Precedence: bulk
EEP SAEFULLAH HADANG KOALISI TIGA PARTAI
JAKARTA (SiaR, 21/5/99), Pengamat politik Eep Saefullah Fatah, yang
juga kepala Litbang Harian Republika, harian milik ICMI, disinyalir berkerja
untuk pencalonan Habibie sebagai presiden mendatang dengan mengeluarkan sejumlah
pernyataan yang cenderung negatif tentang koalisi PAN-PKB-PDI Perjuangan.
Terhadap komunike bersama tiga partai itu, Eep menyatakan di berbagai media
massa bahwa apa yang dilakukan ketiga partai itu bukanlah koalisi karena tidak
akan terjadi koalisi ideologi.
Belakangan Eep menuduh dua dari tiga partai itu, PDI Perjuangan dan PKB
Adalah partai pro-status quo. "Soalnya dari ketiga partai itu, hanya Amien Rais
yang reformis. Sedang Mega dan Gus Dur itu pro-status quo," ujar Eep.
Menurut Eep, selama ini Gus Dur dan Mega termasuk pro-status quo,
terutama karena tidak jelas sikapnya terhadap perubahan UUD 45, terhadap masa
lampau, dan sikap terhadap restrukturisasi hubungan pusat dan daerah. Seorang
fungsionaris PAN mengatakan, pernyataan-pernyataan Eep ini mencurigakan dan
kemungkinan dilancarkan untuk menggembosi koalisi tiga partai itu.
Eep memang ilmuwan politik yang dekat dengan Habibie. Anak muda yang
baru berusia 32 tahun itu melejit namanya ketiga bergabung dengan ICMI, dan
dikarbit Parni Hadi, orang dekat Habibie, sebagai Kepala Litbang Harian
Republika.
Sikap sinis Eep bukan hanya ditujukan kepada partai-partai
pro-reformasi, tapi juga kepada figur Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI
Perjuangan, sebagai simbol perlawanan menentang kekuasaan rezim Soeharto.
Terhadap komentar-komentar "miring" Eep tersebut, Kepala Balitbang PDI
Perjuangan, Kwik Kian Gie menilai, sebagai komentar dari pengamat politik yang
berada di menara gading.
"Itulah pengamat politik kita; selalu meng-underestimate rakyat. Rakyat
itu seolah-oleh bodoh, tidak rasional, mendukung suatu partai dan seorang figur
secara emosional," ujarnya.
Menurut Kwik, tahun 1993 di Surabaya, Megawati Soekarnoputri telah
mematahkan tradisi tabu politik, dengan menolak meminta restu mantan Presiden
Soeharto, hanya karena dirinya dicalonkan arus bawah. Menurut Kwik, para
pengamat politik yang kini berlomba-lomba mengambil peran sebagai penjaga arus
gerakan reformasi itu, pada masa Megawati menentang Soeharto, masih menjadi
dosen yang baik, ikut penataran P4, berharap naik pangkat/golongan, seraya
pura-pura tak mau ambil pusing terhadap penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan
Soeharto.
Seorang mantan aktivis mahasiswa UI seangkatan dengan Eep menyebutkan,
ditahun-tahun revitalisasi gerakan mahasiswa pada akhir 1980-an, Eep masih
menjadi seorang mahasiswa yang "manis" dan "penurut". Sikap ini pun masih
dipertahankannya pada tahun-tahun pertama ia mengajar di UI, sebagai dosen dan
kemudian Kepala Laboratorium Ilmu Politik UI, demikian kesaksian mantan aktivis
mahasiswa UI.
"Baru sekarang ini, setelah Soeharto jatuh, Eep tampil seolah-olah
sebagai pengamat politik yang komentar-komentarnya menjadi ukuran atau parameter
kebenaran dari gerakan reformasi," katanya.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html