Precedence: bulk


TAKUT DIBUNUH, RIBUAN WARGA ACEH UTARA MENGUNGSI
     
        LHOKSEUMAWE (MeunaSAH, 5/5/99), Lima ribu warga Aceh Utara mengungsi
karena ketakutan setelah terjadinya pembantaian di Dewantara, Lhokseumawe
yang menewaskan 23 orang dan melukai 103 orang. Mereka kuatir pembantaian
yang dilakukan militer ini akan meluas dan memakan banyak korban lagi. 

        Warga yang mengungsi itu berasal dari Desa Paloh Lada sebanyak 500
KK, Ulee Pulo 300 KK, Pulo Rungkom 200 KK, Paloh Ingeh 200 KK, Reuleut Timu
150 KK, Paya Gaboh 158 KK, Paya Dua sebanyak 170 KK dan beberapa desa
sekitar lainnya, yang terjadi sejak Senin (3/5) tengah malam sampai Selasa
(4/5) dini hari. 

        Menurut sejumlah sumber, penduduk yang mengungsi ini semata-mata
karena takut dan kuatir bakal terjadinya pembantaian kembali terhadap
masyarakat daerah itu. Mereka yang mengungsi adalah wanita dan anak-anak
dari 1.678 KK, dengan jumlah jiwa diperkirakan sebanyak 5 ribu jiwa,
sedangkan kaum lelaki melakukan ronda dan tidur di setiap meunasah untuk
menjaga keselamatan harta bendanya. 

        Para pengungsi itu ditampung kerabat dan keluarga mereka serta
tempat-tempat darurat lainnya di sejumlah desa kawasan Kecamatan Muara Batu
dan Kecamatan Muara Dua. Sedangkan yang lainnya masih berada di berbagai
rumah sakit, klinik dan Puskesmas menunggui keluarganya yang sedang
menjalani perawatan. 

        Korban pembantaian di Kecamatan Dewantara Aceh Utara bertambah
delapan orang lagi menjadi 31 orang. Namun data ini belum akurat karena
jumlah yang tewas masih simpang siur. 

        Menurut Tim Pencari Fakta Aceh Utara data tambahan delapan orang itu
masih perlu diklarifikasi dan dilakukan investigasi ke alamat korban untuk
mendapatkan data yang lebih akurat. Korban tambahan itu masing-masing
Muliadi (25) penduduk Alue Kringe, Nisam; Murdani (16) penduduk Lancang
Barat; Yusni Daud (17) [enduduk Aluebu Mesjid; Nurmalis (12) penduduk Alue
Reulueng; Dewantara. Nurdin (18) penduduk Lancang Barat; Muzakir Usman (25)
penduduk Beuluka Tebai; M Jamil (14) penduduk Lancang Barat dan  Razali (20)
penduduk Lancang Barat. 

        Pemrakarsa Persatuan Rakyat Aceh, T Kamaruzzaman menduga insiden
Dewantara yang menelan korban 23 meninggal dan 101 lainnya luka-luka adalah
hasil rekayasa TNI. Sebab menurut Pon Man, panggilan akrab T Kamaruzzaman,
berdasarkan kronologi yang diperolehnya dari masyarakat bahwa kedatangan
salah seorang petugas ke lokasi perayaan hari Besar Islam di Desa Cot Murong
itu diduga untuk menyusup dan mencari informasi, hingga menimbulkan
kemarahan rakyat.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke