Precedence: bulk
COPOT SPANDUK TAK BERIZIN, UNTAR NYARIS DIBAKAR
JAKARTA (SiaR, 28/5/99), Rupanya upaya provokasi kelompok Front
Pembela Islam (FPI) untuk memprovokasi mahasiswa berhasil. Upaya pencopotan
spanduk FPI oleh 3 mahasiswa di depan kampus Universitas Tarumanegara
berbuntut dengan hampir dibakarnya kampus oleh massa "laskar" FPI. Upaya
provokasi yang tampaknya sengaja diatur ini terlihat dari cepatnya laskar
FPI datang, yang hanya sekitar 15 menit, dan lambatnya petugas keamanan yang
baru tiba 2 jam sesudah dihubungi.
Peristiwa itu sendiri berawal dari upaya 3 mahasiswa bernama Philipus
Cireus dan Mario (keduanya mahasiswa Universitas Trisakti) serta Iqbal
(mahasiswa Univeritas Tarumanegara) pada Selasa (25/5) dinihari untuk
mencopot spanduk FPI yang sengaja dipasang di jembatan penyeberangan depan
Universitas Trisakti. Spanduk yang berisi ajakan FPI untuk mewaspadai
gerakan Zionis dan Komunis tersebut nyaris berhasil dilepas mahasiswa. Tapi,
rupanya perbuatan itu diketahui Yusuf Subadi (36), Numan bin Ahmad (40) dan
Rodiah bin Suradi (28) yang segera meneriaki mahasiswa yang mencoba mencopot
spanduk tersebut sebagai maling.
Ketiga orang itu adalah anggota FPI itu ternyata memang bertugas
untuk menjaga spanduk tersebut dengan cara menyamar sebagai tukang ojek dan
bermain catur di bawah jembatan itu.
Menurut beberapa saksi mata, Yusuf Cs langsung menelepon lewat ponsel
berkali-kali. "Laskar Petamburan, Laskar Penjernihan dan Laskar Tomang,
tolong meluncur ke sini. Lokasinya di depan Kampus Untar," begitu panggil
Yusuf melalui ponselnya. Agaknya memang sudah ada skenario dan koordinasi
sebelumnya, hingga dalam 15 menit secara bergelombang laskar FPI itu tiba di
depan Kampus Untar. Mereka langsung menyerbu dan mencari cari ketiga
mahasiswa yang dituduh mencuri spanduk, terutama Philip.
Mario membantah bahwa dirinya dan rekannya mau mencuri spanduk FPI. "Tidak
betul jika kami mencuri spanduk FPI. Memang kami mencoba melepasnya, namun
baru satu ikatan yang terlepas. Jadi belum lepas seluruhnya tapi masih
tergantung di situ," ujar pemuda tersebut menanggapi berita yang salah kutip
di beberapa Media.
Menurut seorang warga setempat pada SiaR, "Tidak ada bentrokan antar
mahasiswa dengan santri seperti tertulis di beberapa media. Para penyerang
dari FPI itu membawa bawa golok dan bom molotov. Mana berani mahasiswa,"
ujar bapak yang mengaku aktivis PAN tingkat ranting itu.
Anggota laskar itu justru berteriak. "Ini kampus Kristen nih, tempat
orang Cina. Udah bakar aja," ujar salah seorang diantara anggota laskar FPI
tersebut. Sumber SiaR mengungkapkan dengan keheranan, "Kami menghubungi
aparat kepolisian pk 24.00 saat kejadian. Namun mereka baru tiba pk 02.15
dinihari." Lebih lanjut, menurutnya, "Aneh. Tampaknya petugas sengaja
membiarkan mahasiswa digolok dulu, baru mereka akan melerai saat kejadian
selesai."
Menurut seorang mahasiswa, laskar FPI yang hadir tersebut langsung dipimpin
Ustad Tubagus Sidik, yang bertindak sebagai Panglima Perang FPI wilayah
Jakarta Barat. Bahkan Tubagus diceritakan tiba pk 24.00 sesaat kejadian
dalam keadaan siap tempur.
Dalam kesaksiannya, Eko mahasiswa Untar menceritakan, "Tidak betul
jika ada berita mahasiswa bentrok dengan santri. Mana berani kami? Justru
kami menyarankan penyelesaian secara damai."
Saat kejadian beberapa saksi lain sempat berteriak, "Tolong lah,
Bapak-Bapak tenang. Saya juga seorang Muslim asal Banten, jadi baiknya
sebagai sesama Muslim kita bicarakan secara Islami." Namun beberapa orang
yang tampaknya agen provokator malah maju seraya melingkarkan golok sambil
berkata, "Eh Lu, jangan ngaku-ngaku Islam, Gus Dur (Ketua PB NU -red.) juga
Islam, tapi nggak pernah belain orang Islam, cuma kita yang membela umat
Islam," ujar seorang pemuda bergolok.
Menurut kesaksian seorang mahasiswa yang sempat akan disandera FPI jika
Philip tidak ditemukan, mengatakan, "Mereka ada tiga lapis. Pertama Ustad
dan Habib yang menggunakan sorban putih dan jubah putih menasehati dan
menyalahkan kami karena dituduh menghianati Islam. Lapis ke dua adalah
pemuda preman yang bergolok yang mengancam dan menteror mahasiswa. Yang ke
tiga beberapa orang membawa tas ransel. Mereka mengeluarkan bom molotov,
mengancam bakar kampus kami." Menurutnya, beberapa intel yang dikenali warga
dari Kodim Jakarta Barat terlihat berada di tengah masa namun tidak berusaha
melerai atau mencegah.
Melihat aparat tidak kunjung bertindak, walau Kodim Jakarta Barat berlokasi
di sebelah Kampus Untar maka beberapa anggota warga mengontak anggota Banser
NU (Barisan Serba Guna NU). Saat Banser NU dikomandani Haris dan Yus datang
melakukan negosiasi dan mendamaikan situasi, baru Kapolres Metro Jakarta
Barat Letkol (Pol) Timur Pradopo tiba bersama beberapa anak buahnya dan saat
itu Philip Cs diserahkan mahasiswa ke pihak kepolisian.
Menurut Kepala Kantor Sospol Jakarta Barat Mursali, kelompok Front
Pembela Islam belum memiliki izin untuk memasang spanduk tersebut. Bahkan
pihak Kantor Sospol belum pernah memberikan izin pemasangan spanduk di
sekitar Kampus Tarumanegara pada front tersebut. Lantas bagaimana nasib
Philip dan Iqbal yang sudah didakwa Pasal 363 jo 53 KUHP tentang pencurian
berencana dengan barang bukti spanduk belum berizin itu.
Sejumlah sumber SiaR meyakini adanya upaya menggembosi semua
kelompok yang menentang Habibie. Mahasaiswa adalah salah satu kelompok yang
jadi sasaran utama. Kelompok elit yang ada di belakang upaya penggalangan
dukungan pada Habibie ini sengaja menggunakan semangat dan rasa sentimen
umat Islam melalui isu bahaya Zionis di balik tuntutan reformasi total. FPI
sendiri merupakan kelompok yang acap kali menggunakan bendera Islam untuk
menakuti-nakuti kelompok kritis. Sejumlah anggotanya merupakan anak muda dan
preman dari kawasan Tanah Abang.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html