Precedence: bulk MB GERAKAN ACEH MERDEKA EROPA P.O. Box 2084, 145 02 Norsborg, Sweden Fax: 00-46-8-53188460 Siaran Pers MB GAM Stockholm, 5 Juli 1999 SATU JAWABAN UNTUK PERNYATAAN WIRANTO: MANA MALING MENGAKU MALING, APALAGI TNI Panglima TNI Jenderal Wiranto menurut DETIKCOM 29 Juni 1999, mencoba "membantah" bahwa TNI telah melakukan kerusuhan dan terror di Aceh. Main bantah terhadap bukti-bukti yang tak terbantahkan sudah merupakan penyakit kronis semacam neurosis TNI dan para jenderalnya. Katanya: "TNI tidak pernah menekan rakyatnya sendiri...Mana ada TNI meneror rakyat Aceh. Mana ada polisi meneror rakyatnya sendiri disana." Kapan pula TNI punya rakyatnya? Apalagi rakyat Aceh yang selalu dijadikan obyek pembunuhan, penyiksaan, pemerkosaan, perampokan selama beridrinya Republik pura-pura ini. Praktek selama ini membuktikan bahwa TNI telah menempatkan rakyat sebagai obyek untuk ditindas dan dirinya sebagai subyek penindas rakyat. Sudah tak terhitung kejadian yang dilakukan TNI/ABRI dalam menindas rakyat diseluruh kepulauan Nusantara. Sudah sering TNI/ABRI dituding masyarakat luas sebagai pelaku terror Tanjung Priok, Lampung, Nipah, Papua Barat, Timor Timur, pembunuhan keatas mahasiswa (peristiwa Trisakti di Jakarta). Pemukulan dan penyiksaan terhadap mahasiswa di Banda Aceh kala kedatangan Habibie. Kejadian di Alue Nireh, Peurelak, belakang ini dimana peluru-peluru TNI dibenamkan kedalam tubuh anak-anak dan wanita. Dan yang paling ganas lagi yaitu DOM di Aceh, tentang ini apakah Wiranto sudah membaca beberan didalam buku ACEH BERSIMBAH DARAH? Kalau Wiranto memang sungguh-sungguh berhati manusia, tak usah dulu berjiwa cendekiawan, cobalah bantah isi buku itu! Disamping itu bukankah fakta-fakta tak terbilang sudah dihimpun oleh Komnas Ham dan sudah dibeberkan oleh media massa tentang pelanggaran HAM oleh TNI/ABRI? Apakah pelanggaran HAM tidak dianggap menekan rakyat dan perbuatan rusuh? Pembongkaran kuburan massal di Aceh, apa itu masih mau diingkari Wiranto "TNI tidak pernah menekan rakyat sendiri"? Memang tidak "menekan", tatapi memancung, menembak dan perlakuan-perlakuan kejam lainnya, yang oleh Amin Rais dikatakan bukan perbuatan manusia, melainkan binatang. Dan oleh Gubernur Syamsuddin Mahmud dikatakan perbuatan iblis dan syaithan, bukan perbuatan manusia. Kalau memang tidak melakukan kerusuhan, mengapa justru setelah dikirim Pasukan Penindak Rusuh Massa (PPRM) ke Aceh, malah menyebabkan timbul edakan pengungsi dari kampung-kampung pedalaman ke kota-kota? Wiranto yang konon tidak tuna aksara, mestinya dapat membaca di media massa yang juga terbit di kota dia bermakas - Jakarta - yang memberitakan keluhan para pengungsi Aceh bahwa mereka terpaksa meninggalkan kampungnya karena merasa tidak aman setelah TNI masuk ke kampung-kampung melakukan patroli dengan kenderaan truk bahkan lapis baja, membangun posko-posko, mengadakan penggeledahan ke rumah-rumah dan menangkap serta menculik orang-orang yang tak terbukti bersalah. Sekarang setelah polisi dipisah dari TNI dan PPRM yang dikirim ke Aceh dipimpin oleh polisi, katanya bukan melakukan operasi militer. Tetapi kejadian di Matang Sijuek Aceh Utara, di Tunom Aceh Barat, di Tangse Aceh Pidie baru-baru ini, jelas tak kalah dengan operasi DOM ABRI antara tahun-tahun 1989-1998. Peristiwa pengungsian besar-besaran yang terjadi di Tunom meledak justru setelah dikrimnya pasukan Kopassus dari Riau kesana. Wiranto mengakui bahwa yang dilakukan TNI di Aceh adalah "Operasi Kamtibmas". Tapi apapun ekornya, pangkalnya adalah 'operasi'. Kita ingat dulu ada Kopkamtib. Kalau sudah menyangkut namanya operasi di tangan ABRI, berarti peluru berbicara terhadap yang dianggap "tidak aman dan tidak tertib". Sebab makna aman dan tertib dalam kamus TNI/ABRI bukanlah menurut pemahaman rakyat awam. Begi TNI operasi berarti ada uang masuk dan ada "legalitas" untuk menjarah rakyat dengan dipulas, "menyita" sebagai "bahan bukti". Semua bantahan Wiranto itu tidak lain dari usaha mencuci tangannya yang berlumuran darah rakyat Aceh yang tidak bersalah. Jelas Wiranto pulalah dengan keterangannya itu telah memutabalikkan kenyataan. Kalau memang Wiranto selaku Menhamkan/Pangab TNI berhati nurani manusia - tidak menekan rakyat sendiri - tarik TNI dari Aceh yang sekarang sedang beroperasi disana. Nilai minta maaf Wiranto pada rakyat Aceh yang lalu tak ada harganya, selagi dia masih memimpin dan mengirim pasukan terror ke Aceh untuk membunuh, memperkosa, menculik, dan "menghilangkan" rakyat Aceh yang tidak bersalah dengan sewenang-wenang. Semua bangsa Aceh dengan organisasi GAM-nya akan terus melawan TNI/ABRI yang masih berkeliaran di bumi persada kami sehingga Aceh dan rakyatnya bebas dari segala bentuk penindasan yang telah dan sedang dilakukan oleh gerombolan-gerombolan yang didatanngkan dari Jakarta. Markas Besar Gerakan Aceh Merdeka Eropa ---------- SiaR WEBSITE: http://apchr.murdoch.edu.au/minihub/siarlist/maillist.html
