Precedence: bulk


SURAT PEMBACA DARI KOREM 164 UDAYANA

Catatan Redaksi: 

Redaksi MateBEAN menerima kiriman surat dari Korem 164 Udayana yang isinya
adalah penjelasan resmi mengenai pertikaian antara kelompok pro-kemerdekaan
dan pro-integrasi (para milisi sipil yang dipersenjatai). Kami, redaksi,
merasa berterima kasoih dan berkewajiban untuk memuatnya. 

Namun, tentu saja, redaksi meminta pada pembaca untuk membacanya dengan
"kritis", karena kami sendiri lebih mengandalkan hasil investigasi di
lapangan ketimbang mempercayai sumber resmi pemerintah RI, apalagi yang
datang dari kelompok militer Indonesia yang selama ini terkenal dalam bidang
pemutar-balikan fakta dan sejarah masa lalu.

Bagaimana pun, sekali lagi, kami ucapkan terima kasih.

Redaksi MateBEAN.-
------------------

KOMANDO DAERAH MILITER  IX UDAYANA
KOMANDO RESOR MILITER 164

        
1. Latar belakang peristiwa                                                     
1.1     Opsi Pemerintah                                 

Masyarakat anti integrasi hanya memandang opsi kedua pemerintah, yaitu
melepaskan Timor Timur dari Negara Kesatuan Republik Indonesia, dengan
berbagai manuver lapangan dan politik, kelompok anti integrasi berupaya
menciptakan kekacauan di seluruh aspek kehidupan guna memperoleh dukungan
masyarakat internasional untuk mendatangkan pasukan PBB ke Timor Timur.                
         
1.2     Peran CNRT              

Dengan berbagai cara CNRT berupaya untuk menggagalkan proses rekonsiliasi
menuju perdamaian melalui aksi intimidasi, teror, penculikan dan pembunuhan
kepada masyarakat pendatang dan masyarakat pro integrasi.   Di beberapa
wilayah CNRT telah mendirikan Pemerintah bayangan sebagai persiapan awal
bila opsi kedua terjadi.                        

1.3     Statement perang Xanana                                                 

Pernyataan perang Xanana ditanggapi oleh masyarakat pro integrasi sebagai
hal yang luar biasa, dimana masyarakat pro integrasi sedang gencar-gencarnya
melakukan proses rekonsiliasi menuju perdamaian bersama kelompok anti
integrasi.  Masyarakat pro integrasi memberi-kan jawaban terhadap tantangan
Xanana tersebut melalui pembentukan organisasi pemuda pro integrasi yang
siap melakukan perang untuk membela integrasi Timor Timur kedalam Negara
Kesatuan Republik Indonesia.    
Dalam waktu tidak lebih dari 2 bulan berbagai macam organisasi pendukung
integrasi terbentuk di 13 kabupaten dengan jumlah massa 200.000 orang.
Secara serempak masyarakat pro integrasi bangkit untuk melawan aksi
intimidasi, teror, penculikan dan pembunuhan yang selama ini selalu
dilakukan oleh kelompok anti integrasi. 

Masyarakat Timor Timur semakin sadar bahwa sekarang ini mereka hanya
dihadapkan kepada dua pilihan tetap merah putih atau bukan merah putih, bagi
masyarakat yang memilih merah putih meraka akan dijadikan saudara sedangkan
bagi yang bukan merah putih akan dikejar terus oleh organisasi militan pro
integrasi.        Dengan bermodalkan senjata rakitan dan senjata tradisional
kelompok integrasi mulai melakukan aksi perlawanan terhadap kelompok
masyarakat yang dinilai bukan merah putih.  

1.4 Aksi pihak lawan                                    

Semenjak reformasi sampai dengan saat ini kelompok anti integrasi telah
melakukan 61 kali aksi penyerangan, pembunuhan, peng-aniayaan, penculikan,
penembakan dan penghadangan terhadap masyarakat pro integrasi beserta ABRI
dan keluarganya yang telah menimbulkan kerugian personil sebanyak 59 orang.
Pada bulan April 1999 ini kelompok anti integrasi melakukan aksi penculikan
dan pembunuhan terhadap 3 orang anggota ABRI dan 1 warga sipil di Kabupaten
Baucau, penghadangan dan pembunuhan terhadap 2 orang anggota ABRI dan kepala
dinas pendapatan di daerah Kabupaten Ermera, melakukan aksi penghadangan di
daerah Manatuto hingga menewaskan Serda Belarmino adik kandung Bapak Lopes
da Cruz Dubes keliling Indonesia.

2. Kronologis kejadian                                                          

Secara umum pemicu awal dari peristiwa perkelahian antara masyarakat pro
integrasi dengan anti integrasi di Kota Dili adalah telah diketemukannya 2
orang mayat anggota Ablai (organisasi pro integrasi kabupaten Manufahi)
dalam kondisi yang sangat memprihatinkan akibat penganiayaan yang dilakuakan
oleh kelompok anti integrasi.   Pemicu lainnya adalah meninggalnya Serda
Belarmino Lopes yang merupakan adik kandung dari tokoh pejuang integrasi
Lopes da Cruz yang meninggal akibat aksi penghadangan pihak anti integrasi.

Pada 171015 Apr 99 setelah melakukan apel akbar di depan kantor Gubernuran,
para peserta apel yang berjumlah 6.000 orang melaksanakan pawai keliling
kota Dili, namun pada saat pawai melintasi wilayah Balide secara tiba-tiba
rombongan pawai ditembak oleh pihak anti integrasi.

Selanjutnya tujuan pawai yang semula untuk show force dialihkan kepada
pencarian terhadap tokoh anti integrasi dan massa pendukungnya, massa
integrasi yang sudah memuncak amarahnya akibat iring-iringan pawai ditembak
oleh pihak anti integrasi membalas dengan mendatangi rumah, tempat dan
perkantoran yang selama ini digunakan oleh CNRT melakukan kegiatan melawan
integrasi Timor Timur.

Aksi masyarakat pro integrasi menyebabkan 12 orang aktivis CNRT mati
ditempat akibat bacokan senjata tradisional dan 5 orang luka-luka akibat
kena parang, tombak dan panah.  Sedangkan rumah milik tokoh CNRT yang telah
ditinggalkan oleh pemiliknya antara lain : Manuel Carascalao, David Ximenes,
Juliong, Leandro isac habis dibakar massa integrasi.

Beberapa jenis kendaraan yang sering digunakan untuk melakukan aksi
penculikan dan penganiayaan oleh pihak CNRT telah dibakar oleh massa pro
integrasi antara lain : 1 buah Toyota Hartop, 1 buah Toyota Kijang dan  1
buah Taxi.

3. Upaya pencegahan                                                                    
 

Danrem 164/WD beserta  Kapolda Timtim langsung mengambil tindakan pencegahan
melalui Dansatgas Pam Dili agar kerusuhan massa pro integrasi tidak meluas
ke wilayah pemukiman padat penduduk guna menghindari kemungkinan semakin
banyaknya korban jiwa dan harta benda.

Selanjutnya Danrem 1646/WD, Kapolda Timor Timur dan didampingi 2 petugas
dari ICRC melakukan peninjauan kepada para korban yang telah berhasil di
evakuasi di RS. Wira Husada Dili.               Pada peninjauan ini petugas ICRC dapat
menyimpulkan bahwa perstiwa perkelahian massa ini murni dilakukan antara
masyarakat pro integrasi dengan masyarakat anti integrasi serta tidak ada
keterlibatan anggota ABRI didalamnya (aktivis CNRT yang mati akibat senjata
rakitan dan tradisional berupa parang, tombak dan panah).  

4 Kesimpulan                                                                    

Pertama,        Peristiwa ini terjadi adalah murni perkelahian antara massa pro
integrasi dengan massa anti integrasi serta tanpa ada rekayasa dari pihak ABRI.

Kedua, Apel akbar berlangsung adalah inisiatif dari Bapak Gubernur KDH TK I
Timor Timur dalam rangka upaya menggalang, meningkatkan dan memantapkan
massa pro integrasi untuk mempertahankan integrasi Timor Timur kedalam
Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ketiga, Pemicu awal peristiwa ini adalah adanya tembakan dari massa anti
integrasi yang diarahkan kepada iring-iringan pawai massa pro integrasi saat
melintasi daerah Balide.

5. Penutup                              

Demikian kronologis peristiwa perkelahian antara masyarakat pro integrasi
dengan anti integrasi disampaikan, sebagai bahan masukan bagi Komando Atas. 

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke