Precedence: bulk
PENYEBAB ISLAM KALAH PEMILU DAN ARTI "KEKALAHAN" ISLAM
Oleh: Khadijah Umar
Sekarang ini makin jelas, partai-partai yang berwarna Islam
mulai terdesak perolehan suaranya. Diakui atau tidak, yang mewakili golongan
Islam itu sebenarnya terbagi dua secara de facto. Pertama, yang beragama
Islam, tapi tidak menginginkan negara diatur secara Islam karena menimbang
kepentingan golongan lain di luar Islam. Dan terutama karena memikirkan
kepentingan praktisnya. Islam seperti ini bisa kita namakan Islam moderat.
Ke dua, yang beragama Islam, dan mengharapkan negara diatur secara
Islam, dengan pertimbangan Islam di Indonesia adalah mayoritas, maka merasa
wajar kalau negara ini lebih berwarna Islami. Semua harus serba Islam.
Yang merasa terdesak itu adalah golongan Islam dari kategori kedua
tersebut. Orang sering memberi label untuk golongan ini: Islam ekstrim atau
Islam Fundamentalis. Atau ada yang menyebutnya dengan istilah : Islam fanatik.
Di internet banyak yang memaki dengan sebutan kasar : Islam goblok, Islam
kuper, Islam biadab dan sebagainya, tapi kita tidak ingin mempergunakan kata
kata kasar meski bisa memahami maksudnya.
Dalam tulisan ini, yang dibahas adalah golongan Islam ini, yaitu
Islam yang mencita-citakan negara Islam, yang ingin memakai cara cara Islam
dipakai
dalam segala segi, kenegaraan, kemasyarakatan, ekonomi-perbankan dan
lain-lain, tanpa memperdulikan golongan lain.
1. Islam jenis ini tidak mau dipimpin oleh presiden wanita. Kalau
dianalisis lebih dalam, sebab yang mendasari adalah ketakutan kalau presiden
wanita itu, yang dalam hal ini Megawati, akan didominasi oleh orang orang
disekelilingnya yang secara relatif memang cukup banyak yang non Islam.
Mereka takut kalau Megawati akan jadi boneka simbol saja dan pada akhirnya
kepentingan orang Islam, akan diabaikan.
2. Islam jenis ini, ingin agar semua wanita Islam pakai jilbab, karena
menutup tubuh wanita dengan jilbab itu ditafsirkan sebagai perintah dari
Allah yang tertulis dalam Quran. Padahal sebagian besar dari wanita Islam di
Indonesia tidak memaki jilbab dan keberatan untuk memakainya. Sebabnya macam
macam, ada yang karena panas, (ventilasi dikepala tidak lancar dan
mengakibatkan rambut cepat bau), ribet (kalau buat bekerja sehari hari
dirasakan kurang bebas), menghalangi prestasi (olahraga, ketentaraan,
kedokteran dan sebagainya), dan yang paling penting, jilbab dirasakan
diskriminatif terhadap kaum wanita. Laki boleh tidak pakai kok wanita harus
pakai.
3. Islam jenis ini, tidak menyukai adanya bank (yang lazim). Yang
diperbolehkan adalah bank seperti bank Muamalat itu, yang tidak memakai
sistem bunga melainkan sistem bagi hasil. Mungkin banyak bank yang bakal
ditutup bila mengikuti pendapat Islam yang jenis ini. Bila tidak ada bank
yang lazim itu, bagaimana dengan kehadiran bangsa ditengah persaingan dunia
yang makin ketat?... Tidak pernah ada jawaban konseptual praktisnya. Banyak
golongan Islam moderat yang tidak setuju, karena sistem bagi hasil tidak
kompetitif di kancah persaingan bebas.
Sampai sekarang tidak bisa didapat gambaran yang lengkap dan jelas
tentang bagaimana sistem perbankan dengan bunga mau diganti dan dibuang dari
benak orang orang yang berniaga. Dalam konsep bunga (rente,riba), terdapat
dimensi 'waktu'. Uang semilyar sekarang lain nilainya dengan uang yang sama
10 tahun yang lalu. Yang tidak bisa atau tidak mau membedakannya akan tidak
bisa
berkompetisi dengan yang bisa dan mau mengerti adanya konsep 'waktu' ini.
4. Islam jenis ini, sering memakai istilah 'jihad' untuk mensahkan
alasan apapun yang dipakai untuk 'membela' kepentingan golongannya. Mereka
merasa yakin, bahwa bila sudah memakai istilah 'jihad', semua boleh, bahkan
membunuhpun kalau yang dibunuh adalah 'musuh Islam' adalah boleh dan
mendapat pahala. Padahal bila dikaji lebih dalam, Quran tidak perlu
ditafsirkan begitu keras. Penafsiran yang tidak bijaksana oleh para pemuka
dalam masyarakat ini mengakibatkan masyarakatnya terpengaruh secara
sistematis. Islam mayoritas, banyak yang merasa hal itu terlalu ekstrim dan
mengerikan.
5. Islam jenis ini, bisa memberlakukan hukuman penggal kepala,
potong tangan, dilempari batu, cambuk dsb. Hukuman yang menjijikkan itu
sudah ketinggalan jaman. Konsep hukuman jaman sekarang sudah bukan lagi
'membalas' dengan menyakiti, membunuh dan memamerkan kekejaman, melainkan
'mendidik'. Penjara atau bui sudah menjadi lembaga pemasyarakatan, bukan
hukuman. Masyarakat sekarang sudah tidak sebiadab masyarakat pada jaman nabi
nabi dulu. Mayoritas masyarakat beradab pasti menolak hal itu. Memahami
hukum(an) dalam Quran sering tidak dilakukan dalam kerangka jamannya
(waktu). Quran itu memang universal dalam arti bisa bertahan terhadap
perbedaan waktu dan
tempat, tapi itu bagi yang menafsirkannya secara benar.
6. Islam jenis ini, terlalu arogan dan kurang demokratis. Arogan
dalam arti merasa pandangannya sendiri yang harus berlaku mutlak, dan harus
diberlakukan atas diri orang lain, meskipun tidak setuju. Karena itu sering
dirasakan sangat tidak demokratis. Dianggapnya, yang tidak sama dengan
pendapatnya dan tidak punya kekuatan (misalnya kepada kaum minoritas), tidak
perlu didengar suaranya, tidak perlu dianggap ada dalam mencari konsensus
bersama. Akibatnya, kaum Islam moderat yang lebih sadar akan prinsip
demokrasi, keadilan, hak azasi manusia, merasa tidak simpati terhadap
golongan ini. Kebanyakan malah merasa lebih senang berbaur bersama orang
orang 'biasa' saja, yang tidak ekstrim, yang penting baik baik saja terhadap
orang lain, meskipun beragama lain.
Mempelajari kasus: Pada waktu Mega dihambat dengan isyu isyu
murahan: Mulai dari tuduhan Mega beragama Hindu karena berdoa dikuil agama
Hindu waktu di
Bali dulu, sampai pada sesaat sebelum pemilu, penolakan terhadap presiden
perempuan, yang akhirnya berakhir secara antiklimaks: Mega malah justru
populer. Mega memang tidak sangat pintar, tapi dia minimal Islam yang
moderat. Itu justru menarik simpati banyak orang. Kunjungannya ke kuil itu
justru menunjukkan betapa beliau seorang Islam yang moderat. Respons diamnya
terhadap penolakan presiden perempuan malah membuat orang berbalik berpihak
kepadanya. Banyak orang yang tadinya golkar malah masuk ke PDIP hanya karena
hal ini.
Kembali pada persoalan, kenapa Islam garis keras ini kalah dalam
Pemilu? Jawabannya sekarang menjadi jelas: Karena lebih banyak Islam yang
moderat
dan cinta damai dibumi Indonesia ini. Yang kalah BUKAN Islam yang moderat
itu. Dengan kalahnya Islam garis keras itu, berarti kemenangan bagi Islam
moderat. Islam moderat inilah yang sesungguh sungguhnya Islam.
Dari contoh kasus tersebut terlihat, Islam (garis keras) malah
tergembosi oleh pandangan yang lebih moderat dari PKB. Yang tadinya PPP
malah jadi simpatisan PKB. Terbukti Islam (garis keras) makin terpuruk.
Mungkin karena
itu, Islam garis keras akan makin marah, tapi harap sadar, makin marah dan
makin keras akan makin rapuh dan kering, ditinggalkan pengikutnya.
Islam itu mestinya bersemi hijau dan teduh. Menaungi. Mengayomi. Bila
begitu, tidak aneh kalau yang Kristenpun bisa tertarik menjadi Islam.
Mayoritas memang punya posisi lebih baik untuk mempengaruhi minoritas.
Sekarang yang ada, minoritas, misalnya saudara saudara kita yang Cina itu,
makin takut dan banyak kabur. Apalagi secara irasional dituduh a-nasionalis
karena kaburnya itu, makin banyak sekali yang kabur. Takut menghadapi
irasionalitas ekstrim itu.
Para Cina itu di negeri ini memang minoritas, tapi di dunia mereka
mayoritas. Kita sebagai orang Islam sudah rugi dua kali dengan memasang
penampilan hitam yang menakutkan itu. Belum lagi pandangan dunia tentang
Islam Indonesia. Sungguh menyedihkan. Islam dunia sudah mendapatkan predikat
kurang baik dimata dunia (teroris dsb). Islam Indonesia (yang ekstrim)
menambah parahnya penampilan itu.
Islam Indonesia sekarang ini harus menjadi milik orang Indonesia
Islam yang moderat. Yang bisa menafsirkan ayat-ayat Al Quran dengan
bijaksana. Yang
toleran, yang tidak menakutkan bagi minoritas, dan bisa mengakomodasikan
kepentingan orang Islam mayoritas, bukan para ekstrim yang justru telah
terbukti mencoreng keteduhan warna hijau Islam dengan lembaran hitam dalam
sejarah Islam Indonesia. Kekerasan itu sungguh telah merugikan Islam.
Kekalahan partai Islam yang sekarang terlihat sebagai "kekalahan", harus
diartikan sebagai KEMENANGAN Islam mayoritas. HIDUP ISLAM !
Khadijah - Islam moderat
Padepokan Silat Langkah Suci
Ciganjur
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html