Precedence: bulk


TAKUT DITUDUH SEDA DAN NICO LUNCURKAN 'BUKU FAKTA SEMANGGI'

        JAKARTA (SiaR, 11/5/99). Budaya kambing hitam di era Orde Baru
agaknya tetap akan memasyarakat. Setelah Habibie menuding KOMAS dan kemudian
direspon kelompok sosial-demokrat hingga buru-buru meralat, maka kali ini
giliran pihak pimpinan Unika Atma Jaya yang takut dituduh memback-up gerakan
mahasiswa dalam Kasus Semanggi. Ketakutan yang lebih mewakili ketakutan
kelompok Katolik dan Kristen dikaitkan dengan gerakan mahasiswa ini
terungkap dalam peluncuran buku "Fakta Tragedi Semanggi" di kampus Unika
Atma Jaya, Jakarta, Jumat (7/5).

        Dalam buku itu termuat analisis yang berintikan kesimpulan bahwa
gerakan mahasiswa termasuk ketika terjadi Peristiwa Semanggi tidak lepas
dari peran Partai Rakyat Demokratik (PRD). Tentu saja kesimpulan ngawur ini
dibantah oleh mayoritas mahasiswa yang hadir. Argumentasi yang dikemukakan
mahasiswa, buku itu isinya tak sesuai dengan fakta. Penyebabnya adalah
karena proses penyusunan buku itu tidak melibatkan pelaku dan saksi mata
yang secara persis tahu proses tersebut dari awal. 

        Alex seorang mahasiswa Atma Jaya menegaskan, "Ini proyek politik dan
hanya untuk kepentingan elit politik saja dengan mengabaikan fakta yang
mahasiswa kumpulkan."

        "Bagaimana bisa disebut sebagai buku fakta, jika pengumpulan data
dilakukan cuma demi mengamankan citra kampus Atma Jaya dari tekanan politik
penguasa," tegas Alex yang juga aktivis Famred itu. "Bagaimana bisa menarik
kesimpulan jika menyusun asumsi dan data secara sepihak dan memilih yang
aman-aman saja," lanjutnya.

        Seorang pelaku kejadian lain, Bona mengatakan, "Bagaimana bisa
Pembantaian Semanggi dikaitkan dengan PRD. Lihat fakta dong. Saat itu
teman-teman PRD memang turun, tapi mereka long-march lewat rute Otista
hingga ke Cawang lalu ke Gatot Soebroto dan disikat tentara di dekat Polda
Metro Jaya."

        Yang ada di Semanggi saat itu adalah Famred dan Forbes hingga pk
21.30. "Kemudian datang rombongan dari Gempur dan KBUI serta teman-teman
PMII dari arah Casablanca," urai pemuda tersebut.

        Sesaat setelah forum diskusi yang merupakan bagian acara peluncuruan
buku kian panas hingga membuat ketakutan pihak undangan dari beberapa
kedubes asing, mahasiswa berteriak "Orde Baru, Orde Baru," dan keluar
sembari meneriakkan kata-kata, "Rakyat bersatu tak bisa dikalahkan!"

        Berdasarkan data yang berhasil dikumpulkan SiaR, buku fakta tersebut
memang proyek politik yang dilakukan Nico Simanjuntak SH (mewakili pihak
Yayasan Atma Jaya) untuk menepis tudingan bahwa kampus Unika Atma Jaya
sebagai kampus Katolik bermain politik dan memback-up gerakan mahasiswa. 

        Menurut Sumber SiaR, hal tersebut dilakukan karena Frans Seda selaku
pemilik Yayasan Atma Jaya dan tokoh Katolik merasa takut jika kelompok
Katolik dituduh sebagai kelompok aktor intelektual di belakang gerakan
mahasiswa yang menolak Habibie. Apalagi setelah muncul tudingan Habibie pada
kelompok KOMAS (Komunis, Sosialis dan Marhaenis) menyusul tersebarnya
Dokumen Lenteng Agung yang diblow-up Abdul Qadir Djaelani beberapa saat lalu.

        Dalam Dokumen Lenteng Agung, yang konon merupakan hasil rekayasa
untuk menyokong kekuasaan Habibie, dikatakan bahwa munculnya Nasakom baru
merupakan sebuah koalisi antara kelompok Nasionalis yang diwakili PDI Mega,
Agama diwakili Kristen & Katholik serta Komunis yang dituduh diwakili oleh
Forkot dan Famred.

        Menurut sumber SiaR, Nico dan Seda cemas jika gerakan mahasiswa
dikaitkan dengan pihak Unika Atma Jaya sebagai institusi Katolik. Buku fakta
itu diharapkan bisa mengalihkan tuduhan politik bahwa pihak Atma Jaya tidak
bertangungjawab atas, paling tidak bukan jadi pemicu, terjadinya
"Pembantaian Semanggi". 

        Protes mahasiswa terhadap buku 'cari aman' itu didukung sejumlah
orang tua korban maupun beberapa bapak yang hadir dalam acara itu.

        "Buku ini berbahaya bila disebarkan. Apalagi oleh Atma Jaya
sendiri," ujar seorang bapak yang anaknya mati tertembak dalam Peristiwa
Semanggi.

        Seorang dosen yang hadir menyebutkan, "Pengalihan ini bisa dilihat
sebagai bentuk sindrom minoritas, khususnya umat Katolik jika harus
berhadapan dengan kekuasaan itu sendiri."***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke