Precedence: bulk
KRONOLOGI KEBERADAAN KORAN SUARA TIMOR TIMUR
DILI (MateBEAN, 27/4/99), Seperti telah dimnuat sebelumnya, satu-satunya
koran terakhir yang masih bertahan di Timor Timur, Suara Timor Timur (STT),
akhirnya mati "dibunuh" para milisi bersenjata yang dibentuk TNI. Perangkat
komputer, mesin faksimili, pesawat telepon dan peralatan kerja redaksi
lainnya diluluh-lantakkan oleh gerombolan pemuda Timtim sendiri yang tak
mengerti sejarah dan cita-cita pendirian koran tersebut. Untuk "mengenang"
STT berikut ini redaksi tulis kembali sejarah singkatnya.
Harian Umum STT terbit pertama kali 1 Pebruari 1993, bertepatan dengan
pengadilan terhadap Xanana Gusmao. Ketika itu manajemen STT diambil alih oleh
Kelompok Kompas Gramedia (KKG) melalui Persda. Tiras STT ketika itu adalah 10
ribu, namun sebagian besar dibagi secara gratis kepada masyarakat di kota Dili,
sebagai nomor perkenalan.
Setelah nomor perkenalan beredar, berbagai sambutan yang intinya
adalah mendukung kehadiran STT di Timtim mulai mengalir. Uskup Belo menyam-
paikan pesannya bahwa kehadiran STT sangat dibutuhkan untuk menyuarakan
kepentingan kalangan masyarakat bawah. Selain itu kehadiran STT juga
memberikan informasi, dan ikut mengawasi serta menjadi kontrol sosial yang
baik. Selain Uskup Belo, Komandan Korem 164/WD, waktu itu, Kolonel Johny
Lumintang (saat ini
Wakasad), Gubernur Abilio dan Kapolda Timtim Kolonel Nugroho Djajoesman (seka-
rang Kapolda Metro Jaya) juga memberikan sambutan yang positif terhadap
kehadiran STT.
Namun sambutan positif itu hanya sesaat, karena seiring dengan
perjalanan zaman, kehadiran STT mulai tidak mendapat tempat di hati
pemerintah daerah serta aparat keamanan. Buntutnya adalah adanya pembatalan
langganan STT oleh Pemda setempat serta dipanggilnya beberapa wartawan STT
ke Korem, salah satunya adalah Irawan Saptono. Puncak dari kemarahan aparat
pemerintah saat itu adalah pembakaran mobil STT serta pengrusakan kantor STT
yang dilakukan oleh Pemuda Pancasila pada tahun 1995. Namun kerusakannya
tidak separah seperti sekarang. Dalam pengrusakan kantor STT, anggota Pemuda
Pancasila juga menganiaya seorang wartawan STT yang juga koresponden The
Jakarta Post (Yakob Herin), sehingga mengakibatkan yang bersangkutan harus
mengungsi ke luar dari Timtim karena terus diburu oleh aparat keamanan di
Dili. Sementara pihak pemerintah dan aparat keamanan tidak menerima
kehadiran STT, sebaliknya Gereja Timtim melalui Uskup Belo menyambut baik
pemberitaan-pemberitaan yang menurutnya ikut menyuarakan kepentingan
masyarakat miskin.
Selain itu, ada beberapa perubahan mencolok dalam tubuh STT, yaitu
hengkangnya beberapa wartawan senior membuat harian itu mulai lemah dalam
pemberitaan serta penyajian berita. Berbarengan dengan perubahan itu, kritik
masyarakat pun mulai terasa, sehingga manajemen perusahaan mulai mengubah pola
pemberitaannya yang selama 3 tahun pertama lebih banyak menyuarakan kepentingan
kalangan atas, diubah menjadi koran investigasi. Perubahaan pola itu semakin
menciptakan permusuhan antara pemerintah/pihak keamanan dengan wartawan STT.
Teror dan intimidasi sepertinya menjadi sarapan sehari-hari bagi wartawan
STT, baik ketika meliput di lapangan maupun sesudah di kantor. Teror dan
intimidasi itu kemudian terbukti ketika seorang wartawan STT yang juga
koresponden Majalah Tiras, Gaudensius Mau dianiaya oleh sekelompok orang
yang tak dikenal. Akibat penganiayaan itu Gandensius Mau menderita gegar
otak dan harus dirawat secara tradisional.
Pada 1997, tiras STT yang tadinya 3800 harus dikurangi menjadi 1.800
karena menurunnya minat baca masyarakat terhadap koran tersebut. Dengan besarnya
biaya produksi dan STT sendiri tidak sanggup membayar gaji karyawan yang
berjumlah 50 orang, manajemen STT mengambil keputusan meerampingkan
karyawannya. Beberapa karyawan yang dianggap tidak produktif di PHK
sehingga total karyawan antara lain, redaksi 23 orang, iklan 5 orang,
keuangan 4 orang, bagian umum 3 orang, setting dan lay out yang dulunya 3
orang dikurangi menjadi 2 orang,
percetakan 5 orang dan sirkulasi 2 orang. Jumlah total karyawan STT saat ini
adalah 44 orang, tidak termasuk Pemimpin Umum/Pemimpin Pedaksi dam pimpinan
perusahaan. Sedangkan karyawan yang di PHK adalah 6 orang.
Dalam 1997/1998 beberapa telepon yang yang nadanya teror terhadap STT,
sering terjadi. Bahkan menurut pemimpin perusahaan, Domingos Saldanha, dirinya
pernah dipanggil oleh Gubernur Abilio dan memperingatkan dia bahwa secepatnya
STT memecat dua wartawan STT masing-masing Aderito Hugo da Costa dan Metha
Guterres, dengan alasan bahwa kedua wartawan itu tidak bisa diajak bekerja
sama dengan pemerintah. Selain itu kedua wartawan itu, kata Abilio, sering
memuat berita-berita yang dikutip oleh kantor-kantor berita asing tentang
kelaparan, penganiayaan terhadap masyarakat serta kasus-kasus kolusi Abilio
dengan keluarga Cendana.
"Kalau ingin Pemda berlangganan STT dan kita mau damai, STT harus pecat
dua wartawan itu. Mereka berdua ingin menjadi wartawan idealis, susahlah kalau
di Timtim," kata Domingos mengutip pernyataan Abilio ketika itu. Namun dihadapan
Abilio, Domingos menolak untuk memecat kedua wartawan tersebut dengan alasan
bahwa STT masih membutuhkan kedua wartawan itu.
Karena merasa STT sudah tidak diajak berkompromi dengan Pemda, Abilio
dengan dukungan Pangab Wiranto menerbitkan harian baru yaitu Novas. Penerbitan
harian itu target utamanya adalah untuk mematikan STT. Tapi usaha untuk
mematikan STT hanya sia-sia, karena semakin hari STT mulai mendapat tempat di
kalangan masyarakat termasuk Falintil.
Ketika Indonesia dilanda krisis moneter, yang mengakibatkan beberapa
koran-koran besar melakukan penghematan serta pengurangan halaman dan
penurunan tiras, justru sebaliknya STT dari oplah 1.800 mulai menanjak
menjadi 3.800. Pada bulan Nopember-Desember 1998, tiras sudah berada pada
level 4.800. Awal Januari 1999, tiras STT naik lagi menjadi 5000. Dan bulan
Pebruari-Maret oplahnya naik menjadi 6 ribu. Ketika terjadi pengrusakan
kantor, oplah STT sudah mencapai 8 ribu.
Pada 17 Agusrus 1998, STT merasa perlu mengoreksi diri dan mengubah
citra dirinya yang oleh sebagaian masyarakat dikenal "dekat" dengan
birokrasi menjadi lebih dekat pada rakyat. Motto yang tadinya "Suara
Persatuan dan Pembangunan" diubah menjadi "Menyuarakan Keadilan dan
Kebenaran". Motto ini barangkali sejalan dengan keinginan Uskup Belo yang
disampaikan dalam buku peringatan ulang tahun pertama STT.
Berikut Kronologi pengrusakan kantor STT:
Tanggal 6 April 1999: Terjadi penyerangan milisi Besi Merah Putih (BMP)
terhadap kelompok pro kemerdekaan serta warga masyarakat di Liquisa. Dua
wartawan STT dikirim untuk meliput masing-masing Joao Barreto dan Lourenco
Martins.
Tanggal 7 April STT tampil dengan Headline: Liquisa rusuh, 2 tewas dan 8
rumah dibakar oleh BMP. Selain itu STT juga memberitakan bahwa selain
menyerang kelompok pro kemerdekaan BMP juga melakukan penjarahaan terhadap
warga di Liquisa.
Tanggal 8 April STT memberitakan bahwa terjadi aksi penyerangan kelompok
Besi Merah Putih di rumah Pastor Paroki Liquisa yang mengakibatkan 25 orang
meninggal dunia. Sedangkan Danrem Timtim membantah bahwa telah terjadi aksi
pembantaian, dan yang benar adalah 5 orang yang tewas.
Tanggal 9 April Uskup bersama Danrem, Kapolda bersama Kontras dan Komisi
Justice e Paz Diosis Dili mengunjungi rumah Pastor Paroki Liquisa. Dalam
kunjungan itu 2 orang wartawan STT juga ditugaskan untuk meliput peninjauan
itu.
Tanggal 10 April STT menurunkan testimoni dari Pastor Rafael yang
mengatakan bahwa telah terjadi pembantaian dirumah Pastor yakni 25 tewas,
serta uang 8 juta milik pastoran telah dijarah oleh kelompok BMP. Pastor
Rafael juga mengatakan bahwa dalam penyerangan di kediaman pastor, kelompok
BMP bekerja sama dengan aparat keamanan seperti Brimob, polisi dan tentara.
Selain testimoni dari Pastor, STT juga mewawancari seorang saksi mata yang
namanya dirahasiakan. Dalam kesaksiannya dia mengatakan bahwa selain
membunuh orang-orang yang diduga membantu gerakan pro kemerdekaan, kelompok
BMP juga memperkosa beberapa
perempuan di Liquisa. Berkaitan dengan pemberitaan STT, kelompok BMP mulai
melakukan teror terhadap wartawan STT. Dan ketika dua orang fotografer dari
Kantor Berita Reuters mengunjungi Liquisa, kelompok BMP menyanyakan apakah
ada wartawan STT ikut atau tidak. "Mereka mengatakan kalau ada wartawan STT
mereka akan membunuhnya," kata wartawan Reuters itu mengutip ancaman
kelompok BMP.
Tanggal 11 April: Ketika Uskup Belo kembali mengunjungi Liquisa untuk
memimpin misa bagi arwah orang-orang yang dibunuh oleh kelompok BMP itu. STT
juga mesertakan tiga wartawannnya yaitu Metha Guterres, Lourenco Martins dan
Suzana Cardoso. Selain ketiga wartawan STT itu, bersamaan dengan Uskup
Belo, juga ada beberapa wartawan asing sekitar 20 orang dengan menumpang 10
mobil carteran. Ketika Uskup belo berkhotbah, kelompok BMP itu mulai meneror
wartawan yang dengan mengatakan: "Wartawan STT hati-hati, kalau kami dapat
kami akan membunuhnya. Kehadiran wartawan STT itu yang selalu menganggu
masyarakat, dan harus kami singkirkan."
Ketika selesai misa rombongan Uskup bersama dengan wartawan dikawal oleh sebuah
patroli polisi untuk kembali ke Dili. Namun dengan pertimbangan keselamatan
wartawan, akhirnya diputuskan bahwa wartawan jangan menumpang mobil-mobil
carteran, tapi sebaiknya menumpang mobil--mobil pastor, dan mobil komisi
keadilan. Akhirnya wartawan naik mobil rombongan Uskup Belo, sedangkan mobil
carteran ditumpangi sebagian wartawan. Ketika rombongan Uskup Belo hendak
melewati Kota Liquisa, kelompok BMP itu mencegat mobil-mobil yang dicurigai
membawa wartawan, dan buntutnya adalah pelemparan yang mengakibatkan 3 mobil
carteran rusak, dan seorang sopir taxi harus dilarikan ke rumah sakit karena
kepalanya bocor dan mendapat 7 jahitan di kepalanya.
Tanggal 12 April: BMP Mulai memasuki Kota Dili, khususnya Dili Barat Desa
Comoro. Dua orang loper STT yang berjualan di Terminal Tasi Tolu, dirampas
korannya lalu dibakar. Bersamaan dengan perampasan koran STT, kelompok BMP juga
menitipkan pesan kepada kedua loper untuk disampaikan kepada wartawan STT
bahwa mereka harus hati-hati dan tunggu saatnya penyerangan terhadap kantor STT.
Tanggal 13 April sekitar 8 orang yang tak dikenal mendatangi Redaksi STT
untuk mencari wartawan Metha Guterres. Namun petugas bagian piket menjawab
bahwa Metha tidak berada di tempat.
Tanggal 14 April: Ke-8 orang kembali mendatangi redaksi dengan maksud dan
tujuan yang sama yaitu tetap ingin bertemu dengan wartawan Metha Guterres,
sedangkan wartawan lain mereka tolak dengan alasan yang tidak jelas.
Sedangkan pada malam harinya sekitar pukul 24.00 WITA, redaksi STT menerima
telepon gelap. Si penelpon gelap itu menyanyakan apakah masih ada wartawan
STT atau tidak. Namun petugas STT menjawab bahwa wartawan STT sudah pulang
semuanya. Mendengar jawaban itu si penelepon lalu mengatakan bahwa dirinya
bersama rekan-rekan akan
mendatangi redaksi STT.
Tanggal 15 April: Melihat kondisi dan keselamatan wartawan STT semakin tidak
terjamin, Pimpinan Perusahaan berinisiatif mempertemukan wartawan STT dengan
Wakil Panglima Perang Pro-otonomi yang juga Komandan Aitarak, Eurico
Guterres. Dalam pertemuan itu Eurico mengatakan bahwa dirinya bersama
kelompok milisi pro- otonomi yang lain akan tetap menjamin keselamatan
wartawan STT. Bahkan Eurico dengan keyakinannya mengatakan bahwa STT tidak
akan diapa-apakan.
Tanggal 16 April kembali ke-8 orang yang tak dikenal itu mendatangi redaksi
STT dengan mncari wartawan yang sama.
Tanggal 17 April: Diadakan pengukuhan milisi Aitarak di depan kantor
Gubernur. Hadir dalam pengukuhan itu antara lain Gubernur Timtim, Danrem,
Kapolda dan semua pejabat baik sipil maupun militer. Sekitar pukul 09.00
WITA 8 orang asing
mendatangi redaksi STT dengan menyanyakan keberadaan wartawan STT Metha
Guterres. Pukul 11.00 Wita, beredar kabar bahwa STT akan diserang oleh
kelompok BMP sehingga 2 wartawan STT setelah bersepakat dengan rekan-rekan
wartawan lain memutuskan untuk meninggalkan Timtim dengan menumpangi Merpati
tujuan Denpasar.
Namun pada pukul 12.00 sebelum Merparti take off terdengar kabar bahwa
kantor STT sudah diobrak-abrik oleh kelompok BMP dengan dipimpin Joao
Tavares. Selain kantor STT, target para milisi adalah kantor CNRT, Kediaman
Manuel Carrascalao dan kantor Yayasan HAK. Pada malam harinya terjadi
bentrokan antara milisi pro-otonomi dengan kelompok pro-kemerdekaan yang
menewaskan beberapa orang.
Bahkan penyerangan hingga pengrusakan kantor STT merupakan bagian dari
skenario aparat keamanan. Saat terjadi perusakan kantor STT, aparat
kepolisian memberi respon sekadarnya saja. Aparat bergerak mendatangi TKP
saat kantor STT telah hancur.
Saat ini STT sedang mencari donatur untuk membantu membeli perangkat baru untuk
bisa terbit kembali.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html