Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 15/II/25 April-1 Mei 99 ------------------------------ SGI, DALANG PEMBANTAIAN TIMTIM (PERISTIWA): Dua pihak yang bertikai di Timtim berdamai atau prakarsa TNI. Namun, apakah Jendral Wiranto mencium manuver intelijen Kopassus di Timtim? Aitarak atau dalam bahasa Tetum berarti duri, tak akan seberani seperti sekarang ini jika tak disokong TNI. Eurico Gutteres, Komandan Aitarak bukanlah tokoh yang ditakuti selama ini. Eurico memang dikenal dekat dengan Satgas Intelijen (SGI) Kopassus yang bermarkas besar di Kolmera, Dili. Itulah sebabnya, Eurico di kalangan aktifis pro kemerdekaan dijuluki Mauhu dari Komoro. Mauhu adalah sebutan untuk intel tentara dan Komoro adalah desa tempat Erico berdomisili. Bagi yang belum paham, SGI adalah satuan intel Kopassus yang komandonya langsung di bawah Komandan Jendral Kopassus. Dengan Komandan Korem setempat, Komandan SGI yang biasanya berpangkat kolonel tak memiliki hubungan komando yang tegas. Ketika terjadi pembantaian demonstran di pekuburan Santa Cruz, Dili, satuan SGI yang ketika itu dikomandani Kolonel Sjafrie Sjamsoeddin, punya peran penting mengatur insiden itu. Nah, belakangan ini, menurut informasi yang dikumpulkan Xpos, SGI rajin membentuk, melatih dan mempersenjatai milisi-milisi pro integrasi di Timor Timur. Salah satunya adalah Aitarak, milisi yang berbasis di Dili yang yang bertanggungjawab atas pembantaian para pengungsi di rumah keluarga Carrascalao. Aitarak punya markas yang mentereng di bekas Hotel Tropikal, yang berdekatan dengan rumah Manuel Carrascalao. Gedung bekas Hotel Tropikal selama ini dipakai sebagai Sekretariat Gadapaksi, ormas kepemudaan bentukan Prabowo Subianto ketika menantu Soeharto ini jadi Komandan Jendral Koppasus. Di tempat inilah, para perwira SGI melakukan rapat-rapat dengan para pimpinan Aitarak dan pimpinan milisi-milisi binaan mereka. Menurut sumber Xpos, SGI juga membentuk tim pemburu dari orang-orang milisi pilihan yang tugasnya memburu dan membunuh tokoh-tokoh pro kemerdekaan. Manuel yang rumahnya diserbu dan David Ximenes, tokoh penting CNRT yang rumahnya dibakar, adalah bagian dari perburuan itu. Targetnya memang membunuh Manuel dan David. Namun, untung kedua tokoh pro kemerdekaan itu lolos dari maut. Aitarak bukan satu-satunya milisi kejam yang dipersenjatai TNI. Belakangan muncul milisi baru bernama: Milisi Sayap Kanan Pembersihan Timor Timur pimpinan Lafaek Saburai. Milisi ini nampaknya punya tugas khusus yang belum diketahui. Lafaek bukan orang sembarangan. Di zaman invasi ABRI di Timor Timur, ia bersama Martinho Fernandes, ditugasi mengawal Prabowo Subianto yang saat itu bertugas di Timor Timur. Dua orang ini dikenal nekad. Belakangan ada kabar, tim pimpinan Lafaek dan Hercules, mantan preman Tanah Abang yang dekat dengan Prabowo dan Mayjen Zacky Anwar Makarim, tengah berada di Jakarta dan mereka menginap di wisma atlet di daerah Ragunan. Tugas mereka: memburu para aktifis pro-kemerdekaan yang melakukan perlawanan politik di Jakarta. Malah ada kabar serem: mereka ditugasi menghabisi Mario Carrascalao, adik kandung Manuel Carrascalao yang belakangan banyak mengkritik pembentukan milisi yang dipersenjatai TNI. Operasi menghabisi Mario tentu hanya kabar burung, namun operasi menghabisi tokoh-tokoh mahasiswa dan pemuda Timtim pro kemerdekaan yang tersebar di sejumlah kota besar di Jawa, termasuk Jakarta, nampaknya hal yang sangat mungkin. Awal pekan ini, sebuah nota perjanjian damai ditandatangani di Dili. Milisi pro Indonesia menyerahkan sejumlah senjata rakitan sendiri kepada Panglima TNI, Jendral Wiranto yang datang ke sana. Hanya senjata rakitan, sedang senjata organik TNI seperti M-16, Steyr, SKS,G-3 (Getmi) dan granat Korea yang nampak jelas dalam siaran-siaran berita televisi, ditenteng oleh para milisi tak sepucukpun diserahkan kepada Wiranto. Ke mana senjata itu disimpan? Apakah Wiranto akan mengusut dari mana asal senjata itu? Nampaknya tidak.Wiranto tahu persis, berbagai senjata itu dikeluarkan dari gudang-gudang senjata milik kesatuan-kesatuan TNI. Perdamaian itu, nampaknya tak akan berlangsung lama, jika Wiranto tak punya niat menarik senjata-senjata yang "dipinjamkan" kepada para milisi. Wiranto pun nampaknya juga tak ingin mengusut kesatuan apa saja yang terlibat dalam pembantaian demi pembantaian dalam sebulan ini terhadap warga pro-kemerdekaan. Jika Wiranto sedikit saja mau tahu aktivitas SGI, ia pasti bisa menarik kesimpulan sendiri. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
