Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 15/II/25 April-1 Mei 99
------------------------------

BERDAULATNYA PARTAI ADI SASONO

(POLITIK): Kehadiran Partai Daulat Rakyat (PDR) meramaikan persaingan Pemilu
mendatang. Benarkah Menkop dan PKM Adi Sasono menggunakan dana APBN dan
bantuan luar negeri untuk memenuhi ambisinya melalui PDR?

Deklarasi PDR, Sabtu (17/4) pekan lalu mengejutkan banyak orang. Bagaimana
sebuah partai yang baru seumur jagung -didirikan 1 Januari 1999- bisa
menghadirkan puluhan ribu orang dan membuat acara yang meriah? Hanya
partai-partai besar seperti PDI Perjuangan, dan Partai Kebangkitan Bangsa,
atau partai dengan dana kuat seperti Partai Golkar yang bisa melakukannya.
Ternyata tak sulit menebak. Mereka yang hadir kebanyakan dibayar Rp100 ribu
per orang. Jumlah yang cukup besar untuk partai baru semacam PDR.

Sebagian besar massa yang hadir adalah masyarakat miskin seperti kawasan
perburuhan di Cileungsi, Tangerang, dan Tanjungpriok, bahkan ada juga yang
dari Bandung, dan Surabaya. 

PDR melalui Sekretaris Jenderalnya M. Jumhur Hidayat bahkan mengklaim massa
pendukung partainya dapat mencapai 30 juta orang atau lebih. Angka ini baru
50% dari kalkulasi PDR, mengingat PDR melalui jaringan koperasinya di
seluruh Indonesia -dengan mencantel di Depkop yang memiliki jaringan
koperasi- memiliki simpatisan potensial sebesar 60 juta jiwa, yakni meliputi
26 juta anggota koperasi dari total 54 ribu unit koperasi ditambah 39 juta
pengusaha kecil-menengah.

Salah satu mesin penghimpun massa PDR adalah melalui pembentukan Pos Ekonomi
Rakyat (PER) yang konsepnya dibidani Cacuk Sudarijanto dan Dirjen PUOD Ryaas
Rasyid. Lembaga ini berfungsi memberikan informasi bagi koperasi dan
pengusaha kecil yang ingin memanfaatkan kredit dari Depkop. Di sinilah
kerancuan itu, karena ternyata konsultan PER adalah aktivis-aktivis
Persatuan Daulat Rakyat, ormas yang memiliki kedekatan politis dan ideologis
dengan para pengurus PDR (partai). Selain itu, para konsultan PER -yang
notabene aktivis PDR- digaji Depkop Rp400 ribu per bulan. Tak sulit menebak
pilihan kepentingan politik para aktivis ormas itu.

Selain PER, dan PDR (ormas), ada pula petugas konsultasi lapangan (PKL) yang
meliputi ribuan sarjana dari berbagai perguruan tinggi, dengan fungsi
mendampingi unit-unit koperasi untuk memperoleh pengalokasian kredit. Di
sini kembali terjadi kerawanan, karena kemungkinan terjadi tawar-menawar
untuk memperoleh alokasi kredit terjadi antara para konsultan dan kreditor.
Menurut sebuah sumber, tawar-menawar itu disertai syarat aagar penerima
kredit: menyalurkan aspirasinya dalam Pemilu mendatang ke PDR!

Pada kenyataannya di beberapa daerah telah terjadi penyeberangan
besar-besaran dari para anggota koperasi yang dahulunya dikenal merupakan
kader partai lain ke PDR. Di Kalimantan Timur misalnya, Suroso, seorang
pengurus DPC PDI Perjuangan Samarinda kini menjabat sebagai pengurus ranting
PDR Samarinda Utara dengan membawa serta ratusan kader PDI Perjuangan
lainnya yang -kebetulan- juga anggota koperasi setempat. Hal serupa terjadi
di Sulawesi Utara, Sumatera Utara, dan Irian Jaya, tiga propinsi yang juga
merupakan kantong PDI Perjuangan.

Menurut pengamat LIPI Muhammad AS Hikam, manuver PDR dan jaringan
koperasinya itu memang bersentuhan dengan kalangan masyarakat dari strata
sosial menengah ke bawah. Ia mensinyalir, ada semacam strategi besar (grand
strategy) dari kekuatan pro status quo untuk saling membagi tugas dalam
mengeliminir gerakan kaum pro demokrasi dan pro reformasi. "Salah satu
caranya ya melalui politik uang ala PDR itu. Bukan kebetulan, bahwa basis
massa PDI Perjuangan, atau PKB berasal dari golongan tersebut. Ini bisa
diartikan sebagai cara untuk menggembosi partai-partai pro-reformasi dan
pro-demokrasi," ucapnya.

Sementara itu, pengamat koperasi dari UGM Revrisond Baswir malah menyebutkan
Menkop dan PKM Adi Sasono telah melakukan politik uang dengan cara
memanfaatkan jaringan koperasi untuk menggolkan berbagai kepentingannya. 

Memang benar, dalam situasi ekonomi seperti ini, siapa tak tergiur dengan
total anggaran Rp10,8 triliun yang siap dikucurkan berupa kredit-kredit ke
berbagai koperasi di seluruh tanah air? Menurut sumber Xpos, seorang
pengusaha menengah, untuk sebuah koperasi untuk tingkat kotamadya saja,
Depkop menganggarkan dana sebesar Rp500 juta. Jumlah ini terus disesuaikan
hingga ke tingkat wilayah terendah. 

Menkop dan PKM Adi Sasono menolak tudingan dirinya telah melakukan politik
uang untuk kepentingan PDR. "Itu nggak benar, tapi kreatif juga ya orang
yang menuding demikian. Kok berbuat baik dicurigai macam-macam?" ucapnya
seperti biasa tak menunjukkan kejengahan terhadap kritik yang dialamatkan ke
dirinya.

Tapi, seperti dikatakan Revrisond Baswir, jika memang Adi Sasono semata-mata
ingin memberdayakan ekonomi rakyat, mengapa di luar PDR ormas harus ada PDR
parpol juga? "Bukankah, tujuan orang berpolitik adalah untuk meraih
kekuasaan bagi kepentingan diri dan kelompoknya. Itulah yang menyebabkan
banyak orang menaruh curiga terhadap berbagai manuver Adi Sasono," katanya.

Selain itu, Adi Sasono, menurut seorang mantan aktivis Lembaga Studi
Pembangunan (LSP), sebagai pengurus LSP pada awal tahun 1990-an pernah
menilep dana miliaran rupiah yang diberikan United Nation Development
Program (UNDP) yang diperuntukkan bagi program rakyat miskin perkotaan di
Jakarta. Jika itu benar, bagaimana masyarakat mau percaya dengan jargon
pemberdayaan ekonomi kerakyatan? (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke