduga telah dibunuh. Alasannya
karena aktivitas kedua korban dalam kegiatan politik di Kampus UNTIM selama
ini. Drs. Tri A. Priantoro, M. for. Mc, alasan penangkapan dan kemungkinan
pembunuhan terhadap dua orang Mahasiswa itu tidak jelas. Rektor UNTIM, Pe.
Theo T. Balella, SVD, SH, LLM, mengatakan pihaknya akan menurunkan Panitia
KKN' 99 turun ke lokasi untuk mencari data dan fakta. Menurut keterangan
Dosen Pembimbing Lapangan (DPL), Drs. Tri A. Priantoro. M. For. Sc, tindak
kekerasan terhadap Mahasiswa KKN tidak saja terjadi pada dua orang korban
diatas, namun termasuk rekan Mahasiswa lainnya.  

Akibatnya, semua peserta KKN mengungsi ke kota Suai, mengadakan pertemuan
dengan Bupati KDH TK II Covalima, Drs. Herman untuk mendapat jaminan
keamananya. Sementara itu, dalam menanggapi peristiwa ini, Pemerintah Daerah
TK II Covalima, berniat untuk mengembalikan Mahasiswa Peserta KKN ke
kampusnya sebelum batas waktu pelaksanaan progam KKN. Di pihak lain, Rektor
UNTIM mengatakan mendukung inisyatif untuk mengembalikan peserta KKN,
sedangkan  Ketua Panitia KKN 1999 menanggapinya dengan mengatakan bahwa
pihak Panitia tidak ingin pelaksanaan program KKN kali ini gagal karena akan
merugikan Universitas. Namun karena situasi keamanan para Mahasiswa itu tidak
dijamin, pada 17/04/99, semua Mahasiswa KKN di wilayah Suai Kab. Covalima
telah dikembalikan ke Kampusnya oleh Pemerintah Daerah setempat. Sementara
itu keluarga dari kedua korban, Joao dan Bernardino setiap harinya datang
di Kampus Untim, dengan berlinang air mata. 

Dari Ermera: Kekerasan Kodim Ermera dan Besi Merah Putih (BMP)

Di Desa Maluskiik Kec. Railaco, anggota ABRI dan gerombolan milisi dari
kelompok BMP membunuh kepala Desa pada 20/04, Bartolomeus. Korban di bunuh
pada malam hari. Menurut anggota keluarga yang ditinggalkan, sebelum
kejadian itu, mereka sekeluarga sedang berkumpul di dalam rumah. Kemudian,
korban dipangil untuk keluar rumah. Saat itulah korban di tembak mati. Para
pembunuh berdiri di kegelapan agar tidak diketahui. Namun, menurut laporan
penduduk setempat, korban dibunuh oleh anggota ABRI dibantu gerombolan
milisi dari kelompok BMP. Dugaan itu berangkat dari hubungan korban dengan
FALINTIL. Sebagai pejabat di wilayah, Almarhum sering memberikan bantuan
berupa logistik dan obat-obatan kepada Falintil. Karena itulah, Bartolomeus
dibunuh.

Bobonaro: Kekerasan Gerombolan milisi kelompok Halilintar
Tanggal 15 - 17 April 1999, tiga hari berturut-turut aksi kekerasan
penyiksaan dan penghancuran rumah milik masyarakat dilakukan oleh anggota
Halilintar, di
kampung Ailoklaran-Loes, Desa Aidabalete, Kec. Atabae. Aksi kekerasan ini
dilakukan terhadap 5 (lima) orang masyarayar sipil, masing-masing:

1. Jose Guterres, laki-laki 35 Thn, Pekerjaan Guru SD Negeri
Ailoklaran-Loes, tinggal di di kampung Ailoklaran-Loes, Desa Aidabalete,
Kec. Atabae. Korban dibacok dengan parang pada bagian bahu kanan hingga
luka berat, ditusuk pakai pisau pada bagian perut hingga luka berat dan
tahi keluar. 

2. Manuel Mendes, laki-laki 45 Thn, Pekerjaan Kepala Desa Aidabalete,
anggota  TNI-AD, pangkat Sersan Kepala, tinggal di di kampung
Ailoklaran-Loes, Desa Aidabalete, Kec. Atabae. Korban dipukul, ditumpuk
dengan kayu, dengan popor senjata, hingga mengalami luka-luka. Sebuah
sepeda motor milik korban merk GL PRO dan uang sebanyak Rp.1.000.000.-
(Satu Juta rupiah) diambil, satu kalung mortel, dan rumahnya dihancurkan
hingga berantakan.

3. Jose Gonsalves, laki-laki 40 Thn, Pekerjaan Kepala Sekolah SD Negeri
Ailoklaran-Loes, tinggal di kampung Ailoklaran-Loes, Desa Aidabalete, Kec.
Atabae. Korban dipukul, ditendang, ditumpuk dengan kayu balok dan popor
senjata hingga gigi rontok. Hingga sekarang, korban tidak dapat makan-minum. 

4. Lino Leite, laki-laki 34 thn, Pekerjaan Pegawai Kantor Sosial Tingkat II
Bobonaro, tinggal di kampung Ailoklaran-Loes, Desa Aidabalete, Kec. Atabae.
Korban dipukul, ditumpuk dengan kayu, dengan popor senjata, hingga
mengalami luka-luka. Darah segar keluar dari mulut dan hidung. Sebuah
sepeda motor milik korban  diambil dan rumahnya dihancurkan hingga berantakan.

5. Anastacio, laki-laki 30 thn, tinggal di kampung Ailoklaran-Loes, Desa
Aidabalete, Kec. Atabae. Korban dipukul, ditumpuk dengan popor senjata,
hingga mengalami luka-luka. Darah segar keluar dari mulut dan hidung. Satu
kios jualan milik korban segala isinya dirampas habis. 

Sesuai konfirmasi dengan keluarga korban yang melaporkan kasus ini, bahwa
kelima korban dijadikan sasaran kekerasan karena selama ini dicurigai
sebagai agen Falintil di kota. Selalu memberikan bantuan kepada Falintil
berupa logistik, obat-obatan. Setelah kelima korban disiksa dan dianiayai
hingg kini menjalani perawatan dengan obat-obatan tradisional dan bantuan
medis di Puskesmas Atabae.

Laporan disusun oleh 
Yayasan HAK, Dili Timor Lorosae

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke