Precedence: bulk


KARTU SUARA DICOBLOS SEBELUM SAATNYA

        SURABAYA (SiaR, 28/5/99), Di Sumenep Madura ditemukan 1000 kertas
suara yang telah dicoblos. Sedangkan di beberapa daerah lainya banyak kartu
suara yang rusak dan tidak bisa dipakai.

        Kejadian pencoblosan kartu suara di Sumenep itu bermula ketika Panitia
Pemilihan Daerah tingkat II (PPD II) Sumenep, Malik Effendi meminta pada
Sekretaris PPD II mengirim surat pada Bupati Sumenep Soekarno Marsa'id agar
memberikan bantuan tenaga penyortiran surat suara yang akan dikirim ke
sejumlah pulau sekitar Madura.

        Bupati Sumenep kemudian mengundang 760 guru untuk melakukan
penyortiran. Ia meminta para guru mengikuti pertemuan di gedung Korpri
setempat. Namun, setelah sampai di ruang pertemuan, mereka diminta menyortir
surat suara yang ada. Mereka diberi imbalan Rp 800 untuk setiap surat suara
yang disortir. 

        Yang terjadi kemudian, sejumlah besar kertas suara sengaja dicoblos
untuk kepentingan beberapa partai politik, termasuk Golkar. Menurut
informasi, penyortiran kartus usra itu terkesan seenaknya dan tidak dicatat
dan dibukukan. Kartu suara secara gampang berpindah tangan dan dibawa ke
luar lokasi penyortiran. Bahkan diketahui, sejumlah guru menyembunyikan
kertas suara di saku bajunya dan kemudian beredar di tengah-tengah masyarakat. 

        Jumlah kertas suara yang beredar tak keruan ini, menurut anggota PPD
II Sumenep, Subakti, yang berasal dari Partai Islam Demokrat, mencapai lebih
dari seribu suara. 

        Sementara itu sedikitnya 20 ribu kartu suara, yang disiapkan untuk
Pemilu 7 Juni mendatang di Kodya Yogyakarta, ditemukan rusak dan tidak sah.
Sedangkan di Pamekasan dan Sampang lebih dari 25 ribu kartu suara rusak.

        Menurut Wakil Ketua Panwaslu II Yogyakarta Karman Soekarno, di
antara 20 ribu kartu suara yang ditemukan rusak itu, 2.318 lembar ditemukan
di Kecamatan Keraton, 12 ribu lembar di Kecamatan Mergangsan, 5 ribu di
Kecamatan Jetis, dan sisanya di Kecamatan Gondomanan. Karman mengatakan,
kerusakan yang ditemukan bervariasi. Ada yang gambarnya sudah berlubang,
gambar parpol berganti warna atau luntur, atau gambar terpotong. 

        "Yang terbanyak adalah lubang seperti mata ikan. Besarnya lubang,
ada yang seukuran jarum, ada yang agak besar. Lubang seperti mata ikan ada
di gambar parpol berbeda-beda. Bahkan, ada dalam satu kartu ditemukan dua
lubang," ungkapnya.

        Di Pamekasan telah ditemukan 20 ribu kartu suara rusak serius
sehingga tidak mungkin lagi bisa digunakan. Sedangkan di Sampang, PPD
setempat telah menemukan sedikitnya 5 ribu kartu suara mengalami kerusakan
seperti berlubang, warnanya tidak jelas dan sobek di pinggirannya.***


----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke