Precedence: bulk


PELUNCURAN BUKU THESIS SIAUW TIONG DJIN

Para Pembaca ytc,

Rabu, 12 Mei l999 pk. ll.00 --13.00 WIB di Aula Perpustakaan Nasional jl.
Salemba Raya 28 A Jakarta, penerbit Hasta Mitra telah meluncurkan buku baru,
yang merupakan tesis Ph.D Siauw Tiong Djin di Universitas Monash Australia,
mengenai biografi ayahnya sendiri, almarhum Siauw Giok Tjhan, tokoh
pergerakan kemerdekaan Indonesia yang tak asing lagi, mantan ketua umum
Baperki, mantan Menteri, mantan anggota BP KNIP, anggota parlemen RIS,
parlemen RI sementara, mantan anggota DPR hasil pemilu l955/anggota Majelis
Konstituante, anggota DPRGR/MPR-S, dan anggota DPA S. Jaman Orde baru,
selain Baperkinya dibubarkan, beliau juga menjadi tahanan politik selama l2
tahun. Salah satu warisan buah karya Pak Siauw ialah "Universitas Trisakti"
yang dulu didirikan oleh Baperki dengan nama Universitas Res Publika. Pak
Siauw wafat di Belanda 20 Nopember l98l, beberapa menit sebelum memberikan
ceramah di Universitas Leiden. 

Tesis Ph.D Siauw Tiong Djin ini dibawah bimbingan Prof.Dr Herbert Feith dan
Dr barbara Hatley. Peluncurannya l2 Mei kemarin berlangsung meriah, dihadiri
oleh banyak kalangan dari generasi lama dan baru yang aktif di bidang
politik, dunia akademis maupun sejumlah warganegara keturunan Tionghoa. 

Selain Hasyim Rachman dari penerbit Hasta Mitra, kemarin berbicara juga DR
Karlina Leksono -Supelli, DR Mohammad Sobari dan Drs Ferry Sonneville. Acara
dipandu oleh moderator Dra Siti Aripurnami. Copy Perdana Buku Tesis Ph D
Siauw Tiong Djin yang berjudul Siauw Giok Tjhan ini telah diserahkan Hasta
Mitra kepada Nyonya Siauw Giok Tjhan yang diwakili Nyonya Alm. Oei Tjoe Tat. 

Dengan terbitnya buku Siauw Giok Tjhan memasuki perpustakaan dan pasar buku,
maka jelas akan memperkaya khazanah  pengetahuan sejarah modern Indonesia,
termasuk peranan kalangan keturunan Tionghoa dalam perjuangan nasional
Bangsa Indonesia, terutama dalam Nation and Character Building. Almarhum pak
Siauw - diakui oleh para oembicara - sebagai patriot sejati Indonesia yang
akrab dengan banyak kalangan, serta telah meninggalkan KONSEP INTEGRASI,
dalam pembangunan Nasion Indonesia.

Dibawah ini, kami muat pidato pengantar Siauw Tiong Djin. Sedang pidato para
pembicara lainnya akan kami usahakan menyusul.      


                        Sumbangsih Siauw Giok Tjhan
                Dalam Nation Building, Politik dan Pendidikan

Saya gembira  berada di sini. Gembira  karena penuturan riwayat seorang yang
saya  cintai, kagumi  dan banggakan,  akhirnya bisa diwujudkan  dalam sebuah
buku. Gembira  karena adanya animo untuk  mengetahui riwayat seorang pejuang
yang pernah  dibungkam selama 12  tahun (1965 sampai 1978)  dan yang namanya
telah  dicemarkan  oleh  rejim  Orde  Baru.  Gembira juga  karena  buku  ini
dilahirkan pada waktu rakyat  Indonesia sedang memperingati tragedi Mei yang
telah merusak  martabat RI  di mata dunia.  Waktunya juga tepat  karena yang
dituturkan  di dalam  buku ini  sangat erat  berkaitan dengan  proses nation
building, proses  membangun masyarakat  yang ber Bhineka  Tunggal Ika, suatu
masalah  yang  kini  perlu   dibahas  dan  dipikirkan  oleh  setiap  pejuang
reformasi.

Siapakah Siauw Giok Tjhan?  Oleh pemerintah Orde baru dan para pendukungnya,
Siauw  dan  Baperki-nya  telah  di-komuniskan. Rumusan-rumusan  politik  dan
ekonomi   Siauw  pun   di-Komuniskan  sedemikian  rupa   sehingga  pengacuan
terhadapnya  selama 32  tahun  terakhir ini  menimbulkan stigma  berat. Oleh
sementara  musuh   politiknya,  Siauw  dianggap   berdosa  karena  kebijakan
politiknya  telah membawa  beratus-ribu WNI  Tionghoa, yang  merupakan massa
Baperki –  Badan Permusyawaratan Kewarganegaraan Indonesia, Organisasi
yang  Siauw pimpin,  ke  dalam kancah  politik yang  menimbulkan malapetaka.
Kesemuanya  ini disebarluaskan  dan ditanamkan  di benak generasi  muda yang
tumbuh di dalam zaman orde baru, tanpa penuturan sejarah yang objektif.

Buku  yang diluncurkan  hari  ini memberi  perspektif lain.  Perspektif yang
didasari   oleh   data-data  sejarah,   pidato-pidato   Siauw  Giok   Tjhan,
dokumen-dokumen  Baperki,  wawancara  dengan  banyak aktivis  dari  berbagai
aliran politik dan bahan-bahan dari para nara sumber lainnya. Penelitian ini
membuktikan  bahwa  Siauw  dan  Baperki tidak  menggunakan  komunisme  dalam
merumuskan  penyelesaian masalah  minoritas.  Bahwa Siauw  mendukung program
politik  Bung  Karno  di  zaman Demokrasi  terpimpin,  yaitu  memperjuangkan
perwujudan  masyarakat sosialisme,  tidak  berarti bahwa  Siauw dan  Baperki
berada di bawah naungan PKI.

Presiden  pertama  kita,  Bung  Karno pernah  menyatakan  bahwa  kepatriotan
seseorang tidak  bisa dikaitkan  dengan keturunannya. Bilamana  ia mencintai
Indonesia,  bilamana ia  setia  dengan jiwa  proklamasi 45  dan  bilamana ia
mendedikasikan dirinya untuk mewujudkan  sosialisme ala Indonesia, ia adalah
patriot sejati Indonesia. Demikianlah  ujar Bung Karno. Berdasarkan definisi
ini, saya  memberanikan diri untuk menyatakan  bahwa Siauw Giok Tjhan adalah
seorang patriot Indonesia yang  sejati, walaupun ia adalah seorang peranakan
Tionghoa.

Kecintaan  Siauw terhadap  Indonesia,  yang selalu  ia anggap  sebagai tanah
airnya ini,  tercermin di dalam tindak  tanduk hidupnya yang dipenuhi dengan
kegiatan politik. Demikian penuh  hidupnya dengan kegiatan politik, sehingga
waktu untuk keluarganya dan urusan pribadinya merupakan bagian terkecil dari
kehidupan sehari-harinya.

Perjuangan  politik  Siauw  memang   banyak  berkisar  pada  pembelaan  atau
perlindungan terhadap  golongan Tionghoa. Ini wajar,  karena memang ia duduk
di  badan-badan legislatif  dan eksekutif  sebagai wakil  golongan minoritas
Tionghoa.  Dalam batas-batas  tertentu,  Siauw memang  bisa dicatat  sebagai
salah satu wakil golongan  Tionghoa yang paling efektif dalam menghayati dan
membela kepentingan  golongannya di  dalam sejarah Indonesia  (Siauw menjadi
anggota parlemen selama hampir 20 tahun). Akan tetapi perjuangan Siauw dalam
melawan diskriminasi  rasial dan  mencapai persamaan hak  setiap suku bangsa
Indonesia, senantiasa didasari oleh  usaha menciptakan perbaikan taraf hidup
rakyat  Indonesia secara  keseluruhan. Siauw selalu  menganggap penyelesaian
masalah  minoritas   sebagai  bagian  dari   proses  menciptakan  masyarakat
Indonesia yang  adil dan  makmur. Program politik inilah  yang membuat Siauw
seorang tokoh peranakan Tionghoa  yang memiliki visi nasional; dan sekaligus
membuatnya seorang politikus yang  di dalam zamannya, diterima dan dihormati
oleh banyak tokoh nasional lainnya.

Berdirinya  Baperki  pada  tahun 1954  dan  dipilihnya  Siauw sebagai  ketua
umumnya  membuat Siauw  seorang wakil  sekaligus pemimpin  golongan Tionghoa
yang  paling  berhasil  di   dalam  sejarah  politik  golongan  Tionghoa  di
Indonesia. Keberhasilannya  ini berlandaskan  atas karakter kepemimpinannya.

Siauw   memiliki  keteguhan,   kesungguhan,  dedikasi  dan   keuletan  dalam
melaksanakan  program-program  politiknya.  Buku  ini menunjukkan  bagaimana
Siauw tidak pernah patah semangat dan mundur didalam mendesak pemerintah dan
para pemimpin  partai politik  untuk menerima dan  mendukung rumusan-rumusan
politik dan ekonominya.

Siauw  memiliki  pembawaan yang  menyebabkan  ia bisa  berhubungan baik  dan
bekerja  sama  dengan  para tokoh  politik  yang  berpengaruh dari  berbagai
aliran.  Walaupun  ia  tidak  pernah  menyangkal bahwa  ia  mendukung  paham
Marxisme  dan mendambakan  terciptanya  sosialisme ala  Indonesia, ia  tidak
membatasi hubungan baiknya dengan  pimpinan PKI. Sebaliknya. Ia justru mampu
berhubungan  erat dengan  banyak tokoh  yang tidak bisa  dikatakan mendukung
paham  komunisme,  seperti Sartono  (PNI),  Zainul Arifin  (NU), I.J  Kasimo
(Partai  Katolik),  Tambunan  (Parkindo),  Aruji Kartawinata  (PSII),  Djody
Gondokusumo (PRN)  dan Mohamad  Yamin. Di dalam  zaman demokrasi parlementer
(1950-1959),  Siauw  yang tidak  berpartai,  membentuk  dan memimpin  Fraksi
Nasional  Progresif   yang  beranggotakan  partai-partai  nasionalis  kecil,
termasuk  Murba,  SKI, PIR,  Permai  dan PRN.  Keberhasilannya dalam  bidang
kewarganegaraan  dan  dalam melawan  kebijakan  ekonomi  yang didasari  atas
diskriminasi rasial terhadap golongan Tionghoa, disebabkan oleh kemahirannya
dalam memobilisasi  dukungan berbagai tokoh politik  dari berbagai aliran di
dalam parlemen.

Kepemimpinan  Siauw   mencerminkan  nilai-nilai   demokratis.  Ia  mempunyai
kemampuan   untuk   menerima   pandangan-pandangan   yang   berbeda   dengan
pandangannya  sendiri; Ia  cenderung  mencapai kesepakatan  pendapat melalui
proses  demokratis, walaupun  memakan  waktu; dan  perbedaan pendapat  tidak
pernah dijadikan alasan untuk permusuhan pribadi. Inilah yang menyebabkan ia
dikenal  sebagai  seorang  politikus  yang  tidak  memiliki  musuh  pribadi.

Kejujuran dan  kesederhanaanya merupakan  salah satu aset  kepemimpinan yang
dihargai  oleh pendukung  maupun  musuh politiknya.  Dalam sejarah  Baperki,
Siauw  merupakan pemimpin  yang paling  efektif dalam menggalang  dana untuk
semua   kegiatan    Baperki,   terutama   di    dalam   bidang   pendidikan.

Kepemimpinan Siauw juga mencerminkan  latar belakang pendidikan dan pengaruh
keluarga  semasa kecil  dan remaja.  Siauw berkembang menjadi  tokoh politik
yang mampu menghayati aspirasi tiga masyarakat yang memiliki karakter sosial
yang berbeda, masyarakat mayoritas  Indonesia, masyarakat Tionghoa totok dan
masyarakat peranakan Tionghoa.

Siauw  gamblang  dengan  pembentukan  masyarakat  yang  memiliki  kemakmuran
merata. Untuk itu, ia  berkeyakinan bahwa program makro ekonomi negara harus
tepat. Ia menganjurkan pemerintah  menggunakan dan mengembangkan semua modal
domestik yang sudah berjalan  di Indonesia tanpa mempedulikan latar belakang
ras pemiliknya.  Yang penting bagi Siauw,  keuntungan dari pemutaran kapital
domestik  itu tetap  di  Indonesia dan  menjamin berkurangnya  pengangguran.
Dalam hal ini, Siauw  mendukung dipertahankannya kapitalisme kelas menengah,
yang  menurutnya, dibutuhkan  untuk  membangun ekonomi  nasional. (lagi-lagi
suatu rumusan yang bertentangan dengan paham komunisme).

Siauw     menentang    dipertahankannya     pengontrolan     ekonomi    oleh
perusahaan-perusahaan  raksasa  asing.  Bagi  Siauw, mereka  menguras  habis
kekayaan Indonesia  dan keuntungan yang diperoleh  dari usaha pengurasan itu
akhirnya  dibawa keluar  ke  negara-negara pemilik  monopoli raksasa  asing.
Berdasarkan  rumusan ini,  Siauw  dengan gigih  menentang kebijakan  politik
"asli"  yang dirancang  dan dilaksanakan  oleh beberapa menteri  ekonomi dan
perdagangan pada tahun 50-an. Politik "asli" ini didesain untuk menggantikan
para  pengusaha  Tionghoa yang  sudah  lama berkecimpung  di dalam  berbagai
bidang dengan pengusaha-pengusaha "asli".

Kewarganegaraan dan  nation building bagi Siauw  adalah masalah politik yang
sangat penting dalam memperkokoh posisi suatu negara.

Siauw berargumentasi bahwa kewarganegaraan merupakan bagian penting dari UUD
dan  setiap warga  negara Indonesia  memiliki hak  dan kewajiban  yang sama.
Siauw menginginkan  sebanyak mungkin  orang keturunan Tionghoa  di Indonesia
menjadi  WNI, karena menurutnya,  bagi mereka  yang lahir dan  dibesarkan di
Indonesia, Indonesia  adalah tanah airnya. Oleh  karena itu, ia dengan gigih
memperjuangkan dikeluarkannya  UU kewarganegaraan  yang menjamin kemungkinan
ini. Ironisnya, keberhasilan Siauw dalam membatasi usaha sementara politikus
untuk menghambat perkembangan usaha  golongan Tionghoa, memperkuat arus dari
pihak yang  sama untuk  mengubah UU kewarganegaraan  sehingga sebagian besar
penduduk  Tionghoa   di  Indonesia  menjadi  WN   Asing.  Kebijakan  ekonomi
pemerintah  di  tahun 50-an  dibuat  sedemikian rupa  untuk membatasi  ruang
lingkup   para    pengusaha   asing   –    pengusaha   Tionghoa   yang
berkewarganegaraan  asing.  Karena  kegigihan  Siauw dan  dukungan  yang  ia
peroleh dari  banyak anggota  parlemen, ia berhasil  mendesak parlemen untuk
mengesahkan UU  Kewarganegaraan pada tahun 1958  yang tidak mengandung unsur
yang  meng-asing-kan  semua  penduduk  Tionghoa  yang  lahir  di  Indonesia.
Disamping  itu,  Siauw-pun berhasil  mendesak  pemerintah RI  dan RRT  untuk
meratifikasi  Perjanjian  Penyelesaian  Dwi  Kewarganegaraan  yang  menjamin
sebagian  besar  penduduk  Tionghoa  yang lahir  di  Indonesia  diperlakukan
sebagai WNI.

Perjuangan Siauw dalam bidang  kewarganegaraan merupakan bagian penting dari
rumusan  nation  building yang  ia  dengan gigih  perjuangkan. Siauw  sering
menyayangkan penggunaan  kata "bangsa" untuk perkataan  "nation" dan "race".
Menurut  Siauw  ini  sering  menimbulkan  kekacauan  dalam  pengertian  yang
menghambat proses nation building – pembentukan nasion Indonesia. Race
berkaitan  dengan  kesatuan  kelompok  orang  berdasarkan  faktor  biologis.
Sedangkan Nation  adalah istilah  politik yang mendefinisikan  satu kelompok
manusia  yang  merupakan kesatuan  karena  ciri-ciri  politik. Siauw  dengan
konsisten menyatakan  bahwa Indonesian  race itu tidak pernah  ada. Yang ada
adalah  Indonesian  Nation,  yang  terwujud  pada tangal  28  Oktober  1928.
Menurutnya, Indonesian  nation adalah suatu multi-race  nation, suatu nasion
yang  terdiri dari berbagai  suku bangsa.  Dalam konteks ini,  Siauw menolak
pengertian  bahwa  di  dalam  bangsa  Indonesia  ada  kelompok  "asli"  atau
"pribumi".

Siauw  menentang konsep  perwujudan nasion  Indonesia yang  homogeen –
single  race nation.  Menurutnya,  konsep ini  bertentangan dengan  semboyan
Bhineka  Tunggal  Ika,  yang ia  anggap  dengan  akurat mencerminkan  nasion
Indonesia.

Dalam konteks  ini, pada  akhir tahun 57-an Siauw  mencanangkan konsep bahwa
golongan Tionghoa di Indonesia,  khususnya golongan peranakannya, diakui dan
diterima  sebagai salah  satu  suku, yaitu  suku Tionghoa.  Berkaitan dengan
konsep  "suku Tionghoa"  ini Siauw  mempopulerkan rumusan  integrasi. Dengan
integrasi,  Siauw memaksudkan  golongan Tionghoa tetap  mempertahankan nama,
bahasa  dan  kebudayaannya  tetapi  bekerja sama  dengan  suku-suku  lainnya
membangun nasion  Indonesia. Siauw yakin bahwa  memiliki nama Indonesia atau
agama tertentu, bahkan memiliki  bentuk dan ciri "asli" bukanlah ukuran yang
bisa digunakan untuk menentukan setia atau tidak setianya seseorang terhadap
Indonesia.  Yang  penting  menurut  Siauw,  adalah  adanya  kesungguhan  dan
dedikasi untuk berbakti pada  Indonesia. Proses pengintegrasian ini, menurut
Siauw mencerminkan situasi di  mana suku Tionghoa aktif berpartisipasi dalam
segenap  kegiatan  politik dan  sosial  Indonesia  sehingga aspirasi  rakyat
Indonesia menjadi aspirasi suku Tionghoa.

Siauw  menolak  konsep  asimilasi  yang dicanangkan  oleh  sekelompok  tokoh
Tionghoa  pada awal  tahun 1960  dan yang  kemudian membentuk  LPKB (lembaga
Pembinaan Kesatuan Bangsa) pada tahun 1963. Kelompok ini menganjurkan proses
yang  pada  akhirnya  mewujudkan bangsa  Indonesia  yang  homogeen dan  yang
bersatu  bulat.  Bagi  mereka,   proses  ini  dimulai  dengan  menghilangkan
ciri-ciri keTionghoaan dengan mengganti nama, melakukan perkawinan campuran,
menanggalkan  semua adat  istiadat  Tionghoa dan  menghentikan pengelompokan
yang bersifat eksklusif. Siauw  berargumentasi bahwa walaupun asimilasi yang
dianjurkan oleh LPKB bersifat sukarela, akan tetapi bisa berkembang ke suatu
proses  pemaksaan yang  menginginkan  penghilangan identitas  biologis suatu
suku bangsa. Menurut Siauw, ini bukan saja tidak perlu dilakukan tetapi juga
tidak    boleh    dilaksanakan,   karena    mengandung   pelanggaran    HAM.

Akan  tetapi  sayangnya  perkembangan   politik  di  dalam  zaman  Demokrasi
Terpimpin     (1959-1965)    menyebabkan    perdebatan     tentang    konsep
integrasi-asimilasi ini didasari dan  diwarnai oleh perbedaan garis politik.
Konsep  integrasi  Baperki dikaitkan  dengan  paham  kiri, sedangkan  konsep
asimilasi  LPKB,  paham kanan.  Kedua  pihak tidak  berhasil berembuk  untuk
membahas  kewajaran kedua  konsep yang  bisa saling mengsisi.  Siauw sendiri
selalu  menyatakan bahwa  ia  tidak pernah  menentang konsep  asimilasi yang
didasari  oleh kewajaran  dan  kesukarelaan. Yang  ia tentang  adalah proses
asimilasi yang dipaksakan.

Kedekatan Siauw dengan Soekarno  di dalam zaman Demokrasi Terpimpin, membawa
dirinya dan Baperki ke dalam kubu politik kiri yang didominasi oleh Soekarno
dan PKI. Dengan sendirinya,  Siauw berhadapan dengan kubu politik kanan yang
didominasi  oleh  Angkatan  darat   dan  Partai-partai  Islam.  Akan  tetapi
keberadaan Siauw  di dalam  kubu ini menyebabkan banyak  rumusan politik dan
ekonomi yang  ia canangkan di dalam  zaman demokrasi parlementer, dimasukkan
ke dalam  banyak pidato  penting Soekarno dan beberapa  diantaranya masuk di
dalam GBHN MPRS.

Baperki-pun berkembang menjadi organisasi  massa yang efektif dalam mengajak
massanya berpolitik.  Kesadaran massa-nya, yang sebagian  besar terdiri dari
golongan Tionghoa  tentang politik  relatif tinggi. Melalui  ratusan sekolah
dan universitas Baperki, program politik yang didesain untuk mendorong semua
pelajar Indonesia  untuk mencintai  Indonesia sebagai tanah  airnya, disebar
luaskan.  Pada akhirnya  Baperki  lebih dikenal  sebagai lembaga  pendidikan
karena  jumlah pelajar  yang ditampung  oleh Baperki melebihi  100.000 orang
(dari   sekolah   dasar  sampai   tingkat   universitas).  Karena   kualitas
pendidikannya cukup tinggi dan kebijakan pendidikannya didasari atas prinsip
pendidikan bukan  barang dagangan  (banyak pelajar dari  keluarga yang tidak
berada  ditampung),  Baperki  memperoleh  banyak  sokongan  dana  dari  para
pengusaha Tionghoa.

Akan tetapi konsekuensi keberadaan  Siauw dan Baperki di dalam kubu kiri itu
fatal. Ketika  posisi politik  berubah pada bulan Oktober  1965, Baperki dan
Siauw  turut diganyang  oleh kekuatan  yang didominasi oleh  Angkatan Darat,
yang pada akhirnya membentuk rejim Orde Baru.

Siauw  meringkuk di  dalam  berbagai tahanan  selama 12  tahun  tanpa proses
pengadilan apapun. Ia bebas  pada tahun 1978 dan atas bantuan kawan baiknya,
Adam  Malik  bisa  mendapatkan  izin  berobat ke  negeri  Belanda.  Walaupun
demikian, ia tetap teguh dengan pendirian politiknya dan setibanya di Eropa,
ia  aktif  dalam berbagai  kegiatan  politik. Ia  meninggal karena  serangan
jantung beberapa menit sebelum memberi ceramah di Universitas Leiden tentang
kegagalan demokrasi  Indonesia, pada  tangal 20 November  1981. Sampai akhir
hayatnya,  ia  tetap  yakin akan  ketepatan  konsep  integrasi dan  perlunya
Indonesia  mewujudkan  masyarakat  sosialisme  yang  makmur  melalui  proses
demokratis.

Sampai  di mana  kebijakan politik  Siauw bertanggung jawab  atas pengalaman
pahit yang  diderita oleh masyarakat Tionghoa  pada umumnya dan para anggota
Baperki khususnya setelah peristiwa  G-30-S, merupakan pertanyaan yang sukar
untuk dijawab. Akan tetapi,  pengamatan atas perkembangan politik pada tahun
1965  menunjukkan bahwa  perkembangan  politik internasional  di mana  China
Containment Policy  itu dikembangkan oleh Amerika  Serikat memainkan peranan
besar.  Pengaruh  kebijakan  Amerika  Serikat  ini pasti  lebih  besar  dari
kebijakan  politik  Siauw mendukung  Soekarno.  Gerakan  anti Tionghoa  yang
dilakukan oleh Soeharto jelas  tidak terlepas dari dorongan Amerika Serikat,
lepas dari ada tidaknya Baperki atau Siauw Giok Tjhan.

Kegembiraan yang  saya ungkapkan barusan tentunya  tidak akan terwujud tanpa
adanya  dorongan, bimbingan  dan bantuan  beberapa saudara dan  teman dekat.
Dalam kesempatan  ini saya  ingin mengucapkan terima kasih  kepada ibu saya-
Ny. Tan  Gien Hwa, Go Gien Tjwan, Herbert Feith,  Barbara Hatley dan Dan Lev
yang telah  memberi dorongan-dorongan  serta bimbingan yang  sangat berarti.
Saya  ucapkan  terima  kasih kepada  semua  teman  yang telah  menyumbangkan
tenaga,  pikiran  dan berbagai  data  yang menjadi  dasar penuturan  sejarah
perjuangan Siauw Giok Tjhan. Saya tentunya berhutang budi kepada Pak Oey Hay
Djoen yang telah bekerja keras mengkoordinasi semua usaha percetakan, kepada
pak  Joesoef  Ishak  yang   telah  menyunting  naskah,  kepada  ibu  Karlina
Leksono-Supelli yang telah menyempurnakan naskah akhir dan kepada pak Hasyim
Rachman  dari Hasta  Mitra yang  telah menerbitkan  buku ini.  Ucapan terima
kasih  khusus saya ucapkan  kepada istri  saya, Leony Siauw  yang senantiasa
membantu usaha merampungkan buku ini.

Saya  ucapkan  terima  kasih  kepada para  teman  yang  telah bekerja  keras
mempersiapkan acara  ini dan  tentunya juga kepada ibu  Sita Aripurnami, pak
Ferry Sonneville,  ibu Karlina-Leksono-Supelli,  pak Sobary dan  ibu Ny. Oei
Tjoe  Tat  atas kesediaannya  untuk  mengorbankan waktunya  untuk hadir  dan
berbicara di  sini. Tadi malam saya berbicara dengan  ibu saya, Ny. Tan Gien
Hwa. Ia menyatakan menyesal  karena berhalangan hadir dan menyampaikan salam
hangatnya kepada  semua teman yang  hadir di sini, khususnya  kepada Ny. Oei
Tjoe Tat yang mewakilinya di acara ini.

Semoga buku ini berguna  untuk setiap pejuang reformasi dalam merumuskan dan
melaksanakan  program mewujudkan  nasion Indonesia  di dalam  era reformasi,
nasion yang ber Bhineka  Tunggal Ika dan nasion yang menghalau setiap bentuk
diskriminasi rasial. Yang perlu  adalah menghilangkan cap kanan maupun kiri,
tetapi mendalami  dan menghayati  inti konsep-konsep yang  pernah dituangkan
dan dipraktekkan.

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke