Precedence: bulk
PROVOKATORNYA DALAM DIRI PPP DAN PKB SENDIRI
Oleh: Sulangkang Suwalu
Mencari kambing hitam dalam menghadapi setiap konflik yang terjadi dalam
masyarakat, sudah merupakan trade mark Orde Baru. Kambing hitam itu bisa
bernama "pihak ketiga", "provokator", "pengadu domba", "OTB" dsb. Trade mark
Orde Baru yang demikian, nampaknya masih diteruskan oleh partai, yang di
masa Soeharto berkuasa selama 32 tahun, mendukungnya dengan berbagai variasi.
Hal diatas tampak dengan jelas ketika pecah bentrokan antara massa PPP dan
PKB di daerah Jepara baru-baru ini. Pimpinan PPP dan PKB menanggapi tragedi
Jepara menduga ada "pihak ketiga" yang sengaja mengadu domba PPP dan PKB.
Mari kita ikuti permasalahannya
BENTROKAN MASSA PPP DENGAN MASSA PKB
Bentrok yang di Jepara, Jawatengah ini mengakibatkan 5 orang tewas, 6
sepeda motor dan sejumlah rumah terbakar.
Bentrokan berawal dari adanya acara pengajian dan deklarasi PKB yang
berlangsung di rumah Sudarmo, Desa Dongos, Kabupaten Jepara. Acara tersebut
berlangsung pukul 16.00 WIB. Massa PKB ranting Desa Dongos, yang jumlahnya
ratusan tersebut, hadir setengah jam sebelum acara dimulai.
Namun ketika acara hendak dimulai, datang serombongan massa PPP. Massa PPP
sempat memblokade, dengan maksud acara pengajian dan deklarasi PKB ranting
Desa Dongos itu dibatalkan. Tetapi karena massa PKB yang datang untuk hadir
sudah banyak, sehingga tidak mungkin acara itu dibatalkan.
Acara tetap berlangsung, dan sejumlah massa PPP kemudian membuat ulah.
Mereka mengejek satgas PKB yang bertugas mengamankan jalannya pengajian dan
deklarasi itu. Satgas PKB yang merasa diejek tersebut, panas. Karena ejekan
yang keluar dari massa PPP, yang datang di acara tersebut masih berjumlah
puluhan saja, menyinggung salah satu pendiri PKB yang mempunyai mata tidak
dapat melihatnya lagi.
Dari sini kemudian satgas PKB marah besar dan bentrok pun tidak dapat
dihindari lagi. Dari bentrokan pertama di lokasi pengajian dan deklarasi,
satu orang massa PPP Jepara, tewas. Korban yang diketahui tewas itu adalah
Nurhasyim. Kemudian setelah tewasnya seorang massa PPP itu, bentrokan
sebenarnya telah dapat dikendalikan.
Tetapi sekitar pukul 22.00 WIB dan di saat acara pengajian dan deklarasi
PKB Ranting Dongos masih berlangsung, massa PPP yang jumlahnya sangat banyak
datang menyerbu acara tersebut. Karuan saja massa PKB yang sedang mempunyai
hajat tersebut, melihat adanya serangan mendadak dari massa PPP yang
jumlahnya banyak untuk melampiaskan balas dendam atas tewasnya Nurhasyim
melakukan perlawanan.
Akibatnya, acara pengajian dan deklarasi berantakan. Bahkan banyak teriakan
histeris. Kedua massa partai tersebut bak orang kesurupan. Mereka saling
bakuhantam. Tapi massa PPP yang jumlahnya cukup banyak, mengkocar-kacirkan
kondisi pengajian dan deklarasi tersebut.
Dari perkelahian massal ini, jatuh korban 3 orang tewas. Mereka semuanya
dari PKB, yaitu Masyuri Nur Handayani, Mahfruh dan Asrori.
DIADU-DOMBA PROVOKATOR?
Menanggapi tragedi Jepara tersebut, pimpinan PPP dan PKB menduga ada pihak
ketiga yang sengaja mengadu domba PPP dengan PKB. Karena itu mereka meminta
aparat keamanan mengusut tuntas siapa pelakunya. Dikatakan juga ini
dilakukan oleh mereka yang tidak setuju pelaksanaan pemilu dan berupaya
menggagalkannya.
Sekjen PKB Muhaimin Iskandar dan Ketua PPP Zarkasih Nur kepada Rakyat
Merdeka kemarin menyatakan kesedihannya dan merasa heran mengapa insiden
tersebut bisa terjadi.
"Kami merasa berduka sekali. Tidak habis pikir mengapa bentrokan yang tidak
perlu itu mesti terjadi. PKB sangat menyesalkan akumulasi persoalan ini
akhirnya menimbulkan korban yang tidak perlu. Kami juga menyesalkan
pola-pola bentrok massa yang dilakukan PPP," kata Muhaimin.
Rasa penyesalan ini katanya, cukup beralasan, karena secara khronologis
yang memulai penyerangan adalah PPP. PKB juga meminta aparat menuntaskan
masalah ini secara hukum. Mereka yang melakukan pembunuhan dan perusakan
supaya ditangkap.
"Kita telah instruksikan Garda Bangsa Jateng memperkuat pengamanan agar
massa PKB jangan diganggu lagi".
Menurut Muhaimin ada beberapa faktor yang memicu terjadinya kasus ini.
Akumulasi faktor-faktor pemicu ini dari hari kehari semakin membesar yang
pada gilirannya meledak.
Sslah satu faktor yang tidak kalah pentingnya, adalah adanya pihak ketiga
yang tidak senang hubungan PPP dan PKB berlangsung harmonis. Pihak ketiga
ini punya skenario mengadu domba. Oleh karena itu PKB mendesak kepada aparat
keamanan segera menemukan siapa yang mengorganisir penyerangan pertama kali.
Dari sini bisa ketahuan siapa pelaku yang sebenarnya. Kita sih curiga ada
upaya adu-domba. Kita serahkan pada pihak aparat untuk menangkap pengadu
domba tersebut, katanya.
Sedang Zarkasih Nur mengatakan, yang memicu tragedi Jepara adalah faktor
emosi dari perorangan yang belum mengetahui apa tujuan pemilu. Mereka tidak
menyadari bahwa makna dan tujuan pemilu sebagai pintu gerbang menuju
Indonesia baru, sehingga cara yang dipakai harus demokratis. Benturan fisik
ini merugikan semua pihak.
Ditanya apakah benar PPP yang memulai penyerangan, Zarkasih dengan tegas
mengatakan bahwa siapapun yang melakukan penyerangan, kita minta dia
dihukum. Tidak peduli itu warga PPP. PPP juga minta aparat keamanan mengusut
pihak ketiga yang mengadu domba. Kami yakin ada upaya adu domba. Dalam kasus
ini ada unsur provokasi.
Benarkah ada pihak ketiga atau provokator yang mengadu domba antara PPP
dengan PKB sehingga sampai baku hantam? Apakah provokator itu bukan pihak
dalam dari PPP dan PKB sendiri?
PROVOKATORNYA DARI DALAM PPP DAN PKB SENDIRI
Jelas sekali bahwa baku-hantam antara massa PPP dengan massa PKB terjadi
setelah massa PPP menghina pemimpin PKB sebagai orang yang tidak terang
penglihatannya. Tentu yang dimaksud yang tidak terang penglihatannya adalah
Abdurrahman Wahid. Sehingga diluar juga ada pelesetan bahwa PKB itu adalah
singkatan (Partai Kiayi Buta).
Sekiranya massa PPP benar-benar mematuhi tuntulan agama, tentu mereka tidak
akan mengejek demikian. Sebab, mengejek demikian, sama dengan mengejek Tuhan
yang menciptakan seseorang yang tidak terang penglihatannya itu.
Di pihak lain sewajarnya bila Gus Dur atau Abdurrahman Wahid juga memeriksa
diri. Apakah masih wajar ia tetap sebagai Ketua PBNU, karena terdapat
kelemahan fisik pada dirinya. Apakah tidak lebih baik, dirinya cukup sebagai
penasehat PBNU? Dengan demikian pelesetan seperti diatas tidak akan terjadi.
Apakah hal-hal itu bukan menjadi pemicu dari bakuhantam antara massa PPP
dengan massa PKB. Bila ya, tentu hal itu merupakan provokator sendiri dalam
tragedi tersebut.
Bahwa provokatornya atau sebutlah pengadu-dombanya dari dalam diri mereka
sendiri, juga terbayang dari pendapat Pengurus MUI maupun pengelola Ponpes
M. Daimiri yang mengatakan bentrokan di Jateng antara PPP dengan PKB,
kenyataan dipicu oleh provokator bersorban dan provokator panggung, dengan
dalih melakukan pengajian. Namun di lapangan hanya menghujat partai lain.
KESIMPULAN
Mencari kambing hitam adalah jalan termudah untuk menyembunyikan kelemahan
sendiri. Sebaiknya PPP dan PKB melakukan introspeksi, karena mereka adalah
partai politik dan bukan domba, yang bisa diadu manusia. Periksalah diri:
mengapa sampai terjadi baku-hantam antara massa PPP dengan massa PKB?
Pertentangan yang mendasar antara PPP dengan PKB terutama mengenai
berbedanya kepentingan sosial, kepentingan ekonomi dan politik dari
pimpinannya. Karena keduanya sama-sama dari kalangan NU. Maklumlah di dalam
NU mungkin terdapat unsur tuan tanah, tani kaya, tani sedang, tani miskin,
buruh tani, pengusaha dan sebagainya.
Bukankah jika kursi yang diperoleh PPP nanti dalam pemilihan menjadi
berkurang, karena sebagian pemilihnya dulu memilih PKB yang direstui PBNU,
maka tentu sebagian anggota PPP yang ingin duduk sebagai anggota legislatif
bisa terhambat.
Apakah bukan berbedanya kepentingan sosial dari pimpinan PPP dengan
pimpinan PKB bukan merupakan provokator sendiri? Sudah bisa diperkirakan
bahwa berbedanya kepentingan pribadi dari kedua organigasi tersebut
mempunyai peranan yang tak kecil dalam memicu terjadinya baku hantam itu.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html