Precedence: bulk
DILI, (MateBEAN 14/4/99) Berikut adalah tambahan informasi yang
berhasil dikumpulkan para saksi mata di Dili, Timor Timur, mengenai kejadian
tanggal 9 dan 10 Mei 1999.
- Tentang jumlah korban pada kejadian dua hari ini masih belum jelas.
Jumlahnya semakin bertambah. Menurut informasi terakhir yang diperoleh bahwa
kejadian pada tanggal 9 Mei, jumlah korban yang meninggal 3 orang. Sedangkan
kejadian 10 Mei adalah 8 orang, termasuk 2 atau 3 perempuan. Identitas dari
para korban yang diperoleh adalah :
Meninggal:
1. Flavio Ribeiro, 25 tahun, Mahasiswa sebuah Universitas di Denpasar,
tinggal di Quintal Kiik, Desa Santa Cruz, Dili Timur. Korban ditembak mati
di rumahnya di Quintal Kiik, Desa Santa Cruz, Dili Timur.
2. Seorang korban yang dikenal dengan nama panggilan ANO, sedangkan
identitas lain belum diperoleh, karena mayatnya masih di RS Wirahusada dan
belum diurus oleh keluarga.
3. Cesaltino da Costa, 17 tahun, siswa STM Fatumaca, tinggal di Audian,
orang tua bernama Elias da Costa (PNS Kodim Same). Korban ditembak di
Audian, Desa Santa Cruz, Dili Timur.
Luka tembak:
1. Manuel Saldanha, tinggal di Quintal Kiik, Desa Santa Cruz
2. Alberto Sandanha, alamat sama seperti di atas, dan korban telah dibawa
oleh polisi pada saat ditembak, dan sampai sekarang belum diketahui
keberadaannya.
3. Juju Ribeiro (saudara dari Flavio Ribeiro), juga ditembak di depan RM
Puti Bungsu, Quintal Kiik, Desa Santa Curz.
Korban Penangkapan:
1. Jose Amado, mantan kepala desa Bemori, dan juga seorang anggota polisi
berpangkat Serka. Korban termasuk juga seorang anggota FPDK. Korban
ditangkap milisi Aitarak dan ditahan di sekretariat milisi Aitarak,
Tropikal. Tidak diketahui alasan penangkapan terhadap korban. Menurut
seorang saksi, saat ditangkap milisi, ada seorang anggota polisi berpakaian
preman juga ikut dalam penangkapan.
- Diperoleh informasi bahwa, sebelum para milisi melakukan pembakaran atau
pengrusakan rumah, mereka selalu menjarah barang-barang yang ada di dalam
rumah, seperti TV, radio, uang dan barang berharga, baru dirumahnya dirusak
atau dibakar. Ada orang yang selamat - tidak ditembak, hanya karena langsung
menyodorkan barang-barang mereka. Abel Martins, seorang penduduk di Audian,
selamat karena waktu milisi masuk ke rumahnya, dia langsung membiarkan
motornya diambil. Begitu juga yang dialami oleh Manuel Leong, penduduk Bairo
Central. Sedang Ibu Maria, penduduk Bairo Central, keluarganya bisa selamat
karena dia membiarkan para milisi mengambil barang dagangan di kiosnya dan
uang 1,5 juta.
- Menurut beberapa saksi bahwa, aksi para milisi tanggal 10 Mei secara jelas
didukung oleh aparat keamanan. Saat rombongan milisi hendak berangkat dari
tempat mangkal mereka, Tropikal, mereka dikawal dari depan dan belakang oleh
polisi Brimob dan tentara dari Kodim. Sewaktu rombongan sampai di dekat
stadium sepak bola, rombongan kendaraan milisi disuruh jalan di depan, lalu
kendaraan Brimob menyusul dari belakang. Sedangkan pasukan Kodim, melewati
jalan lain ke arah lapangan pramuka, kemudian memblokir atau menunggu di
sekitar situ. Rombongan milisi kemudian lagi terbagi menjadi beberapa
kelompok kecil, dan mulai menuju kampung-kampung yang menjadi sasaran yaitu
Quintal Kiik, Quintal Boot, Audian, Bemori, Bairo Central dan Hudi Laran.
Saat beraksi, setiap kelompok milisi selalu dikawal oleh kelompok kecil
Brimob (7-10 anggota).
- Menurut sebuah sumber dari dalam militer menginformasikan bahwa,
pengawalan pasukan Brimob tersebut selain untuk membantu operasi pembersihan
yang dilakukan para milisi, juga supaya menjaga senjata yang dibawa para
milisi tersebut tidak sempat direbut oleh masyarakat, bila ada milisi yang
mati.
- Dukungan TNI dan polisi terhadap para milisi sangat jelas bila kita
memperhatikan bahwa selama ini pihak aparat keamanan tidak pernah
mengamankan atau menertibkan para pelaku pembunuhan (milisi). Justru yang
"diamankan" atau tepatnya ditahan, justru adalah para korban. Sebagai
contoh, pelaku pembantaian para pengungsi di rumah Bapak Manuel Carrascalao
(jelas-jelas merupakan tindakan kriminal), masih tetap dibiarkan berkeliaran
melakukan tindakan yang sama. Sedangkan para korban, yang menurut pimpinan
polisi, mereka minta perlindungan di Polda, justru diperlakukan lebih buruk
dari tahanan biasa. Mereka (korban) diisolasi dari dunia luar. Kunjungan
dari keluarga dan lembaga kemanusiaan dipersulit.
- Ada sebuah kejadian menarik yang terjadi hari ini (13/5) di markas Polda.
Di situ selain para korban yang selamat dari pembantaian tanggal 17 April
lalu (62 orang), terdapat juga puluhan orang yang terdiri dari para dosen
dan mahasiswa Politeknik Hera - Dili Timur, yang juga sedang berlindung di
situ. Para dosen dan mahasiswa tersebut dijemput aparat kepolisian pada
tanggal 8 Mei lalu, setelah rektor mereka datang ke Polda untuk minta
perlindungan. Karena pada hari Sabtu lalu (8/5), sekitar jam 16.00, pihak
milisi dari kelompok Aitarak pimpinan komandan kompi mereka Mateus Soares
(mantan Kepala Desa Hera) melakukan penyerangan ke Politeknik tersebut
melukai beberapa orang dan merusak beberapa bangunan Politeknik. Para korban
ini sebagian besar berasal dari Baucau. Dan banyak diantara mereka yang
memiliki sanak famili sebagai anggota milisi kelompok Saka (Kelompok milisi
di Baucau, pimpinan Joanico). Dan sewaktu mendengar kejadian penyerangan
itu, kelompok milisi Saka marah, dan mereka mau melakukan pembalasan. Dan
hari ini mereka (milisi Saka) berangkat dari Baucau langsung ke Polda
menjemput sanak keluarga mereka yang sedang diamankan di sana. Tanpa banyak
kesulitan, pihak polisi yang sedang berjaga membiarkan saja, milisi Saka
menjemput keluarga mereka. Selang kurang lebih 30 menit, datang dua mobil
Kijang Pick Up memuat penuh dengan kelompok milisi Aitarak pimpinan Mateus
Soares ke Polda. Mereka memprotes pelepasan para korban dari Politeknik
tersebut. Entah apa yang terjadi kemudian?
- Hari ini, beberapa pimpinan pro integrasi (kelompok politik), pimpinan
milisi dan pimpinan ABRI telah berangkat dengan pesawat ke Denpasar.
Diperoleh informasi bahwa mereka akan mengadakan pertemuan dengan Ali Alatas
besok (14/5). Keberangkatan mereka sempat membuat masalah di bandara udara
Comoro. Dengan ancaman akan merusak dan membakar kantor agen Merpati, mereka
telah membatalkan pemberangkatan penumpang sipil.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html