Precedence: bulk Buletin PANTAU Edisi 3 (21 Mei-30 Mei 1999) BIAS DALAM PELIPUTAN BERITA Berdasarkan hasil pemantauan terhadap enam stasiun televisi Indonesia dan satu radio pemerintah sejak awal masa kampanye resmi dilakukan, 19 Mei 1999, dapat ditemukan adanya keberpihakan yang dilakukan media elektronika. Keberpihakan ini dapat dilihat dari adanya kandungan bias, baik secara kuantitas atau kualitas, dalam peliputan tayangan berita dan talkshow mereka. Namun, secara jujur, analisa terhadap distribusi pemberitaan di antara para parpol dan kualitas dari pemberitaan tersebut mengindikasikan bahwa stasiun-stasiun TV swasta berusaha untuk menyajikan pemberitaan yang berimbang. Hal ini terlihat tak hanya dari analisa kami atas tayangan berita-berita yang berkaitan dengan kampanye dan pemilu namun juga atas acara-acara talk show dan jurnal yang berkaitan dengan kampanye pemilu. Meski tidak terdeteksi adanya bias yang spesifik dalam peliputan berita, data yang dikumpulkan oleh para pemantau kami menunjukkan bahwa hanya partai-partai besar seperti PDI-P, PKB, GOLKAR, PAN dan PPP sajalah yang sering muncul dalam peliputan. Sedangkan partai-partai gurem hanya muncul satu dua kali saja di TV, itu pun hampir tidak ada pemberitaan tentang program partai-partai tersebut. Bagaimana dengan keberpihakan stasiun radio dan televisi milik negara, seperti RRI dan TVRI? Data yang ada mengindikasikan adanya keberpihakan yang dilakukan kedua stasiun tersebut. Sebagai stasiun penyiaran yang didanai oleh rakyat melalui pemerintah selayaknya kedua stasiun ini mendahulukan kepentingan rakyat. Misalnya dengan memberikan informasi yang memadai dan berimbang kepada masyarakat, dan bukan sebaliknya malah mendahulukan kepentingan dan berpihak pada pemerintah belaka seperti yang selalu terjadi selama ini. Keberpihakan kedua stasiun ini kepada pemerintah terlihat jelas dari analisa atas pengalokasian tayangan beritanya yang sekitar 60% hanya menyangkut pemerintah. Pemilihan topik tertentu untuk kembali diulang-ulang siaran beritanya -- biasanya yang berkaitan dengan kegiatan pemerintah -- justru mempertegas keberpihakan itu. Praktek yang tidak lazim ini makin menjadi sorotan dengan adanya fakta bahwa di sisi lain sesungguhnya masih sangat banyak berita penting lainnya yang perlu disiarkan demi kepentingan masyarakat luas, terutama karena masih banyak masyarakat di pedesaan atau di daerah terpencil yang saluran televisinya hanya mampu menangkap siaran TVRI. Selain masalah keberpihakan ini, permasalahan lain yang dihadapi oleh media elektronik di Indonesia adalah masalah jangkauan daerah peliputan. Hampir semua media lebih menonjolkan Jakarta sebagai pusat peristiwa atau kejadian tentang pemilu, sementara wilayah-wilayah lain nyaris tidak terliput. Hanya sedikit stasiun televisi yang mencoba untuk tidak terlalu melihat ke pusat -- seperti yang dilakukan RCTI yang membuka studio mini di Denpasar, Bali, agar pelbagai peristiwa yang terjadi di Bali dan sekitarnya dapat secara teratur diliput dan diberitakan. Pemberitaan yang lantas ditayangkan ke seluruh Indonesia ini telah menyajikan suatu perspektif alternatif mengenai pemilu. SCTV juga melakukan hal yang sama, yakni dengan meyajikan laporan langsung tentang kampanye dari tiga kota besar, yakni Yogya, Surabaya, dan Medan. ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
