Precedence: bulk
KELOMPOK ICMI PECAH
JAKARTA (SiaR, 19/5/99), Salah satu organisasi kendaraan Habibie untuk
meraih kekuasaan, Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) mengalami
perpecahan akibat perbedaan aspirasi soal calon presiden mendatang. 50 % anggota
ICMI mendukung pencalonan Amien Rais dan 50% yang lain mendukung pencalonan BJ
Habibie sebagai presiden.
Perpecahan di tubuh organisasi ICMI ini dikemukakan Dawam Rahardjo,
salah satu tokoh ICMI yang sekarang berada di PAN. Komposisi keterbelahan 50:50
itu merupakan hasil jajak pendapat yang dilakukan Dawam belum lama ini.
Hasil polling tersebut dinilai oleh para pengamat sebagai konfirmasi atas tidak
utuhnya dukungan basis yang selama ini dianggap milik Habibie.
"Di ICMI saja Habibie tidak mendapat dukungan mayoritas, kenapa masih
memaksakan diri maju sebagai calon presiden?" kata salah seorang pengamat.
"Bukan tidak mungkin semakin hari dukungan terhadap Amien Rais akan semakin
besar, sebab Habibie sudah ketahuan sebagai bagian dari statusquo," sambungnya.
Dari beberapa kesempatan terungkap bahwa dukungan untuk Habibie tersebut berasal
dari tokoh-tokoh ICMI yang ada di Golkar, terutama lagi tokoh-tokoh Golkar dari
wilayah Indonesia Timur. Gerilya yang dilakukan Baramuli dan kawan-kawannya,
misalnya telah "berhasil" memprovokasi para tokoh masyarakat Indonesia Timur
untuk mencalonkan Habibie sebagai presiden. Bahkan tak tak tanggung-tanggung,
Baramuli dalam memobilisasi massa terang-terangan memakai isu rasial (suku dan
wilayah) dan agama. Bahkan sebelumnya Baramuli telah mengancam, jika kelompoknya
tidak dimenangkan dalam Rapim Golkar, maka ia akan membuat partai sendiri di
Indonesia Timur untuk mencalonkan Habibie.
Dalam isu yang dilontarkan pada berbagai pertemuan masyarakat
Iramasuka (Irian Jaya, Maluku, Sulawesi dan Kalimantan), menurut sumber ini,
Baramuli selalu membesar-besarkan sentimen kesukuan dan anti-Jawa. Sedangkan
di kalangan Islam baik di Jawa maupun luar Jawa, Baramuli memakai isu agama
sebagai alat memobilisasi dukungan terhadap Habibie.
"Baramuli selalu menekankan kepada para pendukungnya bahwa Habibie adalah
satu-satuanya calon yang representatif dari Islam," kata sumber SiaR.
Di tubuh Golkar, perpecahan antar kelompok juga semakin meruncing.
Kemenangan kelompok Habibie yang berhasil menggoalkan Habibie sebagai calon
tunggal dari Partai Golkar merupakan titik awal runcingnya perpecahan
Golkar. Menurut sumber di Golkar, kelompok Habibie yang menang dalam masalah
pencalonan ini, tak mampu menahan diri dan terus-terusan melakukan
kegiatan-kegiatan ekslusif dan menyudutkan kelompok Akbar Tanjung.
Sebuah pesta besar-besarna yang diselenggarakan di kawasan Senayan
beberapa saat setelah kemenangannya di rapim Golkar dinilai kelompok Akbar
sebagai tindakan yang tidak seharusnya dilakukan. Bahkan Akbar Tanjung marah
besar ketika mendapat laporan soal pesta kemenangan itu.
"Saya tidak setuju bilamana ada orang yang melakukan
kegiatan-kegiatan yang cenderung menuju ke arah perpecahan," kata Akbar
mengomentari acara tersebut.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html