Precedence: bulk


RAMOS HORTA AKHIRNYA DATANG KE INDONESIA

        JAKARTA (MateBEAN, 29/6/99), Tokoh Timtim yang mengasingkan diri
selama seperempat abad di luar negeri, Jose Ramos Horta, tiba di Jakarta,
Sabtu (26/6) dengan menggunakan pesawat Singapore Airlines. Kedatangan Horta
di Jakarta untuk mengikuti Dialog Dare II yang diprakarsai Uskup Belo dan
Uskup Basilio di Sheraton Hotel Cengkareng.

        Kepada wartawan Horta mengatakan bahwa dirinya memang tidak diizinkan untuk
mengunjungi Timtim. "Kalau Menlu Alatas tidak setuju saya melakukan kampanye
di Timtim, saya akan menerima kondisi tersebut. Secara pribadi saya tidak
akan memaksa untuk bisa ke Timtim," katanya.

        Horta mengatakan bahwa masalah kampanye di Timtim sebenarnya tidak terlalu
penting. Karena masyarakat Timtim sudah mengetahui pilihan dua opsi yang
ditawarkan oleh Indonesia. Selain itu masyarakat Timtim juga sudah
mengetahui kondisi di Timtim selama 23 tahun. 

        "Mereka (rakyat Timtim -red.) lebih tahu kondisi di Timtim," katanya.

        Kepada wartawan Horta juga memuji perkembangan demokratisasi di Indonesia.
Bahkan Horta menyatakan kekagumannya pada gerakan pro demokrasi di Indonesia
serta kepemimpinan Habibie sebagai presiden Indonesia.
 
        "Saya kagum dan saya berterima kasih kepada gerakan pro-demokrasi di
Indonesia. Karena mereka berjuang untuk menegakkan demokrasi di Indonesia.
Saya juga kagum pada kepemimpinan Presiden Habibie yang bisa menawarkan opsi
kepada Timtim," katanya.

        Bahkan Horta mengatakan bahwa Indonesia di bawah kepemimpinan Habibie
mempunyai kemauan baik untuk menyelesaikan masalah Timtim. "Saya optimis ada
kemauan politik yang baik dari pemerintah Indonesia di bawah kepemimpinan
Presiden Habibie untuk mengakui hak-hak rakyat Timtim dalam memutuskan masa
depannya sendiri. Saya percaya Habibie dan Wiranto adalah pemimpin yang baik
akan dapat bekerjasama dengan kami untuk menciptakan kondisi damai di
Timtim, karena itu bukan semata-mata kepentingan Timtim, tapi juga
Indonesia," katanya.

        Horta juga mengharapkan bahwa Indonesia tetap memegang teguh komitmennya
dalam ksepakatan di New York. Karena kesepakatan itu merupakan pertarungan
nama baik Indonesia di mata dunia internasional. 

        "Demokrasi akan terjadi di Indonesia, bila Indonesia mengakui dan
menerima hasil jajak pendapat nanti, kalau semua orang Timtim ingin
merdeka," kata Horta.

        Sedangkan tokoh pro-kemerdekaan lainnya yang juga hidup mengasingkan diri
di Mozanbique, Mari Alkatiri mengatakan bahwa dialog yang mempertemukan
kedua kelompok yang bertikai akan menciptakan rekonsiliasi antara kedua
kubu, bila masing-masing pihak punya kesadaran untuk menyelesaikan masalah
Timtim. 

        "Kami datang ke Indonesia untuk memperpendek masalah Timtim. Kami
tidak ingin konflik terus menerus terjadi di Timtim. Kami ingin
berekonsiliasi. Tapi kami juga mengharapkan kelompok pro-otonomi juga
memikirkan hal yang sama," kata Mari Alkatiri.

        Sedangkan Manuel Carrascalao mengatakan bahwa pihaknya sangat menghargai
Dialog Dare II, karena menghadapi jajak pendapat sudah saatnya orang Timtim
harus berekonsiliasi, sehingga mengakhiri pertikaian selama 23 tahun di
Timtim. Namun dia pesimis soal peletakan senjata antara kedua kelompok.
Karena, menurutnya, kelompok pro otonomi tidak bisa mengambil keputusan.
Yang memutuskan adalah TNI sehingga dia tidak terlalu yakin bahwa para
milisi punya kesungguhan untuk meletakkan senjata.

        "Kalau kami dari kelompok pro kemerdekaan ini apa pun yang kami sepakati
selalu ditaati Falintil. Tapi apakah kelompok pro otonomi bisa memegang
komitmen mereka untuk meletakkan senjata? Saya tidak yakin karena yang
memberikan senjata kepada mereka itu adalah TNI, hingga bisa saja setelah
adanya gencatan senjata dari kedua kelompok, TNI membagi kembali senjatanya
pada para milisi untuk membunuh kami," katanya.***

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke