Precedence: bulk
Yayasan HAK (Hukum hak Azasi & Keadilan)
Jl. Gov. Serpa Rosa no. T-095 Lt. 1
Farol - Dili, Timor Timur
Telp.: +62 390 313323
Fax.: +62 390 313324
Laporan Kasus Pembantaian di Liqui�a
Tanggal 5 - 6 Mei 1999
I. Latar Belakang
Salah satu kelompok milisi yang dibentuk sebagai reaksi terhadap kebijakan
baru pemerintah Indonesia tentang penyelesaian masalah Timor Timur adalah
milisi Besi Merah Putih (BMP) yang berbasis di Kecamatan Maubara, Kabupaten
Liqui�a. Dengan menggunakan panji-panji Merah Putih, kelompok ini telah
melakukan pemaksaan terhadap rakyat sipil untuk menyatakan kesetiaannya
kepada Bendera Merah Putih.
Sejak pembentukannya pada bulan Januari 1999, BMP telah melakukan
serangkaian tindak kekerasan, teror dan intimidasi terhadap rakyat, misalnya
dengan melakukan pemeriksaan terhadap kendaraan-kendaraan yang melintasi
jalur Liqui�a-Maubara. Dalam aksi-aksi pemeriksaan di jalan tersebut, mereka
secara paksa menggunduli penduduk laki-laki yang berambut panjang, melakukan
penahanan dan penyiksaan tanpa alasan, bahkan pembunuhan terhadap
orang-orang yang ada dalam daftar mereka untuk dibunuh. Dalam
pemeriksaan-pemeriksaan tersebut, para anggota BMP selalu membawa daftar
yang memuat nama orang-orang yang mereka anggap berlawanan politik dengan
mereka dan harus dihabisi. Sejumlah motor dan mobil dinas juga telah
dirampas dari para Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang menurut mereka tidak
pantas untuk memakainya.
Selain melakukan pemeriksaan yang disertai berbagai tindak kekerasan di
jalan-jalan, kelompok BMP juga telah melakukan sejumlah penyerangan terhadap
penduduk sipil di sejumlah kampung di wilayah Kabupaten Liqui�a.
Penyerangan-penyerangan yang dilakukan selama tiga bulan pertama tahun 1999
telah menelan sejumlah korban jiwa dan korban luka-luka, serta sejumlah
rumah penduduk sipil telah pula dibakar. Selain membakar rumah-rumah,
kelompok milisi ini juga telah melakukan penjarahan terhadap rumah-rumah
penduduk sipil yang dibakar atau dihacurkan. Aksi-aksi penyerangan tersebut
selalu dilakukan bersama anggota ABRI, baik dari satuan TNI maupun satuan
Kepolisian (baca laporan Yayasan HAK untuk Triwulan Pertama 1999).
Aksi-aksi penyerangan, teror dan intimidasi ini telah menciptakan suasana
ketakutan dan perasaan tidak bebas di kalangan masyarakat sipil. Akibatnya
sejumlah penduduk telah melarikan diri dan mencari perlindungan di
tempat-tempat lain. Akibat dari salah satu penyerangan ke Desa Dato,
Kecamatan Maubara, Kabupaten Liqui�a tanggal 4 dan 5 April 1999, sejumlah
penduduk telah menungsi ke Pastoran Paroki Liqui�a. Para penduduk sipil yang
mengungsi di Lingkungan Gereja Liqui�a inilah yang kemudian telah menjadi
sasaran penyerangan, dan mengakibatkan 59 korban jiwa dan 35 korban
luka-luka. Selebihnya, 16 orang penduduk sipil hingga saat ini tidak
diketahui keberadaannya. Saksi mata mengatakan bahwa masih terdapat sejumhal
pengungsi yang terbunuh atau terluka, tetapi korban-korban tersebut tidak
ditemukan lagi beberapa saat sesudah aparat keamanan membereskan tempat
kejadian.
II. Kronologi Kejadian dan Identifikasi Korban
Secara kronologis, peristiwa pembantaian di lingkungan Gereja Liqui�a sangat
terkait dengan peristiwa-peristiwa penyerangan sebelumnya. Penduduk sipil
yang menjadi sasaran penyerangan milisi BMP mencoba melakukan upaya
pembelaan diri dari serangan BMP. Tetapi upaya bela diri yang meraka lakukan
justru mengundang aksi penyerangan yang lebih keras lagi, melibatkan aparat
militer Indonesia, dan memaksa mereka untuk mengungsi ke Gereja Liqui�a. Di
lingkungan Gereja inilah mereka akhirnya menjadi sasaran pembantaian Milisi
BMP yang didukung oleh tentara dan Brimob (Kepolisian).
1. Peristiwa Desa Dato
Pada tanggal 4 April 1999, pukul 16.00 Waktu Timr Timur (WTT), sedikitnya 18
orang anggota Besi Merah Putih (BMP) mendatangi masyarakat di Desa Dato,
sekitar 3 km arah Barat Kota Liqui�a. Tanpa alasan yang jelas, para anggota
BMP ini menghancurkam 1 buah rumah milik Felisberto do Santos, Pegawai Dinas
Peternakan Daerah Tingkat II Liqui�a. Diduga serangan tersebut berkaitan
dengan tuduhan terhadap masyarakat Desa Dato sebagai pendukung kemerdekaan.
Sesaat kemudian, masyarakat yang menyaksikan penghancuran rumah tersebut
melakukan serangan balik terhadap para anggota BMP itu. Para anggota BMP
melarikan diri ke Markas Komando Rayon Militer (Koramil) Liqui�a Kota.
Suasana menjadi sangat tegang.
Mendengar kejadian itu, satu jam kemudian, Pastor Rafael dos Santos
mendatangi kantor Koramil Liqui�a dan bertemu dengan Komandan Koramil. Dalam
pertemuan itu, disepakati bahwa tanggal 5 April 1999 pukul 12.00 WTT akan
diadakan pertemuan untuk mendamaikan warga Desa Dato (termasuk Felisberto do
Santos) dan para anggota BMP. Suasana tegang menjadi sedikit reda sesudah
rencana pertemuan perdamaian tersebut disepakati.
Pada hari Senin, 5 April 1999, sekitar pukul 07.00 WTT, warga Desa Dato dan
sekitarnya berdatangan ke Kantor Desa menghadiri pertemuan perdamaian yang
telah disepakati sehari sebelumnya. Di luar dugaan mereka, para anngota BMP
yang berbasis di Kecamatan Kota Maubara melakukan penyerangan besar-besaran
dari arah Barat Kota Liqui�a. Penyerangan ini mula-mula hendak diarahkan ke
wilayah Desa Dato. Serangan tersebut membuat masyarakat sekitarnya
ketakutan, dan sebagian melarikan diri ke Gereja. Masyarakat semakin
ketakutan setelah mengetahui bahwa pasukan keamanan dari Kodim 1638 Liqui�a,
Koramil 01 Liqui�a, Polres Liqui�a dan Batalion Teritorial (BTT) 143 turut
melakukan serangan dari arah kota Liqui�a. Masyarakat lari tercerai berai
dan suasana di Kota Liqui�a semakin kacau balau.
Menurut keterangan para saksi mata dan saksi korban, penyerangan di Desa
Dato mula-mula dilakukan oleh para anggota BMP yang bersenjatakan panah,
tombak, parang dan pedang dan berada pada posisi paling depan,
berhadap-hadapan dengan warga desa. Para anggota BMP ini melepaskan tembakan
panah dan melempari warga desa dengan batu. Ketika serangan ini dibalas oleh
warga desa dengan lemparan batu, para anggota BMP ini menarik diri dan
aparat militer yang berada pada posisi belakang anggota BMP langsung
bereaksi dengan melepaskan rentetan tembakan ke arah warga Desa Dato yang
sedang berjaga-jaga. Tembakan beruntun itu mengakibatkan sejumlah korban
tewas dan luka-luka di pihak warga Desa Dato.
Dalam serangan tersebut, selain jatuh korban manusia, beberapa rumah
penduduk dibakar oleh anggota BMP dan aparat militer. Bersamaan dengan
kejadian tersebut, dari arah Markas Kodim, Polres dan Koramil Liqui�a
terdengar bunyi letusan senjata. Hal ini menyebabkan masyarakat kota Liqui�a
panik dan banyak yang melarikan diri (mengungsi) ke gereja Liqui�a. Selain
itu ada juga yang mengungsi ke hutan dan ke kota Dili.
Berikut adalah identifikasi korban manusia dan kerugian material yang
dialami warga Desa Dato dan sekitarnya akibat penyerangan milisi BMP dan
aparat militer pada peristiwa 5 April 1999 itu. Juga disertakan identitas
para pelaku yang dapat diidentifikasi oleh para saksi mata dan saksi korban
dalam penyerangan 5 April 1999 itu.
� Korban luka-luka pada peristiwa 5 April 1999 yang dievakuasi oleh
Suster-suster Carmelita Maubara ke Dili pada tanggal 6 April 1999 untuk
dirawat di Poliklinik Motael dan Rumah Sakit Umum Dili adalah 8 orang,
dengan identitas sebagai berikut:
1. Jos� Cerilio do Santos, 17, L, pelajar SMU Kristal Liqui�a, warga Desa
Fatu Kesi (Liqui�a), anak Felisberto do Sampaio Pires, Kepala Desa Fatu
Kesi, Kecamatan Liqui�a Kota, terkena satu buah peluru di paha kiri dan
tembus ke belakang.
2. Manuel Caldeiro, 27, L, warga transmigran Kampung Faularan, Kecamatan
Maubara yang mengungsi ke Kota Liqui�a. Korban tertembak di telapak tangan
kiri. Luka yang dialaminya cukup dalam dan parah.
3. Manuel Floris, 23, L, warga Liqui�a, petani. Tertembak di bagian
abdominal, dan tembus ke belakang. Luka yang dialaminya cukup parah.
4. Paulina de Jesus, 23, P, petani, warga Liqui�a, dibacok di bahu kanan dan
di bagian pelipis kiri. Korban dibacok di rumahnya dalam penyerangan oleh
anggota BMP yang didukung aparat militer (ABRI).
5. Francisco Xavier, 31, L, petani, warga Kampung Raimea, Desa Vatubou,
Kecamatan Maubara, terkena pedang.
Kelima Korban tersebut dirawat di Poliklinik Motael, Dili.
6. Jaime do Santos, 20, L, Petani, warga Desa Fatu Kesi, Kecamatan Liqui�a
Kota. Korban dirawat di Rumah Sakit Umum Pusat Bidau, Toko Baru, Dili.
7. Crisanto Oliveira, 23, L, warga Desa Dato. Korban ditangkap dan disiksa
oleh anggota Kodim 1638 Liiquica, hingga mengalami luka-luka. Korban dirawat
di Rumah Sakit Umum Pusat Bidau, Toko Baru, Dili.
8. Lucas Soares, 36, L, warga Desa Dato. Korban dibacok pada bagian muka dan
Kepala. Korban dirawat di poliklinik Motael Dili.
� Korban yang meninggal dunia pada peristiwa 5 April 1999:
1. Julio, 25, L, warga Kampung Kukae Laran , Desa Dato, Kecamatan Liqui�a Kota.
2. Laurindo, 40, L, Kepala Dinas Peternakan TK II Liqui�a, warga Kota Liqui�a.
3. Feliz, 27, L, warga Desa Dato, Kecamatan Liqui�a Kota.
4. Francisco, 25, L, warga Desa Vatuvou, Kecamatan Maubara.
5. Paulino Ribeiro, 28, L, Pengawai Tata Usaha SMU Negeri I Liqui�a, warga
di Desa Manumeta, Kecamatan Liqui�a Kota.
� Rumah-rumah yang dirusak dan dibakar dalam Peristiwa 5 April 1999,
masing-masing milik:
1. Jacinto da Costa, L, Kepala Desa Dato.
2. Filomeno de Paix�o, L.
3. Gregorio N. M. do Santos, L.
4. Amadeu, L.
5. Mateus Hulamuda, 48, L.
6. Fernando da Costa, L.
7. Mau Gunda, L, pengrajin besi.
8. Jorge, L.
9. Saulus
10. Felisberto do Santos, L.
� Para pelaku Peristiwa 5 April 1999 yang berhasil diidentifikasi:
1. Abilio Martins, Kopral Satu (Koptu) TNI -AD.
2. Domingos Askopas, Prajurit Dua (Prada) TNI-AD.
3. Yakobus, Sersan Dua (Serda) TNI-AD.
4. Tobias, Koptu TNI-AD.
5. Antonio Gomes, Koptu TNI-AD.
6. Jacinto, anggota TNI-AD bertugas di Liqui�a.
7. Alberto, anggota TNI-AD, bertugas di Liqui�a.
8. Teofilo, anggota TNI-AD bertugas di Liqui�a.
2. Peristiwa Penyerbuan Gereja Liqui�a
Akibat serangan tanggal 5 April 1999 itu dan suasana ketegangan yang
tampaknya sengaja diciptakan di Kota Liqui�a dan sekitarnya, rakyat yang
merasa terancam oleh aksi-aksi brutal para milisi dan militer, mengungsi ke
Gereja Liqui�a. Tetapi ternyata lingkungan Gereja yang merupakan tempat
sakral dan dihormati, justru tidak cukup aman bagi mereka. Aksi penyerangan
milisi BMP dan aparat militer terhadap rakyat Liqui�a ternyata berlanjut
pada hari berikutnya, Selasa, 6 April 1999. Kali ini Gereja Liqui�a, tempat
sejumlah penduduk sipil sedang mengungsi mencari keselamatan, menjadi
sasaran penyerangan tentara dan BMP.
Menurut kesaksian para korban, pada sekitar pukul 06.00-09.00 WTT, rumah
pastor dan gereja paroki Liqui�a, kembali dibanjiri oleh sejumlah pengungsi
dari Kecamatan Maubara. Diperkirakan jumlah pengungsi saat itu melebihi 2000
(dua ribu) orang. Para pengungsi ini terdiri dari perempuan, tua, muda, dan
anak-anak. Terdapat juga bayi dan ibu-ibu yang sedang hamil tua.
Sekitar pukul 09.00 WTT, anggota BMP, aparat militer dari kesatuan BTT 143,
Kodim 1638 Liqui�a, Koramil Liqui�a, Polisi dan Brimob memblokir halaman
Gereja Liqui�a. Dan saat itu terdengar suara teriakan yang bernada
provokasi, berupa ancaman dan caci maki, seperti �."kami akan mempertahankan
merah putih dan memilih otonomi". Mendengar aksi provokasi itu, Pastor
Rafael mendekati aparat militer dan menjelaskan bahwa orang-orang yang ada
dalam Gereja adalah perempuan dan anak-anak. Eurico Guterres, Komandan
milisi Aitarak manjawab bahwa kelompoknya tidak bermaksud melakukan
kekerasan terhadap orang-orang yang berada dalam Gereja. Postor Rafael
meminta agar menghubungi Bupati Liqui�a, Leoneto Martins untuk hadir
menyelesaikan masalah. Pesan Pastor Rafael, yang bermaksud berdialog untuk
memulangkan para pengungsi itu, ternyata ditolak oleh Bupati. Eurico
Guterres yang diutus menyampaikan pesan Pastor Rafael kembali dan mengatakan
bahwa "Bupati Leoneto Martins masih naik darah (emosi)".
Selanjutnya Eurico Guterres kembali ke Markas Kodim Liqui�a. Suasana saat
itu semakin memanas. Aparat Brimob terus mendekati dan kemudian memblokir
pagar Gereja. Konon kehadiran aparat Brimob itu untuk mengamankan Pastor dan
rakyat. Menurut kesaksian Pastor Rafael, pada sekitar pukul 13.00 WTT,
anggota BMP mencoba menyerbu ke dalam halaman gereja. Penyerbuan dimulai
ketika aparat melontarkan granat gas air mata ke dalam Gereja dan disusul
dengan tembakan sporadis ke atas yang mengakibatkan para pengungsi panik dan
ketakutan. Dalam keadaan panik dan dengan mata yang pedih terkena gas air
mata, para pengungsi lari berhamburan keluar dari Gereja. Kesempatan itulah
dimanfaatkan anggota BMP menyerbu masuk ke dalam lingkungan Gereja. Dengan
cara yang sangat keji mereka melakukan pembantaian (dengan cara menusuk dan
memotong orang-orang yang kepedihan terkena gas air mata) dengan panah dan
tombak.
Sementara itu, sebagian yang bersembunyi di atas loteng rumah Pastoran dan
kamar mandi Pastor ditembaki oleh aparat militer dan Brimob yang juga turut
masuk dalam lingkungan gereja ketika Postor telah ditarik keluar. Menurut
kesaksian Pastor Rafael, penduduk yang bersembunyi di loteng dan kamar
semuanya terbunuh. Mereka adalah Kades Dato, Jacinto da Costa Concei��o
Pereira, Agustinho, Victor, Leovogildo, Pelajar SMU 3 dan Lucio.
Menurut pengakuan salah seorang saksi korban peristiwa tersebut, ia bersama
beberapa orang bersemunyi di bawah kolong tempat tidur Pastor Rafael ketika
penyerbuan berlangsung. Ia menyaksikan langsung orang-orang ini ditarik ke
luar dari kolong tempat tidur lalu dibantai oleh tentara dan anggota BMP.
Korban lolos dengan melompat keluar dari jendela kamar Pastor Rafael yang
sebelumnya telah dirusak para penyerbu. Namun, ketika baru melangkah sekitar
dua meter, ia ditembak dari arah belakang yang mengenai bagian kanan
punggungnya. Ia selamat dari maut karena dibantu oleh beberapa anggota BMP
yang kebetulan adalah teman dekat. Korban kemudian diantar ke rumah Kapolres
Liqui�a dan tidak lama kemudian dipindahkan ke rumah Bupati Liqui�a, Leoneto
Martins. Pada 7 April 1999, secara sembunyi, korban dievakuasi oleh
keluarganya ke Dili dan dirawat di RSUP Dili.
Namun hingga sekarang keberadaan korban-korban yang tewas belum diketahui.
Seorang saksi yang merupakan salah satu dari 18 orang yang bersembunyi dalam
Gereja ketika penyerbuan berlangsung, kepada STT saksi menceritakan bahwa
sekitar pukul 18.45 WTT, dia dan kawan-kawannya menyaksikan mayat-mayat itu
dilempar ke atas enam buah truk Hino, tetapi tidak diketahui ke mana
mayat-mayat itu diangkut. Saksi tidak menyebut berapa jumlah mayat yang
diangkut.
Dalam penyerbuan ke lingkungan gereja Liqui�a, kediaman pastor Rafael juga
ikut dijarah dan dirusak. Uang sebesar Rp. 8.000.000 (delapan juta rupiah)
milik SMPK Liqui�a dan uang derma umat untuk Gereja Liqui�a yang disimpan
pastor Yosef Daslan, dijarah oleh para penyerbu. Sebuah sepeda motor milik
pastor Yosef Daslan dan sejumlah kendaraan milik penduduk juga dijarah.
Berikut adalah identitas para korban, yang meninggal/tewas, luka-luka dan
hilang dalam peristiwa penyerbuan Gereja Liqui�a, yang diperoleh Yayasan HAK
berdasarkan laporan masyarakat, para korban dan saksi mata, sebagai berikut :
� Identitas korban tewas pada penyerbuan Gereja Liqui�a tanggal 6 April 1999:
1. Jacinto Canisio Pereira, 47, L, Kepala Desa Dato, tewas di Gereja Liqui�a.
2. Antonio do Santos, 24, L, warga di Desa Hatukesi, tewas di Gereja Liqui�a.
3. Durva, 20, P, warga Desa Dato, tewas di Gereja Liqui�a.
4. Joni Mausoko, 28, L, warga Desa Dato, tewas di Gereja Liqui�a.
5. Evangelina Gon�alves, 14, P, warga Desa Dato, tewas di Gereja Liqui�a.
6. Juvelina, 16, P, warga Desa Dato, tewas di Gereja Liqui�a.
7. Salvador, 13, L, Desa Vatuvou, tewas di Gereja Liqui�a.
8. Santiago, 12, L, warga Desa Vatuvou, tewas di Gereja Liqui�a.
9. Americo, 28, L, warga Desa Dato, tewas di Gereja Liqui�a.
10. Afonso, 26, L, warga Desa Dato, tewas di Gereja Liqui�a.
11. Francisco, 30, L, warga Desa Dato, tewas di Gereja.
12. Rafael Maria, 18, L, warga Desa Dato, tewas di Gereja.
13. Paulo de Fatima, 53, L, warga Desa Darulete, tewas di Gereja Liqui�a.
14. Erminio do Santos, 35, L, warga Desa Maumeta, tewas di Gereja Liqui�a.
15. Manuel Lisboa, 40, L, warga Desa Dato, tewas di Gereja Liqui�a.
16. Fernando da Costa S., 29, L, warga Desa Dato, tewas di Gereja Liqui�a.
17. Antonio Marcos, 27, L, warga Desa Hatukesi, tewas di Gereja Liqui�a.
18. Elidio do Santos, 20, L, warga Desa Hatukesi, tewas di gereja Liqui�a.
19. Cesar do Carmo, 21, L, warga Desa Vatuboro, tewas di Gereja Liqui�a.
20. Mautersa, 22, L, warga Desa Vatubou, tewas di Gereja Liqui�a.
21. Abbel Ballo, 26, L, warga Desa Vatubou, tewas di Gereja Liqui�a.
22. Julito Maria, 18, L, warga Desa Metagou, tewas di Gereja Liqui�a.
23. Filipe, 17, L, warga Desa Metagou, Kecamatan Liqui�a, tewas di Gereja
Liqui�a.
24. Americo Marcal, 40, L, warga Desa Darulete, tewas di Gereja Liqui�a.
25. Rudolfo dos Santos, 15, L warga Desa Darulete, tewas di gereja Liqui�a.
26. Loubato do Satos, 16, L, warga Desa Darulete, tewas di Gereja Liqui�a.
27. Floriano Santos, 30, L, warga Desa Vatuboro, tewas di Gereja Liqui�a.
28. Joanico, 35, L, warga Desa Dato, tewas di Gereja Liqui�a.
29. Abr�o, 37, L, warga Desa Hatukesi, tewas di Gereja Liqui�a.
30. Francisco do Santos, warga Desa Guguleur, tewas di gereja Liqui�a.
31. Jos� Ribeiro, warga Desa Guguleur, tewas di Gereja Liqui�a.
32. Julio, warga Desa Vatuvou, tewas di gereja Liqui�a.
33. Agustinho, 42, L, warga Desa Darulete/Maubara, tewas di Gereja Liqui�a.
34. Manuel da Costa, 30, L, warga Desa Dato/Liqui�a, tewas di Gereja Liqui�a.
35. Laurindo da Costa G., 45, L, warga Desa Dato, tewas di Desa
Maumeta/Mercado.
36. Tomas de Jesus, 26, L, warga Desa Hatukesi Kecamatan Liqui�a, meninggal
dunia di Rumah Sakit Umum Pusat Dili.
37. Tito Afonso, 29, Desa Guguleur, Kecamatan Maubara, tewas di gereja Liqui�a.
38. Alsino Gon�alves, 45, L, Desa Guguleur, Kecamatan Maubara, tewas di
Gereja Liqui�a.
39. Filisberto, 27, L, Desa Liqui�a Kota, tewas di Gereja Liqui�a.
40. Tiago do Santoas, 17, L, pelajar SMPK Liqui�a, tewas di gereja Liqui�a.
41. Afonso, 35, L, Desa Dato, tewas di Gereja Liqui�a.
42. Herminio, 17, L, siswa SMPK Liqui�a, Desa Hatukesi, tewas di Gereja
Liqui�a.
43. Rita, 36, P, alamat belum jelas ,tewas di Gereja Liqui�a.
44. Cesario, 25, Desa Leopa, tewas di Gereja Liqui�a.
45. Custori, 31, L, alamat belum jelas, tewas di Gereja Liqui�a.
46. Alsino, 25, L, Desa Leopa, tewas di Gereja Liqui�a.
47. Alsino Fernandes, 28, L, Desa Leopa, tewas di Gereja Liqui�a.
48. Felisberto do Santos, L, Bendahara Dinas Peternakan TK II Liqui�a, tewas
di Gereja Liqui�a.
49. Leovolgildo, L, Pelajar SMU 3, tewas di Gereja Liqui�a.
50. Vitor, L, alamat tidak jelas, tewas di Gereja Liqui�a.
51. Lusio, L, tewas di Gereja Liqui�a.
52. Antonio Gon�alves, 25, L, alamat belum jelas, anggota Pemuda Katolik
Paroki Liqui�a, tewas di Gereja Liqui�a.
53. Jos� Mesquita, 25, L, Desa Leopa, tewas di Gereja Liqui�a.
54. Agusto dos Santos Mausinho, 36, L, Liqui�a Kota, tewas di Gereja Liqui�a.
55. Paulino Boavida, 22, L, Kampung Villa, Desa Vavekenia, tewas di Gereja
Liqui�a.
56. Lucas, 58, L, Desa Vatuboro, Kecamatan Maubara, tewas di Gereja Liqui�a.
57. Tomas de Jesus, 26, L, warga Desa Hatukesi, tewas di Gereja Liqui�a.
58. Leonel, 50, L, Desa Vatuboro, tewas di Gereja Liqui�a.
59. Rosalino, 43, L, Desa Vatuboro, tewas di Gereja Liqui�a.
� Identitas Korban Luka-Luka pada Peristiwa Penyerangan Gereja Liqui�a:
1. Jo�o Kuda, 34, L, warga Desa Hatukesi.
2. Agunstinho do Santos, 37, L, warga Desa Dato.
3. Jo�o Mautega, 23, L, warga Desa Dato.
4. Bento Quintao, 24, L, warga Kampung Loidahar.
5. Felix de Carvalho, 26, L, warga Desa Dato.
6. Laurindo do Santos, 29, L, warga Desa Maumeta.
7. Matias da Silva, 50, L, warga Desa Dato.
8. Ornai, 17, L, warga Desa Dato.
9. Geraldo Soares, 31, L, warga Desa Maumeta.
10. Mario Martins, 26, L, warga Desa Darulete.
11. Bendito Hornai, 54, L, Desa Dato.
12. Minguel do Santos, 30, L, warga Desa Loidahar.
13. Ad�o Sanches, 25, L, warga Desa Vatubou.
14. Manuel da Costa, 27, L, warga Desa Vatubou.
15. Jos� Ramos, 22, L, warga Desa Desa Vatubou.
16. Joe Nunes Soares, 35, L, warga Desa Vavikinia.
17. Francisco, 27, L, warga Desa Vatubou.
18. Mateus Alves C., 35, L, warga Desa Dato.
19. Juvito, 23, L, warga Desa Dato.
20. Jaimito Serrao, 26, L, warga Desa Vavikinia.
21. Casimiro, 60, L, warga Desa Hatukesi.
22. Sergio Ser�o, 21, L, warga Desa Vatubou.
23. Fernando Ser�o, 23, L, warga Desa Vatubou.
24. Jeca Ser�o, 22, L, warga Desa Vatubou.
25. Clara Monis, 16, P, warga Desa Vatubou.
26. Antonio Monis, 50, L, warga Desa Vatubou.
27. Manuel Flores, 27, L, warga Desa Dato.
28. Maria Lurdes, 34, P, warga Desa Dato.
29. Jacinto da Costa, 40, L, warga Desa Dato.
30. Bento, 49, L, warga Desa Dato.
31. Maubusa, L, warga Desa Guguleur.
32. Alberto, L, warga Desa Vatuboro.
33. Jaime do Santos, 25, L, warga Desa Hatukesi.
34. Jos�, L, warga Desa Vavikinia.
35. Cerilio, 18, L, warga Desa Hatukesi.
� Para Pengungsi yang dilaporkan hilang dalam peristiwa penyerbuan di Gereja
Liqui�a:
1. Calistro, 38, L.
2. Ernesto, 28, L.
3. Visenti, L.
4. Leovogildo da Silva, L.
5. Jacinto Fernandes Hornai, L.
6. Deolindo da Costa, L.
7. Ligina da Costa Hornai, P.
8. Neomia Hornai, P.
9. Joaquim Balo, 35, L.
10. Anita de Jesus, 5, P.
11. Anadulse dos Santos, 7, P.
12. Vitor de Jesus, L.
13. Jo�o de Jesus, L.
14. Mateus Helamuda, 45, L, warga Desa Dato, Kecamatan Liqui�a Kota.
15. Florencio M. Fatima, 48, L, warga Mubara Lisa.
16. Barnabe Mesquita, 17, L, warga Maubara Lisa.
Selain ke-16 orang tersebut, masih terdapat sejumlah orang lainnya yang
tidak diketahui keberadaannya hingga saat ini, tetapi tidak diperoleh
identitasnya.
III. Analisis dan Kesimpulan
Pengumuman pemerintah Indonesia melalui Menteri Luar Negeri tentang
kebijakan barunya dalam penyelesaian masalah Timor Timur merupakan suatu
langkah yang patut didukung. Konsekuensi logis yang seharusnya terjadi dari
pengumuman tersebut adalah terbukanya ruang bagi masyarakat Timor Timur
untuk secara bebas menentukan pilihan politiknya dalam kaitannya dengan masa
depan Timor Timur. Aparat pemerintah dan militer Indonesia di Timor Timur,
berdasarkan pengumuman tersebut, seharusnya bertanggung jawab untuk
menciptakan iklim yang memungkinkan rakyat Timor Timur melakukan afirmasi
maupun penolakan terhadap Otonomi Luas yang ditawarkan pemerintah Indonesia
dalam Jajak Pendapat yang direncanakan terlaksana dalam bulan Agustus 1999.
Kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa suasana kebebasan berbeda pendapat
dalam kaitannya dengan masalah Timor Timur, yang sebenarnya dimungkinkan
secara formal dengan adanya kebijakan baru dari Pemerintah Indonesia, sama
sekali tidak terwujud. Stigma yang telah digunakan oleh para milis untuk
menyerang penduduk sipil adalah bahwa mereka menolak Otonomi Luas dengan
Indonesia, dan mendukung kemerdekaan bagi Timor Timur.
Dalam penyerbuan-penyerbuan yang dilakukan terhadap penduduk sipil, di
desa-desa di wilayah Liqui�a, sebagaimana di tempat-tempat lain, para milisi
selalu didampingi, dilindungi dan didukung oleh satuan-satuan ABRI, baik
dari tentara maupun dari Kepolisian. Pejabat-pejabat ABRI di Timor Timur
selalu mengatakan bahwa ABRI tidak memberi dukungan kepada milisi dalam
bentuk apapun. Tetapi dalam kenyataannya, ABRI selalu berada di belakang
setiap penyerangan yang dilakukan oleh milisi. Dalam penyerbuan ke Desa
Dato, Kabupaten Liqui�a, ketika terjadi pembelaan diri dari masyarakat
setempat, para milisi mundur dan satuan-satuan ABRI yang menggantikan mereka
melakukan penembakan terhadap penduduk sipil. Demikian pula dalam penyerbuan
ke Gereja Liqui�a. Satuan BRIMOB dari POLRI melembarkan granat gas air mata
untuk melumpuhkan para pengungsi, dan ketika mereka berhamburan keluar dari
gedung karena tidak mampu menahan kepedihan akibat gas air mata tersebut,
para milisi menyerang mereka dengan parang dan senjata tajam lainnya.
Seperti juga dengan kejadian-kejadian di tempat lain, sesudah penyerbuan
oleh para milisi, satuan-satuan ABRI mengangkut para korban dan membawanya
di tempat lain. Para saksi mata dalam penyerbuan ke Gereja Liqui�a
mengatakan bahwa jumlah korban jiwa jauh melebihi 5 (lima) orang seperti
dikatakan Pejabat militer Indonesia, tetapi korban-korban tersebut tidak
pernah diketahui keberadannya. Menurut saksi mata, korban-korban tersebut
telah diangkut dengan truk-truk militer untuk dibawa ke tempat yang tidak
diketahui.
Kenyataan-kenyataan ini menunjukkan bahwa aksi-aksi teror, intimidasi dan
pembunuhan ini merupakan bagian dari suatu strategi yang sangat sistemastis
dan melibatkan semua kekuatan pro Indonesia di Timor Timur, baik sipil
maupun militer. Korban materi dan korban jiwa dalam rangkaian penyerangan
tersebut masih tetap diperdebatkan. Tetapi sasaran yang ingin dicapai oleh
semua aksi tersebut adalah untuk menciptakan suasana ketakutan di kalangan
masyarakat, sehingga masyarakat dapat menjatuhkan pilihannya sesuai dengan
yang dikehendaki oleh militer dan kelompok-kelompok pro Indonesia. Stigma
pro kemerdekaan yang diberikan kepada penduduk sipil yang menjadi target
penyerangan para milisi dan ABRI menunjukkan seolah-olah pilihan di luar
Otonomi Luas dengan Indonesia merupakan pilihan terlarang, dalam kaitannya
dengan kebijakan baru pemerintah Indonesia.
Pembenaran yang dilakukan terhadap pembentukan kelompok-kelompok milisi dan
aksi-aksinya adalah bahwa kelompok-kelompok milisi tersebut melakukan upaya
pembelaan diri terhadap serangan kelompok pro kemerdekaan. Tetapi, dari
semua tindak kekerasan berdarah yang dicatat oleh Yayasan HAK, semua
korbannya merupakan rakyat tak bersenjata dan tidak satupun dari tindak
kekerasan tersebut didahului dengan serangan dari pihak penduduk sipil.
Dari fakta-fakta dan analisis tersebut dapat ditarik kesimpulan-kesimpulan
sebagai berikut:
1. Aksi-aksi pembunuhan, teror dan intimidasi yang dilakukan oleh para
milisi dan ABRI selama ini dimaksudkan untuk menutup ruang bagi pelaksanaan
hak-hak politik rakyat Timor Timur, terutama dalam kaitannya dengan masa
depan politik Timor Timur.
2. Semua tindak kekerasan yang dilakukan oleh para milisi dan pendukungnya
merupakan bagian dari suatu strategi yang sangat sistematis, bukan sebagai
tindakan pembelaan diri.
3. Para pejabat militer dan sipil Indonesia di Timor Timur memberi dukungan
penuh kepada para milisi dalam melakukan aksi-aksinya.
IV. Rekomendasi
Berangkat kenyataan di atas Yayasan HAK menyampaikan rekomendasi-rekomendasi
sebagai berikut:
1. ABRI segera ditarik dari Timor Timur.
2. Diciptakan kondisi-kondisi bagi pelucutan senjata pihak Falintil.
3. Kelompok-kelompok Milisi bersenjata Pro Indonesia dilucuti senjatanya.
4. Investigasi oleh sebuah tim independen terhadap semua kasus pelanggaran
HAM, dan melaporkannya hasilnya kepada sekjen PBB dan lembaga-lembaga
internasional.
5. Mengadili para pelaku pelanggaran HAM.
6. PBB segera mengirim pasukan perdamaian untuk mengawasi proses
penyelesaian damai.
Dili, 18 Mei 1999
Anniceto Guterres Lopes, S.H.
Direktur
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html