Precedence: bulk


MILITER INDONESIA MULAI MENDATA ORANG TIMTIM

        CIREBON (MateBEAN, 12/6/99), Meski organisasi yang ditunjuk PBB untuk
mendaftar dan mengawasi jajak pendapat di Indonesia antara lain di Denpasar, 
Surabaya, Yogya, Jakarta, Bandung dan Ujung Pandang belum memulai pendaftaran
terhadap orang-orang Timor Timur, pihak militer Indonesia sudah mulai
mendatangi tempat tinggal para mahasiswa untuk melakukan pendataan.

        Pada Kamis (10/6), para mahasiswa Timor Timur di Cirebon kedatangan dua
perwira dari Korem setempat untuk melakukan pendataan. Karena kedatangan
yang mendadak, para mahasiswa Timor Timur merasa terkejut, karena tidak ada
pemberitahuan lebih dahulu. Mereka kini merasa terganggu dengan langkah-langkah
yang diambil pihak militer Indonesia tersebut. Sebagian dari mereka meminta
bantuan teman-temannya di daerah lain seperti Bandung untuk tetap memantau
situasi mereka.

        Hal yang sama juga terjadi dengan para mahasiswa di Bandung. Pada Rabu
(9/6) malam, sekitar pukul 22.00 wib, ketua IMPETTU Bandung Laurente
Soares menerima telepon dari seorang staf Deplu RI. Melalui telepon pihak
Deplu ingin mengadakan pertemuan dengan Ketua IMPETTU Bandung, dan anehnya
pertemuan yang dimaksud harus diadakan malam itu juga di sebuah tempat yang
telah ditentukan pihak penelepon. Dengan argumen bahwa  semua hal yang resmi
seharusnya dilakukan siang hari, bukan malam hari, Ketua Impettu Bandung
mengusulkan hari lain untuk bertemu, namun dengan syarat bertemu dengan
semua mahasiswa Timor Timur. Berdasarkan kesepakatan itu, akhirnya pertemuan
menurut rencana akan diadakan pada Minggu (13/6) sore di Bandung.

        Sementara itu, di Tanjung Priok, Jakarta puluhan buruh Timor Timur 
telah di-instruksikan untuk segera berkumpul di Ragunan agar menerima penjelasan
tentang otonomi. Selain di Tanjung Priok juga beberapa buruh yang bekerja di
Bursa Efek Jakarta di Jl Soedirman, Jakarta juga diminta untuk hadir di tempat
pelatihan Atlet di Ragunan. Menurut sumber MateBEAN yang dekat dengan para buruh
itu, perintah untuk datang ke Ragunan datang dari dua perwira dari BIA yaitu
Mayjen Zacky Anwar Makarim dan Kolonel Purwanto.

        Belum jelasnya nama organisasi yang ditunjuk PBB untuk melakukan
pendaftaran dan pengawasan jajak pendapat di tempat pemungutan yang dibuka
di Indonesia, maka para mahasiswa dan kaum buruh Timor Timur diliputi
kebinggungan apakah mereka harus pulang atau tinggal. Persoalannya adalah
bahwa tidak setiap saat kapal berangkat ke Timor Timur.

        Tampaknya, milisi-milisi yang dibentuk di Timor Timur semakin 
kehilangan kepercayaan dari patron-patronnya sendiri.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke