Precedence: bulk


AKHIRNYA  BURUH MAYORA DAN MAHASISWA DISAPU MILITER

        JAKARTA (SiaR, 10/6/99), Setelah 7 hari menduduki kantor pusat PT Mayora
Indah di Jl Tomang Raya, Jakbar, buruh bersama mahasiswa harus mengakhiri
aksinya setelah disapu bersih militer.

        Dalam upaya mendobrak barikade aparat PHH Kodam Jaya, Upay seorang
mahasiswi dari Famred berteriak untuk segera membuka gerbang pabrik. "Hoi,
didalam ada orang atau tidak sih? Nggak bisa nyahut, ya?" tanya mahasiswi
berjilbab itu. 

        Selanjutnya seorang mahasiswa mengatakan, "Jika TNI menjaga karena
diupah oleh PT Mayora, maka kita bayar mereka sekarang! Kumpulkan recehan
kawan-kawan, lemparkan ke dalam pagar untuk bapak penjaga," perintah mahasiswa
tersebut. 

        Sesaat kemudian puluhan uang logam bergemerincing dilemparkan mahasiswa
kearah pasukan PHH yang menjaga pintu gerbang. Ketegangan memuncak dan nyaris
bentrok antara mahasiswa dan petugas. Forkot dan Famred yang acapkali disebut
doyan bentrok dengan petugas tersebut  akhirnya menahan massa mahasiswa yang
sudah emosi tersebut. 
        
        Rupanya langkah "penyelesaian" ala militer oleh pasukan gabungan Rabu
(9/6) siang itu dipilih aparat untuk mengakhiri aksi demo ratusan orang yang
memboikot kantor pusat PT Mayora Indah (MI) selama 7 hari. Sebelumnya buruh PT
Mayora selama 4  hari mengadakan demo di pabrik dan 2 hari di Gedung Depnaker
Pusat. Demo para buruh itu mendapat dukungan ratusan mahasiswa yang tergabung
dalam  Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi (FAMRED) dan Forum
Kota (FORKOT). 

        Sejak Rabu (9/6) siang buruh di dalam gedung melakukan orasi sementara
gabungan sekitar 200 mahasiswa dari FAMRED dan  FORKOT yang melebur dalam
Solidaritas Mahasiswa Untuk Buruh Mayora (SERMA). Para mahasiswa juga melakukan
aksi di luar pagar yang  dijaga ketat oleh  ratusan pasukan PHH Kodam Jaya. 

        Penjagaan tersebut mengakibatkan mahasiswa tak dapat bergabung dengan
buruh karena dihalangi ratusan aparat. Seruan yel-yel "rakyat bersatu tak bisa
dikalahkan" diserukan secara bersahut-sahutan oleh para buruh dan mahasiswa. 
        
        Dalam pernyataan SERMA dibacakan Reza dari Famred, para buruh menuntut
agar pihak manajemen segera mempekerjakan kembali buruh Mayora, pembatalan PHK,
menaikkan upah buruh sesuai tuntutan dan menghentikan intervensi militer dalam
masalah perburuhan. Dalam orasinya, Duhan dari Forkot menyerukan agar PT Mayora
yang telah bertahun-tahun menghisap keringat buruh dan tidak menggaji secara
layak segera mengakhiri perlakukan yang kurang ajar itu. "Kita tidak bisa
membiarkan itu terus terjadi," ujarnya. 

        "Siapa pun penindas rakyat harus dilawan," seru Duhan. Sebuah spanduk
besar yang dibawa para mahasiswa bertuliskan "Diam Ditindas Atau Bangkit Melawan
Karena Mundur Adalah Pengkhianatan".***. 

        Sementara orasi berlanjut di lokasi terlihat Elly Salomo dari Forkot
dan M.Syafiq dari Famred tampak santai menanggapi soal keseriusan mahasiswa
untuk menggarap sektor rakyat miskin dan buruh. "Tampaknya grade aksi
mahasiswa akan meningkat melibatkan elemen rakyat dan menjadi kekuatan
gerakan rakyat," ujar M. Syafiq.  Apakah ini tanda bahwa mahasiswa mulai
masuk pada tataran gerakan revolusioner seperti seruan aksi mereka "
Revolusi - revolusi sampai mati"? Menurut Nurdin , seorang buruh yang
menjadi Jendral Lapangan aksi tersebut "Kami para buruh bangga karena
mahasiswa sudah mau bergabung berjuang bersama buruh dalam satu front,"ujar
buruh yang telah 5 tahun kerja di Mayora tersebut. 

        Namun sekitar pk 14.00 sekitar 15 truk aparat keamanan dari kesatuan
Brimob dan PHH Kodam Jaya mengepung dan memenuhi jalur searah didepan Kantor
pusat PT MI. Yel-yel "Satu Komando Satu Perlawanan - Satu Komando Satu
Perubahan" diserukan berulang ulang oleh mahasiswa. Melihat jumlah aparat
yang turun sekitar 4 kali lebih, banyak mahasiswa panik. Spanduk mereka
gulung dan dilemparkan ke barisan buruh dalam gedung. Situasi chaos tak
terhindarkan , seruan aparat "Sikat�.! Angkut mereka!" akhirnya diiringi
pembersihan mahasiswa. Kejar kejaran bahkan perkelahian antara beberapa
mahasiswa dan aparat terjadi namun tidak sampai 1� jam aparat akhirnya mampu
membersihkan sekitar 1450 orang demonstran yang terdiri atas 1.376 buruh dan
52 orang mahasiswa. 

        Sejumlah  mahasiswa yang berhasil meloloskan diri menjauh dari
lokasi sembari mengevakuasi Nurdin sang Jendral Lapangan aksi buruh.
Beberapa buruh berhasil menyelamatkan diri.

        Saat 12 truk pengangkut melewati massa, teriakan teriakan "Rakyat
bersatu tak bisa dikalahkan!" nyaring diserukan mahasiswa dan buruh
mengantar mereka ke Mapolda Jaya. Konon menurut sumber SiaR, isu akan
terjadi sapu bersih buruh dan mahasiswa sudah terdengar sejak 2 hari lalu.
Menurut sumber SiaR, keterlibatan aparat diduga karena sebagian kecil saham
PT Mayora Indah memang  dimiliki oleh TNI AD. Tampaknya dwi fungsi memang
berbuah kesejahteraaan di kalangan tentara. Tapi bagaimana nasib buruh ,
Jendral? ***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke