Precedence: bulk
TETAP SEPERTI BELI KUCING DALAM KARUNG
Oleh: Sulangkang Suwalu
Meski tak efektif karena pemilihan presiden menurut UUD 1945 oleh MPR,
meski tetap terbuka kemungkinan masyarakat seperti membeli kucing dalam
karung, namun debat capres berlangsung juga di Jakarta. Penyelenggaranya
Forum Salemba. Kekecewaan atas berlangsungnya debat capres bermunculan dari
banyak kalanga.
Dalam forum debat capres yang diselenggarakan oleh Forum Salemba,
calon-calon pemimpin negeri ini digojlok dan ditelanjangi habis-habisan.
Tak hanya soal visi dan misinya, capres yang hadir juga ditanyai wawasannya
tentang beberapa persoalan dari mulai bagaimana menyelesaikan krisis di
negeri ini, memulihkan roda ekonomi sampai ke soal kelautan, kesehatan dan
juga kekayaannya.
Capres yang hadir adalah Amien Rais (PAN), Yusril Ihza Mahendra (PBB), Sri
Bintang Pamungkas (PUDI), dan Didin Hafidhudin (Partai Keadilan). Bertindak
selaku penanya, yaitu tiga orang pengamat politik, masing-masing Eep
Saefullah Fatah, Imam Prasodjo dan Harkristuti Harkrisnowo.
Sayangnya acara tersebut lebih mirip talk show, ketimbang debat antara
kandidat presiden. Moderator tak berhasil menggali perbedaan yang
substansial diantara peserta debat. Moderator lebih tampak sebagai
interogator ketimbang membuat acara lebih hidup. Lagi pula tak ada perbedaan
mendasar pada platform Indonesia baru yang ditawarkan para capres.
MOBIL MEWAH YANG DIPAKAI AMIEN RAIS
Amien Rais yang datang terlambat hampir satu jam dicecar pertanyaan seputar
kekayaanya. "Anda saat ini hanya sebagai seorang Ketua Partai, tapi dari
mana Anda memperoleh uang untuk membeli mobil mewah Cheeroke yang selalu
Anda gunakan itu?"
Amien Rais pun bertutur jujur. "Mobil itu bukan milik saya, tapi punya
seorang fungsionaris PAN Jakarta Utara, H Sabri Saiman dan dipinjamkan
kepada saya. Sementara mobil saya sendiri hanyalah Charade tua di
Yogyakarta," jawabnya.
Pertanyaan itu sendiri menunjukkan kritikan kepada seseorang pemimpin
supaya hidup sederhana, apalagi di tengah rakyat banyak sedang menderita
seperti sekarang. Janganlah bermewah diri. Hanya akan menimbulkan kecurigaan
belaka.
YUSRIL PEMBUAT PIDATO RESMI SOEHARTO
Terhadap Yusril pertanyaan yang diajukan pun tak kalah nakalnya. Sebagai
bekas pembuat pidato Soeharto, Yusril dituding sebagai salah seorang yang
membuat Soeharto dipilih berkali-kali.
Yusril menangkis tudingan itu. "Kalau Anda menyebut saya adalah salah
seorang pembuat pidato Soeharto lantas Soeharto terpilih kembali, itu tidak
relevan. Dia sudah jadi Presiden sejak saya klas 3 SD. Itu harus disadari.
Dan saya masuk ke Setneg pada 1995, jadi saya tidak menyebabkan Soeharto
terpilih berkali-kali," elak Yusril sambil menyeka keringat yang bercucuran
didahinya.
Yang jelas Yusril tidak menyangkal bahwa sejak 1995, ia berperan membuat
pidato-pidato resmi Soeharto yang isinya anti demokrasi dan hasilnya
diantaranya Soeharto terpilih kembali pada 1997.
YUSRIL PEROKOK BERAT
Pertanyaan yang lucu dilontarkan oleh Imam Prasodjo. Kepada Yusril yang
terkenal perokok berat, Imam mempertanyakan kebiasaannya itu bila dia kelak
diangkat jadi presiden. "Apa kah Anda akan membuat aturan larangan merokok,
untuk berkurangnya penyakit jantung?"
Menjawab pertanyaan itu Yusril mengatakan, "Kita tidak boleh memberikan
aturan diskriminasi atas dasar dia merokok atau tidak. Merokok memang akan
mengganggu orang lain, jadi harus dibuat tempat bebas rokok, tapi tidak
boleh didiskriminasi karena alasan itu. Sangat naif, kalau seorang yang
merokok lantas dijegal kesempatannya jadi presiden."
Sesungguhnya bila Yusril sadar bahwa merokok menggangu orang, mengapa dia
bertahan sebagai perokok? Apa kah itu bukan berarti dia mengganggu orang!
Penggangu orang apakah ia pantas jadi Presiden?
AMIEN RAIS INGINKAN PEMERINTAHAN DEMISIONER
Yang menarik ialah ketika terjadi perdebatan antara Yusril dengan Amien
Rais. Ketika diberi kesempatan untuk bertanya, Yusril langsung mencecar
Amien Rais dengan menanyakan mengapa dirinya menginginkan pemerintahan ini
demisioner.
Kalau pemerintahan didemisionerkan, Pemilu tidak bisa terlaksana, karena
yang berhak melaksanakan pemilu adalah presiden. Bagaimana logikanya ini?
Amin Rais menjawab, "Itu bukan pernyataan resmi yang keluar dari PAN. Itu
hanya pernyataan rasa frustrasi yang keluar dari mulut sekjen saya. Tapi
gampangnya adalah diubah saja peraturannya."
Jawaban Amien Rais yang demikian adalah untuk menyembunyikan tujuannya
sendiri, supaya ia cepat ke jenjang kekuasan melalui pemilu. Jika ia
konsekuen, kabinet Habibie harus didemisionerkan dan kalau tidak
didemisionerkan, PAN tidak turut pemilu. Di situ kelihatan Amien Rais
bersikap mendua.
SALING EJEK
Selain debat juga sempat terjadi saling ejek antara Amien dengan Yusril.
Menurut Yusril, sangat disayangkan sebagai seorang capres, Amien ternyata
tidak terlalu menguasai masalah tatanegara. Tapi Amien juga tak mau
ketinggalan momentum. Dia balik mengejek Yusril, yang disebutnya sebagai
"Adik saya jauh, dan kemampuan bahasa Inggerisnya masih belepotan".
Amien dengan itu hendak menunjukkan bahasa Inggerisnya adalah bagus, sedang
bahasa Inggeris Yusril buruk.
Namun meskipun perdebatan sempat menghangat, keduanya masih tampak menahan
diri. Malah diujung perdebatan, dengan penuh kerendahan hati Yusril
menyampaikan permohonan maafnya kepada Amien Rais, Yusril menambahkan,
"Kalau saya langsung berhadapan face to face seperti ini, Anda semua yang
bisa menilai: siapa yang arogan."
Pernyataan itu direspon Amien dengan mengutip ajaran Nabi yang berbunyi,
"Arogansi terhadap arogansi adalah sebuah sedekah". Benarkah ada hadis Nabi
Muhammad yang demikian? Sejarah Nabi Muhammad mencatat bahwa tatkala beliau
diludahi oleh seorang Yahudi, Nabi Muhammad bukan membalas dengan meludahi
pula orang Yahudi tersebut. Malah, tatkala Yahudi itu tidak meludahi Nabi
lagi bila lewat di depan rumahnya, karena sakit, Nabi Muhammad menjenguk
Yahudi yang sakit itu. Dari sikap Nabi Muhammad yang demikian, Yahudi itu
akhirnya masuk Islam.
Bila ada hadis Nabi seperti yang dikemukakan Amien Rais, itu tentu hadis
yang dhoif, yang diragukan kebenarannya.
AMIEN DI-"KICK"
Namun Amien sempat juga dikick oleh Eep Saefullah dengan pertanyaan
mengenai feodalisme. Eep bertanya: mengapa terhadap feodalisme yang
didengungkan Soehartos dia begitu gigih menentangnya, tetapi terhadap Sultan
Yogya, yang merupakan pengkhianatan demokrasi, ia tidak menentangnya.
Mengenai hal itu, Amien Rais mengatakan, "Itu anak cabang dari feodalisme
dari tingkat nasional. Jadi lebih baik ditingkat nasionalnya dulu, baru yang
didaerah bisa disikat belakangan. Saya dikick 1-0 untuk soal ini."
Amien juga dikick Imam Prasodjo yang mencecar keterlambatannya menghadiri
acara. "Apa kah Anda nanti akan terlambat memimpin sidang kabinet?"
"Saya adalah orang yang amat baik hati, kata Amien. Saya terlambat, bila
halangan itu di luar kemampuan saya untuk menahannya."
Jika sungguh-sungguh Amien Rais orang baik hati, tentu dia akan berusaha
untuk datang tepat waktu. Karena keterlambatannya merugikan orang lain. Ia
tidak mau merugikan orang banyak. Karena itu bila diperkirakan akan ada
hambatan, ia berangkat lebih cepat, supaya bisa tiba di tempat, tepat waktu.
Ia rela mengorbankan kepentingan diri demi kepentingan yang lebih besar.
Bila tidak ada usaha demikian, baik hatinya diragukan.
DEBAT CAPRES KAMPUNGAN
Ketua FPP DPR Zarkasih Nur menilai substansi yang diangkat dalam debat
capres itu tidak menyentuh persoalan mendasar yang dihadapi rakyat.
Kalau ini yang menjadi kebanggaan para capres yang ikut berdebat, jelas
mereka tak pantas dicalonkan jadi presiden. Dan kalau kita bandingkan dengan
debat capres di negara lain, debat yang kemarin ini terkesan kampungan.
Keinginan mereka untuk menjadi presiden tampak menggebu-gebu, tapi sayang
tak seimbang dengan materi yang disajikan, sehingga akhirnya ini memalukan.
BUKAN ADU PROGRAM
Lain pula tanggapan anggota FKP MPR Setya Novanto tentang debat capres yang
terkesan kampungan itu. Menurut Setya Novanto dari segi konstitusi, debat
capres tersebut tidak efektif hingga perlu dikaji ulang.
Sesuai UUD 1945 presiden itu dipilih MPR, bukan langsung oleh rakyat. Lagi
pula seorang presiden disini tidak menjalankan programnya sendiri, tetapi
hanya melaksanakan GBHN.
Jadi, bagaimanapun pintarnya seseorang berdebat, belum tentu MPR memilihnya
menjadi presiden. Apalagi kalau partainya tidak mendapatkan suara yang cukup
dalam pemilu mendatang, maka mustahil dia dapat menjadi presiden.
Debat capres kemarin kurang efektif untuk menjaring calon pimpinan
nasional. Karena bukannya adu program yang muncul dalam perdebatan, tetapi
yang menonjol justru sikap-sikap saling menyerang satu sama lain, sehingga
rakyat menganggapnya kurang bermanfaat.
Disebutkan pula persyaratan untuk menjadi presiden sudah diatur dalam Tap
MPR No II/MPR/1975. Dan didalam persyaratan tersebut tidak ada satu pasalpun
yang menyebutkan bahwa capres harus pandai berdebat.
Setya mengajak semua pihak kembali mengacu kepada konstitusi dalam kaitan
masalah pencalonan presiden. Saya lihat diantara kita ada yang mulai keliru
dalam menyimak UUD 1945. Mereka sudah salah kaprah. Oleh sebab itu saya ajak
untuk kembali pada rel yang benar.
Pimpinan nasional tidak bisa dibentuk dalam sekejap, tapi melalui proses
panjang. Dan yang dibutuhkan bangsa saat ini adalah negarawan yang arif
dalam menyikapi masalah yang dihadapi bangsa serta punya komitmen pada
negara kesatuan RI. Bukan tokoh hanya pandai bicara atau pintar menghujat.
Dalam memilih pemimpin, rakyat akan menilai dari perbuatan, sikap dan
tingkah lakunya sehari-hari, termasuk konsistenkah terhadap perjuangan untuk
kepentingan rakyat.
DEBAT CAPRES DIKRITIK, FORSAL ADEM AYEM
Meskipun kritikan begitu pedas terhadap debat capres, namun penyelenggara
debat capres, yaitu Forum Salemba (Forsal) adem-ayem saja. Koordinator
Forsal, Agus Haryadi menyatakan tidak kapok dan merencanakan akan menggelar
acara debat capres kembali dalam waktu dekat.
Menurut Haryadi berbagai kritikan terhadap acara debat capres, justru
menunjukkan perhatian masyarakat. Saya lihat kritikan yang disampaikan itu
sifatnya sangat konstruktif. Yang mengeritik justru memberi masukan. Jadi
tidak ada masalah.
Dan pasti kita akan kembali menggelar acara tsb pasca pemilu dan sudah
ketahuan capres-capres dari partai besar yang dominan.
KESIMPULAN
Tampaknya Forsal hanya memperhatikan sementara kritikan yang ditujukan
kepada materi yang diperdebatkan. Tetapi tidak atau kurang memperhatikan
terhadap kritikan yang menyatakan debat capres tsb tidak efektif dilihat
dari UUD 1945. Di mana presiden dipilih oleh MPR dan bukan dipilih secara
langsung oleh rakyat atau pemilih.
Kepiawaaan berdebat seorang capres, belum merupakan jaminan bahwa setelah
capres itu menjadi presiden nanti, akan mengamalkan apa yang diucapkannya
dalam debat capres. Jangan-jangan kepiawaiannya berdebat akan digunakannya
pula untuk "mendiamkan rakyat" bila rakyat menggugatnya dalam suatu hal
ihwal yang dirasa merugikan rakyat.
Debat capres tidak menutup kemungkinan ibarat masyarakat membeli kucing
dalam karung.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html