Precedence: bulk


SPANDUK HUJAT PDI PERJUANGAN BERTEBARAN DI JAKARTA

        JAKARTA (SiaR, 2/6/99), Tak henti-hentinya PDI Perjuangan dipojokkan dan
dihujat. Setelah melalui selebaran gelap, dan pidato jurkam partai-partai
politik tertentu yang mengadu domba PDI Perjuangan dengan ummat Islam
melalui isu suku-agama-ras-antargolongan (SARA), beberapa hari terakhir ini
di pelosok Jakarta terpasang ratusan spanduk bernada SARA yang menghujat dan
mendiskreditkan PDI Perjuangan, yang tak jelas asal usul pembuatnya.

        Akibat terpasangnya spanduk-spanduk yang tak jelas asal-usulnya tersebut,
maka satuan tugas (Satgas) PDI Perjuangan, dengan dibantu para kader dan
simpatisan PDI Perjuangan sepanjang Selasa (1/6) kemarin melakukan
pembersihan di berbagai lokasi di mana terpasang spanduk-spanduk itu.

        Berdasarkan pantauan SiaR yang mengikuti operasi "sweeping" Satgas PDI
Perjuangan, spanduk-spanduk tersebut diketemukan antara lain di perempatan
Rawamangun (Jakarta Timur), di perempatan Taman Makam Pahlawan Jalan Raya
Kalibata (Jakarta Selatan), di dekat Toko Buku Gunung Agung Kwitang (Jakarta
Pusat), di dekat Pasar Burung Jalan Pramuka (Jakarta Timur), di Jalan RE
Martadinata, Ancol (Jakarta Utara), dan beberapa tempat lainnya di kawasan
Jakarta Utara.

        Sepintas lalu isi spanduk yang berwarna dasar merah dengan tulisan hitam
itu, seperti spanduk milik para pendukung PDI Perjuangan, jika tak
diperhatikan benar apa yang tertulis di spanduk tersebut. Salah satu isi
tulisan di spanduk berbunyi "Masya Allah Ternyata PDI Perjuangan-nya
Megawati itu Partainya Orang Kristen. 80 Persen Caleg-nya Non-Muslim".

        Sejumlah kader PDI Perjuangan yang berlatar-belakang keluarga muslim
Nahdlatul Ulama (NU), atau Muhammadiyah tampak emosional ketika mencopoti
spanduk-spanduk tersebut. "Kami juga muslim, tapi tindakan ini tidak Islami.
Kami akan cari sampai ketemu pelakunya," ucap mereka berkali-kali dengan
nada geram.

        Di Jakarta Utara saja, DPC PDI Perjuangan telah menyita sebanyak delapan
spanduk serupa yang kini tersimpan di kantor DPC. Menurut Ketua DPC PDI
Perjuangan Jakarta Utara, Hj Sumiyati Soekarno, jika nanti diperlukan dan
provokator pembuatnya tertangkap, maka spanduk-spanduk itu dapat dijadikan
alat bukti pengusutan pidana.

        Hj Sumiyati Soekarno menegaskan, isi spanduk itu secara esensial dan
substansial tak sepenuhnya benar, dan cenderung mengada-ada. Ia memberi
ilustrasi, dari 152 caleg PDI Perjuangan untuk DPRD DKI Jakarta misalnya,
ternyata caleg yang non-muslim hanya 34 orang, atau sekitar 23 persen saja
dari jumlah keseluruhan.

        "Tapi itu tidak relevan, karena PDI Perjuangan menyaring caleg tidak dari
cara pandang yang sempit dan sektarian. Kami adalah partai yang terbuka,
tanpa membeda-bedakan agama, suku, atau golongannya," ujarnya.

        Ulama NU KH Noor Muh. Iskandar, SQ dalam wawancaranya dengan SCTV, Rabu
(2/6) ini, mengemukakan, pada prinsipnya tak layak dan tak beradab untuk
mempersoalkan latar-belakang agama seorang caleg, karena yang dipertaruhkan
sekarang ini adalah kepentingan bangsa, bukan kepentingan golongannya saja.
Menurutnya, apa gunanya caleg beragama Islam, kalau moralnya bejat.

        "Oleh sebab itu, partai-partai itu jangan azasnya saja yang Islam, tapi
juga akhlaq-nya harus Islam, agar tidak ada parpol yang menghujat parpol
lainnya atas nama agama Islam," ucapnya.

        Sejumlah fungsionaris DPP PDI Perjuangan yang dihubungi SiaR menyatakan,
bahwa mereka telah memperoleh informasi dari para pengurus cabang tentang
diketemukannya spanduk-spanduk yang memojokkan PDI Perjuangan. Salah satu
Ketua DPP PDI Perjuangan KH Hasyim Wahid menduga ada pihak-pihak tertentu
yang secara terorganisir, dan sistematis melakukan tindakan-tindakan yang
tidak fair dan tidak terpuji, yaitu menyebarkan isu SARA, karena melihat
dukungan yang besar oleh rakyat kebanyakan kepada partai berlambang banteng
dalam lingkaran tersebut.

        Menurut sumber SiaR di kalangan ulama, menyebutkan bahwa pihak-pihak yang
diduga mempolitisir agama Islam untuk mendiskreditkan PDI Perjuangan berasal
dari parpol-parpol pendukung status quo, seperti Partai Persatuan
Pembangunan (PPP), Partai Daulat Rakyat (PDR), Partai Bulan Bintang (PBB),
serta ormas-ormas pendukung status quo antara lain Front Pembela Islam
(FPI), Furkon, Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI). Mereka ini
ditengarai memperoleh bantuan dana dari keluarga Cendana, dengan kepentingan
untuk menciptakan konflik horisontal bernada SARA di masyarakat.

        Para tokohnya antara lain Abdul Qadir Djaelani, Hartono Mardjono, Eggy
Sudjana, Fadli Zon, dan lain-lain. Selain, menggunakan parpol dan ormas
sebagai alat politiknya, keluarga Cendana dan pro status quo umumnya, juga
menggunakan media massa sebagai corongnya. Media-media massa itu antara lain
Tabloid "Tekad", Harian "Republika", Tabloid "Siar", Majalah "Garda",
Majalah "Media Dakwah" dan Majalah "Sabili".***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke