Precedence: bulk


CNRT ERMERA BUBAR DAN DIPAKSA SUMPAH SETIA PADA MERAH PUTIH

        ERMERA (MateBEAN, 27/4/99), Organisasi Conselho Nacional Resistencia da
Timorense (CNRT) Kabupaten Ermera, secara resmi menyatakan diri bubar dan
bergabung dengan kelompok pro-integrasi di Gleno, ibukota Ermera, sekitar 40
km barat daya Dili, Senin (26/4) kemarin.

        Tujuan pembubaran itu dikabarkan untuk membangun rasa aman, damai
dan pembangunan di Ermera khususnya dan Timtim umumnya. Pembubaran itu
ditandai dengan tangisan dan air mata, saling berpelukan satu sama lain.
Pernyataan sikap untuk membubarkan CNRT itu disampaikan dalam suatu apel
kesetiaan pro-otonomi di Gleno. 

        Turut hadir dalam acara tersebut, para pengurus CNRT dan Wakil
Panglima Perang Pro-otonomi, Eurico Guterres. Sekretaris II CNRT Ermera,
Victor dos Santos mengatakan bahwa pembubaran organisasinya muncul dari hati
nuraninya, dan ikhlas bagaikan jeritan, rintihan dan tangisan yang melambung
kepada Tuhan Yang Maha Esa.
 
        "Kami atas  atas nama CNRT serta masyarakat dan pemuda yang terlibat
dalam organisasi CNRT sepakat, dua opsi yang ditawarkan Pemerintah RI untuk
menentukan nasib status politik Timtim, dikembalikan kepada Pemerintah RI
dan secara murni dan konsekuen mendukung sepenuhnya integrasi berdasarkan UU
nomor 7 tahun 1976," kata Victor.

        Selain itu, atas nama organisasi CNRT di Ermera mereka juga menyampaikan
permohonan maaf pada pemerintah, aparat keamanan dan seluruh rakyat Ermera atas
perbuatan yang dilakukan CNRT, baik secara langsung maupun tidak langsung
menyakitkan masyarakat Ermera. 

        "Tidak ada guna kita saling membunuh. Persoalan Timtim adalah persoalan
internasional yang kini tengah dibahas. Kita sudah memulai pembangunan 23 tahun,
kita lanjutkan saja," kata Victor.

        Sedangkan Eurico Guterres yang menyaksikan apel kesetiaan itu mengatakan
bahwa kelompok pro-otonomi tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada
kelompok pro-kemerdekaan untuk memilih integrasi. "Pro-otonomi tidak pernah
memaksa dan mendesak agar CNRT itu bubar. Tapi rupanya rekan-rekan sudah
tahu bahwa PBB yang menangani masalah Timtim, sehingga tidak ada gunanya
untuk kita saling 
membunuh," katanya.

        Betulkan demikian? MateBEAN yang mencoba menghubungi Pelaksana Harian
CNRT di Timtim, David Diaz Ximenes, yang sedang mengungsi di hutan menyatakan
hal yang bertolak belakang. Kepada MateBEAN, David mengatakan bahwa CNRT tidak
pernah bubar. CNRT masih tetap eksis di Timtim dengan mengutamakan rekonsiliasi
terhadap orang Timtim. 

        "Itu tidak benar. CNRT di Ermera tidak pernah bubar; kalau pun ada yang
mengatakan bahwa CNRT di Ermera bubar, hanya karena mereka diancam di bawah
senjata M-16. Ya tentunya mereka harus mengutamakan dulu keselamatannya,"
katanya.

        Menurut David Ximenes , CNRT hanya akan bubar kalau Timtim sudah tidak ada
lagi. Bahkan CNRT, katanya, akan tetap hadir di Timtim untuk selamanya,
karena organisasi itu merupakan wadah untuk mempersatukan semua orang Timtim
yang berbeda pandangan politik. "CNRT tetap mengutamakan misinya yaitu
dialog dan rekonsiliasi antara Timtim untuk menyelesaikan masalah Timtim
secara damai. CNRT tidak ingin terjadi konflik antara sesama orang Timtim,"
katanya.

        Selain itu, David juga mengatakan bahwa ABRI di bawah komando Wiranto
sedang melakukan operasi besar-besaran di Timtim untuk mencari kelompok
pro-kemerdekaan serta memaksa untuk menandatangani otonomi sebagai jalan
penyelesaian masalah Timtim. 

        "Wiranto itu suka merekayasa. Ingin menjadi pahlawan dengan membunuh
orang Timtim yang dianggap berbeda pandangan politik. Itu bukan politik yang
murni, dan itu adalah orang-orang pengecut, dan CNRT tidak suka itu. CNRT ingin
rekonsiliasi tanpa melalui pertumpahan darah," kata David.

        David juga mengatakan bahwa hari ini pegawai di Kantor Walikota Dili
dipaksa untuk menandatangani otonomi sebagai wujud kesetiaan kepada
Pemerintah Indonesia. "Banyak  pegawa yang menangis dengan pemaksaan itu.
Mereka diancam untuk memberikan dukungannya kepada otonomi dan menolak
merdeka. Itu kan makin membuktikan bahwa pemerintah tidak mau menerima
pilihan orang Timtim, tapi mereka lebih suka memaksakan kehendakanya kepada
masyarakat. Dan mereka ingin mempertahankan status-quonya di Timtim," kata
David. 

        Dengan adanya pemaksaan itu, menurut David, semakin memperkuat argumentasi
pihak perlawanan bahwa yang melakukan intimidasi dan teror bukan kelompok
pro-kemerdekaan, melainkan kelompok pro-otonomi yang didukung oleh ABRI.

        "Dunia internasional harus melihat  aksi-aksi militer Indonesia itu dan
menekan supaya tentara segera ditarik dari Timtim. Karena selama masih ada
tentara kedamaian tidak akan tercipta di Timtim. Yang sangat urgent saat ini
perlunya kehadiran pasukan PBB supaya melucuti semua senjata yang dimiliki oleh
milisi pro-otonomi," katanya.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke