Precedence: bulk FORTILOS baru saja mendapat berita dari Yayasan HAK tentang tindakan gerombolan milisi yang didukung oleh aparat Kepolisian di Dili. Dalam kejadian ini, Posisi TNI dan Kepolisian RI di Timor Timur tampak sangat tidak Netral. KORBAN MILISI KEMBALI BERJATUHAN., APARAT KEPOLISIAN TERLIBAT Tanpa mempedulikan keberadaan tim persiapan PBB yang sedang berada di Dili, gerombolan milisi pro Indonesia kembali beraksi di Dili. Hari minggu kemarin (9/5), tercatat 1 orang mati tertembak, 1 orang luka berat akibat tembakan dan 3 lainnya luka tusukan senjata tajam. Menurut beberapa saksi mata, kejadian pada hari minggu berawal dari sebuah perkelahian di tempat judi belakang Pasar Mercado Lama, antara anggota gerombolan milisi -- yang mengelola perjudian -- dengan beberapa orang yang berjudi. Perkelahian itu membuat keadaan pasar kacau. Kemudian aparat Kepolisian RI, yang bermarkas di Polres yang berada di samping utara pasar Mercado Lama, datang ke tempat perkelahian. Tiba-tiba, aparat Kepolisian itu melepaskan beberapa kali tembakan ke udara. Akibat tembakan tersebut semakin membuat kacau di pasar. Orang-orang yang berada di pasar simpang siur berusaha lari meninggalkan tempat kejadian. Saat itu, dua (2) wartawan asing (orang Asia) datang ke tempat kejadian. Gerombolan milisi langsung mengusir dan berusaha memukul dua wartawan tersebut. Mendapat serangan, wartawan-wartawan itu melarikan diri ke arah Timur (Becora), menuju Jl. 15 Oktober. Gerombolan milisi tetap mengejar kedua wartawan. Di dekat Rumah Makan Puti Bungsu, salah seorang wartawan sempat dilindungi oleh masyarakat yang sedang berada di sana. Sedang yang satunya, berhasil ditangkap milisi. Saksi mata menyatakan bahwa wartawan yang ditangkap itu dipukuli oleh gerombolan milisi. Saat mengejar kedua wartawan itu, aparat kepolisian ikut mengejar di belakang gerombolan milisi. Pada saat salah seorang wartawan diselamatkan oleh penduduk setempat, aparat kepolisian langsung melepaskan tembakan ke arah penduduk. Tembakan pertama tidak mengenai salah seorang. Bunyi tembakan membuat penduduk di sekitar semakin berkerumun di depan Rumah Makan Puti Bungsu. Selang beberapa menit, polisi mengeluarkan lagi tembakan ke arah kerumunan masyarakat. Seorang yang kebetulan sedang berdiri di tempat itu dihantam peluruh. Korban tembakan tersebut bernama Jose Agusto Pinto Laranjinha, 32 tahun, suami dari salah seorang staf Yayasan HAK (Octavinha). Jose mendapat luka tembakan di tangan kiri dan perut. Pada saat itu juga korban langsung dilarikan ke Klinik Motael. Laporan Pandangan Mata Ketika mendengar tembakan pertama (di pasar), saya langsung menuju ke lokasi kejadian. Namun saya tidak bisa mencapai pasar dan jalan raya 15 Oktober karena telah tempat itu telah diblokade oleh pasukan Kepolisian. Saya hanya bisa berdiri di bundaran, depan kantor Telkom, mengamati "kesibukan" pasukan Kepolisian dan gerombolan milisi. Saya melihat pasukan Kepolisian dan gerombolan milisi berbincang-bincang dengan akrap. Saat itu, sebuah mobil penuh dengan wartawan memasuki tempat kejadian untuk meliput kejadian. Robongan wartawan itu langsung diusir oleh gerombolan milisi. Saya sempat mendengar kata-kata ancaman dari seorang milisi, "Hai Sam! (seorang wartawan lokal). Jangan bawa lagi wartawan asing ke sini! Ayo kalian semua pergi dari sini. Kalian hanya biking masalah saja!", teriak seorang anggota gerombolan milisi. Rombongan wartawan segera meninggalkan tempat itu. Selang beberapa menit, saya meninggalkan tempat itu (bundaran di depan Telkom), melewati jalan "kecil", kemudian sampai di depan Rumah Makan Puti Bungsu. Di sana tampak masyarakat sepanjang jalan semakin berkumpul di tengah jalan dan membuat blokade jalan dengan batu-batu serta ada yang mulai membakar ban mobil. Pemandangan ini tampak mulai dari Rumah Makan Puti Bungsu (Quintal Kiik), Audian hingga perempatan depan toko Bukit Bintang (Bemori). Di sepanjang jalan, saya sempat berbicara dengan beberapa orang, dan dari situ saya memperoleh informasi bahwa dalam kejadian di Mercado Lama ada 2 korban luka, yang dibawa dengan ambulans ke Rumah Sakit Wirahusada. Kemudian ada seorang yang berbisik kepada saya bahwa kejadian ini sengaja direkayasa supaya menimbulkan kekacauan, sehingga mereka (Kepolisian dan gerombolan milisi) dapat melakukan teror pada masyarakat. Dalam penembakan di depan Rumah makan Puti Bungsu itu, aparat Kepolisian kelihatan sekali memang sengaja menembak masyarakat. "Tembakan mereka bukan ke udara, malah ke arah masyarakat. Dan peluru yang ditembak adalah peluru betulan -- bukan peluru karet", ujar orang itu. Dari sana, saya bergerak menuju Klinik Motael. Saat melewati Jl. Belarmino Lobo (depan SMPK St. Paulus), saya diperingatkan oleh beberapa pemuda untuk tidak meneruskan perjalanan melewati perempatan jalan di dekat rumah Manuel Carrascalao. Di tempat itu sedang berkumpul gerombolan milisi bersenjata. Saya melewati jalan lain, lalu sampai di Klinik Motael. Di Klinik Motael, tampak dua orang dokter dari Australia dan Perancis sedang sibuk mempersiapkan operasi terhadap korban penembakan,Jose Agusto. Di luar Klinik, para wartawan asing sedang mewawancarai beberapa saksi mata. Sekitar pukul 17.00 WTT, kami dikejutkan dengan datangnya sebuah mobil mengangkut lagi seorang korban. Korban bernama Eugenio Antonio Fatima, 26 tahun, Mahasiswa Untim semenster II, ditembak di Bemori, saat dia sedang berdiri di depan kostnya. Saksi mata menyatakan bahwa, gerombolan milisi yang datang dari arah utara (perempatan dekat rumah Bapak Manuel Carrascalao), langsung mengeluarkan tembakan ke arah kerumunan masyarakat. Peluru yang ditembakan itu sempat melukai beberapa orang, dan merobohkan korban. Sampai tadi malam, jalan di daerah Audian masih diblokir masyarakat. Dan tadi pagi (10/5), tampak gerombolan milisi mulai berkonsentarsi di depan sekretariat mereka di Tropikal (samping rumah Bapak Manuel C.). Jalan yang melewati di daerah itu diblokade oleh gerombolan milisi hingga depan markas Kodim. Sampai berita ini diturunkan, kami memperoleh informasi tentang apa yang akan dilakukan oleh gerombolan milisi tersebut. Kemungkinan, gerombolan milisi akan menyerang masyarakat yang memblokade jalan sepanjang Audian (Jl.15 Oktober). Kemungkinan lain, gerombolan milisi mempersiapkan sesuatu untuk menyambut kedatangan polisi PBB yang direncanakan akan mendarat di Bandara Baucau hari ini. Pada pagi hari, kelihatan ada konsentrasi gerombolan milisi dalam jumlah yang sangat besar di depan kantor Guburnur. Mereka melakukan pengawasan dan pemeriksaan terhadap semua kenderaan yang melewati wilayah itu. Berita selanjutnya akan segera kami kirim. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
