Precedence: bulk


Re: ISTIQLAL-->SURAT PEMBACA>AH: Re: ISTIQLAL-->SURAT PEMBACA...

Kalau saya nggak salah tangkap, maksudnya Ariel adalah mereka yang 
sudah berjuang jauh sebelum gegap gempitanya reformasi ini. Jadi 
sebelum tahun 1980-1990an, misalnya pada peristiwa gerakan mahasiswa 
1978 dan yang lebih2 lagi pada tahun 1965-1966. 

Memang sudah banyak yang berkorban, dari para kelas menengah itu. 
Namun yang saya maksud di sini adalah konteks kekinian, kan banyak 
tuh yang bunglon, dan tiba-tiba berubah, mencuat namanya jadi 
pahlawan reformasi, jadi tokoh padahal sih aktif saja baru setahun 
belakang ini kali. Semua tiba2 anti Suharto, menggelikan.

Kita mungkin perlu belajar dari Berar Fathia, yang sejak tahun 
1988/89 sudah anti Darma Wanita dan dia bersama-sama kawan2nya pergi 
Ke DPR untuk mengekspresikan sikap antinya. Kemudian juga lagi2 Berar 
yang mencalonkan dirinyajadi presiden sebanyak dua kali dan sampai 
dia ditangkap dua kali juga. Ketika itu ada yang menertawakan dan 
meremehkannya. 

Tentu saja ada contoh lain, yang jelas yang konsisten justru Poncke 
Princen, antara lain, mereka yang sedikit itu.

Bahkan ada yang sampai meningga secara misterius seperti Budi 
Surbakti (pengacara LBH Bandung, pengacaranya kaum buruh). Tapi yang 
seperti mereka ini berapa orang sih?

Atau yang dipenjarakan karena membela petani atau karena dijadikan 
kambing hitam oleh rejim seperti Dedi Ekadibrata (kasus tanah 
Cijayanti) dan Agustiana (kasus Tasik) 

Para wartawan pun baru progresif setelah dibredel, dan jangan lupa 
AJI itupun terbentuk, siapa inisiatornya, organisernya, yah orang-
orang gerakan juga.

Yang menggelikan saya, tahun lalu ketika  di DPR, ada antara 
lain kawan saya yang tergabung dalam kelompok profesional (saya lupa 
nama kelompoknya) ikut berdemo. Saya senang tambah teman, cuma kenapa 
telat? Kenapa dulu tidak mau terlibat dalam gerakan mahasiswa? 
Ini kan seperti bebek juga, cuma dalam ladang yang berbeda.
Saya punya asumsi kalau tidak terjadi krisis ekonomi maka 
kebanyakan para kelas menengah Indonesia tidak akan pernah bergerak. 
Yang bergerak ya itu-itu saja, kalaupun tambah ya hanya sedikit saja.
Tidak akan ada partai-partai baru yang seperti cendawan di musim 
hujan, tapi tidak tumbuh ketika kering. Kebanyakan adalah mereka yang 
ikut arus, arus menjilat, arus diam dibawah rejim Soeharto, rejim 
militer.

Itu saja tanggapan saya.

Damairia Pakpahan

----------
SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html

Kirim email ke