Precedence: bulk


Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka
PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom
E-mail: [EMAIL PROTECTED]
Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp
Xpos, No 15/II/25 April-1 Mei 99
------------------------------

BUKU PUTIH

(LUGAS): Sebuah kelompok yang bernama Center for Banking Crisis (CBC),
Selasa (27/4) lalu di Gedung Bursa Gagasan lantai 4, Mega Kuningan, Jakarta
Selatan me-launching sebuah "Buku Putih". Buku ini bukanlah sekedar buku
lantaran dalam peluncuran itu dihadiri pula oleh politisi ternama, Amien
Rais yang sebelumnya menyebut-nyebut telah punya bukti usaha pemutihan utang
kroni Soeharto. Tapi buku itu berisi data tentang skandal perbankan yang
dilakukan 3 buah bank dan merugikan negara 75 triliun rupiah: penilepan dana
Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI). 

Dengan cara, jual beli bank note secara backdated, Pemilik BII Eka Tjipta
meraup keuntungan pribadi Rp2 miliar selama dua minggu. Disusul permainan
transaksi derivatif US$250 juta dan rediskonto wesel ekspor pada September
1988, US$2,5 juta.

Sebaliknya, BII melanggar pemberian kredit usaha ke Eka Tjipta Grup.
Disebutkan oleh CBC, penyaluran kredit BII 75% ke Eka Tjipta Grup
mengakibatkan kredit macet perusahaan itu mencapai Rp13 triliun. BII telah
menyita jaminan aset perusahaan Eka Tjipta. Tapi kepemilikan sita jaminan
hanya dialihkan kepada kenalan dekat Eka Tjipta.

Selain itu, Bank Danamon disebutkan telah memberikan kredit Rp30  triliun,
yang 50% disalurkan ke grupnya. Dan 85%  atau Rp 26 triliun merupakan
pinjaman dari BI. Tapi anehnya, Bank Danamon menyalurkan kredit baru ke 77
perusahaan fiktif (paper company) untuk membeli saham Astra (19  perusahaan
fiktif senilai Rp1.490 miliar), pengembangan kapling Jl Sudirman (53
perusahaan) Rp2.017,5 miliar, perluasan kuningan (5 perusahaan Rp618,9 miliar).

Selain itu CBC juga mengungkapkan pemberian kredit lain ke grupnya seperti
kredit kepada PT Kaliraya Sari Rp 4.128 juta, PT Danamon Usaha Gedung, PT
Kaliraya Sari Divisi Rumah dan Gedung Rp 4.400 juta, PT Danamon Land Rp 65
miliar, PT Gaterison Sukses Rp 118,550 juta, PT Danamon Usaha  Pembiayaan
Rp45,305 miliar. Hasil investigasi menemukan pula BMPK ke PT  Chandra Asri
Grup Rp2,884 triliun dan PT Raja Garuda Mas Grup Rp 887  miliar.

Selain data itu juga diungkap sejumlah penyimpangan dua bank beku operasi,
yakni Bank Aspac dan BDNI.

Fakta-fakta yang diungkap CBC itu sekali lagi, merupakan keprihatinan kita
bersama. Sebuah lembaga yang selama ini kerahasiannya dilindungi hukum,
ternyata justru disalahgunakan. (*)

---------------------------------------------
Berlangganan mailing list XPOS secara teratur
Kirimkan alamat e-mail Anda
Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS
Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda
ke: [EMAIL PROTECTED]


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke