Precedence: bulk


HAMZAH HAZ TAKUT PADA KOMUNISME KARENA MERASA BERSALAH

Oleh: Sulangkang Suwalu

        "Berani karena benar, takut karena salah" adalah sebuah peribahasa yang
diajarkan pada anak-anak Sekolah Dasar pada masa Hindia Belanda. Seseorang
tentu akan berani, tak akan ada rasa gentar dihatinya menemui seseorang,
jika ia memang tidak ada berbuat salah pada seseorang itu. Tetapi bila ia
telah berbuat salah, misalnya mencurangi, atau tidak berlaku adil, tentu
dalam hatinya ada rasa takut, rasa waswas untuk bertemu dengan seseorang
itu. Demikian juga hubungan dengan komunisme atau PKI.
        Bagi seseorang yang tidak berbuat salah terhadap rakyat, ia menegakkan
keadilan, baik di bidang ekonomi, sosial, politik, tentu bagi dia tidak
menjadi persoalan hadirnya komunisme, karena komunisme itu tidak akan
mendapat tempat bila di masyarakat tidak terdapat kesenjangan sosial, tidak
terdapat ketidak merataan ekonomi, tidak terdapat penghisapan manusia atas
manusia. Ia berani menerima komunisme.
        Tetapi bagi seseorang yang senantisa berlaku tidak adil, baik di bidang
ekonomi, sosial, politik, ia senantiasa membela dan mendukung adanya
penghisapan manusia atas manusia, yang bersangkutan pasti takut dan menolak
hadirnya komunisme atau PKI. Takut karena salah kepada rakyat hal itu
tercermin dari pernyataan Hamzah Haz, Ketua Umum PPP mengenai teror yang
terjadi di Ciamis. 

TINDAKAN TERORISME GAYA KOMUNIS?

        Menurut Hamzah Haz, kasus pembantaian massal di Ciamis (Jawa Barat) bukan
lagi merupakan bentuk provokasi, tapi sudah menjurus ke tindakan terorisme
gaya komunis. Selain memakai teknik-teknik tinggi, juga dilakukan secara
brutal. 
        "Jika kelak kasus tersebut," kata Hamzah Haz, "bisa diungkap pihak
berwajib, paling-paling yang tersingkap hanya lapis pertama dan kedua.
Sedangkan lapis ke tiga dan ke empat sebagai faktor intelektual tidak akan
terungkap. Ini semua merupakan sistem komunis dengan gerakan yang terencana
dan berteknik tinggi."
        Melihat "dikuasainya" sistem komunis dengan gerakan terencananya,
menimbulkan tanda-tanya: apakah mungkin Hamzah Haz ini sebenarnya seorang
komunis yang masuk PPP, atau Hamzah Haz ini memfitnah, mengkambinghitamkan
komunisme, supaya komunisme jangan diberi tempat lagi di Indonesia? Tokh tak
ada resiko bagi Hamzah memfitnah komunisme dibawah kekuasaan Habibie,
pelanjut Orde Baru Soeharto.
        Mari kita amati hasil investigasi Kontras mengenai teror yang terjadi di
Ciamis tersebut.

HASIL INVESTIGASI KONTRAS DI CIAMIS

        Penelitian kasus pembantaian massal di Ciamis, Jawabarat, mulai menemui
titik terang setelah Kontras melakukan investigasi. Salah satu hasilnya,
kasus ini mirip kasus pembantaian dukun santet di Banyuwangi. Dan yang
sangat penting menurut Koordinator Kontras, Munir, pihaknya menemukan fakta
bahwa yang menjadi korban, diantaranya adalah mereka yang dianggap telah
menghujat atau menjelek-jelekan bekas presiden Soeharto.
        Tentang siapa saja yang menjauhi target pembunuhan di Ciamis, Kontras
menemukan fakta awal bahwa yang menjadi sasaran adalah orang-orang yang
dicap dukun santet. Namun karena tidak ada tindakan yang konkrit dari
aparat, sasaran pembantaian itu jadi meluas dan bervariasi.
        Mereka yang akhir-akhirnya ikut jadi sasaran adalah orang-orang yang
difitnah atau dikenali sebagai dukun pengobatan tradisional, dukun beranak
yang melakukan pengguguran kandungan, orang kaya yang sombong, serta mereka
yang dianggap selalu menjelek-jelekkan Soeharto.
        Mengenai jumlah korbannya sampai saat ini tidak pernah ditemukan data yang
jelas. Tapi berdasarkan data yang dihimpun Kontras dalam kurun waktu 3 bulan
terakhir, sudah lebih dari 50 orang tewas. Sayangnya, tak semua kasus
dilaporkan ke Polisi, karena ada rasa takut di masyarakat. Sedangkan jumlah
mayat yang sudah ditemukan sekitar 24 orang.

APARAT TERLIBAT PEMBANTAIAN CIAMIS

        Investigasi baru dari Kontras menyebutkan aparat kepolisian dan Babinsa
(Bintara Pembina Desa) wilayah Pangandaran diduga terlibat dalam tragedi
berdarah yang menewaskan sedikitnya 57 orang (Rakyat Merdeka, 30/4).
        Dugaan ini muncul berkaitan dengan adanya teror terhadap masyarakat
setempat menyusul tragedi tersebut. Teror itu terutama diarahkan kepada
keluarga korban atau orang-orang yang dianggap mempunyai keterangan dan
mungkin menjadi saksi basi pengusutan kasus tersebut.
        Aparat kepolisian tersebut berpangkat Kopral, tetapi dia berada diluar
jajaran Polsek Pangandaran. Sedangkan untuk non kepolisian tiga orang dari
Babinsa wilayah tersebut. Sampai saat ini saya belum bisa mengungkapkan
nama-nama mereka, tapi saat bertemu dengan pihak kepolisian sudah
mengungkapkan secara terbuka.

BENTUK-BENTUK TEROR

        Lebih lanjut Munir mengungkapkan bentuk-bentuk teror tersebut, misalnya ada
sejumlah orang dengan sepeda motor berlalu lalang di depan rumah keluarga
korban. Tindakan ini mereka lakukan beberapa kali dalam sehari sambil
melakukan pengintaian.
        Selain itus teror juga dilakukan dengan cara mendatangi rumah keluarga dan
melakukan intimidasi. Mereka tidak memberikan keterangan kepada siapapun,
baik kepada wartawan, maupun orang asing yang tidak dikenal. Jelas sekali
kalau tujuannya agar keterangan tersebut tidak diarahkan pada pelaku utama
dari rangkaian pembunuhan, papar Munir.

BUKTI KETERLIBATAN APARAT

        Menurut Munir keterlibatan aparat Babinsa bisa dibuktikan dengan terjadinya
pembantaian di Desa Kersa Ratu. Pembantaian tersebut didahului dengan
penyenderaan menantu calon korban selama dua hari. Pada saat itu terlihat
kehadiran seorang aparat Babinsa, tetapi tidak ada upaya untuk melakukan
pencegahan.
        Justru setelah peristiwa berlangsung, keluarga korban didatangi oleh dua
orang aparat yang melakukan ancaman untuk tidak memberikan keterangan dan
mempermasalahkan pembunuhan yang baru terjadi.
        Hingga saat ini lanjut Munir, keluarga korban maupun para saksi melakukan
aksi tutup mulut, dengan alasan tidak tahu menahu tentang kasus tersebut.
Padahal dalam pertemuan sebelumnya, mereka telah berjanji akan memberikan
keterangan sejelas-jelasnya dengan informasi yang diketahuinya.
        Ketakutan tersebut kami duga lantaran munculnya pertanyaan-pertanyaan yang
dikeluarkan aparat keamanan seperti warga itu memilih siapa? Kalau mereka
memilih ABRI (TNI-red) sebaiknya tutup mulut. Atau ada juga saksi dari
Babinsa mengungkapkan bahwa Wiranto (Menhankam-red) tahu tentang operasi
tersebut. Tapi, lanjutnya hal itu belum diklarifikasi dengan jelas: apakah
hal itu merupakan bentuk teror yang disampaikan ke masyarakat.
        Menurut Munir, ketakutan masyarakat Ciamis saat ini, juga lantaran mereka
tidak tahu mana aparat keamanan yang akan menjaga keamanan, atau bagian dari
operasi pembantaian. Karena secara riil ada aparat yang menakut nakuti
masyarakat, misalnya dari Koramil dan dari Pasukan Batalyon 321.

KITA TAK GEGABAH

        Berbeda dengan Hamzah Haz yang memastikan bahwa teror di Ciamis gaya
komunisme, maka Kapuspen Hankam/TNI Mayjen Syamsul Maarif mengatakan, "Kita
tidak gegabah memberikan stigma bahwa setiap kejadian itu dilakukan komunis.
Kita harus mengikuti secara jalur hukum." 
        Bila Mayien Syamsul Maarif mengatakan TNI tak akan gegabah memberikan
stigma komunis terhadap setiap kejadian, itu sekaligus mengandung kritik
atas Hamzah yang telah memberikan stigma komunisme pada teror di Ciamis.
Sebenarnya Hamzah bukan gegabah. Dia memberikan stigama komunis itu dengan
penuh kesadaran untuk bisa memukul komunisme yang diperkirakannya hendak
bangkit kembali.
        Hamzah Haz hanya melanjutkan apa yang dilakukan fasis Soeharto yang selalu
mengkambing hitamkan komunis. Dan taktik Soeharto yang anti komunis
tersebut, itulah yang dilajutkan Hamzah Haz. Ia tak mau kurang fasisnya dari
Soeharto.

KESIMPULAN

        Bertolak dari keterangan Koordinator Kontras, Munir dan keterangan Kapuspen
Hankam/TNI Mayjen Syamsul Maarif, maka teror yang terjadi di Ciamis tak ada
kaitannya dengan gaya komunisme seperti dikatakan Hamzah Haz. Komunisme
difitnah oleh Hamzah Haz. Apa kah memfitnah atau menghalalkan segala cara
demi tujuan yang diajarkan Islam kepadanya?
        Sudah pasti, tidak. Karena dalam surat Al Bawarah ayat 217 dinyatakan
fitnah itu lebih besar dosanya dari pembunuhan. Dengan demikian satu
diantara dua: PPP yang dipimpinnya sesungguhnya tidak berazaskan Islam,
hanya pura-pura Islam, atau Hamzah Haz memperalat PPS untuk ia dapat naik ke
tangga kekuasaan?
        Hamzah Haz memfitnah komunisme, karena ia takut komunisme itu akan hadir
lagi di Indonesia. Ia telah banyak dosanya kepada kaum komunis, melalui
dukungannya kepada kekuasaan Soeharto yang menindas. Tujuan Soeharto
menindas komunisme, supaya jangan ada kekuatan yang menghambatnya dalam
melakukan penghisapan manusia atas manusia, dalam melakukan ketidak adilan
sosial, dalam melakukan ketidakmerataan ekonomi. Ia merasa bersalah pada
kaum tertindas di Indonesia.
        Bagi seseorang yang tidak merasa berbuat salah pada kaum tertindas, artinya
tidak pernah melakukan penghisapan manusia atas manusia, senantiasa
menentang ketidak adilan sosial, menentang ketidak merataan ekonomi,
hadirnya komunisme tidak dipersoalkannya. Karena ia yakin, selama terdapat
ketidak adilan sosial, selama itu pulalah komunisme terpanggil muncul.
Komunisme itu pasti akan tidak muncul-muncul lagi, bila penghisapan sesama
manusia telah sirna, kaum mustadhafhin telah menjadi pemimpin di bumi dan
mewarisi bumi, seperti dijanjikan Tuhan dalam surat Al Qashas Ayat 5 dan 6.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke