Precedence: bulk


I.N. Emirov:


            Sergei Lazo - Tokoh Militer Legendaris
                (penerjemah: Dini S. Setyowati)
                               
                              IV
                               
PADA  hari-hari pertama Revolusi itu Pemerintah  Sementara  di
St.  Petersburg,  di  bawah  tekanan  massa  Rakyat,  terpaksa
mengeluarkan undang-undang pembebasan bagi semua  tapol,  yang
ditahan  selama  di  bawah  rezim Tsar.  Pintu-pintu  sel  dan
gerbang-gerbang penjara terbuka, rantai-rantai besi yang berat
lepas  berjatuhan  dari kaki para buangan,  pagar-pagar  kawat
berduri lenyap dari pemandangan di Siberia. Kaum bolsyewik dan
revolusioner  menghirup udara kebebasan. Mereka  kembali  lagi
aktif terus bekerja di tengah masyarakat.
      Sudah  sejak  dulu kala Siberia terkenal sebagai  daerah
pembuangan dan penyiksaan tahanan politik. Di sepanjang jalan-
jalannya  yang  sepi dan berdebu, di segala musim  tak  henti-
hentinya terdengar gemerincing rantai-rantai besi yang  berat,
dan  suara  lagu  sedih  para buangan yang  berbondong-bondong
didera   ke   tempat-tempat  pengasingan.   Orang-orang   yang
dipandang   sangat  membahayakan  bagi  kekuasaan  Tsar   yang
absolut, dibuang oleh para hamba Tsar itu ke daerah ini.
      Sekarang benteng kekuasaan tirani tunggal di Rusia  yang
berabad-abad  itu telah ambruk. Dari segala penjuru  taiga  di
Siberia,  para tahanan keluar dari kamp-kamp pengasingan  yang
terkenal seperti Nerchinsk, Turuchansk, dan Wilyuisk. Semuanya
itu  nama-nama  kamp  yang membuat bulu roma  berdiri,  karena
terkenal paling penuh dengan kekejaman dan penyiksaan.
      Para  tahanan politik pulang kembali ke kampung halaman,
di  tengah-tengah  keluarga masing-masing,  dan  kembali  pada
tugas  pekerjaannya di tengah-tengah masyarakat.  Tapi  karena
tidak adanya sarana angkutan, bagi mereka yang jasmaniah sudah
sangat  lemah dan bahkan banyak yang menderita tbc, perjalanan
pulang  dari kamp ini merupakan siksaan terakhir dalam  menuju
kebebasan. Perjalanan mereka melewati perbatasan antara daerah
Siberia dan Rusia, yaitu kota Krasnoyarsk.
      Juga  pada  hari  itu kembali dari kamp-kamp  pembuangan
tapol-tapol   aktivis  Bolsyewik  yang  berpengalaman.   Salah
seorang  dari mereka ialah Valerian Knibisyev. Revolusi  telah
menemukan mereka di salah satu desa pedalaman di daerah taiga,
dua   ratus   kilometer  dari  Krasnoyarsk,  sedang   berjalan
menyusuri  Sungai  Yenisei.  Di situ  mereka  mendengar  kabar
tentang pembebasan. Namun penguasa setempat tidak memberi izin
mereka  berjalan kaki pulang sendiri-sendiri, melainkan  harus
tetap dalam pengawalan ketat selama dalam perjalanan itu.
      Tiba  di  kota  Kazachinsk,  kira-kira  100  km  sebelum
Krasnoyarsk,  rombongan para bekas tapol  ini  disambut  salah
seorang  anggota  Komite Revolusioner Kota Kazachinsk,  Georgi
Muchnik.   Mereka  mengajukan  protes  agar  dibebaskan   dari
pengawalan  ketat,  tetapi  komandan  pasukan  kawal   menolak
tuntutan  itu.  Alasannya, sebagai perwira pengawal  ia  hanya
akan  tunduk  jika  ada  surat perintah  resmi  dari  Komandan
Resimen Kawal.
      "Di  seluruh Yenisei sudah berdiri pemerintahan Soviet."
Jawab Muchnik. "Sedangkan komandan yang kalian taati itu sudah
meringkuk di penjara!" Tegasnya.
      Tapi perwira pengawal yang terlalu taat pada atasan  itu
tetap saja bersikeras menolak tuntutan para tapol.
     Tiba-tiba sebuah ide terlintas di pikiran Muchnik.
      "Kalau perintah pembebasan itu datang dari Wakil  Soviet
Krasnoyarsk ..., bisa?" Katanya.
     "Itu boleh!" Perwira Pengawal mengangguk tanpa ragu.
      Kemudian  mereka  berdua pergi ke kantor  telegrap,  dan
mencari  hubungan langsung dengan pimpinan Soviet di  Yenisei.
Kebetulan yang menerima Lazo, yang ketika itu sedang berurusan
dengan  pimpinan Soviet Krasnoyarsk. Setelah mendengar laporan
mereka  berdua, Lazo segera memerintahkan agar  semua  tahanan
dibebaskan  dari pengawalan. Dan dengan beberapa  kereta  kuda
sewaan mereka lalu berangkat menuju ke Krasnoyarsk.

                              ***

PADA  tanggal  10  Maret di Krasnoyarsk  diselenggarakan  hari
peringatan Revolusi Februari. Memperingati jatuhnya  kekuasaan
tirani Tsar Nikolai II.
      Hari  itu  cuaca  cerah. Angin seakan-akan  mati.  Salju
lembut  perlahan-lahan  turun, jatuh di  atas  topi-topi  anak
sekolah,  di bulu mata gadis-gadis, dan di sepanjang  trotoar.
Semuanya  menjadi  putih dan tenang, berlawanan  dengan  warna
merah bendera-bendera dan spanduk-spanduk, yang dibawa barisan
pawai kaum buruh, prajurit dan mahasiswa.
      Kaum  Bolsyewik  datang menghadiri  rapat  di  alun-alun
tengah kota dengan membawa spanduk-spanduk besar: "Proletariat
seluruh dunia, bersatulah!" "Hidup Sosialisme!"
      Wakil-wakil partai burjuis, kaum Mensyewik,  para  kadet
dan  kaum  kanan  sosial demokrat berusaha  menyabot  jalannya
perayaan.  Mereka dengan segala cara berusaha meyakinkan  kaum
buruh,  prajurit  dan mahasiswa agar tidak  datang  menghadiri
perayaan.   Ide  sosialisme  adalah  ide  yang   utopis,   dan
perjuangan  ke  arah  itu  hanya akan menimbulkan  pertumpahan
darah. Demikian propaganda mereka itu.
      Rapat  umum dibuka oleh Ketua Soviet Krasnoyarsk,  Yakov
Dubrowinski.  Atas nama seluruh Soviet ia mengucapkan  selamat
untuk  kemenangan kaum buruh dan prajurit, dalam menggulingkan
kekuasaan  tirani  Tsar  yang absolut.  Para  pembicara  silih
berganti mengucapkan pidato masing-masing. Mereka datang  dari
seluruh  penjuru  Siberia, terdiri dari wakil-wakil  bermacam-
macam  partai, wakil masyarakat awam, buruh, prajurit, pelajar
dan  mahasiswa, ibu rumah tangga, dan juga pegawai. Banyak  di
antara mereka yang ingin berbicara. Juga orang-orang Mensyewik
dari  kaum  kanan sosial demokrat. Mereka berusaha  memasukkan
ide-ide mereka dengan mendirikan panggung-panggung sendiri  di
seberang jalan, dan menyuarakan pidato mereka melalui pengeras
suara.
      Tidak  terlalu  jauh  dari panggung  utama  itu  berdiri
seorang   perwira  muda.  Ia  sibuk  mencatat-catat  di   atas
bloknotnya  yang  berwana hitam. Topi kozak dipakainya  dalam-
dalam,  sampai menutupi dahinya. Dia inilah Sergei Lazo.  Pada
bloknot itu dicatatnya antara lain:
      "Y.Dubrowinski:  Kami  atas  nama  Dewan  Soviet  Daerah
Krasnoyarsk  mengucapkan  selamat  untuk  kemenangan  Revolusi
Februari   yang  maha  agung,  yang  akan  membawa  perubahan-
perubahan bagi seluruh rakyat!
      "Suara  sedih dan prihatin terdengar dari  makam  kawan-
kawan  kita yang telah gugur ... Biarlah suara kita yang penuh
kemenangan ini sampai kepada mereka itu ...!
      "Pada  saat  itu  semua  bendera menunduk,  orkes  musik
memainkan lagu sendu, dan orang-orang membuka topi. Banyak  di
antara mereka yang menangis."
      Pidato seorang bekas buangan politik juga tak luput dari
catatan Lazo:
      "Atas nama semua eks-tapol saya mengucapkan selamat pada
hari  raya  yang  indah sekarang ini. Kami yang  kemarin  hari
masih terbelenggu rantai, dan dikurung dalam sel penjara  yang
lembab,  hari ini bisa ikut berbahagia bersama-sama  di  sini,
menikmati lautan bendera merah dan wajah-wajah yang gembira.
      "Rusia  telah menjadi negara yang merdeka. Tidak mungkin
akan  ada  tirani  apa  pun,  yang akan  bisa  memadamkan  api
kemerdekaan kita ..."
      Juga  dicatatnya pidato seorang buruh percetakan, antara
lain:
      "Sebelum Revolusi, Rusia merupakan sebuah negeri di mana
kata dan pikiran yang merdeka dirantai dan dibui. Sekarang  di
atas  tanah  yang telah bersiram darah, pohon  kebebasan  akan
tumbuh ..."

      Tepuk tangan riuh ketika seorang buruh kereta api  dalam
pidatonya   mengatakan:  "Kaum  buruh   dengan   tegas   sudah
menyatakan,  bahwa  kemenangan terakhir belum  tercapai.  Kita
harus   membawa  kaum  proletar  menuju  ke  arah  sosialisme.
Proletar  Rusia  akan  memperjuangkan kemenangan  baru.  Hidup
pemimpin sosial demokrat kita ...!"
     Tiba-tiba terdengar suara pengacara berseru:
      "Kami  persilakan  kawan  bolsyewik  Valerian  Knibisyev
tampil!"
      Seorang  bersosok  tinggi, berbahu bidang  dan  berjaket
pendek naik ke atas panggung. Dari balik topi bulu khas  Rusia
yang  dipakainya,  tampak keluar menjurai  segulung  rambutnya
yang  ikal  hitam. Wajahnya yang tampan memancarkan keberanian
dan keteguhan hati. Dengan suaranya yang jelas dan lantang, ia
melemparkan  pikiran-pikirannya yang  sama  sekali  segar  dan
baru.
       "Tuntutan-tuntutan  kita  sederhana   saja."   Katanya.
"Hentikan  perang  sekutu,  sahkan  delapan  jam  hari  kerja,
kembalikan tanah garapan pada kaum tani!"
     Gaya bicaranya begitu sederhana. Tapi langsung dan murni,
sehingga  publik  yang  mengerumuni  menjadi  diam  sepi,  dan
semakin   mendesak   ke   panggung.  Suara-suara   orang-orang
mensyewik  sudah tidak terdengar lagi. Juga Lazo yang  berdiri
tak  jauh dari panggung. Ia terpaku seperti tersihir rasa haus
untuk menangkap setiap butir kata dan ucapan buruh kereta  api
itu.   Tiba-tiba   ia  teringat  pada  kejadian   kemarin   di
Kazachinsk. Orang inilah yang baru kemarin dibebaskannya  dari
pengawalan ketat pasukan Tsar itu ...
      Kembali  dari  rapat umum perasaan Lazo menjadi  gelisah
gundah  gulana.  Satu  hal yang baginya  menjadi  sama  sekali
terang,   yaitu:  Banyak  hal  yang  dia  sesungguhnya   belum
mengerti!

(Bersambung)

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke