Precedence: bulk


From: "KKSP Foundation" <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Komentar untuk Bung Sulangkang Suwalu
Date: Thu, 22 Apr 1999 00:36:43 +0700

Salam Merdeka,

Kali ini saya akan tetap nimbrung lagi urun pendapat mengenai tulisan Bung
Sulangkang Suwalu.

Anda benar, pemilihan Presiden kita tidak langsung, sehingga kita pun
perlu bertanya untuk apa debat Capres dilakukan. Namun, agaknya
terlampau sederhana kalau anda katakan debat itu - dengan alasan seperti
di atas - debat Capres menjadi tidak relevan. Dalam kaitannya dengan
pendidikan politik, debat Capres tetap relevan. Paling tidak, rakyat
bisa tahu tentang visi dari masing-masing calon yang diunggulkan
partai-partai. Kalau saya tertarik untuk memilih suatu partai, tentu
saya ingin tahu misalnya, bagaimana sikap pimpinan partai itu terhadap
UUD 1945, terhadap format negara ke depan, terhadap sistem ekonomi dan
politik dll. Sekaligus,dalam debat itu, sebagai rakyat calon pemilih,
Capres bisa menjelaskan sikap partainya mengenai soal-soal kebangsaan.
Toh...itu jauh lebih baik dari "debat umbul-umbul" yang tak ada bedanya
dengan budaya Pemilu Orba.

Benar bahwa dari debat Capres kita belum bisa mengatakan apa yang
diungkapkan dan dijanjikan masing-masing Capres akan benar-benar
diimplementasikan. Pertama, bisa jadi si Capres memang tidak memiliki
tingkat kejujuran yang baik alias suka berbohong. Kedua, si capres tidak
suka bohong, namun kondisi objektif memang tidak memungkinkan dia
melakukan apa yang dia pikirkan. Sebab, dalam sistem politik yang
terbuka nantinya, di mana ada kekuatan politik yang begitu beragam,
belum tentu apa yang menjadi sikap politik si Capres - yang kemudian
jadi Presiden - bisa diwujudkan. Katakanlah ide Amien dan PAN mengenai
federalisme, belum tentu bisa diwujudkan mereka sekali pun menang
Pemilu, karena realitas objektif kekuatan-kekuatan politik lainnya akan
sangat mempengaruhi juga. Namun, paling tidak dari debat itu ada
pegangan bagi rakyat untuk menilai pemimpin. Pertama, apakah dia bisa
dipercaya yang itu diukur dari seberapa tinggi tingkat kejujurannya. 
Kedua, seberapa kuat dia menjalankan ide-idenya. Sebab, ada pemimpin
yang jujur, tetapi lemah dalam menjalankan ide, mempengaruhi pihak lain
agar sependapat dengannya (maksudnya bukan dengan senjata lho).
Nah...itu semua tidak akan bisa diuji melalui "debat umbul-umbul".

Anda benar bahwa pasti ada motif politik di balik pernyataan Amien.
Sayangnya, kenapa anda tidak juga bertanya apa motif politik di balik
sikap PDI Perjuangan dan Megawati yang menolak itu. Padahal, sangat
jelas tidak ada hubungan antara rusuh dan gontok-gontokan dengan debat
Capres. Terlalu kompleks persoalannya sehingga menjadi terlalu sederhana
untuk mengatakan bahwa debat bisa memicu itu. Sebaliknya, apakah "debat
umbul-umbul" tidak lebih memungkinkan terjadinya konflik horisontal,
karena rakyat dibiasakan untuk tidak rasional. Seharusnya, anda juga
mengkritisi pandangan Yahya dan Merdeka (yang sejenis dan partisan
juga), jangan-jangan memang mereka punya motif "menjual meong dalam
karung", karena terus-terusan memendam pendapat dan figur andalannya.
Sehingga, selalu saja berapologi tentang hal semacam itu, sambil cari
alasan sana sini yang tidak relevan. Sangat berbahaya - secara
psiko-politik - bila sikap ketakutan akan kelemahan diri disimpan terus,
sementara di sisi lain sikap itu dibarengi dengan keyakinan yang
berlebihan akan menang. Siapa bisa pastikan bahwa ramainya umbul-umbul
dan posko-posko itu menjadi pertanda PDIP akan menang ? Di zaman Orba,
anda tahu sendiri bagaimana banyaknya umbul-umbul dan kuningisasi.
Apakah itu pertanda Golkar secara riil politik memang kuat ?

Harap dicatat, di Medan dalam berbagai acara dialog antar partai, PDIP
selalu absen. Saya tidak mengerti kenapa. Apakah sudah sangat percaya
akan menang, seperti keyakinan Bung Yahya Nasution ? Wuaduh kacau, kalau
Yahya bilang "yang penting menang dalam Pemilu" dan sepertinya anda
mengamini sikap itu. Mau berapa lama lagi pembodohan politik terjadi di
negeri ini ? Apa mereka tidak kasihan sama abang-abang beca yang
mati-matian mendukung mereka, tetapi kurang mengerti visi partai itu. Di
beberapa desa yang saya pantau dengan ANFREL tempohari (lihat Republika
beberapa waktu lalu), para calon pemilih PDIP banyak yang gagal
menunjukkan mana gambar PDIP. Mereka menunjuk tanda gambar PDI Budi
Hardjono. Bahkan ada yang menyebut PNI-Megawati dan tetap bilang jumlah
partai cuma ada tiga buah. Apa pembodohan politik hasil Orba ini akan
terus kita pertahankan dengan alasan takut "keAmerika-Amerikaan", takut
politik liberal. Itu sikap Orba Bung, yang selalu bikin alasan
mengada-ada, dengan tujuan agar rakyat memilih yang "seolah-olah"
membela nasibnya terus-menerus, tanpa bisa mengkritisi kenyataan
politik.

Anda semestiya juga faham, bahwa Pemilu pun juga datang dari Barat sana.
Bahkan demokrasi dalam pengertian modern, dalam pengertian akademik
ilmiah seperti yang kita harap-harapkan selama ini pun juga datang dari
faham liberal-Barat. Sepertinya, ada kesan ketakutan terhadap Barat
tetap kita pelihara, tanpa alasan yang jelas. Tetapi, diam-diam kita
mem-Barat dengan memasukkan semua jenis kapitalisme kemari.

Bung...saya pikir biar lah tradisi politik baru berjalan terus. Kalau
pun ide debat capres mau dimanfaatkan Amien, toh...saya kira dengan
kemampuan akademis yang dia miliki, tak ada jaminan juga rakyat akan
milih PAN. Sebab, bukan itu satu-satunya dasar bagi rakyat memilih.
Kejujuran dan kerendahan hati, lebih menjadi pertimbangan rakyat. PDIP
pun tak perlu takut masuk pada tradisi politik baru itu. Bahkan akan
lebih simpatik kalau mereka mau ikut, ketimbang berapologi
terus-menerus.

Terlalu gegabah juga menyimpulkan bahwa Amien sedang mempersonifikasikan
kepemimpinan organisasi/partai. Saya kira maksudnya bahwa posisi pemimpin
memang tetap penting untuk menilai posisi partai secara keseluruhan.


Salam dan tetap berfikir merdeka,

Ahmad Taufan Damanik

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke