Precedence: bulk
PENDUKUNG MEGAWATI BERSUMPAH DARAH
SURABAYA (SiaR, 29/6/99), Untuk kedua kalinya setelah Peristiwa 27 Juli
1996, para pendukung Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri
melakukan sumpah darah untuk mempertaruhkan nyawanya demi mendukung Megawati
jadi presiden. Hingga Senin (28/6) tengah malam, di Surabaya, sudah lebih
seribu orang yang membubuhkan cap jempol darahnya pada kain putih yang
disediakan.
Para penoreh sumpah darah itu berasal dari berbagai kota di Jawa Timur
(Jatim) seperti Sidoardjo, Mojekerto, Gresik dan Lamongan, selain Surabaya
sendiri. Meski mengaku bukan atas prakarsanya, tapi turut juga melakukan
sumpah darah Ketua DPD PDI Perjuangan Jatim Ir Soetjipto dan Ketua DPC PDI
Perjuangan Surabaya Soetikno.
Menurut Soetikno, apa yang dilakukan mereka, merupakan implementasi dari
suatu gerakan rakyat yang dipelopori PDI Perjuangan untuk melawan
usaha-usaha tidak fair merintangi Megawati menuju kursi kepresidenan. Sumpah
darah ini dipelopori oleh kelompok Perjuangan Rakyat untuk Reformasi Total
(PRRT), yang anggotanya terdiri atas para aktivis PDI Perjuangan dan
elemen-elemen rakyat lainnya.
Erton, koordinator PRRT, menyebutkan, sumpah darah ini dilakukan, mengingat
untuk kesekian kalinya, sejak KLB Surabaya pada 1993, Kongres Medan pada
1996 dan pasca Pemilu 1999, Megawati kembali berupaya untuk dijegal oleh
pihak-pihak pro-statusquo. Bahkan menurut Erton, kali ini, para pendukung
status quo itu memperalat agama untuk memenuhi ambisi politiknya.
Diperkirakan Erton, para pendukung Megawati yang akan membubuhkan cap
jempol darahnya akan bertambah terus hingga kain yang berisi sumpah darah
itu akan dibawa ke Jakarta menjelang pelaksanaan Sidang Umum MPR bulan
Oktober 1999 mendatang.
Sementara itu Wakil Ketua Balitbang PDI Perjuangan Dr Sukowaluyo
Mintorahardjo yang diminta pendapatnya tentang sumpah darah itu menyatakan,
bahwa kini ada dua alur pikiran yang berkembang di PDI Perjuangan, dalam
upaya menanggapi berbagai manuver politik yang coba menjegal Megawati.
Pertama, ucapnya, adalah alur pikiran yang berkembang di arus bawah, antara
lain seperti yang sudah ditunjukkan dengan sumpah darah di Surabaya. Ke dua,
kata Sukowaluyo, adalah alur pikiran di kalangan elite partai yang masih
berpegang kepada mekanisme yang disyaratkan undang-undang. Misalnya,
mekanisme di MPR dalam pemilihan presiden mendatang.
"Tapi dengan sejumlah catatan-catatan yang mesti diperbaiki sistemnya,
seperti soal voting, dan hak suara bagi mereka yang tak ikut pemilu, seperti
utusan daerah, dan golongan, serta wakil TNI di MPR yang sebaiknya tak ikut
memilih," ujarnya.
Menurut Sukowaluyo, hingga saat ini, DPP PDI Perjuangan telah menerima
dukungan moril dan simpati dari berbagai daerah di Indonesia. Wujudnya,
ungkap mantan anggota DPR RI itu, beraneka rupa, dari mulai ancaman untuk
membanjiri Jakarta menjelang SU MPR, hingga kesediaan mempertaruhkan
jiwa-raganya demi Megawati.
"Bahkan dari kawasan Indonesia Timur seperti Maluku, Irian, NTT, dan Timtim
menyatakan, mereka siap untuk melepaskan diri, dan menawarkan kepada Mega
untuk menjadi presiden mereka di kawasan itu, jika dijegal di SU MPR," ujarnya.
Terhadap berbagai pernyataan dukungan arus bawah itu, kata Sukowaluyo, para
elite partai berharap, akhir dari semua ini adalah happy ending, dimana
hasil pemilihan presiden di SU MPR mendatang sesuai dengan hasil pemilu itu
sendiri. Bagaiman pun, lanjut Sukowaluyo, para elite partai tak ingin ada
korban di kalangan rakyat Indonesia.
"Untuk itu, diperlukan kearifan dan kedewasaan para elite politik untuk
tidak memaksakan kehendaknya sehingga membuat rakyat kecewa dan marah,"
katanya.***
----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html