Precedence: bulk


APARAT  BENTROK DENGAN MAHASISWA, WARTAWAN SIAP SERANG. 

        SURABAYA (SiaR, 25/6/99), Mahasiswa dan buruh pabrik rokok Gudang
Garam yang tergabung dalam Aksi Bersama Rakyat Indonesia (ABRI) bentrok
dengan petugas pengendali massa (Dalmas) Rabu (23/6) lalu. Hal ini merupakan
reaksi atas aksi bersama menduduki DPRD lalu yang berakibat buruh bersama 6
orang mahasiswa ditangkap dan dibawa ke Mapolwiltabes Surabaya sehari
sebelumnya (22/6). Dalam peristiwa tersebut tiga wartawan luka terkena
gebukan hingga membuat Forum Jurnalis Foto mengancam akan balas menyerang
jika dipukuli militer lagi. 

        Akibat bentrokan yang melibatkan 200 mahasiswa dengan aparat itu 20
mahasiswa, sembilan di antaranya masuk RS Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya,
seorang aparat dan tiga orang wartawan mengalami cedera.

        Sembilan mahasiswa yang terluka adalah Mursyid (FH Universitas Airlangga
atau Unair Surabaya), dan Wisnu (FISIP Universitas Wijaya Kusuma atau UWK
Surabaya). Selain itu, Ajun, Ferdianto, Darius, Astuti, Lasiono, dan
Andianto, yang umumnya mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi dan Ilmu
Administrasi (STIEIA) Surabaya, serta Joko Pramono dari aktivis PRD Jawa Timur.

        Tiga orang wartawan yang mengalami cedera adalah Retno (Kantor Berita
Reuters dan koresponden SKH Suara Bangsa), Mamuk Ismuntoro (fotografer SKH
Suara Indonesia), dan Trisnadi (fotografer SKH Memorandum), sedang seorang
aparat yang terluka adalah Wakapolwiltabes Surabaya Letkol Susno Duadji.

        Mahasiswa mengawali aksi sekitar pukul 11.00 WIB. Mereka kemudian memarkir
sepeda motornya di depan halaman Kantor Pos Besar Kelas I Kebonrojo Jalan
Indrapura dan melakukan rally sekitar 500 meter menuju Mapolwiltabes di
Jalan Veteran Surabaya.   

        Mereka menuntut pembebasan enam mahasiswa yang ditahan di Mapolwiltabes
sejak Selasa pukul 13.00 WIB.  Sebelumnya, enam orang mahasiswa yang
terlibat dalam aksi unjuk rasa karyawan Gudang Garam (GG) di gedung DPRD
Tingkat I Jatim telah diamankan di Mapolwiltabes Surabaya (22/6) sekitar
pukul 13.00 WIB. Dalam aksi unjuk rasa yang semula mempersoalkan PHK 3 orang
buruh dan kenaikan uapah yang layak itu akhirnya jadi berubah menjadi
bernuansa politik. 

        Hal itu tampak dari adanya tuntutan dihapuskannya Dwifungsi ABRI.
Menurut sumber SiaR hal itu karena dalam penyelesaian kasus sengketa buruh
aparat militer selalu terlibat dan menjadi anjing penjaga pengusaha. Bentrok
mahasiswa dan Pasukan Dalmas (Pengendali Massa) Polwiltabes terjadi sekitar
pukul 11.30 WIB ketika sejumlah mahasiswa melakukan orasi, kemudian
Wakapolwiltabes Surabaya mendatangi massa mahasiswa dan memerintahkan mereka
untuk membubarkan diri karena keenam mahasiswa yang ditahan sudah dibebaskan
sekitar pukul 10.00 WIB.

        Namun, ratusan mahasiswa dari Unair, STIEIA Surabaya, ITATS, UK Petra
Surabaya, dan sebagainya itu tetap bertahan di depan Mapolwiltabes Surabaya
karena mereka tampaknya tidak percaya dengan penjelasan tersebut, sampai
akhirnya Kasatsamapta Polwiltabes Surabaya Letkol Supeno meminta mereka
untuk segera meninggalkan lokasi.

        Mahasiswa mencoba melakukan negosiasi dengan aparat. Namun proses negosiasi
tidak sempat terjadi karena aparat meminta mahasiswa untuk mengirim
perwakilan dalam negosiasi. Para mahasiswa menolak.

        Insiden pecah setelah ada celetukan seorang mahasiswa yang langsung
dibalas dengan tindakan brutal aparat. Pasukan Dalmas menghalau massa secara
membabi-buta dengan pentungan. Bahkan, aparat terus mengejar para mahasiswa
sambil memukuli dengan ganas hingga ke perempatan Jl Pahlawan Kantor Pos
Kebonrojo sekitar 500 meter dari Mapolwiltabes Surabaya. Teriakan kesakitan
dan jerit buruh serta mahasiswa yang diinjaki aparat tidak menghentikan
tindakan tersebut.
 
        Kapolwiltabes Surabaya Kol Bambang Sutrisno ketika dikonfirmasi masalah ini
menyatakan permintaan maaf atas terjadinya pemukulan terhadap dua orang
wartawan karena situasi chaos yang sulit dikendalikan sehingga tidak bisa
membedakan secara cepat antara wartawan dan mahasiswa.

        "Saya memantau langsung kejadian itu. Kita kan tidak tahu, karena
situasinya kan dorong-dorongan. Jadi, ada rekan-rekan wartawan yang kena ya
saya selaku pimpinan Polwiltabes minta maaf," katanya. 

        Mendengar jawaban Kapolwiltabes itu, Retno dari kantor berita Reuters
langsung menyatakan saat insiden terjadi dirinya sempat menegaskan kepada
petugas bahwa ia adalah wartawan sambil menunjukkan tanda pengenal namun
tetap saja ditonjok mukanya dengan biadab oleh aparat militer.
 
        "Ya, karena itu, saya minta maaf," kata Kapolwiltabes mengulangi
jawabannya. Memang gampang minta maaf. Tampaknya hal ini menimbulkan
keberangan beberapa wartawan foto. Aparat selalu menyatakan permintaan maaf
tetapi esoknya selalu berulang kembali. Wartawan foto Jatim yang tergabung
dalam Forum Jurnalis Foto (FJF) mengeluarkan reaksi keras atas kasus
kekerasan yang menimpa rekan-rekan mereka tersebut.

        Dalam penjelasannya Kamis (24/6/1999), Ketua FJF Beki Subeki yang juga
fotografer Jawa Pos mengatakan pihaknya sudah bosan dengan perlawanan
melalui statemen. "Tindakan itu bisa dilawan dengan kekerasan. Jadi jika di
lapangan wartawan dipukul atau ditendang, maka saat itu pula wartawan
tersebut harus melawan," katanya pada pers menanggapi kasus pemukulan
wartawan sehari sebelumnya.

        Dikatakan, selama ini dalam menyikapi kekerasan terhadap wartawan foto
maupun tulis selalu dengan permintaan maaf aparat. "FJF sudah jenuh
menyikapi semua itu dengan sasaran opini dan statemen. Apakah selamanya kita
selalu mengeluarkan statemen penyesalan atau kecaman terhadap aparat
keamanan?" katanya.

        Beki menunjuk beberapa contoh kasus penganiayaan wartawan oleh aparat. Tapi
tak ada hasil apa-apa. "Mereka seenaknya sekadar minta maaf," tambahnya.
Oleh karena itu FJF minta pada forum wartawan yang ada untuk bersatu
membentuk komisi yang diperkuat praktisi hukum.

        "Dan bila tak berhasil, ya sudah kita lawan dengan kekerasan," katanya.
Meski diakui itu merupakan pilihan alternatif terakhir, tapi mulai saat ini
FJF yang beranggotakan sekitar 20  wartawan foto se Jatim, siap menghadapi
aparat. 
        "Jangan hanya mau dipentungi terus!"

        Agaknya, para wartawan perlu membentuk komisi tindak kekerasan
bersama Forum Kota (Forkot).***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke