Precedence: bulk Diterbitkan oleh Komunitas Informasi Terbuka PO Box 22202 London, SE5 8WU, United Kingdom E-mail: [EMAIL PROTECTED] Homepage: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/xp Xpos, No 15/II/25 April-1 Mei 99 ------------------------------ EMPAT WARTAWAN DIBURU KOPASSUS (POLITIK): Sejumlah wartawan Suara Timor Timur (STT) diburu milisi pro pasukan Indonesia dan sejumlah intel Kopassus. Siapa melindugi mereka? Timor Timur memang tempat yang tak ramah bagi wartawan. Sepanjang 1975, enam orang wartawan asing yang bekerja untuk media Australia dibunuh di wilayah ini. Lima orang dibunuh tentara Indonesia pimpinan Kapten (Kopassus) Yunus Yosfiah yang dibantu Joao Tavares, salah satu tokoh UDT. Seorang lagi dibunuh di Dili, ketika tentara Indonesia menyerbu ibukota Timor Portugis itu pada 7 Desember 1975. Kini, pergolakan paling baru di Timor Timur memakan lagi korban wartawan. Bukan wartawan asing melainkan wartawan Timtim sendiri. Nama Joao Tavares muncul lagi sebagai musuh wartawan. Tavares beberapa waktu lalu memimpin penyerbuan kantor Suara Timot Timur (STT) di Dili, melepaskan sejumlah tembakan dan menghancurkan peralatan kantor itu. Tak ada wartawan yang terbunuh karena hari itu hari libur nasional menurut kalender Indonesia. Karena penyerbuan itu STT berhenti terbit, di samping peralatannya hancur, para wartawannya juga tak berani bekerja. Tavares kini memang sedang di atas angin. Ia diangkat oleh Koppasus sebagai Panglima Perang Pro Integrasi. Nah, kalau panglimanya sendiri yang memimpin penyerbuan kantor STT tentu, penerbitan itu merupakan musuh penting dan berbahaya. STT memang dianggap berbahaya bagi kelompok prointegrasi, karena pemberitaan harian ini yang kritis, terutama soal pembantaian oleh militer dan milisi pro tentara di Pastoran Liquisa. Belum puas merusak kantor STT. Joa Tavares memimpin pengejaran terhadap empat wartawan STT yang paling dicari. Salah satunya, Lourenco Vicente Martins, yang juga bekerja untuk The Jakarta Post, dikejar hingga ke Maliana, 200 kilometer sebelah Barat Daya Dili, daerah kelahiran wartawan itu. Rumah Lourenco dihancurkan oleh kelompok milisi bersenjata Halilintar yang dipimpin Tavares sendiri. Sumber Xpos di Maliana menuturkan, kelompok yang mendatangi rumah Lourenco itu berjumlah 20 orang dengan membawa senjata otomatis seperti M-16. "Mana Lourenco. Kalau mau jadi wartawan itu jangan menulis berita yang mendeskreditkan kami," ujar para milisi. Lourenco sendiri tak ada di rumahnya. Ia telah bersembuyi di suatu tempat. Karena wartawan yang dicari tidak berada ditempat, gerombolan milisi itu menghacurkan rumah Lourenco. Seluruh kaca-kaca jendela hancur. Bersamaan dengan rumah Lourenco, beberapa tetangga rumah Lourenco juga ikut dihancurkan oleh gerombolan ini. Seorang saksi mata menurutkan pada Xpos, seorang anggota Koramil Maliana mengancam akan akan menghabiskan dua magasen peluru untuk menghabisi nyawa Loerenco jika bertemu wartawan itu. Selain teror terhadap Lorenco di Maliana. Teror lainnya juga dilancarkan terhadap wartawan STT yang masih tinggal di Dili. Intel-intel Satgas Intelijen (SGI), satgas intel Kopassus, mendatangi rumah seorang wartawan STT di Quital Boot, Desa Santa Cruz untuk mencari wartawan itu. Namun wartawan STT yang dicari itu berhasil lolos. Selain mencari wartawan STT ke rumah, para intel Kopassus itu mulai mencari wartawan STT di sejumlah hotel di Dili. Wakil Pimpinan Redaksi STT, Otelio Ote yang dihubungi Xpos mengatakan ada upaya dari pihak-pihak tertentu agar STT tak terbit untuk selamanya dengan melancarkan teror. Menurut Ote, pimpinan STT sudah bertemu penguasa militer setempat untuk meminta jaminan keamanan bagi wartawan STT jika koran itu terbit kembali. Namun baik Kolonel Tono Suratman, Danrem Timrim dan Kol (Pol) Timbul Silaen Kapolda Timtim, tak mau memberikan jaminan. "Kalau tidak ada jaminan, lebih baik STT tidak terbit saja.," ujarnya. Pemburuan para wartawan STT nampaknya tak akan berhenti sampai di sini. Empat wartawan STT yang paling dicari kini memang sudah bersembunyi, kendati belum tentu nyawanya aman. Di Dili malah tersiar kabar, mulai pekan ini, milisi-milisi bersenjata akan melakukan pencarian besar-besaran terhadap keempat wartawan itu yakni: Metha Guterres, Aderito Hugo da Costa, Joao Barreto dan Lourenco Vicente untuk dihabisi. Teror dan ancaman pembunuhan juga pernah dilancarkan para milisi pada para wartawan dan diplomat Autralia. Mereka akan dibunuh jika berani menginjakkan kaki di Timor Timur. Pemerintah Australia dan sejumlah organisasi wartawan dunia telah memprotes ancaman itu pada pemerintah Indonesia. Namun tidak ditanggapi. Belum ada pernyataan resmi dari pemerintah Indonesia tentang ancaman pembunuhan bagi wartawan STT ini. Mengingat Kopassus terlibat dalam pemburuan itu maka, pemerintah Indonesia nampaknya tak akan menanggapi ihwal ini. (*) --------------------------------------------- Berlangganan mailing list XPOS secara teratur Kirimkan alamat e-mail Anda Dan berminat berlangganan hardcopy XPOS Kirimkan nama dan alamat lengkap Anda ke: [EMAIL PROTECTED] ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
