Precedence: bulk


PENGGRANATAN DETASEMEN RUDAL CUMA REKAYASA

        LHOKSEUMAWE (MeunaSAH, 12/5/99), Lima buah granat yang ditembakkan
dengan peluncur granat, menghantam markas Detasemen Artileri Pertahanan
Udara Peluru Kendali (Den Arhanud Rudal) 001 Pulo Rungkom Dewantara,
Lhokseumawe Aceh Utara, Selasa (11/5) dini hari. 

        Selain digranat, markas itu juga ditembaki dengan senjata jenis AK 47
oleh orang tak dikenal yang terus menghilang di kegelapan malam. Tak ada laporan
korban jiwa pada peristiwa tersebut. 

        Entah kebetulan, entah tidak, peristiwa penggranatan itu bersamaan
waktunya dengan kedatangan Tim Komnas HAM yang diketuai Mayjen Pol (Purn)
Koesparmono Irsan. Komandan Korem Liliwangsa, Kolonel Johny Wahab pun
mengundang Tim Komnas HAM dan wartawan untuk melihat langsung lokasi
kejadian. "Kalau granat itu jatuh ke gudang rudal bisa dibayangkan peluru
kendalinya akan menghabiskan kota Lhokseumawe," ujarnya pada wartawan. 

        Kalangan mahasiswa Aceh mencurigai ada yang tak beres dalam insiden
itu. Zulfadli, misalnya, mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatra Utara,
Medan yang sedang melakukan penelitian di Aceh, mencurigai ledakan granat di
markas Den Rudal Arhanud 001  sebagai rekayasa. 

        Menurut Zul, sulit dipercaya granat itu diluncurkan oleh Gerakan Aceh
Merdeka, karena gerilawan tak akan membuang amunisinya, apalagi granat yang
harganya mahal, secara serampangan dan percuma. Menurut Ketua Koordinator
Lapangan (Korlap) Posko Mahasiswa Tragedi Simpang KKA Dewantara, Uzziauddin
alias Panglima, peristiwa itu cuma skenario untuk mengalihkan perhatian dari
tragedi berdarah di Dewantara. Kalangan mahasiswa lainnya mengatakan
akal-akalan pengranatan itu hanya untuk menunjukkan kepada Komnas HAM yang
sedang menyelidiki insiden Dewantara, bahwa TNI juga menjadi sasaran penembakan.

        Lima granat itu jatuh dan meledak di depan ruangan koperasi, di depan
aula, menghantam pohon dekat pos jaga, di aula, di depan dan di atap garasi,
disusul dengan tembakan senapan yang diduga jenis AK 47. "Dua peluru mengenai
kaca depan pos jaga dan dua peluru lagi mengenai mess perwira," ujarnya.
Mayor Art Santun menduga tipe granat itu granat anti-personil, bukan granat
untuk menghancurkan bangunan. 

        "Granat ini dilempar dari dua tempat berbeda di depan markas ini.
Kami sempat melihat dua semburan api di tempat terpisah dari balik
pepohonan.  Kami lalu menembakkan tembakkan peringatan dan berusaha
menangkap pelakunya, tapi pelaku cepat menghilang di balik kegelapan malam,"
katanya. 

        Sementara itu pada saat yang bersamaan, Selasa dini hari itu juga,
Kantor Camat Tiro Truseb Kabupaten Pidie, dibakar orang tak dikenal, yang
mengakibatkan dua ruang dan sejumlah dokumen penting musnah. Orang-orang tak
dikenal itu beraksi saat penjaga kantor sedang tidur. Namun, kebakaran itu
cepat diketahui warga. Malah, petugas piket di Mapolsek yang tidak jauh dari
kantor camat segera memberikan pertolongan dan membangunkan penjaga malam
yang sedang tidur nyenyak. 

        Menurut catatan, dalam 10 hari terakhir ini ada empat kantor camat
di Aceh yang dibakar orang-orang tak dikenal. Yakni, dua di Aceh Selatan,
satu di Aceh Utara, dan satu di Pidie.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke