Precedence: bulk Buletin PANTAU Edisi 3 (21 Mei-30 Mei 1999) PDI PERJUANGAN DIPERLAKUKAN PALING TIDAK ADIL Banyak stasiun televisi tampaknya tidak menyadari betapa citra visual yang mereka tampilkan di layar sesungguhnya merupakan suatu bagian penting dari pesan yang mereka sampaikan. Mereka juga tampaknya tidak memahami bahwa penggunaan citra visual itu sendiri juga harus sama-sama berimbang dan jurdil (fair) sebagaimana pemberitaan verbal mereka. Bahkan sesungguhnya penggunaan citra visual dapat menimbulkan pengaruh yang sangat besar terhadap penafsiran pemirsa atas suatu narasi berita dan bagaimana mereka menilai sumber informasi. Selain itu, konteks keseluruhan di mana citra visual itu ditampilkan juga dapat mempengaruhi pemirsanya. Nampaknya stasiun TV tidak menyadari atau justru mengabaikan fakta bahwa apa yang muncul di layar dapat menciptakan persepsi-persepsi yang berbeda-beda di benak pemirsa. Berikut ini suatu contoh kongret dari peliputan pemilu minggu ini. Gambar-gambar PDI-P yang sedang melakukan arak-arakan, pawai, dan konvoi di jalanan digunakan dengan cara yang berbeda-beda oleh masing-masing stasiun televisi dalam laporan berita mereka. Beberapa stasiun TV memberitakan adanya pelanggaran aturan lalu lintas selama kampanye, misalnya menerabas lampu lalulintas, bermotor tanpa helm, dan naik di atas atap bis, dan betapa pelanggaran itu tidak ditindak. Meskipun dalam liputan tersebut tidak disebutkan nama-nama partai yang telah melanggar peraturan itu, visualisasi yang muncul di layar televisi berfokus pada kegiatan arak-arakan PDI Perjuangan yang memadati jalanan. Hal ini jelas-jelas menunjukkan bahwa PDI-P lah partai yang terutama bertanggungjawab atas pelanggaran tersebut. Namun, ada suatu item berita lain yang memuat pernyataan Menhankam/Panglima TNI Jenderal Wiranto yang memuji kampanye parpol yang berlangsung tertib karena masing-masing parpol menunjukkan tanggung jawabnya. Dalam item ini visualisasi yang sama mengenai kampanye arak-arakan PDI-P pula yang ditayangkan, mengindikasikan bahwa PDI-P adalah partai yang dapat menjaga keamanan dan ketertiban selama kampanyenya. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun stasiun TV tidak bertujuan untuk melakukan bias, baik yang merugikan maupun yang menguntungkan PDI-P, para stasiun penyiaran perlu lebih memperhatikan cara-cara penggunaan citra visual. Meski demikian, jika ditinjau secara seksama, analisa kami mengindikasikan ada lebih banyak pemberitaan yang menampilkan citra buruk PDI-P ketimbang pemberitaan yang menguntungkan. Oleh karena itu, secara keseluruhan PDI-P dirugikan oleh pelbagai liputan mengenai kampanye. Secara khusus, stasiun TV memang lebih banyak berfokus pada dampak buruk kampanye arak-arakan PDI-P itu dibandingkan pada sisi positif pawai parpol. Misalnya saja, saat masyarakat yang menyaksikan pawai, misalnya para pedagang, dimintai komentarnya, hanya mereka yang mengeluhkan efek negatif pawai jalanan terhadap bisnis sajalah yang dilaporkan. Meskipun berita-berita tersebut mencakup pawai berbagai parpol, gambar-gambar yang ditayangkan lebih banyak mengenai PDI-P dibandingkan parpol-parpol lain. Pemberitaan semacam ini cenderung menggambarkan PDI-P secara negatif. Aspek lain peliputan negatif terhadap PDI-P adalah dalam pemberitaan bentrok fisik antara massa pendukung Golkar dan PDI-P di Medan. Visualisasi yang kerap ditayangkan adalah yang menggambarkan massa PDI-P melempari kantor dan massa Golkar. Padahal kenyataannya, massa Golkar juga melempari batu ke massa PDI-P. Penayangan gambar-gambar tertentu secara selektif ini memberi kesan pada publik bahwa PDI-P menggunakan cara-cara yang tidak sah untuk memenangkan pemilu padahal sebetulnya tidak jelas siapa yang bertanggungjawab memulai aksi kekerasan tersebut. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
