Precedence: bulk


PEMILU DAN PERJUANGAN KELAS

Oleh: Alam Tulus

        Umumnya orang-orang yang anti-Marxisme/Komunisme mengatakan, "Di Indonesia
tak ada pertentangan kelas dan dengan sendirinya tidak ada perjuangan kelas.
Hanya saja mereka tidak bisa menyangkal bahwa di Indonesia ada kaum yang
tertindas dan yang menindas. Keadilan belum tegak di Indonesia. Kazaliman
masih berkeliaran.

        Bertentangan dengan pendapat orang-orang yang anti-Marxisme/Komunisme
tersebut, Ruslan Abdulgani menilai bahwa pertarungan untuk merebut
kemenangan yang telah berlangsung pada masa Pemilu 7 Juni 1999 antara kaum
yang tertindas dan yang menindas. ("Bangkitnya Yang Tertindas, Putusnya
Belenggu Penindasan, Rakyat Merdeka, 11/6). Ruslan mengakiri tulisannya
dengan mengatakan, "Kita percaya bahwa salah satu fungsi historis Pemilu
sekarang ialah rontoknya belenggu penindasan dan menguatannya barisan
reformasi. Perjuangan reformasi belum selesai tapi akan menguat.

        Benar kah dengan Pemilu 7 Juni belenggu penindasan yang terjadi selama ini
telah rontok? Benar kah Pemilu itu merupakan pertarungan antara kelas
tertindas melawan penindasnya?

PERTARUNGAN SEBANGSA

        Ruslan Abdulgani memulai tulisannya dengan kata-kata, "Saat ini dunia
menyaksikan suatu pergolakan hebat di negara dan tanah air kita. Pergolakan
itu berkisar sekitar pertarungan antara kekuatan reformasi dan dulu berada
dalam posisi tertindas; kontra kekuatan otoriter-bertangan besi, yang berada
dalam posisi menindas. Sejak 1998 kekuatan yang tertindas itu berhasil
melengserkan kekuatan penindas. Tapi kekuatan terakhir ini (peniondas -pen.)
masih memiliki kekuatan inti yang mempertahankan statusquo.

        Pemilu Juni lalu mengungkapkan kenyataan bahwa kekuatan yang dulunya
tertindas kian kuat, sedangkan kekuatan penindas tetap ngotot dalam
mempertahankan statusquo. Karena itu kita sedang menghadapi suatu fase dalam
perjuangan menuju ke arah demokratisasi yang lebih sempurna, yang jelas
didukung oleh seluruh lapisan masyarakat yang mendambakan masyarakat adil
dan makmur, sesuai cita-cita Pancasila dan yang dilawan terus oleh statusquo.

        Meski Ruslan tak menyebutkan, yang jelas, baik kekuatan tertindas maupun
kekuatan penindas, sama-sama bangsa Indonesia. Jadi, Indonesianya satu, tapi
sekaligus tidak satu. Kepentingan keduanya berbeda. 

        Kakuatan tertindas berjuang untuk melemparkan penindasan yang dipikulkan di
pundaknya dan sebaliknya kekuatan penindas dengan    sehala upaya, dengan
menghalalkan segala cara, mempertahankan agar ia tetap dapat menindas.
Meraka tak akan secvara sukarela melepas penindasan yang mereka lakukan.

        Itu lah pertentangan dan perjuangan kelas.

SEIRING SEJALAN, BUKAN SETUJUAN

        Ruslan benar, Pemilu 99 adalah pertarungan antara kaum tertindas melawan
kaum penindas. Pertarungan kaum tertindas melawan penindas telah berlangsung
sejak masyarakat terpecah atau terbagi dalam kelas-kelas. Bentuk pertarungan
atau perjuangan antara kelas tertindas melawan penindasnya tentu disesuaikan
dengan situasi dan kondisi.

        Perjuangan kelas itu bisa dalam bentuk satu kelas menghadapi kelas satunya.
Misalnya di jaman pemilikan budak antara para budak melawan tuan budak. Di
jaman feodal antara tani hamba melawan kaum bangsawan dan raja-raja. Pada
jaman kapitalis antara kelas buruh melawan burjuasi. Tapi bisa juga terjadi
kelas tertindas dalam satu barisan melawan kelas penindas yang satu.

        Misalnya dalam perjuangan untuk merebut kemerdekaan. Bangsa Indonesia dari
berbagai kelas, mulai buruh, tani, burjuasi kecil hingga  burjuasi nasional
bersatu melawan penjajah Belanda. Semua kelas itu punya kepentingan sama
untuk mengusir penjajahan dari Indonesia, meskui tujuan pengusiran itu
berbeda-beda sesuai dengan kepentingan kelas masing-masing. Seiring jalan,
tapi tidak setujuan.

        Begitu pula dalam Pemilu 99 lalu, kelas-kelas yuang tertindas pada masa
Soeharto berkuasa, menyebut diri mereka sebagai kaum reformis. Dan yang
mendukung Soeharto tempo dulu, disebut sebagai statusquo. Dalam barisan kaum
reformis sendiri terdapat berbagai kepentingan karena itu ada kelas yang
dengan teguh memegang tuntutan reformasi secara total. Tapi ada pula yang
hanya setengah hati. Terutama yang sesungguhnya kelasnya sama dengan
golongan statusquo.

        Kelas seperti itu, dalam menentang statusquo, mengaku sebagai kaum reformis
tapi dalam hatinya menginginkan tempat Soeharto sebagai penguasa. Ia ingin
menggantikan kedudukan Soeharto sebagai penindas. Ia akan jadi penindas baru.

        Senada dengan saat revolusi burjuis menggulingkan raja-raja atau kaum
bangsawan. Tujuan revolusi itu bukan untuk menghapuskan penghisapan atau
penindasan terhadap kaum tani hamba, melainkan untuk menggantikan tempat
kekuasaan raja sebelumnya. Tentu saja bentuk penindasan dan penghisapan
mereka perbarui dan perhalus hingga tak sekasar seperti di jaman feodal.

        Dengan demikian, perjuangan kelas tertindas melawan kelas penindas masih
akan berjalan terus. Baik secara terbuka maupun tertutup. Apalagi rakyat
Indonesia  masiuh terpecah-pecah dalam bverbagai kelas. Pemilu 99 belum
merontokkan penindasan seperti yang dikemukakan Ruslan, meski PDI-P lebih
unggul dari Golkar. Dan, karena program PDI-P tak tegas menghapskan
Dwifungsi ABRI dan tetap mendukung Timtim sebagai bagian Indonesia, badan
eksekutif mahasiswa UI dalam rangka penganugerahan Soeharto Award menilai
Megawati dan PDI-P sebagai tidak reformis. 

        Yang dirontokkkan Pemilu 99 lalu baru sebagian kecil dedaunan dan batang
sedangkan cabang-cabang penindasan masih berdiri mempertahankan statusquo.
Memang, kian lama kekuatan yang menggoyang batang dan cabang penindasan kian
besar agar semua daunnya berguguran.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke