Precedence: bulk


Buletin PANTAU Edisi 3 (21 Mei-30 Mei 1999)

TELEVISI PENDIDIKAN INDONESIA MEMBELA POLITIK SUAP GOLKAR

Sekali lagi, media penyiaran Indonesia telah menampilkan bias yang
menguntungkan Golkar dengan cara menggambarkan partai ini secara positif.
Dalam pemberitaan pada putaran awal kampanye setiap stasiun menempatkan
Golkar sebagai partai yang menjadi korban kebrutalan massa partai lain dan
sebagai partai yang bijaksana yang akan menaati hukum. Kini, media tampaknya
membela Golkar dari desas-desus, yang telah merebak di seluruh pelosok
negeri, bahwa Golkar mempraktekkan politik suap.

Tadjus Sobirin, salah seorang fungsionaris puncak Golkar, menanggapinya
lewat liputan berita di Televisi Pendidikan Indonesia (TPI). Ia tidak
membantah bahwa partainya memang membagi-bagi uang pada rakyat. Tapi,
menurutnya, hal itu dimaksudkan sebagai uang sedekah untuk simpatisan
Golkar. "Jadi, bukan money politics," ujar Sobirin. Ucapannya itu didukung
oleh petinggi Lembaga Pertahanan Nasional (Lemhannas) Jenderal Agum Gumelar
lewat tayangan televisi yang sama. Gumelar menyatakan bahwa bagi-bagi uang
pada rakyat agar mereka mau ikut pawai partai politik serta mau mendatangi
lokasi kampanye sama sekali bukan termasuk suap politik.

Pernyataan-pernyataan Sobirin dan Gumelar tersebut ditayangkan tanpa
disertai komentar dan tanggapan dari narasumber atau pihak lain. Hal ini
menjadikan Golkar sangat teruntungkan dan tuduhan mengenai adanya suap
politik akhirnya menjadi kabur.

Stasiun televisi lain kurang begitu memberitakan kasus politik uang itu,
padahal isu ini sangat penting artinya bagi pemilu dan pula sudah menjadi
perbincangan umum. Saat Wardah Hafidz, pimpinan Konsorsium Kemiskinan Kota
(Urban Poor Consortium), menuding bahwa Golkar dan Partai Daulat Rakyat
(PDR) melakukan suap politik, sebagian besar stasiun televisi, kecuali TPI,
hanya menampilkan visualisasi Wardah tanpa memperdengarkan pernyataannya
sedikit pun. Tak ada liputan yang membeberkan bukti-bukti yang dimiliki
Wardah tentang adanya suap politik itu walaupun sebenarnya Wardah telah
menyerahkan bukti-bukti tersebut kepada Panwaslu. Yang justru diberi peluang
untuk dikutip pendapatnya terhadap pernyataan Wardah adalah pihak PDR yang
membantah keterlibatan mereka dalam suap politik. 

Dalam satu liputan SCTV, bentrok antara massa pendukung Golkar dan PDI-P
lagi-lagi diberitakan dengan cara yang menguntungkan Golkar. Gambar yang
ditampilkan di layar memvisualisasikan para pendukung PDI-P yang sedang
melempari batu ke arah massa dan kantor Golkar. Sebaliknya, kekerasan yang
sama yang dilakukan pihak Golkar sama sekali tidak dipertunjukkan.

Penggambaran Golkar secara positif juga tampak dari liputan televisi yang
menarasikan program-program Golkar dalam kampanyenya. Program Golkar
seringkali disebutkan sementara parpol-parpol lain hanya mendapat porsi
liputan yang sangat terbatas. Itu pun biasanya hanya menggambarkan kegiatan
pawainya, tentang batalnya partai berkampanye karena sedikitnya jumlah massa
yang hadir, atau tentang partai yang berkampanye di tempat-tempat di mana
mereka punya banyak pendukung. Namun tidak ada peliputan mengenai isu-isu
yang dilontarkan oleh parpol oposisi dalam kampanye mereka.

RRI? Sebagaimana biasa, berita-berita radio yang didanai oleh uang rakyat
ini masih didominasi oleh pernyataan pejabat pemerintah.

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke